Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Saat Singa melindungi miliknya
Keesokan harinya, koridor fakultas ekonomi terasa lebih dingin dari biasanya. Dimas duduk di ruang kerjanya yang dipenuhi buku-buku tebal, menatap layar tablet yang menampilkan rincian aset keluarga besar yang selama ini ia kelola di balik layar.
Sebagai dosen, ia dikenal berwibawa. Namun sebagai pengelola tunggal kekayaan keluarga Lastri, ia adalah algojo yang tak terlihat.
"Halo, Pak Baskara. Bekukan seluruh akses kartu kredit korporat atas nama Mira. Batalkan kontrak sewa ruko salonnya di pusat kota. Gunakan klausul pelanggaran etika keluarga," ucap Dimas dingin ke ponselnya. Tanpa menunggu jawaban, ia memutus panggilan.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerjanya terdorong kasar. Mira masuk dengan napas memburu dan wajah merah padam. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti,mungkin notifikasi penolakan transaksi dari bank.
"Mas Dimas! Apa-apaan ini?! Kenapa kartuku tidak bisa dipakai? Dan pemilik gedung salonku baru saja menelpon, dia bilang aku harus angkat kaki hari ini!" teriak Mira tanpa memedulikan asisten dosen yang melintas di koridor.
Dimas meletakkan bolpoinnya perlahan. Ia tidak berdiri, hanya menatap Mira dari balik meja kerjanya yang rapi.
"Oh, kau sudah sampai? Aku pikir kau akan lebih sibuk mengurusi foto-foto lama daripada datang mengacau di tempat kerjaku," sindir Dimas, suaranya halus namun mematikan.
"Mas Dimas, kau gila! Aku ini saudaramu! Kau tidak bisa memutus nafkahku begitu saja hanya dengan alasan yang tidak jelas."
Dimas berdiri, melangkah mendekat hingga Mira terpaksa mendongak. Sorot mata Dimas yang biasanya teduh saat mengajar, kini setajam silet.
"Dengar, Mira. Aku memberimu kehidupan mewah bukan karena kau berhak, tapi karena aku masih menghargai sisa hubungan darah kita. Tapi saat kau berani menyentuh Zora..." Dimas merendahkan suaranya, "...kau baru saja menandatangani surat kemiskinanmu sendiri."
Mira gemetar, suaranya meninggi. "Hanya karena wanita tak jelasitu?! Hanya karena wanita rendahan itu kau tega menghancurkan bisnisku?! Siapa dia sebenarnya bagimu?!"
Dimas tersenyum miring,sebuah senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada mahasiswanya. Ia tidak akan membocorkan status pernikahan mereka di sini, namun ia akan memastikan Mira tahu posisi Zora.
"Dia adalah orang yang paling berharga dalam hidupku saat ini. Setiap sen yang masuk ke rekeningmu berasal dari jerih payahku, dan aku tidak akan membiarkan uangku digunakan oleh orang yang mencoba melukai jantung hatiku," ucap Dimas dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau ingin bermain dengan masa lalu? Silakan. Tapi mulailah terbiasa hidup tanpa fasilitas dariku. Jangan pernah mendekati Zora lagi, atau aku akan memastikan namamu masuk dalam daftar hitam perbankan di seluruh negeri."
Mira jatuh terduduk di kursi tamu, lemas. Ia baru menyadari bahwa pria yang dianggapnya kaku dan pendiam ini bisa melenyapkan dunianya hanya dengan satu instruksi singkat.
"Keluar, Mira. Sebelum aku memanggil keamanan kampus untuk menyeretmu seperti sampah," usir Dimas final.
Mira pergi dengan langkah gontai dan air mata kehinaan. Setelah pintu tertutup, Dimas menghela napas panjang. Sifat "singa" itu menguap seketika saat terlihat bingkai foto di meja kerjanya
Dimas mengambilnya,lalu menggenggam erat bingkai itu. "Maaf kau harus mendengar keributan ini, Sayang. Tapi aku ingin semua orang tahu,termasuk MIra bahwa tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa konsekuensi."
*
Di toko kain miliknya yang riuh dengan suara pelanggan, Zora berusaha keras untuk tetap fokus. Ia menarik meteran kayu, mengukur kain brokat dengan teliti, namun pikirannya tertinggal jauh di sana.Meskipun Dimas sudah memberikan penjelasan panjang lebar mengenai wanita di foto itu, ada bagian kecil di hati Zora yang masih berdenyut nyeri.
Hubungan mereka masih seumur jagung. Ibarat kain sutra yang baru ditenun, satu tarikan benang yang salah bisa merusak seluruh polanya.
