Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Lalu dasarnya apa kau menikahi Humaira?" tanya Akbar semakin memojokkan Sameer.
Sameer kembali terdiam, merasa terpojok.
Walaupun ia besar di pondok dan banyak sekali di lingkungannya yang melakukan poligami tapi ia tidak pernah setuju adanya poligami dalam rumah tangga.
Selama ini ia melihat tidak pernah ada yang berhasil membentuk rumah tangga berpoligami. Pasti ada pertikaian dan juga pasti ada yang tersakiti.
"Apa kau begitu suka mengurusi rumah tangga orang lain?" Sameer berbalik bertanya pada Akbar. Akbar tersenyum sinis.
"Ayo Mai kita pulang!" Akbar berdiri dari tempat duduknya siap melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Sameer.
"Siapa yang mengizinkan mu mengajak Humaira? Aku yang berhak disini" kata Sameer tajam
"Berhak? Kau saja tidak bisa memberikan hak yang sama. Jangan bicara hak kalau kau hanya bisa menyakiti istri mu" kata Akbar sarkas. Akbar menatap Sameer semakin sinis.
"Apa kau ingin melihat Humaira terluka melihat mu bercumbu disini? Kau sama sekali tidak punya adab, ini kantor Bung bukan kamar. Percuma kau lulusan Al Azhar kalau kau tidak bisa menerapkan adab dalam kehidupan mu. Nilai akhlak mu NOL" perkataan Akbar menohok hati Sameer.
Akbar menggandeng tangan Humaira, secepat kilat Sameer menarik tangan Humaira dari gandengan Akbar membuat si empunya tangan merasakan kesakitan.
"Jangan kau sentuh istri ku, dia bukan mahram mu" ucap Sameer penuh penekanan.
"Mahram atau tidak, itu tidak penting. Aku tidak ingin melihat Humaira tersakiti karena ulah mu"
Rahang tegasnya mulai menegang, ia tidak rela Humaira pergi bersama Akbar apalagi melihat istrinya disentuh pria lain.
Ia merasanya hatinya panas, bergejolak penuh amarah.
***
Brakkk....
Sameer membanting pintu kamarnya keras, Humaira menunduk terdiam duduk di atas ranjang. Ia sama sekali tidak berani menatap Sameer yang diliputi amarah.
Elena yang berada di luar kamar, merasa khawatir. Ia takut terjadi sesuatu apalagi dilihat dari raut wajah Sameer sudah menahan amarah sejak beberapa jam lalu di kantor.
"Sam, buka pintunya" pinta Elena mengetuk pintu kamar. Sameer sama sekali tidak memperdulikan ketukan pintu yang dilakukan Elena.
"Apa hubungan mu dengan Akbar?" bentak Sameer emosi yang meluap. Kesekian kalinya Sameer mempertanyakan hubungan antara Humaira dan Akbar.
"Ti-dak ada Zauya" Humaira tergagap, ia takut menerima kemarahan Sameer yang ditunjukkan untuknya.
"JANGAN BOHONG!" Teriak Sameer.
Humaira berjengkit kaget mendengar teriakan Sameer. Selama ia mengenal Sameer, ia tidak pernah mendengar Sameer berteriak.
"Din-da ga-k bohong Zauya" Humaira menjelaskannya dengan gugup, tangannya meremas ujung hijabnya sampai kusut. Ia merasa tidak sanggup menerima kemarahan Sameer.
"Maafkan Dinda, kalau sikap Dinda membuat Zauya marah. Dinda tidak bermaksud seperti itu, Maaf kalau Dinda sudah mengganggu Zauya" isak Humaira membela diri. Ia tidak akan sanggup kalau Sameer marah padanya.
Sameer menatap Humaira sendu, hatinya merasakan sakit saat melihat Humaira menangis. Ia tidak suka melihat istrinya menangis apalagi alasannya menangis adalah dia.
"Maafkan Zauya" ucap Sameer luluh melihat air mata Humaira.
Sameer bersimpuh dihadapan Humaira menggenggam tangan Humaira dan lagi-lagi Humaira menarik tangannya dari genggaman Sameer.
"Dinda kenapa?"
Humaira menggelengkan kepalanya.
"Apa salah kalau Zauya memegang tangan Dinda?"
"Dinda tidak mau disentuh Zauya" ceplos Humaira
Deg...
Hati Sameer sakit, dadanya terasa nyeri seperti tertusuk sembilu. Tidak terlihat tapi di rasanya luar biasa sakit.
"Kenapa?" tanya Sameer dengan pandangan mata syarat rasa kecewa.
"Dinda hanya tidak mau Zauya sentuh, Zauya kembalilah ke kamar Mbak Elena. Dinda mau tidur sendiri" kilah Humaira memalingkan wajahnya
"Tapi ini jadwal Zauya tidur bersama Dinda" kata Sameer selembut mungkin supaya tidak menyinggung Humaira yang perasaannya lebih sensitif.
Apalagi sejak kehamilannya membuat Humaira, lebih sensitif dan gampang sekali emosinya berubah-ubah.
"Tidak Zauya, berikan saja jadwal Dinda ke Mbak Elena"
"Apa Dinda ingin buat Zauya semakin merasa bersalah?"
Humaira menggelengkan kepalanya cepat.
