Kiara Putri terpaksa pergi dari suaminya saat ia hamil besar. Ancaman dari istri pertama suaminya, membuat ia nekat perg apalagi setelah sang ibu meninggal karena ulah istri pertama suaminya.
Namun, setelah anak yang ia lahirkan berusia 7 tahun, ia terpaksa kembali ke kota untuk menemui laki-laki yang telah memperistri nya.
Bayu Aksara Yudhistira, laki-laki yang kehilangan ingatan karena sebuah kecelakaan. Ia tidak tahu bahwa selain Yumna Cempaka yang sudah berstatus mantan istrinya, ia masih punya istri lain bahkan juga seorang anak.
Bagaimana kehidupan mereka saat keduanya kembali di pertemukan?
Happy Reading 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 19 Mengakui Kesalahan
Ayah Anakku (19)
" Terimakasih sudah membesarkan Aksa dengan baik. Pasti sulit kan? Membesarkan Aksa tanpa adanya sosok suami?," Wulan menatap anak dan cucunya yang sedang memetik buah rambutan.
"Sudah kewajiban ku sebagai ibunya," jawab Kiara.
Wulan tersenyum. "Maafkan Bayu, ya. Mama baru tahu kalau dia punya istri lain selain Yumna,"
Kiara menengok ke arah Wulan. Kata maaf dari sang mertua bagai sesuatu yang menakjubkan. Wulan yang ia kenal dulu adalah wanita arogan yang menjunjung tinggi kasta seseorang. Meminta maaf tak pernah mau ia lakukan.
" Nyonya tidak marah mas Bayu menikahiku?,"
Wulan melihat ke arah Kiara. "Panggil aku Mama," ucapnya lembut.
Lagi-lagi Kiara terkejut. Maaf, terimakasih adalah kata yang sulit terucap dari lisan wanita di hadapannya ini.
"Ah, baiklah,"
Wulan tersenyum lembut. "Pasti aneh ya mendengar kata maaf dan terimakasih,"
" Itu .." Kiara bingung karena reaksinya tertebak oleh ibu mertuanya.
" Kalau mengingat mama yang dulu, rasanya mama malu. Tidak sepantasnya menilai seseorang dari hartanya. Nyatanya ketulusan justru Mama dapatkan dari orang biasa." Wulan tersenyum getir.
Dulu, saat ia terpuruk ia mencoba meminta bantuan orang-orang yang dekat dengannya. Tapi, mereka malah tak peduli. Mungkin statusnya yang tak lagi menjadi istri Galih Yudhistira sudah tak ada nilainya sama sekali.
Ibarat pepatah, habis manis sepah di buang. Dulu ia di agungkan. Semua mendekatinya. Tentunya untuk mendapatkan manfaat dari hubungan pertemanan itu.
" Atas apa yang pernah Mama lakukan dulu, jika ada yang menyakiti hatimu. Mohon maafkan. Dulu Mama masih ada di Zaman Jah1liyyah," ucapnya sambil tertawa pelan.
Kiara tertegun. Ia akui wanita di depannya masih sama seperti dulu. Tapi, cara berpakaian dan tutur katanya berbeda.
" Aku juga minta maaf, Ma" ucap Kiara akhirnya membiasakan diri menyebut Wulan dengan panggilan Mama.
" Mama denger kematian Ibumu karena Yumna. Benar?,"
Mata Kiara jadi memanas. Ia teringat ibunya.
" Bayu akan mencari keadilan untuk Ibumu. Yumna harus merasakan akibat dari apa yang ia lakukan. Semoga dia sadar jika sudah melakukan kesalahan yang fatal,"
Kiara mengangguk.
Seperti aku yang sadar setelah mendapatkan hukuman atas perbuatan ku di masa lalu. Batin Wulan.
.
.
" Oma, kelincinya gemuk sekali!!," Aksa tertawa sambil memeluk erat kelinci berwarna putih salju itu.
" Sayang, pelan-pelan nanti kelincinya kesakitan dan berontak,"
Kiara memperingati Aksara.
" Hehe. Iya, Nda. Maaf," Aksa melonggarkan pelukannya.
" Ayo makan dulu. Lihat! Oma dan Bunda sudah masak kesukaan Aksa.."
" Kesukaan ayahmu juga..." Timpal Wulan.
" Jadi kesukaan kita sama, ayah?," Aksa memasukkan kelincinya ke kandang. Ia menghampiri bunda dan Oamnya.
"Iya. Ayah juga baru tahu," ucap Bayu tersenyum. Merasa bangga anaknya mirip dengannya. Tidak hanya Rua tapi juga kesukaan.
" Ayo cuci tangan dulu," Bayu langsung mengangkat tubuh Aksa yang sudah mau mengambil makanan yang menarik perhatiannya.
" Hehe. Maaf," ucapnya sadar kalau dia belum cuci tangan.
" Segini, cukup mas?," tanya Kiara saat Bayu dan Aksa sudah kembali dan duduk di atas karpet.
Aksa mau makannya seperti mereka sedang piknik. Jadilah mereka menggelar karpet besar di samping kolam ikan.
" Sudah, sayang. Cukup,'
Blussh
Wajah Kiara memerah. Ia masih malu saat suaminya bersikap seperti itu.
