Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang Tahun Naura, yang Terlupakan!
Naura bangun jam lima pagi. Matanya langsung kebuka sendiri, meski badannya masih terasa cape. Ada perasaan aneh di dada, perasaan yang campur antara seneng dan sedih.
Hari ini dua puluh enam Februari, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Ulang tahun yang ke dua puluh enam, Naura duduk di pinggir ranjang sambil menatap kamar yang masih gelap, cahaya fajar belum masuk dari jendela, masih ada dinginnya udara pagi yang bikin dia memeluk diri sendiri.
Ulang tahun.
Biasanya Naura merayakannya bersama sang ibu, cuma berdua tapi selalu spesial, ibu masak makanan favorit Naura, bikin kue ulang tahun dari resep nenek, terus mereka duduk berdua sambil nyanyi lagu selamat ulang tahun yang sumbang tapi penuh cinta.
Tapi sekarang?
Ibu masih di rumah sakit pemulihan, Naura ga mau ganggu dia, ibu udah cukup capek dengan kondisinya sendiri.
Dan Nathan?
Apakah Nathan tau hari ini ulang tahun Naura?
Apakah dia ingat?
Naura mengelus dadanya pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berdegup cepet karena harapan kecil yang tumbuh.
Mungkin Nathan ingat,
Mungkin hari ini Nathan bakal beda.
Mungkin hari ini Naura ga akan sendirian.
Mungkin.
***
Jam tujuh pagi, Naura turun ke bawah dengan dress simple warna putih, rambut diiket ekor kuda, makeup tipis buat nutupin mata yang masih bengkak dari kemarin malem menangis.
Bi Ijah udah di dapur, lagi nyiapin sarapan kayak biasa.
"Selamat pagi Nyonya," Bi Ijah senyum lebar. "Selamat ulang tahun!"
Naura langsung terharu, dia ga nyangka Bi Ijah inget.
"Makasih Bi," suaranya bergetar
Bi Ijah jalan mendekat dan peluk Naura hangat, pelukan ibu yang Naura kangen banget. "Nyonya panjang umur ya, sehat selalu, semoga bahagia."
Bahagia. Kata itu terasa asing di telinga Naura.
Bi Ijah melepas pelukannya, menatap Naura dengan mata berkaca kaca. "Bi udah masakin nasi goreng special buat Nyonya, makanan favorit Nyonya kan?"
"Iya Bi, " Naura ngangguk sambil ngusap air mata yang mulai keluar. "Makasih banget Bi."
Mereka sarapan berdua di meja makan yang besar, cuma berdua karena Nathan udah berangkat dari jam enam pagi.
Tentu saja.
Nathan ga ada. Naura mencoba gak mikirin itu, dia fokus makan nasi goreng buatan Bi Ijah yang emang enak banget, bumbunya pas, ada telor mata sapi di atas, kerupuk renyah, sempurna.
Tapi tetap aja ada rasa hambar di lidah, hambar karena hati yang sedih.
***
Siang hari Naura ngecek hape setiap lima menit, mengecek ada pesan dari Nathan atau gak.
Naura duduk di sofa sambil menggenggam ponsel, matanya gak lepas dari layar, menunggu nama Nathan muncul di notifikasi.
Tapi kosong.
Kosong terus.
"Mungkin dia lupa," Naura berbisik pada diri sendiri. "Mungkin dia sibuk, atau mungkin nanti malem dia ingat."
Mungkin, lagi-lagi hanya kata mungkin. Kata yang jadi harapan Naura setiap hari.
Bi Ijah duduk disebelah Naura sambil pegang tangan Naura lembut, "Nyonya, mau bibi buatkan kue ulang tahun?"
Naura nengok ke Bi Ijah, matanya berkaca kaca, "Gak usah Bi, gak perlu ribet."
"Ga ribet Nyonya, bibi pengen banget buatin kue buat Nyonya." Bi Ijah berdiri, "Nyonya tunggu di sini saja ya, bibi ke dapur sebentar."
