Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman yang baik
Papa dan Mama kembali ke rumah.
"Kasih sama Ka Yaya dan Rima," kata Mama memberikan dua kotak bakpia.
"Ya ampun, Kia...jadi cuma makan indomie saja selama Mama pergi?" Saat Mama membuka lemari dapur dan kesal padaku.
Kulihat Papa sibuk dengan sebuah handphone dan aku menghampiri Papa.
"Baru, Pa?" tanyaku, sambil duduk.
"Iya! Beli sama Om Dedi model terbaru," jelas Papa.
"Kia mau juga, dong," pintaku, sambil mendekat ke Papa.
"Tidak boleh! Masih sekolah..," tegas Papa.
"Kan, banyak ikan di kulkas." Mama masih kesal karena aku cuma makan indomie saja.
"Males masak, Ma," jawabku sambil membawa kotak bakpia. Untuk diberikan pada Kak Yaya dan Rima .
Aku kaget ada Luthfi di tempat Rima. Aku berjalan berjingkit menghampiri Rima.
"Yeee, yang dunia cuma milik berdua," ledekku, sambil menepuk bahu Rima.
"Ehhh..," jerit Rima kaget.
Aku menyerahkan satu kotak bakpia dan duduk di sebelah Rima.
"Beruntung kalian bisa pacaran tanpa halangan," ucapku pada Rima. Luthfi cuma tersenyum malu.
"Backstreet saja sama Bimo, apa susahnya," saran Luthfi.
Aku menggeleng kepala. "Jadi aku harus berbohong pada orang tuaku apa tidak kualat?" tanyaku pada mereka.
Rima tetawa mendengarnya. "Tidak usah bilang kalau tidak ditanya," jawabnya.
"Entahlah, aku pulang dulu nanti kelamaan disusul Papaku," ujarku beranjak pulang.
"Kamu tidak tanya Bimo? Dia tidak masuk sekolah tadi?" Rima bertanya padaku.
"Memangnya kenapa?" tanyaku balik.
"Tangannya masih sakit, jadi belum bisa bawa motor," jelas Luthfi.
******************
Kulihat Papa dan Mama sudah tidur. Aku membawa telpon rumah ke dalam kamarku. Pelan-pelan, supaya tidak terdengar. Aku mau menelpon Bimo.
"Hallo!"
Bimo mengangkat telponnya.
"Katanya baik-baik saja, tapi kenapa masih sakit?"
Aku berkata pelan setengah berbisik.
"Siapa ini ?"
Dia bertanya dengan suara keras.
"Aku...!!!" jawabku masih berbisik.
"Aku? Siapa?"
Bimo bertanya dengan berteriak, habislah sudah kesabaranku
"Kiaa.......," jawabku, masih berbisik.
"Ohhh! Coklat, ada apa?"
"Besok aku mau ke Perpustakaan, kamu mau ikut?"
Dia terdiam sejenak seperti berpikir.
"Ehmmm.., lihat keadaannya dulu, aku masih belum bisa bawa motor," jawab Bimo.
"Ya sudah, aku cuma bilang itu saja," kataku.
"Kenapa tidak kenal suaraku, sih?" Aku masih kesal dan bertanya dengannya.
"Bagaimana mungkin aku kenal, kamu berbisik seperti itu, aku kira tadi suara dari alam gaib," kelakarnya sambil tertawa.
Aku langsung menutup telpon.
"Membuat orang emosi saja," kataku kesal.
****************
Aku sekarang, sendiri ke sekolah. Rima sekarang diantar, dijemput Luthfi. Memang terasa berbeda, tapi apa boleh buat. Mereka lagi kasmaran.
Paman rima, tidak masalah. Setuju saja, dengan hubungan mereka. Karena Ayah luthfi kenal, dengan Paman rima, Paman rima sering, membeli bahan bangunan. di toko, Ayahnya luthfi.
Makalahku sudah, hampir selesai. Tinggal kesimpulan akhir saja. Kami akan bersiap untuk ujian akhir sekolah.
Aku khawatir, denganBimo. Dia sering, tidak masuk sekolah. Aku sebenarnya mau bicara padanya. Tapi agak takut juga nanti dikatakan sok mengatur atau apa lah. Jadi terasa berat memikirkannya.
