Andini wulandari mempunyai mata yang indah dengan warna kecoklatan. Datang ke ibukota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kedatanganya ke ibu kota membuat hidupnya berubah saat pertemuan tidak sengajanya dibandara dengan seorang pria bernama Bima. Bima mulai jatuh cinta kepadanya saat pandangan pertama tetapi ada hal lain yang Andini tidak ketahui tentang Bima. Hal lain apakah itu? Bagaimana kisah selanjutnya? silahkan membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Saat Andini keluar dari kamar, bi Marni berdiri didepan pintu dengan cemas. Andini bisa melihat gerak gerik wanita yang telah berusia lanjut itu. Dari raut wajahnya sangat terlihat jika dia sedang merisaukan sesuatu.
"Bi ada apa?" Andini memegang tangan bi Marni berusaha menenangkannya.
"Anu non, nona Sarah berada diruang tamu. Aku sudah melarangnya masuk tetapi dia tetap memaksa dan mengatakan hanya ingin berbicara sebentar dengan tuan Bisma." Bi Marni menundukkan kepalanya.
"Oh aku pikir ada apa bi, biarkan saja dia masuk aku akan menemuinya. Dia masih berpacaran dengan pak Bisma jadi wajar saja jika dia menemui pak Bisma." Kata Andini tenang.
Andini berjalan keruang tamu tempat Sarah berada. Disana Sarah terlihat sangat murung, nampak jelas raut kesedihan diwajahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya apalagi saat dia tidak menggunakan make up membuat wajahnya nampak pucat dan lesu.
"Hai?" Sapa Sarah kepada Andini.
"Mba Sarah mau menemui pak Bisma?" Jawab Andini.
"Jika bisa aku berbicara dengannya walau hanya sebentar?" Balas Sarah dengan pelan. Tak seperti biasanya jika selama ini Sarah terlihat arogan dimata semua orang tetapi kali ini dia menunjukkan sikap yang berbeda. Suaranya nampak parau dan terdapat lingkaran hitam dibawah matanya seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.
"Aku akan memanggil pak Bisma. Mba Sarah tunggu disini."
"Tunggu! Aku rasa dia tidak akan mau menemuiku. Jika aku berbicara denganmu saja boleh?" kata Sarah.
"Aku?" Andini menunjuk dirinya sendiri. "Baiklah." Timpal Andini.
"Tolong sampaikan maafku kepada Bisma. Aku benar-benar tidak mengetahui masalah ini sebelumnya. Aku juga tidak tahu jika aku anak dari nyonya Maryam dan tuan Sofyan. Aku hanya boneka bagi mereka dan aku pikir mereka yang selalu menemuiku dipanti asuhan karena mereka peduli kepadaku sebagai anak yatim tetapi aku tidak pernah menyangka jika ternyata mereka adalah orang tuaku. Aku baru mengetahuinya tiga bulan yang lalu dan itu membuatku sakit karena mengetahui orang yang akan menjadi mertuaku adalah orang tua kandungku. Aku tidak bisa berpikir mengapa mereka tega melakukan itu kepadaku? Tetapi aku juga terlalu takut mengatakan kepada Bisma jika orang tuanya adalah orang tuaku. Aku merasa sangat bersalah kepadanya karena menyimpan rahasia ini darinya."
"Mba Sarah bukannya lebih baik jika anda berbicara langsung dengan pak Bisma?"
"Dia tidak pernah mau mengangkat telfonku untuk menjelaskan ini. Dia tidak akan menerimaku lagi walaupun aku memberikan alasan kepadanya jadi hanya kamu yang bisa menyampaikan ini kepadanya." Sarah menumpahkan air matanya dihadapan Andini. Di balik tembok Bisma bersandar di dinding mendengarkan percakapan Andini dan Sarah.
"Maafkan aku yang telah hadir dalam hubungan kalian. Aku bisa mengembalikan posisi mba Sarah seperti semula. Aku rasa pak Bisma masih sangat mencintai anda."