Naura cuma mengangguk.
Sore itu Bi Ijah sibuk di dapur, bunyi mixer, bunyi oven, aroma kue yang mulai nyebar ke ruang tengah. Naura duduk sendirian sambil ngeliatin jendela.
Matahari mulai turun, langit berubah jingga kemerahan yang indah. Ulang tahun yang indah, tapi sendirian. Jam enam sore Naura kirim pesan ke Nathan.
"Hari ini ulang tahunku."
Tapi sampai saat ini tak ada balasan, Naura menatap layar ponselnya dengan mata kosong. Dibaca tapi ga dibalas, berarti Nathan tau. Nathan tau hari ini ulang tahun Naura.
Tapi dia ga peduli, dia gak peduli sama sekali. Air mata Naura jatuh ke layar hape, membuat layar berembun. Tangannya gemetar, dadanya terasa sesak.
"Bodoh," dia berbisik. "Kenapa aku masih berharap."
***
Jam tujuh malem, bi Ijah keluar dari dapur sambil bawa kue ulang tahun kecil, ukurannya cuma buat dua tiga orang, bentuknya simple tapi ada hiasan bunga bunga dari krim yang cantik.
"Nyonya! kuenya sudah jadi!" Bi Ijah senyum lebar meski matanya udah berkaca kaca dari tadi.
Naura berdiri, mencoba tersenyum. "Cantik banget Bi."
"Ayo, Nyonya duduk, kita rayakan."
Mereka duduk di meja makan, kue di tengah, lilin kecil menatap di atas kue, ada angka dua dan enam yang berkilau.
Bi Ijah nyalain lilinnya, api kecil menyala. Terus Bi Ijah mulai nyanyi, suaranya gemetar.
"Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun... selamat ulang tahun, Naura."
Naura ga bisa nahan air matanya lagi jatuh deras. Nangis sambil denger lagu ulang tahun yang dinyanyiin sama Bi Ijah dengan penuh cinta.
Setelah lagu selesai, Bi Ijah ngusap air matanya sendiri. "Nyonya tiup lilinnya, jangan lupa minta harapan."
Harapan, Naura menatap api lilin yang bergerak gerak kecil.
Apa yang harus dia harapkan?
Berharap Nathan cinta sama dia? gak mungkin.
Berharap Mahira pergi? gak realistis.
Berharap dia bahagia? terlalu jauh.
Naura menutup mata, meniup lilinnya pelan, lalu api pun padam
"Aku berharap, aku kuat," Naura berbisik.
Bi Ijah motong kue, kasih sepotong buat Naura. Naura makan kue itu sambil nangis, manis di lidah tapi pahit di hati.
Mereka makan berdua dalam diam. Cuma bunyi sendok garpu yang beradu sama piring.
***
Jam sepuluh malem, Naura masih duduk di sofa sambil ngeliatin pintu depan. Menunggu Nathan pulang.
Jam sepuluh lewat tiga puluh, masih ga ada tanda tanda Nathan. Bi Ijah udah tidur dari jam sepuluh tadi, ninggalin Naura sendirian di ruang tengah dengan lampu redup.
Naura memeluk lutut sambil menatap kosong ke depan. Ulang tahunnya hampir berakhir, satu jam lagi bakal jadi tanggal dua puluh tujuh Februari.
Dan Nathan gak ada, gak ada sama sekali. Jam sebelas lewat empat puluh lima, bunyi mobil masuk ke halaman. Jantung Naura langsung berdegup kenceng.
Nathan.
Nathan pulang.
Naura berdiri dengan cepet, nyiapin senyum terbaiknya, berharap Nathan ingat, berharap Nathan bawa surprise.
Pintu kebuka.
Nathan masuk dengan langkah gontai, kemejanya berantakan, rambut acak acakan, mata sayu. Bau alkohol nyengat tercium dari tubuhnya Naura berdiri di situ dengan senyum yang perlahan memudar.
