NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Perjamuan Makan malam

William hanya menyipitkan matanya dan mengerutkan dahi sejenak. "Olivia” sapanya singkat dengan nada datar yang sulit ditebak.

Siapa wanita ini? William tidak menghindar dan Mereka terlihat sangat akrab. batin Jihan yang penasaran.

Jihan teringat pada aturan yang ia baca untuk tidak ikut campur apapun urusan William dan teringat ucapan dingin William saat hari pernikahan pertama bahwa dirinya bukanlah wanita yang dicintai pria itu. Melihat pemandangan di depannya, Jihan merasa menemukan jawabannya. Mungkin dia wanita yang dicintai William. Mungkin wanita inilah alasannya ia memperlakukannya seperti sampah.

Olivia kemudian melepaskan pelukannya di leher, beralih memegang lengan William dengan erat. Ia menarik William menuju ke ruangan mereka sambil mengerucutkan bibirnya manja.

"Kau terlambat, William! Kami semua sudah menunggumu di dalam," ucapnya cemberut, sengaja mengabaikan keberadaan Jihan yang berdiri hanya beberapa senti dari mereka. Olivia bersikap seolah Jihan hanyalah asisten atau orang asing yang tidak sengaja lewat.

Sambil berjalan menarik William tanpa memberikan kesempatan bagi William untuk berbicara, Olivia terus berceloteh panjang lebar.

"Jadwal modeling dan photoshoot-ku sangat padat belakangan ini. Aku benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah kau berikan kepadaku, tapi kau selalu saja sibuk dengan urusanmu. Aku ingin kita menghabiskan waktu lebih banyak, seperti dulu..."

Jihan hanya bisa mengekor di belakang mereka dalam diam. Ia menatap punggung William yang ditarik oleh wanita lain, dan menatap lurus ke arah wanita itu, memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan saksama. Tidak ada rasa cemburu, hanya rasa penasaran yang besar yang memenuhi benaknya.

Tidak menyia-nyiakan apa yang diberikan William? Wanita ini pasti kekasihnya William, lalu kenapa William tidak menikah saja dengannya batin Jihan

Begitu mereka sampai di ruangan VIP yang mewah, Olivia dengan cekatan menggeser kursi di sebelah tempat duduk utama untuk William, memastikan posisi itu sangat dekat dengannya. Ia sengaja menciptakan jarak fisik antara William dan Jihan. Tanpa ragu, Olivia duduk di kursi itu, William menyusul duduk di sampingnya, dan Jihan disampingnya dengan berjarak dari tempat William , merasa seperti orang asing di tengah keakraban mereka.

William menyandarkan punggungnya dengan santai. "Lupakan soal masa lalu. Di mana Lucas, Henry, dan yang lainnya?" tanya William dengan suara beratnya yang khas.

Olivia mengerucutkan bibirnya manja sambil tetap memegangi lengan William. "Mereka sedang di balkon, merokok dan minum. Aku sengaja menunggu di depan karena ingin menyambutmu terlebih dahulu," ucapnya sambil memberi kode pada pelayan untuk memanggil teman-teman mereka yang lain.

Setelah itu, perhatian Olivia beralih sepenuhnya pada Jihan. Ia mengamati Jihan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis yang penuh aura persaingan.

Sialan kenapa Wanita ini... sangat cantik, Kulitnya begitu bersih, wajahnya terlihat masih muda. Batin Olivia sempat terkejut.

Namun, rasa iri segera menyelimutinya.

Tapi Aku yakin William tidak mencintai wanita ini. Lihat saja, dia bahkan tidak menolak sentuhanku sedikit pun, aku akan memastikan William kembali kepadaku. batin Olivia penuh kemenangan.

Olivia memasang senyum yang dibuat-buat, "Jadi... kau wanita yang menjadi istri William?" tanyanya dengan nada merendahkan.

Jihan membalas dengan senyum kaku yang tetap sopan. "Iya, salam kenal. Namaku Jihan."