Nanti aku fotocopy saja semua catatan catatanku untuk diberikan padanya. tapi aku sangsi apa dibacanya. Dicoba saja dulu lah siapa tahu dia mau pikirku.
****************
Aku memasuki kelas, ku lihat Heri dan Dewi sedang bicara.
"Naaah, pacarnya datang tanya saja sama dia." Heri berkata pada Dewi.
Aku terkejut mendengar kata Heri.
"Apaan, sih?" tanyaku sambil menabrak bahu Heri.
"Bimo, persentasi absennya kurang, jadi akan diberi tugas sama Bu Ningsih supaya bisa ikut ujian sekolah, ini surat panggilannya," jelas Dewi.
Dia menyerahkan amplop surat padaku. Aku baca tulisan di surat tentang pemberitahuan dan pemanggilan wali murid.
Aku mengambil dan duduk di kursi. Dewi mengikutiku dan duduk di depanku.
Aku terdiam dan berpikir.
"Aku akan membantunya, jangan sampai dia tidak lulus," janjiku pada Dewi sambil menarik napas.
Dewi menatapku sambil menepuk bahuku. "Kamu yang kuat!" Dewi berkata sambil beranjak keluar.
Aku menghampiri Rima yang baru masuk. Menyerahkan amplop dari sekolah.
"Bimo!" bisikku pelan sekali.
Rima mengambil amplop, melihat lalu memelukku.
"Aku ikut membantu, nanti kita bisa belajar bersama di tempatku, aku akan bilang sama Bibiku kalau perlu," ucapnya.
Aku membatalkan niat ke perpustakaan. Kami mengumpulkan catatan-catatan, selama pelajaran. Bahkan Dewi ikut juga membantu,
"Aku gagal jadi ketua kelas kalau ada yang tidak lulus di kelasku," tegasnya.
Heri juga meminta catatan kami. Dia bahkan memberikan uang gantinya.
"Aku juga ingin lulus dengan nilai baik," katanya.
Teman-teman lain juga mau membantu. Kami tidak ingin ada seorangpun di antara kami yang tidak lulus.
"Aku akan fotocopy semua catatan siapa yang mau tulis namanya di sini," kataku menyerahkan kertas.
Banyak yang berminat ternyata.
"Aku tidak punya uang," ujar, seorang temanku.
"Yang tidak punya uang bilang, nanti dibantu teman yang mampu," kataku.
Mereka semua tersenyum. Rasanya bahagia sekali melihat mereka gembira. Aku akan membongkar tabunganku kalau itu perlu pikirku.
Kami menghitung semuanya, ada enam orang yang tidak mampu.
"Aku bayarkan dua orang," kata Dewi.
"Biar aku sisanya," ucapku.
Pulang sekolah kami ke tempat fotocopy. Aku membuat salinan semua catatan.
Tak lama Rima dengan Luthfi datang langsung menghampiriku dan Dewi.
Luthfi menyerahkan uang. Seratus ribu rupiah padaku. Aku bingung Luthfi bukan satu sekolah denganku. Kenapa jadi ikut menyumbang juga.
"Anggap Rima yang bantu." Katanya, Rima mengangguk.
"Terima kasih" kataku mungkin karena Bimo.
Setelah selesai semua aku menyerahkan pada Dewi. Dan mengambil satu untuk Bimo.
"Aku mau ke rumah Bimo, kalian mau ikut? Aku bertanya pada mereka.
"Aku langsung pulang , besok aku akan bagikan semua tolong antarkan suratnya," jawab Dewi.
"Ya!" Aku kemudian menatap Rima.
"Kami mau ke sana juga, mau lihat tangannya Bimo," kata Rima. Luthfi mengangguk membenarkan.
******************
Saat kami datang Bimo lagi santai nonton televisi.
Aku menyerahkan surat dari sekolah. Dia mengambil dan masuk kedalam.
"Ma, ada surat dari sekolah," kata Bimo pada Mamanya. Kami masih di luar menunggu.
"Masih sakit Bim?" tanya Rima memandang tangan Bimo.
"Sudah agak mendingan, mungkin dua hari lagi, lah," jawab Bimo.
Dia mengajak kami duduk.
"Bang Jek tanya kabarmu," ujar Luthfi, sambil duduk.
"Ayo, kumpul malam ini," usul Bimo.
Astaga Bimo masih sakit sudah mau kumpul-kumpul. Aku hampir saja menjawabnya. Tapi Rima menahan tanganku.