"Kamu tahu dari mana dia masih mencintaiku?" Tanya Sarah.
"Aku hanya menebaknya hehehe. Aku rasa dia merindukanmu tetapi karena masalah ini dia harus membencimu." Sahut Andini. Dia merasa prihatin dengan kondisi Sarah sekarang. Walaupun Sarah terlihat jahat dahulu ternyata dia punya sisi sedih dalam kehidupannya. Ditinggal dipanti asuhan oleh orang tua kandung bukankah itu sesuatu yang sangat menyakitkan baginya?
"Aku rasa ini cukup, aku akan pergi dari kota ini. Aku hanya ingin kamu sampaikan ucapan selamat tinggal kepadanya. Tak mudah bagiku meninggalkan kota ini dengan semua kenangan bersama Bisma. Bisma orang yang peduli kepadaku sejak kecil. Ia membuatku selalu merasa tenteram." Air mata Sarah kembali mengalir sedangkan Andini hanya bisa bersimpati kepadanya.
Sarah berjalan ke arah Andini lalu memeluk Andini dengan erat. "Maafkan aku yang pernah membuatmu sakit hati karena perkataanku dahulu. Aku menyesalinya Andini."
"Mba Sarah tidak perlu pergi, aku bisa mengembalikan posisi anda kembali berada disamping pak Bisma." Ucap Andini.
"Aku sudah terlambat, dia terlalu membenciku sekarang. Terima kasih telah mendengarkan curhatanku, aku merasa lebih lega dengan perasaan seperti ini."
Sarah mengatakan itu dengan sangat tulus. Andini mengantarkannya sampai didepan gerbang rumahnya dan melihat kepergian Sarah hingga menghilang dari hadapannya. Saat dia kembali kedalam kamarnya, Bisma duduk sambil bersandar disofa mempermainkan ponselnya.
"Pak, tadi Sarah ingin menemui anda tetapi dia melarangku untuk memanggil anda. Dia nampak sangat sedih, aku rasa dia sangat membutuhkan anda!" Seru Andini.
"Jangan terlalu polos Andini, ini kota besar. Orang akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginan mereka." Sahut Bisma
"Tapi pak, dia akan keluar kota seharusnya anda mengejarnya dan memperbaiki hubunggan kalian. Aku merasa sangat bersalah karena telah hadir dalam kehidupan kalian dan merusak semuanya."
"Sepolos ini kah kamu hingga ingin mengembalikan posisi Sarah seperti semula. Apa kamu benar tidak tahu Sarah itu seperti apa?" Ucap Bisma tersenyum tanpa menatap Andini.
"Pak Bisma mendengar percakapan kami?" Andini terkejut.
Bisma berdiri dan mengelus kepala Andini dengan lembut lalu sedikit menunduk menyetarakan posisi wajah mereka.
"Mengapa kamu ingin melepaskan aku?" Kata Bisma serius.
"Karena aku tidak berhak berada disampingmu, bukannya itu kamu yang katakan dulu. Kamu menikahiku karena tidak ingin harta kakakmu jatuh ditanganku. Aku bisa memberikan semua harta itu kepadamu dan semua keinginanmu akan tercapai." Ucap Andini.
"Kamu hartaku sekarang. Cepat ganti bajumu kita akan membawa bi Marni ke dokter karena pinggangnya terasa sangat sakit sejak semalam." Bisma mendorong tubuh Andini dari belakang.
"Benarkah bi Marni sakit? baiklah aku akan mandi terlebih dahulu pak." Andini mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
Saat didalam kamar mandi Andini kembali berpikir.
"Aku hartanya? apa dia itu sedang mabuk? sebenarnya dia itu kenapa? mengapa dia menjadi baik kepadaku ? apa dia mulai menyukaiku? hahaha apa aku sudah gila?" Pikir Andini sambil tertawa tanpa sadar.
momen yg sudah lama di tunggu oleh Bisma...
rajin ibadah tp tidak tahu aturan agama terhadap pernikahan.
lucu sekali kau Andini
baru nyaho kmu, nt bisma 😅