Olivia menaikkan sudut bibirnya dengan kecut. “Aku dan William sudah sangat dekat sejak lama, kami menghabiskan begitu banyak waktu bersama... lalu tiba-tiba dia muncul membawa seseorang yang bahkan tidak kami kenal." Nadanya sinis menyindir Jihan seolah ia hanya orang asing.

Belum sempat Jihan membalas sindiran halus Olivia, pintu balkon terbuka. Lucas, Henry, Arthur, dan Siena melangkah masuk ke ruangan.

"William! Akhirnya pengantin baru menampakkan dirinya!" seru Lucas dengan tawa keras, memecah ketegangan di ruangan itu. Namun, langkah Lucas terhenti saat matanya tertuju pada Jihan.

Ya Tuhan... apakah dia manusia? Atau bidadari? Cantik sekali… benar-benar tidak masuk akal. Kenapa William menyembunyikannya. Batin Lucas seolah membeku.

Lucas segera mendekat dan mengulurkan tangannya pada Jihan dengan mata yang berbinar kagum. "Jadi kau istri William? Halo, siapa namamu? Aku Lucas."

Jihan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak anggun, ia mengulurkan tangannya sedikit ke arah Lucas. "Jihan. Salam kenal" ucapnya lembut, lalu segera menarik kembali tangannya sebelum Lucas sempat menggenggamnya terlalu lama.

Siena, yang berdiri di belakang Lucas, menyenggol lengan temannya itu sambil tertawa kecil, sementara Henry dan Arthur mengangguk hormat, ikut terpesona dengan aura yang dipancarkan Jihan.

William yang memperhatikan interaksi itu menyipitkan matanya. Ia menangkap jelas kekaguman yang berlebihan di wajah Lucas, lalu melirik sinis ke arah Jihan, seolah memberikan peringatan lewat tatapan tajamnya.

Jihan yang merasakan tekanan aura William langsung memperbaiki posisi duduknya, berdiri tegak dan memutuskan untuk tidak banyak bicara lagi agar tidak memancing amarah suaminya.

Tak lama, Arthur melangkah maju “ William selamat datang dan selamat atas pernikahan mu” arthur mengulurkan tangannya ke William.

William mengangguk, menyambut dan menyalami tangan arthur “ Terimakasih arthur duduklah”

Lalu arthur memperkenalkan diri dengan sangat formal kepada Jihan “ Saya Arthur. Senang bertemu denganmu, Jihan “

Jihan membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum sopan. "Terima kasih, Arthur senang bertemu denganmu juga."

Siena, satu-satunya wanita di antara kerabat pria William selain Olivia, mendekati Jihan dengan wajah berseri-seri. "Aku Siena, Kau benar-benar cantik, Jihan. William sangat pandai memilih pasangan seperti mu," puji Siena tulus, yang hanya dibalas Jihan dengan ucapan terima kasih rendah.

Jihan tersenyum lebar dengan anggun “ Terimakasih Siena, salam kenal, kau juga sangat cantik “

" Selamat atas pernikahan kalian berdua. Kau tau William, aku mengira kau sedang membangun kerajaan rahasia di pulau terpencil. Ternyata kau sibuk membangun keluarga.” Henry menimpali.

"Benar, William! Kau menghilang berminggu-minggu, mengabaikan panggilan kami, lalu tiba-tiba muncul dengan membawa istri yang secantik ini?" Ucap Lucas dengan bercanda.

William mendengus, menyesap wine-nya dengan tenang. "Semua terjadi sangat cepat. Urusan bisnis dan keluarga tidak bisa menunggu. Lagi pula, kita semua sudah ada di sini sekarang, bukan?"

Olivia, yang merasa perhatian teman-temannya mulai teralihkan sepenuhnya pada Jihan, kembali merapatkan duduknya pada William. "William... kau nanti harus merayakannya bersama kami juga secara khusus, Tanpa gangguan orang luar," sindirnya halus sambil melirik Jihan dengan ekor matanya.

Siena yang menyadari ketegangan itu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Jihan, bagaimana rasanya tinggal di kediaman Marculles? William memperlakukanmu dengan baik, bukan ?"