"Kalau memang Zauya merasa bersalah, seharusnya Zauya tidak melukai hati Dinda. Apa salah kalau Dinda menginginkan Zauya untuk Dinda seorang?" tanya Humaira mulai menyuarakan isi hatinya.
Wajahnya basah oleh air mata. Sameer membuka cadar Humaira, menghapus air mata Humaira.
Pilu..
hatinya pilu merasakan tangisan Humaira yang syarat luka.
"Maafkan Zauya" Sameer tertunduk mengatupkan bibirnya rapat.
"Bukan Zauya yang salah, yang salah adalah Dinda yang hadir di hidup Zauya. Mengambil kebahagiaan Zauya. Zauya berbahagialah dengan Mbak Elena, kebahagiaan Zauya sudah ada disamping Zauya sekarang. Tersenyumlah dan tertawalah Zauya, buatlah anak-anak yang lucu dengan Mbak Elena. Biarkan rumah ini terasa hidup dengan tangisan anak-anak kalian"
"Dinda" panggil Sameer pelan, tubuhnya lemas.
"Zauya bolehkah Dinda memilih tinggal di rumah yang berbeda dengan Zauya dan Mbak Elena?" tanya Humaira dengan tatapan serius.
Humaira tidak tahan kalau harus tinggal satu atap bertiga, dia tidak tahan setiap kali melihat kebersamaan mereka hatinya terasa terbakar cemburu.
"Dinda tidak nyaman tinggal bersama Zauya?"
"Bukan begitu Zauya, rasanya terlalu berat bagi Dinda untuk tinggal bertiga. Dinda ingin tinggal di tempat yang tidak jauh dari toko"
"Baiklah kalau itu keinginan Dinda, biarkan Doni mengurus tempat tinggal untuk kamu"
"Terima kasih Zauya" senyum Humaira. Mungkin ini adalah pilihan terbaik yang harus dia ambil, selama kehamilannya dia ingin menikmati waktu tenangnya walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam sangat sulit harus berjauhan dengan Sameer.
"Selama Dinda tidak ada disini. Zauya harus punya banyak waktu dengan Mbak Elena, Zauya jaga kesehatan, Zauya jangan manja, harus pakai baju kerja sendiri, jangan nyusahin Mbak Elena ya" pesan Humaira menyunggingkan senyuman manisnya. Humaira menangkup wajah Sameer.
Cup
Humaira mengecup kening Sameer
Cup
Ciuman Humaira beralih ke kedua mata Sameer
Cup
Lalu turun ke pipi sang suami dan terakhir Humaira mendaratkan kecupan di bibir Sameer.
Humaira mencium bibir Sameer dalam, menyalurkan rasa kasih sayangnya untuk sang suami.
"Zauya selalu menyayangi Dinda" Sameer mengecup bibir Humaira lembut. Ciuman yang semula lembut berubah menuntut. Sampai pasokan oksigen berkurang baru Sameer melepaskan ciumannya dari bibir Humaira.
Saat Sameer kembali memangut bibir Humaira, buru-buru Humaira menutup bibir Sameer seraya menggelengkan kepalanya pelan dibarengi senyuman manisnya.
"Sudah malam Zauya, sana tidur" Humaira membuka pintu kamarnya mempersilakan Sameer untuk pergi dari kamarnya.
"Malam ini boleh ya Zauya tidur dengan Dinda" pinta Sameer memasang wajah memelasnya. Humaira terkekeh kecil melihat wajah memelas Sameer yang terlihat lucu baginya.
"Tidak, sudah sana Mbak Elena pasti sudah menunggu Zauya"
Sameer mengerucutkan bibirnya sebal. Humaira menggelengkan kepalanya dengan kekehan kecilnya.
"Selamat malam sayang" Sameer mengecup kening Humaira membawa langkah beratnya meninggalkan kamar Humaira menuju kamar Elena.
Saat memasuki kamar Elena, ia sudah melihat Elena meringkuk diranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada
"Selamat tidur Ele" Sameer pun juga mendaratkan kecupan di kening Elena.
***
Sepeninggal Sameer, ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. Perlahan tangis yang sudah ditahannya sejak tadi pecah juga.
Sesungguhnya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak menginginkan berpisah dengan Sameer. Ia ingin selalu berada di samping suaminya, ingin memeluk suaminya sepanjang hari, ingin memiliki suaminya seorang diri tapi lagi-lagi ia harus menahan egonya.
Suaminya bukan miliknya seorang, ada orang lain yang juga berhak untuk bersama suaminya. Hidup di atap yang sama, bersama madunya membuat Humaira tidak mampu bertahan lama.
Hatinya terlalu rapuh setiap kali harus melihat kemesraan suaminya dengan istrinya yang lain, hatinya tidak sekuat dan setegar itu. Biarlah ia yang mengalah, meninggalkan rumah ini. Demi kebaikan hatinya yang sangat rapuh ini.
Humaira memeluk kemeja putih milik Sameer, di ciumnya kemeja itu. Kemeja bekas pakai Sameer, kemeja yang masih menempel bau keringat Sameer.
Aroma yang tanpa sadar membuatnya tenang serta nyaman. Yang selama seminggu ini menjadi candunya setiap kali Sameer tidur di kamar Elena. Aroma yang menemani tidurnya, menjadi obat tidur nyenyaknya.
***