NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:253.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Penantian Wongso

Ketika sebuah bus akhirnya berhenti, Wongso memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiap. Pintu bus terbuka, dan beberapa warga desa turun membawa tas belanjaan.

"Airin ada di dalam?" Wongso langsung bertanya pada seorang ibu yang baru turun.

Ibu itu menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak, Juragan. Saya hanya pergi ke pasar, tidak melihat Airin di kota."

Wongso mendengus kesal. Ia berpindah ke seorang pria muda yang turun berikutnya. "Kamu lihat Airin?" tanyanya tajam.

Pria itu menggeleng cepat, terlihat gugup. "Tidak, Juragan. Saya nggak lihat dia."

Wongso mengepalkan tangannya, ekspresi geram tak bisa disembunyikan. "Ke mana mereka? Harusnya sudah balik sekarang!" serunya, lebih kepada dirinya sendiri. Anak buahnya saling pandang, tapi tidak ada yang berani menjawab.

Satu per satu, bus berikutnya lewat, namun hasilnya sama saja. Wongso semakin tak sabar, kakinya menghentak tanah. "Kalau mereka nggak pulang juga, kita cari langsung ke kota! Jangan sampai mereka lolos!" ucapnya dengan nada ancaman, membuat anak buahnya segera mengangguk patuh.

Sedangkan Supar tetap diam, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya di balik ekspresi tenangnya. Dalam hati, ia bergumam, "Airin, aku sudah mencoba menolongmu sebisaku. Sungguh, aku telah berusaha sebaik mungkin. Semoga kau bisa melewati semua ini dengan selamat."

Di dalam bus, Airin tertidur. Wajahnya terlihat lelah, dan tanpa sadar kepalanya terantuk ke lengan Kaivan.

Kaivan, yang duduk diam dengan ekspresi datar, merasakan sentuhan itu. Ia menoleh perlahan, matanya yang masih buram mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup dalam bus. Dari pandangan samar, ia bisa melihat siluet wajah Airin yang tenang saat tertidur.

"Apa dia tertidur?" gumamnya dalam hati. Ia sempat ragu, tetapi suara napas Airin yang lembut mengonfirmasi dugaannya.

Kaivan menghela napas panjang. Dengan gerakan hati-hati, ia menyesuaikan posisi kepala Airin, menyandarkannya ke dadanya agar tidak terus terantuk. Samar-samar, ia menangkap bayangan rambut Airin yang berantakan, tetapi tak ada reaksi dari wajahnya.

Kaivan menatap lurus ke depan, pandangannya tetap buram, tetapi ia mulai terbiasa dengan warna dan bentuk yang mulai terlihat samar. Sebuah senyum tipis yang hampir tak kentara muncul di bibirnya, lebih sebagai refleks daripada ekspresi yang disengaja. "Setidaknya dia bisa tidur nyenyak," pikirnya.

Beberapa menit berlalu, bus terus melaju dengan suara deru mesin dan obrolan penumpang sebagai latar belakang.

Tiba-tiba, kenek bus berdiri di depan dan berteriak lantang, “Pemberhentian berikutnya: Gerbang Desa Cikal!”

Airin menggeliat pelan, matanya mulai terbuka. Ia terlihat bingung sesaat, lalu tersentak sadar ketika menyadari kepalanya bersandar di dada Kaivan. Wajahnya memerah, dan ia buru-buru duduk tegak.

“Maaf… aku tertidur,” gumamnya dengan suara pelan, menundukkan kepala karena malu.

Kaivan menoleh samar ke arahnya, meskipun pandangannya belum sepenuhnya jelas. “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat, nadanya tetap dingin, namun ada sedikit kelembutan di balik ucapannya.

Airin mengangguk kecil, merasa kikuk tetapi tak berani berkata lebih. Sementara itu, Kaivan memalingkan pandangan ke arah jendela, memastikan mereka hampir tiba meskipun yang dilihatnya hanyalah siluet gelap dan cahaya yang buram.

Suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya diiringi suara deru bus yang semakin dekat menuju tujuan mereka.

Saat bus mulai mendekati gerbang desa, kenek berdiri di lorong sempit bus, mengingatkan penumpang. "Ayo, periksa barang bawaannya dulu sebelum turun!" serunya dengan suara lantang.

Airin, yang duduk di dekat jendela bersama Kaivan, segera memeriksa barang-barangnya. Ia memastikan tas belanjaan dan tas kecilnya masih aman. "Kak, kita hampir sampai. Bersiap, ya," ucapnya lembut kepada Kaivan.

Kaivan menoleh sedikit ke arah Airin. "Berikan barang belanjaannya padaku. Kau akan kesulitan turun sambil membimbingku."

Airin menggeleng cepat. "Tidak usah, Kak. Aku bisa mengatur semuanya. Tak perlu merepotkanmu."

