Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Hijau
Sepanjang acara, Kanaya tetap berada di bayang-bayang. Kanaya sempat dipanggil ke atas panggung untuk memberikan testimoni singkat mengenai modul edukasi programnya, ia berbicara dengan suara yang berusaha tetap stabil menjelaskan pentingnya pendekatan emosional pada anak.
Saat Kanaya berbicara, ia sempat melirik ke arah meja utama. Narendra sedang menyesap air mineralnya, matanya menatap lurus ke arah panggung. Namun, begitu Kanaya selesai dan turun, ia segera dikerumuni oleh beberapa staf rektorat, sementara Narendra ditarik oleh Ayahnya untuk diperkenalkan kepada relasi bisnis dari luar negeri.
Tidak ada kesempatan bahkan tidak ada ruang untuk sekadar menyapa, "Aku tidak seharusnya ada di sini," gumam Kanaya pada dirinya sendiri.
Ketika acara mencapai puncaknya dengan jamuan makan malam mewah, Kanaya memilih untuk menyelinap keluar. Kanaya merasa gaun navy pinjaman ini mulai terasa berat dan mencekik, ia berjalan melewati lobi hotel yang megah menuruni anak tangga marmer dan terus berjalan hingga mencapai gerbang luar hotel yang berbatasan dengan jalan raya.
Dunia gemerlap itu ia tinggalkan di belakang, Kanaya berdiri di halte bus yang sepi, tepat di bawah lampu jalan yang berpijar kuning pucat. Kanaya melihat ke bawah, menatap sepatu hak tinggi pinjamannya yang mulai membuat kakinya lecet.
"Emang gak berbakat jadi orang kaya aku," gumam Kanaya dan tersenyum miris.
.
Keesokan harinya, aroma kopi yang kuat dan suara mesin penggiling di sebuah kafe kecil dekat kampus menjadi latar belakang kesibukan Kanaya, ia sengaja memilih kafe ini karena suasananya yang tenang dan jauh dari keriuhan kampus yang kini terasa mengintimidasi setelah kejadian semalam.
Di atas meja kayu yang permukaannya sudah agak usang, laptop Kanaya menyala berdampingan dengan catatan tangan yang penuh coretan. Kanaya sedang berusaha menyatukan sisa-sisa pemikiran tentang modul sanitasi, mencoba tetap profesional meski bayangan Narendra yang mengenakan tuksedo masih menari-nari di ingatannya.
"Sedikit lagi selesai," gumam Kanaya sambil mengetik kalimat terakhir tentang pentingnya cuci tangan sebelum makan.
Tiba-tiba, kursi di depannya ditarik. Kanaya tersentak dan mengira itu adalah Lista atau Arin yang ingin mengejutkannya. Namun, ketika ia mendongak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Narendra Atmaja berdiri di sana, kali ini ia tidak mengenakan tuksedo mahal hanya kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung rapi dan celana chino gelap. Namun, aura mahal itu tetap tidak bisa disembunyikan.
"Kenapa pergi semalam?" tanya Narendra tanpa basa-basi dan langsung duduk tanpa menunggu izin.
Kanaya mengerjapkan mata, bingung harus menjawab apa, "A-aku... acaranya sudah selesai dan bus terakhir lewat jam sepuluh malam," jawab Kanaya.
Narendra menatapnya dalam, tatapan yang membuat Kanaya merasa seolah semua rahasianya terbongkar. "Saya mencari anda setelah jamuan dimulai, rektor ingin memperkenalkan anda pada salah satu donatur pendidikan, tapi anda sudah hilang," ucap Narendra.
"I-iya, aku kurang nyaman disana kemarin," ucap Kanaya dan diangguki Narendra.
Narendra kemudian melirik pekerjaan Kanaya, di mana Kanaya tanpa sadar sedang menggambar sketsa Pahlawan Hijau yakni sebuah brokoli kecil dengan wajah tersenyum.
Narendra menyandarkan tangannya di dagu, "Ini brokoli yang cukup bahagia," ucap Narendra ketika melihat sketsa di samping laptop Kanaya.
"Ini adalah Pahlawan Hijau, anak-anak butuh pahlawan yang bisa dimakan, bukan pahlawan super," ucap Kanaya yang mencoba menormalkan detak jantungnya.
Narendra menatap sketsa itu lebih lama, "Anda punya bakat menggambar, saya tidak tahu mahasiswi Pendidikan juga harus memiliki keterampilan visual," ucap Narendra.
