Ini kelanjutan kisah aku istri Gus Zidan ya, semoga kalau. suka🥰🥰🥰
****
"Mas, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil tercengang, matanya membesar sempurna, ia ingin sekali beranjak dari tempatnya tapi kakinya untuk saat itu belum mampu ia gerakkan,
"Apa?" Ia duduk lebih tegap, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, kemudian menatap Gus Syakil dengan wajah serius. "Saya bilang, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil menelan ludah, merasa percakapan ini terlalu mendadak. "Tunggu... tunggu sebentar. mbak ini... siapa? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda, dan... apa yang membuat Anda berpikir saya akan setuju?"
Gadis itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tetap serius. "Nama saya Sifa. Saya bukan orang sembarangan, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Anda adalah Syakil, bukan? Anak dari Bu Chusna? Saya tahu siapa Anda."
Gus Syakil mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami situasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Bukan keputusan yang menguntungkan
Tidur terpisah ternyata bukan solusi yang bagus, Sifa yang ingin tidur nyenyak malam itu nyatanya ia malah tidak bisa tidur, matanya sulit terpejam. Beberapa hari ini ia sudah terbiasa tidur berdua dengan Syakil, kamar tidur yang biasanya terasa sempit itu tiba-tiba menjadi terasa begitu luas dan dingin. Ia beberapa kali menggulingkan tubuhnya mencari posisi yang pas untuk tidur tapi tetap saja tidak bisa matanya terpejam.
HEHHHHH....
Sifa menghela nafas panjang, ia mendudukkan tubuhnya, bersiap hendak menyusul Syakil tapi kemudian kakinya menggantung di pinggiran tempat tidur, otaknya seolah berpikir ulang. Ia memegangi letak jantungnya, "Ahhhh, gimana kalau jantungku kumat lagi!?" gumamnya sambil membayangkan debaran yang luar biasa saat berdekatan dengan pria itu.
Tok tok tok
Sifa terjingkat, hampir saja terjatuh saat pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar.
"Sifa, apa kamu sudah tidur?" pertanyaan itu berhasil memberi jawaban pada Sifa jika itu Syakil.
"Belum, ada apa mas?" jawab Sifa sembari turun dari tempat tidur, memakai sendal tipisnya dan berjalan cepat menghampiri pintu.
Belum sampai Syakil menjawabnya, Sifa sudah lebih dulu membuka pintu dari dalam. Pikirannya ingin sekali menolak kehadiran Syakil tapi ternyata tubuhnya bertidak lain.
Benar-benar tidak bisa di duga ...., keluhnya dalam hati. Rasanya menyesal telah membuka pintu, tapi semuanya terlambat.
Syakil tersenyum di atas kursi rodanya saat pintu terbuka, "Maaf mengganggumu malam-malam." ucap Syakil dengan cepat.
Sifa menggelengkan kepalanya, "Enggak. Nggak pa pa."
Sifa mengutuki jawabannya sendiri, Bagaimana sih, kok bisa gini jawabnya, rasanya kayak aku berharap banget ...., Sifa pun segera merapat jawabnya, "Maksudnya Sifa juga belum tidur. Ada apa mas?"
"Sepertinya aku tidak bisa tidur sendiri." ucap Syakil membuat Sifa terpaku, "Maksudku, aku akan kesusahan kalau tidur sendiri. Bagaimanapun alasan kita tidur satu kamar kan agar aku lebih mudah saat beraktifitas karena ada kamu." Syakil juga tidak ingin terlalu terlihat kalau ia mulai terbiasa dengan keberadaan Sifa di sampingnya.
"Maaf..., ya sudah masuk, mas!" Sifa pun tidak punya pilihan lain selain mempersilahkan Syakil masuk. lagi pula malam ini ia juga ingin tidur nyenyak agar besok saat ke rumah sakit keadaan tubuhnya juga fit dan apa yang tengah ia khawatirkan tidak benar-benar terjadi.
Syakil pun menjalankan kursi rodanya mendekati tempat tidur, Sifa dengan cepat menyusulnya di belakang. Tapi bukannya langsung memnayu Syakil naik ke tempat tidur, Sifa malah terbengong di tempatnya. Bukan tanpa sebab, bayangannya wajah tampan pria yang sudah ia nikahi satu bulan ini cukup membuat jantungnya berdetak kencang.
"Kenapa malah bengong?" tanya Syakil sembari mengibaskan tangannya ke depan wajah Sifa.
"Ahhh, iya. Ada apa mas?" dengan cepat Sifa bertanya setelah tersadar dari malunannya.