Kaivan mendesah pelan, suaranya tetap tenang namun tegas. "Airin, aku buta, bukan tidak berguna. Kau akan kesulitan jika harus mengurus semuanya sekaligus. Biar aku yang membawa."

Airin ragu sejenak, menatap Kaivan yang terlihat serius meskipun pandangannya kosong. Setelah berpikir, akhirnya ia mengalah. "Baiklah, tapi hati-hati, ya," katanya sambil menyerahkan semua kantong belanjaan kepada Kaivan.

Kaivan menggenggam barang-barang itu dengan hati-hati, menyesuaikan pegangan tangannya agar stabil. Sementara itu, Airin berdiri terlebih dahulu, lalu membantu Kaivan berdiri.

Saat bus berhenti di depan gerbang desa, Airin mulai membimbing Kaivan turun. Dengan satu tangan ia memegang erat lengan Kaivan, sementara tangan lainnya memegang kursi penumpang yang dilewatinya untuk menjaga keseimbangan di lorong sempit.

Kaivan berjalan perlahan di belakang Airin, mengikuti langkah-langkah kecil yang dipandu olehnya. Meski terlihat sedikit canggung, ia tetap teguh membawa barang-barang belanjaan itu tanpa keluhan.

Setibanya di pintu keluar bus, Airin membantu Kaivan menuruni anak tangga satu per satu. "Pelan-pelan, Kak. Kita hampir sampai," bisiknya lembut.

Di gerbang desa, Juragan Wongso berdiri dengan tatapan tajam, memperhatikan bus yang berhenti. Wajahnya penuh harap, mencari sosok Airin yang ia tunggu.

Senyuman yang lebih mirip seringai terukir di wajah Juragan Wongso saat matanya menangkap Airin turun dari bus bersama Kaivan. Wajahnya penuh kepuasan sekaligus amarah yang terpendam. Ia menyipitkan mata, menilai pasangan itu dari kejauhan, lalu memberi isyarat halus kepada anak buahnya untuk bersiap.

Sesaat kemudian senyuman pria itu memudar. "Jadi dia benar-benar pergi ke kota bersama pria itu," gumam Wongso dengan nada penuh amarah yang ditekan. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, sementara tatapannya tak lepas dari pasangan itu yang perlahan berjalan menjauh dari bus menuju gerbang desa.

Setelah memasuki gerbang desa, Airin mendadak terdiam. Langkahnya melambat, dan firasat buruk tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Matanya menangkap Wongso berdiri bersama beberapa anak buahnya, wajah mereka terlihat tidak bersahabat. Tanpa sadar, Airin memeluk erat lengan Kaivan, mencari rasa aman dari kehadiran pria itu.

Kaivan yang merasakan lengannya dipeluk lebih erat menaikkan alisnya. Meski penglihatannya samar, ia bisa merasakan perubahan suasana. Dengan nada rendah tapi tegas, ia bertanya, "Ada apa, Airin?"

Airin menoleh sedikit, suaranya pelan, hampir seperti bisikan, tapi jelas menyiratkan kecemasan. "Juragan Wongso... dia ada di gerbang desa."

Kaivan menoleh samar ke depan, mencoba melihat melalui pandangannya yang buram. Ia menyipitkan mata, berusaha menangkap bayangan di sekelilingnya. Ia bisa merasakan ada beberapa orang mendekat. Langkah kaki mereka terdengar mantap dan terencana, seperti serigala yang mengintai mangsanya.

Airin menunduk sedikit, menekan rasa takut yang mulai menguasainya. "Ayo kita cari ojek," katanya, mencoba terdengar tenang meskipun suara gemetar tak bisa ia sembunyikan. Ia menarik lembut lengan Kaivan, berharap bisa segera menjauh dari pandangan Wongso dan anak buahnya.

Kaivan mengangguk pelan, meskipun wajahnya tetap tenang, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Dengan langkah hati-hati, mereka berjalan lebih cepat, mencoba mengabaikan tatapan tajam yang mengawasi mereka dari gerbang desa. Wongso hanya berdiri di tempat, senyumnya semakin lebar, seakan menikmati ketegangan yang dirasakan oleh Airin dan Kaivan.

Airin dengan langkah tergesa menghampiri tukang ojek yang sedang duduk di pangkalan ojek. Ia meminta dua tukang ojek untuk mengantar dirinya dan Kaivan pulang ke rumah. Tanpa banyak bertanya, mereka mengiyakan dan mulai bersiap-siap.

Namun, saat Airin hendak membantu Kaivan naik ke salah satu motor ojek, suara berat dan dingin Juragan Wongso menggema, membuat semua orang yang mendengarnya tertegun.

"Siapapun yang berani menaikkan pria buta itu, aku jamin kakinya akan patah."

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!