Jihan terdiam sesaat, ia merasakan tatapan William yang kini tertuju padanya, menunggu jawabannya. "Semuanya berjalan baik, Siena. William... adalah suami yang sangat teratur." Jihan menjawab dengan nada tenang.

Mendengar itu, William hanya menyeringai tipis, seolah puas dengan jawaban Jihan yang tidak membongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar mereka.

Tak lama kemudian, pintu ruangan VIP kembali terbuka. Sepasang suami istri melangkah masuk. Julian, pria yang sahabat paling dekat orang kepercayaan William dan istrinya, Lilian.

"William! Maafkan kami, jalanan benar-benar kacau malam ini," seru Julian sambil menghampiri dan memberikan pelukan persahabatan yang erat kepada William.

William hanya mengangguk pendek, ekspresinya netral. “Tidak masalah. Duduklah.”

Lilian menyusul di belakangnya, tersenyum lebar. "Selamat, William! Kami benar-benar terkejut saat mendengar kabar pernikahanmu yang mendadak ini."

kalimat Lilian terhenti saat pandangannya beralih ke arah Jihan. Matanya membelalak takjub, dan menghampiri Jihan.

"Ya Tuhan..." gumam Lilian spontan. " kau pasti Jihan …. Oh iya aku Lilian dan ini suamiku, Julian. Senang sekali bisa bertemu dengan mu" ucap Lilian ramah sambil mengulurkan tangan.

Jihan menyambut tangan Lilian dengan senyum yang sedikit lebih tulus. "Jihan. Salam kenal, Lilian, Julian."

Lilian menyapa Olive sekilas dengan anggukan dan senyum ramah yang formal. “Halo, Olive. Senang melihatmu.”

Olive membalas sapaan Lilian dengan senyum kaku. “Lilian. Julian. Kalian terlambat.”

Lilian hanya tersenyum lalu menghampiri dan duduk didekat Siena dan menyapanya dengan hangat, menunjukkan bahwa Siena adalah prioritas utamanya, “Siena! Aku harus cerita padamu tentang gaun di Paris!”

Lilian dan Siena masuk ke obrolan tentang dunia wanita, dengan penuh tawa.

Julian duduk disamping Lilian lalu mencondongkan tubuh ke William. “ Jadi will apakah setelah menikah kau masih tetap bekerja terlalu over time ?” nadanya akrab dan menggoda.

William sudut bibirnya sedikit terangkat, namun matanya tetap dingin. “ Urusan pekerjaan tidak bisa ditunda dan Tidak ada yang berubah. Aku masih bekerja 18 jam sehari.”

"Ngomong ngomong, kenapa kita tidak merencanakan liburan? Kita harus membuat moment baru karena anggota kita menambah " Lucas memberi isyarat ke arah Jihan.

"Berbicara soal liburan, bulan depan aku dan Lilian berencana ke Pegunungan Alpen. Bagaimana kalau kita semua ikut?" cetus Julian bersemangat.

"Benar," sapa Lilian antusias. "Jihan, kau pasti menyukai Alpen di musim dingin. Kami biasanya menyewa vila pribadi yang sangat tertutup. Kau bisa beristirahat dari kebisingan kota di sana."

"Aku rasa William tidak akan keberatan membayar ekstra untuk kenyamanan istrinya," goda Julian sambil menyenggol lengan William.

Olive merasa kesal dan geram. Jihan telah mencuri seluruh pusat perhatian yang seharusnya menjadi miliknya baik dari William maupun dari lingkaran sosial mereka.

Olivia mendengus pelan, memutar gelasnya dengan malas. "Alpen? Bukankah itu terlalu melelahkan untuk orang baru? Lagipula, William sangat pemilih soal siapa yang ia bawa ke tempat-tempat pribadinya, bukan kah begitu William ?.”

"Kita lihat saja nanti, jadwalku ban depan sangat sibuk," ucap William dengan nada datar, memutus pembicaraan mengenai liburan seolah hal itu bukanlah prioritas dalam agendanya.