"Sudah malam kan!?" ucap Syakil.
Sifa yang masih belum begitu fokus, malah menoleh ke arah jam dinding, "Iya sih mas. Sudah jam sepuluh lebih lima belas menit."
Syakil malah bingung dengan jawaban Sifa, "Maksud aku, sebaiknya kita tidur."
Sifa tersenyum, "Iya, mas Syakil benar." bukan segera membantu Syakil naik ke tempat tidur, Sifa malah berjalan cepat mengitari tempat tidur dan naik ke atas tempat tidur sendiri dari sisi samping membuat Syakil terbengong,
"Sifa." panggil Syakil membuat Sifa menoleh kembali ke arah Syakil yang masih duduk di atas kursi rodanya.
"Iya mas, ada apa?" tanya Sifa sembari mengerutkan keningnya.
"Bisa bantu aku naik ke tempat tidur?" pertanyaan itu segera membuat Sifa sadar akan kesalahannya, mulutnya yang terbuka sempurna segera ia tutup dengan kedua telapak tangannya.
"Ahhh, iya mas. Tunggu ya." dengan cepat Sifa kembali turun dari tempat tidur, sedangkan Syakil yang melihat tingkah polos istrinya tidak mampu menahan senyum, ia tidak menyangka dibalik penampilan istrinya yang terbilang urakan ternyata ia begitu polos.
"Ayo mas, aku bantu." Sifa segera memapah tubuh syakil setelah menurunkan kaki Syakil dan membantunya naik ke atas tempat tidur.
Setelah Syakil berhasil naik ke tempat tidur, kini giliran Sifa yang kembali naik dari sisi samping. Tapi kecanggungan tidak berakhir di sini, Sifa malah bingung harus mulai dari nama saat ia tidur padahal ini bukan pertama kalinya mereka tidur bersama seperti ini.
"Ada apa?" ternyata Syakil menyadari kegelisahan Sifa, dan dengan cepat Sifa mengibaskan tangannya sambil tersenyum.
"Enggak, nggak pa pa. Aku mau tidur." ucap Sifa dan segera menenggelamkan tubuhnya dj balik selimut, sedangkan Syakil yang merasa heran hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Sifa.
Sifa yang memang belum tidur, perlahan menurunkan selimutnya, mencoba mengintip sang suami,
Ihhh kenapa hadap sana, aku kan juga pengen lihat wajahnya. Ehhh tapi punggungnya juga kelihatan menawan, batin Sifa.
"Mau sampai kapan mengawasiku?" pertanyaan itu berhasil membuat Sifa hampir terlonjak dan segera menutup kembali kepalanya dengan selimut.
"Memang siapa juga yang ngintip punggung, aku tidur. PD banget." gerutu Sifa di balik selimut. Dan Syakil kembali membalik badannya, menarik selimut Sifa yang menutupi wajahnya ke bawah hingga kini wajah Sifa terlihat. Sifa yang tidak terima, segera menatap ke arah Syakil. Inginnya menantang, tapi begitu mereka bersitatap, mata mereka saling bertemu tiba-tiba mereka saling terdiam, seperti dunia mereka terhenti sesaat dan tidak ingin segera kembali.
Kenapa dia cantik sekali, matanya, bibirnya ....
Perlahan Syakil mendekatkan wajah Sifa membuat Sifa memejamkan matanya.
Apa mas Syakil mau menciumku lagi ...., Sifa sudah bersiap. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik sesuatu dari atas rambutnya berhasil membuat Sifa kembali membuka matanya. Dan kini di tangan syakil ada potongan kertas emas.
"Kamu baru buat apa? Kenapa tempat tidurnya ada potongan kertas kayak gini?" tanya syakil sembari menunjukkan potongan kertas emas yang tadi tanpa sengaja menempel di kepala Sifa.
Sifa teringat sesuatu, siang tadi setelah dari pasar, ia mendapat pesan di group sekolah SD nya, ada temannya yang ulang tahun dan berencana membuat acara ulang tahun beserta acara reoni, dan ia berencana datang dengan membawa sedikit kado, karena saat ini ia tidak punya kado mahal yang ia bisa bawa, jadi ia membuatkan kado khusus untuk temannya.
"Oh itu...., aku lagi buat kado."
Syakil mengerutkan keningnya, "Memang siapa yang ulang tahun?" tanya Syakil penasaran.
Bersambung
malu 2 tapi mau🤭
saranku ya sif jujur saja kalau kamu yg nabrak syakil biar gak terlalu kecewa syakil nya