"Teh... Teteh sakit?"
Suara Nurul membuyarkan lamunan Zora. Ia mendapati dirinya sedang memegang gunting kain tanpa bergerak selama beberapa detik. Nurul menatap bosnya itu dengan dahi berkerut cemas.
Zora memaksakan senyum tipis sambil menggeleng. "Enggak, Rul. Cuma pusing sedikit saja, kurang tidur mungkin. Oh ya, Ceu Kokom sudah beres belum jahitan barangnya?"
"Nanti Nurul lihat ya, Teh, ke rumahnya pas pulang tutup toko," jawab Nurul sigap.
Zora menghela napas, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya dengan mengalihkan perhatian ke perut. "Kita bareng saja nanti ke sana. Oh ya, sepertinya seblak mantap nih, Rul. Beli gih di kedai Teh Ela."
Mata Nurul langsung berbinar mendengar kata 'seblak'. "Asyikk! Nurul mau sekalian tambah basreng juga ya, Teh?"
"Gih, sana." Zora mengeluarkan lembaran lima puluh ribu dan menyerahkannya pada Nurul. "Beli yang banyak sekalian buat cemilan kita di sini."
"Teteh pesan yang kayak biasa, ya? Pedas level tiga?"
"Siap, Teh!" Nurul menyambar uang itu dan langsung melesat keluar toko dengan riang.
Begitu Nurul pergi, kesunyian kembali menyergap Zora di antara tumpukan gulungan kain katun dan satin. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kayu yang kokoh. Rasa gelisah itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya. Ada secercah penyesalan yang membayang,apakah ia terlalu terburu-buru menerima lamaran sang dosen?
Dulu, pernikahan ini terasa seperti pelabuhan yang tenang. Namun, begitu badai datang, Zora baru menyadari bahwa ia belum benar-benar mengenal masa lalu pria yang kini menjadi suaminya itu.
Zora memejamkan mata erat-erat, meremas ujung kain "Ya Allah..." bisiknya sangat lirih, hampir tenggelam di balik suara bising kendaraan di luar toko. "Semoga rumah tanggaku dan Pak Dimas baik-baik saja. Jangan biarkan keraguan ini menghancurkan apa yang baru saja kami mulai."
Ia ingin percaya pada Dimas, namun bayangan Mira yang begitu percaya diri mengklaim masa lalu pria itu terus menari-nari di ingatannya, menciptakan luka yang tak kasat mata namun terasa perih.
Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan pintu terdengar sangat kontras. Zora, yang sedang merapikan gulungan kain satin di rak gudang tidak menyadari siapa yang datang sampai sebuah aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal,campuran sandalwood dan citrus memenuhi indra penciumannya.
Dua tangan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang, menarik tubuhnya hingga bersandar pada dada bidang yang hangat.
"Pak Dimas?" Zora terperanjat, namun ia tidak memberontak.
"Aku merindukanmu," bisik Dimas tepat di telinga Zora, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Zora meremang. "Maaf membuatmu gelisah seharian ini."
Dimas memutar tubuh Zora agar menghadapnya. Tanpa berkata-kata, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya, sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian mungil berkilau di bawah lampu toko.
"Kejutan manis untuk istriku." ucap Dimas lembut. Ia tidak menunggu jawaban; ia segera memakaikan kalung itu ke leher jenjang Zora. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit hangat Zora, menciptakan aliran listrik yang membuat napas Zora tertahan.
Tatapan Dimas jatuh ke bibir Zora yang sedikit terbuka. Suasana di antara gulungan kain yang menumpuk itu mendadak berubah menjadi panas dan intens. Dimas mendekatkan wajahnya, menempelkan kening mereka, menghapus jarak yang tersisa.
"Pak.. kita masih di toko," bisik Zora lemah, meskipun tangannya kini sudah meremas kemeja Dimas, menarik pria itu lebih dekat.
"Pintu gudang sudah kukunci dari dalam, Sayang," gumam Dimas sebelum akhirnya memagut bibir Zora dengan ciuman yang awalnya lembut, namun dengan cepat berubah menjadi penuh tuntutan dan gairah. Tangan Dimas mulai menjelajah ke pinggang Zora, mengangkat tubuh istrinya hingga duduk di atas meja kayu tempat mengukur kain.
Ciuman itu semakin dalam, semakin spicy, membuat keduanya seolah lupa dunia luar,sampai sebuah suara keras menghancurkan segalanya.
"ASTAGFIRULLAHALADZIIIMMM!!! TEH ZORAAAAA!!!"
.
Bersambung...
Dongkol gak tu si Dimas 🤣🤣🤣
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