Olivia tersenyum dengan tanggapan William, ia tidak membiarkan sedikit pun bagi Jihan untuk merasa nyaman. lalu menatap William dengan binar mata yang penuh nostalgia.

" William bukankah kau menyukai liburan, tapi sepertinya kali ini tidak tertarik yh? , Hhmm kau ingat tidak?" suara Olivia melunak, terdengar sangat personal. "Waktu kita di Maldives. Kau meminum vintage wine kesukaanmu di atas dek kapal, lalu kita menyelam bersama sampai matahari terbenam. Itu kenangan yang sangat indah, bukan? Aku bahkan masih menyimpan foto-fotonya."

William hanya menanggapi dengan gumaman rendah di balik gelasnya, tidak membenarkan namun juga tidak membantah. Lalu mengalihkan topik.

William menoleh ke arah Julian. "Omong-omong soal aset, bagaimana perkembangan lahan di distrik selatan yang kau incar? Bukankah kau sedang bersaing dengan konsorsium asing."

Julian langsung bersemangat. "Ah, real estate di sana memang sedang panas, Will. Tapi aku sudah mengamankan izinnya. Rencananya aku akan membangun luxury penthouse dengan konsep private helipad. Kau tahu sendiri, para miliarder muda sekarang tidak suka membuang waktu di kemacetan."

"Tapi bukankah regulasi lingkungannya cukup ketat di sana?" Henry menyela sambil memutar-mutar gelasnya. "Aku baru saja melepaskan asetku di pesisir karena aturan baru itu. Terlalu banyak birokrasi."

Arthur menimpali, "Itulah gunanya memiliki koneksi, Henry. William baru saja mengamankan pelabuhan di utara, bukan? Itu adalah aset logistik paling strategis tahun ini. Nilai tanah di sekitarnya akan melonjak tiga kali lipat dalam semalam."

Sambil para pria itu tenggelam dalam obrolan tentang dominasi pasar dan kekayaan, di sisi lain meja, Lilian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Siena. Ia melirik Jihan yang sedang mendengarkan dengan tenang, meskipun terlihat jelas ada jarak antara wanita itu dengan William.

Lilian berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh yang lain. "Siena, lihatlah Jihan. Istri William benar-benar cantik ya? Aku tidak bisa berhenti memperhatikannya sejak tadi."

Siena mengangguk kecil, ikut berbisik. "Kau benar. Ada aura yang berbeda darinya. Dia terlihat sangat berkelas, Dia benar-benar menarik perhatian, sangat beda dengan William yang dingin."

"Aku setuju," sahut Lilian lagi. "Dia punya kecantikan yang menghipnotis. Jika aku jadi William, aku tidak akan mengabaikan wanita secantik itu hanya duduk diam di meja."

Olivia terus berusaha menarik perhatian William dengan cara bergelayut di lengannya dan membisikkan hal-hal tentang masa lalu mereka, mengabaikan fakta bahwa ada Jihan di sana.

Siena yang sejak awal tidak terlalu suka dengan Olivia. lalu mencondongkan tubuh ke arah Jihan, memutus dominasi Olivia. "Jihan, abaikan saja para pria ini jika mereka sudah mulai bicara soal angka dan real estate. Sangat membosankan, bukan? Lebih baik kita bicara soal koleksi desainer musim ini. Apakah kau menyukai gaya minimalis?"

Lilian ikut membahasnya dengan antusias, mengajak Jihan masuk ke dalam obrolan dunia wanita yang lebih hangat. Jihan mulai merasa sedikit rileks, hingga tiba-tiba Siena menyipitkan mata melihat ke arah samping pinggang Jihan.

"Oh, Jihan, tunggu sebentar," bisik Siena sambil menunjuk kecil. "Sepertinya ada jahitan dibawah kaitan samping gaunmu yang sedikit terlepas. Mungkin tersangkut saat kau turun dari mobil tadi."