Nathan mabuk.
"Nathan," suara Naura pelan.
Nathan mengangkat muka, liat Naura sekilas terus jalan ke tangga.
"Dari mana?" Naura bertanya dengan suara lemah, hampir ga kedengeran.
Nathan berhenti di tangga, berbalik sedikit, "Pesta kantor."
Pesta kantor, di hari ulang tahun istrinya sendiri. Nathan ikut pesta kantor.
"Kamu tau hari ini tanggal berapa?" Naura nanya lagi dengan suara bergetar.
Nathan mengkerutkan dahi, kayak mikir keras. "Tanggal dua puluh enam kan?"
"Iya."
"Kenapa?"
Kenapa katanya, Nathan nanya kenapa. Berarti dia beneran lupa dan gak ingat sama sekali.
Naura menelan ludah, air matanya udah gak bisa ditahan lagi. "Gak ada apa-apa, aku cuma pengen tau kamu dari mana."
Nathan mengangguk terus mau naik lagi tapi Naura manggil lagi.
"Nathan, tunggu."
Nathan berhenti, balik lagi dengan ekspresi kesel. "Ada apa lagi Naura? aku capek, aku pengen tidur."
Naura jalan mendekat dengan kaki gemetar. Pas udah deket, Naura ngeliat sesuatu di kerah kemeja Nathan. Sesuatu yang bikin jantung Naura berhenti.
Lipstick mark.
Bekas lipstik di kerah kemeja putihnya, warna merah terang. Warna yang Naura kenal, yaitu kesukaan Mahira.
"Kamu..." Naura menunjuk kerah kemeja Nathan dengan tangan gemetar. "Kamu sama Mahira?"
Nathan meliat kerah kemejanya, liat bekas lipstik itu, ekspresinya ga berubah.
"Iya, dia juga ada di pesta kantor tadi." Nathan bilang datar.
"Terus, kenapa ada bekas lipstiknya di kerah kamu?"
Nathan mengusap wajahnya kasar. "Naura jangan mulai, aku capek, aku ga mood buat drama kamu malem ini."
Drama.
Naura yang nanya soal bekas lipstik wanita lain di kerah suaminya itu drama.
"Aku cuma pengen tau Nathan."
"Dia peluk aku pas lagi minum, cuma itu, ga ada yang lain," Nathan bilang dengan nada kesel. "Puas? sekarang aku bisa tidur?"
Peluk, Mahira peluk Nathan.
"Dan kamu gak menolaknya?"
"Kenapa aku harus nolak? Dia temen lama aku." Nathan mulai naik tangga lagi.
"Tapi kamu udah nikah Nathan!" Naura berteriak, suaranya pecah. "Kamu punya istri! aku istrimu!"
Nathan berhenti, berbalik dengan tatapan dingin yang bikin Naura mundur selangkah.
"Istri kontrak Naura," Nathan bilang dingin. "Jangan bertingkah kayak istri beneran, karena kamu bukan."
Kata kata itu kayak pisau yang nusuk jantung Naura langsung.
Istri kontrak.
Bukan istri beneran, Nathan naik tangga, masuk ke kamarnya, tutup pintu. Ninggalin Naura yang berdiri sendirian di ruang tengah dengan air mata ngalir deras.
Naura jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin, menangis sejadi-jadinya. Ulang tahunnya berakhir seperti ini, sendirian dan suami yang lupa.
Bahkan suaminya yang pulang membawa bekas lipstik wanita lain.
Jam dua belas malam tepat, tanggal berganti jadi dua puluh tujuh Februari. Ulang tahun Naura berakhir, berakhir dengan tangisan di lantai dingin mansion yang megah tapi kosong.
Berakhir dengan hati yang remuk lebih parah dari kemarin. Berakhir dengan harapan yang udah ga ada lagi. Dan Naura menangis sampe ketiduran di lantai itu.