" Nda, sakit? Wajahnya merah."
" Hah? Tidak kok..."
Bayu dan Wulan hanya tersenyum melihat Kiara yang salah tingkah.
Semoga Kelian senantiasa bahagia. Do'a Wulan dalam hati.
.
.
" Bu, di depan ada yang mencari ibu,"
" Siapa yang mencari istri saya, Bi?," tanya Arnold yang kebetulan ada di sana.
" Polisi.."
Deg
" Polisi?," tanya Yumna terkejut.
" Ada apa mereka mencari istri saya?," Arnold tak kalah terkejut dengan jawaban pembantunya.
" Saya tidak tahu, Pak."
" Ya, sudah ayo kita temui mereka." Ajak Arnold.
Ia penasaran kenapa polisi datang di malam-malam begini. Kalau bukan hal penting mana mungkin mereka datang.
" Tapi.." Yumna merasa khawatir. Perasaannya tak nyaman saat mendengar kata polisi.
" Jangan takut kalau kamu tidak melakukan kesalahan,"
Kesalahan? Tiba-tiba Yumna terhenyak. Ia teringat satu-satunya kesalahan di masa lalu. Apalagi Arnold menceritakan kalau Bayu sudah bersama istrinya.
"Tidak mungkin," lirih Yumna.
" Apa yang tidak mungkin?," gumamam Yumna ternyata masih terdengar oleh Arnold.
" Tidak apa-apa,"
Mereka pun menemui polisi itu. Yumna terpaksa sekalipun enggan ia mengikuti langkah Arnold.
" Selamat malam, pak polisi," sapa Arnold sementara Yumna hanya diam.
" Selamat malam, pak. Kami dari kepolisian datang kemari ingin mengangkat Bu Yumna. Ini surat penangkapan nya,"
Jeduarr
" Penangkapan?," Arnold langsung mengambil surat itu.
" Pembunuh@n berencana??,"
Yumna mematung. Dugaannya benar.
" Na..."
Yumna hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak salah. Tolong aku," ucap Yumna menggelengkan kepalanya.
" Ibu bisa menjelaskan di kantor polisi," ucap salah seorang polisi yang langsung mendekati Yumna. Apalagi melihat gelagat Yumna yang seperti ingin melarikan diri.
" Silahkan bawa istri saya, pak. Saya akan menyusul ke kantor polisi,"
" Arnold!!!," geram Yumna.
" Kalau kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut,"
Yumna menggelengkan kepalanya.
" Terimakasih atas kerjasamanya, Pak." kedua polisi itu pergi menggiring Yumna ikut dengan mereka.
Arnold menyandarkan punggungnya ke sofa. Ini sangat mengejutkan.
" Siapa yang dia celakai? Ya ampun, Yumna." Arnold mengusap wajahnya kasar.
Arnold masih terdiam. Memikirkan siapa korban dari Yumna. Melihat pemberontakan yang Yumna lakukan saat polisi menggiringnya ke mobil, ia bisa menebak jika Yumna benar-benar melakukan itu.
Sementara itu, Yumna terus menyangkal saat polisi menanyaainya.
" Bu Yumna, tolong bersikaplah kooperatif. Semoga saja itu bisa meringankan hukuman anda," terang salah satu polisi yang menanyai Yumna.
Bukti yang ia dan rekannya miliki sangat kuat. Tapi, ia pun harus tetap melakukan sesuai prosedur.
" Tapi, saya tidak melakukannya, Pak," elak Yumna.
Polisi hanya menggelengkan kepalanya. Ia biasa menghadapi kekerasan kepalaan para tersangka yang tidak mau mengakui kesalahannya.
.
.
" Kerja bagus," ucap Bayu menutup telponnya.
Penangkapan Yumna adalah hal yang ingin ia dengar. Sekarang pengacara keluarganya sudah mengabari jika Yumna sudah di proses.
" Sangkal saja terus, Yumna. Tapi, sekalipun kamu tidak mengakui kesalahanmu, akan aku pastikan kamu mendapatkan hukuman setimpal," Bayu mengepalkan tangannya.
" Mas..." Panggil Kiara saat melihat suaminya ada di depan rumah.
" Kenapa? Kamu terbangun?," tanya Bayu menguar kepalannya. Senyum ia hadirkan saat melihat wajah istrinya.
" Iya. Haus,"
Bayu mengangguk. " Ayo,"
Ajak Bayu ke arah dapur. Mereka menginap di rumah Wulan sesuai permintaan Wulan. Aksa bahkan tidur dengan Wulan.
"Besok kita ke kantor polisi," ucap Bayu saat keduanya sudah duduk di ranjang.
" Kantor polisi?," tanya Kiara.
" Tidak perlu khawatir. Kita hanya dimintai keterangan saja. Yumna sudah di tangkap atas kejahatan yang ia lakukan pada ibu,"
" Secepat ini?," tanya Kiara. Bukan tak ingin Yumna mendapatkan balasannya. tapi, ia tak menyangka akan secepat ini.
" Bukti-bukti sudah aku dapatkan. Dia akan mendapatkan hukuman berat. Apalagi ini di rencanakan
.
.
TBC