Jihan tersentak dan segera melihat ke arah yang ditunjuk Siena. Benar saja, ada bagian kecil yang tampak tidak rapi. "Ah, kau benar. Terima kasih sudah memberitahuku, Siena. Aku harus ke toilet untuk memperbaiki nya”

“Perlu kubantu, Jihan? Tempatnya agak jauh dari sini.” Siena, yang baik hati, menawarkan bantuan.

Jihan menggeleng cepat, tidak ingin ada yang melihat kerusakan gaunnya. “Tidak, Siena, terima kasih banyak. Aku bisa sendiri.”

Jihan menoleh ke arah William yang masih asyik bicara dengan Julian. "William, aku ingin ke toilet sebentar untuk merapikan pakaianku," pamitnya sopan. William hanya memberikan anggukan singkat tanpa menoleh sepenuhnya.

Olivia, yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Jihan dengan tatapan sinis, menyeringai tipis saat melihat Jihan meninggalkan meja.

Tiba-tiba, Olivia dengan sengaja menyenggol piring saus di dekatnya hingga cairan merah itu tumpah mengenai jemari dan pergelangan tangannya sendiri.

"Ahh! William!" pekik Olivia manja dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Ia menatap tangannya yang kotor, lalu menatap William dengan wajah cemberut yang manja. "Kau menyenggol tanganku sampai sausnya tumpah semua... Lihat, ini jadi sangat lengket."

William menyeritkan dahinya dalam-dalam. Ia duduk dengan posisi tegap dan yakin sekali bahwa lengannya bahkan tidak bergerak satu inci pun ke arah Olivia. "Aku tidak merasa menyenggol apa pun, Olivia," sahut William dengan nada datar.

"Ih, kau ini! Kau terlalu asyik bicara sampai tidak sadar," dusta Olivia sambil memegang lengan William sejenak sebelum melepaskannya. "Aku harus membersihkan ini. Tunggu aku ya, jangan bicara hal seru tanpaku."

Olivia kemudian beranjak dari kursinya, melangkah menuju arah kamar mandi yang sama dengan Jihan, dengan rencana licik yang sudah tersusun di kepalanya untuk mengonfrontasi istri sah William itu di tempat yang sepi.

Jihan sedang berdiri di depan cermin besar, jemarinya bergerak cekatan berusaha merapikan kaitan gaunnya yang sedikit renggang.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Olivia melangkah masuk tanpa suara, matanya menatap tajam ke arah punggung Jihan.

Bahkan dalam kondisi repot membetulkan baju seperti itu, wanita itu tetap terlihat sangat cantik dan berkelas. Dalam hati, Olivia menggeram kesal.

Olivia membayangkan bahwa hari ini adalah hari ketiga pernikahan mereka dan William mungkin sudah menyentuh tubuh wanita itu, membuat dada Olivia terbakar rasa iri yang luar biasa.

Olivia melangkah menuju wastafel di sebelah Jihan dengan raut wajah yang pura-pura kesal. "Duh, tanganku... kotor sekali," gumamnya sengaja agar terdengar.

Ia melirik Jihan dari pantulan cermin, lalu tersenyum tipis yang penuh racun. "Oh, Jihan... kau di sini juga. William benar-benar keterlaluan tadi. Dia terlalu asyik mengobrol denganku sampai-sampai saat dia mengambilkan makanan untukku, dia tidak sengaja menyenggol tanganku dan sausnya tumpah. Dia memang selalu begitu jika sudah bersemangat bicara denganku," ucap Olivia, berusaha memanasi Jihan.

Jihan hanya melirik sekilas, ekspresinya tetap datar. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh pancingan Olivia. Baginya, William tetaplah orang asing baginya, dan ia tidak merasa perlu cemburu.

Melihat reaksinya yang biasa saja, Olivia semakin geram. Ia ingin merendahkan Jihan lebih jauh. "Jihan, daripada kau diam saja, bisakah kau membantuku membersihkan noda di pergelangan tanganku ini? Sulit sekali dibersihkan dengan satu tangan," perintah Olivia dengan nada yang seolah-olah menganggap Jihan adalah pelayan.

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!