"Jam tujuh jemput aku," katanya pada Luthfi.
"Aku pinjam pacarmu malam ini," izin Bimo pada Rima.
"Iya, tapi jangan sampai mabuk-mabukan," larang Rima.
"Merepotkan pacaran kalau diatur-atur," kata Bimo pada Luthfi.
"Bim!" Aku menahan bicaranya supaya jangan membuat Rima marah.
"Apa, Coklat?"
Katanya sambil tersenyum menggodaku. Aku memasang ekspresi kesal.
"Kami pergi dulu, aku lupa mau bantu Bibiku bikin kue," pamit Rima.
Aku juga mau pulang. Tapi tanganku di pegang Bimo.
"Oke, hati-hati, ya," kata Bimo masih memegang tanganku.
Rima pulang sambil melambaikan tangan.
***************
"Bim! Ayo makan, Mama sudah siapkan," panggil Mamanya. Dia langsung menarikku ke dalam.
Adiknya datang dari sekolah.
"Masukan motor Kak Kia ke garasi, nanti kepanasan!"
Bimo menyuruh adiknya namanya Tari masih SMP.
"Ayo, temani aku makan," ajaknya, sambil mengajakku ke ruang makan.
Aku tidak bisa menolaknya. Lagipula aku belum, menyerahkan fotocopy catatan pelajaran yang tadi.
Kami makan bersama dengan Mamanya.
"Anaknya Pak Hendra?" tanya Mama Bimo padaku.
"Iya... Ma," jawab Bimo, sambil meyuap makanannya.
"Kak Kia, bisa pinjam motornya, Tari mau ambil PR, di tempat teman sebentar," kata adiknya.
"Tidak bisa!" Bimo melarang Tari.
"Sebentar saja, kan? Boleh," kataku mengizinkan.
"Langsung antar Mama ke rumah Tante Hera." Mama Bimo mempercepat makannya.
"Besok Nama, dipanggil ke sekolah," kata Bimo.
"Aduh Bim! Suruh temanmu saja, lah...Mama malas!"
Mamanya menyahut sambil bergegas mengikuti adiknya.
Bimo cuma diam meneruskan makannya sampai habis. Aku ikut menghabiskan makananku cepat.
"Tidak usah di bereskan," larangnya, ketika aku mau mencuci piring.
"Tidak apa cuma sedikit, kamu tunggu di depan TV," suruhku.
Kulihat Bimo ikut merapikan meja.
"Kamu sudah lihatkan, keluargaku berantakan," katanya.
Aku selesai membereskan semua. Aku kemudian memberikan fotocopy catatan padanya.
"Aku sudah salinkan semua tinggal kamu baca, nanti kalau ada tugas aku akan bantu, kalau tidak mengerti boleh ditanyakan," jelasku.
Dia menatapku dan tersenyum. "Bagaimana aku membalasnya? Jadi pacar yang baik?" tanya Bimo menatapku, sambil memegang tanganku.
"Dengan lulus ujian," ancamku
"Jadi pacar yang baik saja," katanya sambil memelukku.
Aku mendorongnya menjauh.
"Ini bukan baik, ini nakal!"
Dia tertawa dan bertanya.
"Coklat... kita pacaran, kan?"
"Katakan! Aku cinta padamu."
Aku menyuruh, sambil memandangnya.
"Jangan menyuruhku, melakukan itu," pintanya.
"Kalau begitu kita berteman saja," kataku, dengan menekankan kata teman.
"Katakan sekali lagi," ujarnya, sambil memegang wajahku, dengan tangannya.
Aku menggelengkan kepalaku agar tangannya lepas dari wajahku.
"Sekali lagi mengatakan kita berteman, aku benar-benar menciummu," bisiknya di telingaku.
Aku hanya mengangguk. Bimo benar-benar bisa membuatku gugup. Sudahlah jalani saja dulu pikirku.
Aku harus membantu Bimo supaya lulus. Saat ujian akhir sekolah. Jangan membuat masalah dengannya.
** Teman yang baik saling membantu saling mendukung sekarang jarang kita temui seperti itu.
**Episode depan, mau lihat Bagaimana kelanjutan tugas Kia? bagaimana usaha bimo supaya lulus ujian? Ada apa di Lapangan Basket?
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