"Tidak harus, tapi kalau materi pelajaran bisa menyenangkan, kenapa tidak? Anak-anak belajar melalui permainan," ucap Kanaya.
"Benar, tapi saya rasa anda sepertinya terlihat lelah," ucap Narendra.
Kanaya terkejut dengan komentar pribadinya, ia memang lelah. Setelah acara amal kemarin, ia harus menyelesaikan modul ini di sela-sela kuliah.
"Sedikit, aku sedang mencoba menyeimbangkan semuanya. Termasuk pekerjaan paruh waktu," ucap Kanaya.
"Tugas Kedokteran membuat saya nyaris tidak bisa tidur, saya membayangkan beban ganda pasti lebih berat," ucap Narendra.
Ini adalah percakapan paling intim dan personal yang pernah mereka lakukan, ada rasa hormat yang samar dalam nada suara Narendra yang baru. Bukan rasa hormat untuk pekerjaan Kanaya, tetapi mungkin rasa hormat untuk perjuangannya.
"Kenapa kamu membaca filsafat? Bukan buku medis?" tanya Kanaya.
"Saya perlu mencari cara berpikir yang berbeda, kedokteran adalah tentang kepastian, data dan diagnosa. Tapi hidup dan filsafat adalah tentang ambiguitas dan ambiguitas itulah yang membuat saya tertarik, dunia saya terlalu teratur," ucap Narendra.
Kanaya terdiam, memproses pengakuan itu. Narendra Atmaja, sang Pria Es yang sempurna, mengakui bahwa dunianya terlalu teratur.
"Mungkin itu sebabnya kamu begitu bagus dalam data, tapi kesulitan dalam terjemahan karena dunia anak-anak adalah ambiguitas yang paling murni," ucap Kanaya.
Narendra tersenyum tipis, sebuah senyum yang hampir tidak ada, hanya sebuah tarikan kecil di sudut bibirnya. Itu adalah senyum yang jujur, bukan senyum sopan di acara amal, senyum itu membuat Kanaya hampir lupa bernapas.
"Anda benar, saya harus belajar lagi," ucap Narendra.
Tiba-tiba, ponsel Narendra bergetar di meja. Ia melihat layar dan ekspresinya kembali berubah dingin dan Kanaya yakin itu adalah panggilan kerja atau keluarga.
"Saya harus pergi," kata Narendra dan diangguki Kanaya.
Narendra berdiri, tetapi sebelum benar-benar berbalik, ia menoleh ke sketsa brokoli itu lagi. "Pahlawan Hijau itu harusnya memiliki jubah yang lebih dramatis," ucap Narendra.
Narendra mengucapkan itu dengan nada serius, seolah-olah estetika jubah brokoli adalah hal yang sangat penting. Lalu, ia melangkah keluar dari kafe, lonceng bergemerincing sekali lagi, meninggalkan Kanaya sendirian.
Kanaya merasakan kehangatan yang tersisa dari interaksi itu, jantungnya terasa ringan. Narendra tidak hanya berbicara tentang pekerjaan, ia berbicara tentang kelelahan, ketertarikannya pada ambiguitas dan ia bahkan memberikan kritik yang lucu tentang jubah brokoli.
Kanaya membuka buku catatannya, mengambil pulpen. Di samping sketsa brokoli, ia menambahkan jubah merah menyala yang berkibar ditiup angin.
Narendra mungkin kembali bersikap dingin dan profesional keesokan harinya, tetapi hari ini, di sudut tersembunyi kafe, Kanaya mendapatkan gambaran singkat tentang sosok Narendra yang lebih manusiawi, sosok yang juga mencari tempat peristirahatan dari dunia yang menuntut kesempurnaan. Dan bagi Kanaya, pengetahuan rahasia itu adalah pemenang kecil dalam permainan cinta rahasianya.
"Tuhan, apa aku salah kalau aku berharap berjodoh dengan Narendra," gumam Kanaya.
Kanaya segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran konyol itu. "Sadar, Kanaya! Kamu dan Narendra itu adalah dua hal yang berbeda," Kanaya merutuki dirinya sendiri sembari merapikan draf modulnya.
Namun, semangatnya justru terbakar. Kanaya mengerjakan revisi jubah sang pahlawan hijau dengan senyum yang tak kunjung luntur, jika Narendra ingin jubah yang lebih dramatis, maka ia akan memberikannya yang terbaik.
.
.
.
Bersambung.....