Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Bukan pria yang pantas
Reino kembali ke kantor, untuk membicarakan konsep yang kali ini pemotretan akan di lakukan di luar ruangan,
tepatnya di sekitar kolam renang, karena klien ingin iklan untuk produk perawatan kulit.
Tapi yang menjadi masalahnya, model yang sesuai dengan permintaan klien belum ada yang sesuai, klien menginginkan model yang masih baru, kalau perlu bukan model karena produk yang diiklankan juga bukan produk baru, tetapi produk yang sudah ngetop dan masyarakat juga sudah sangat akrab, hanya beda kemasan saja.
Reino merasa sedang sedikit kalut pikirannya dengan tuntutan dari Papa Adam yang memberikannya waktu cuma seminggu.
Perlahan dia menghentikan laju mobilnya di depan gerbang kampus, dia bukan sengaja, hanya kebetulan saja.
Mematikan mesin mobil, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran jok kursi pengemudi, tanpa sadar matanya menatap seorang gadis yang baru turun dari sepeda motornya.
Rambutnya yang sedikit acak acakan karena membuka helm, ditambah dengan tiupan angin karena cuaca sedikit mendung, membuat kecantikan alaminya semakin menarik dengan rambutnya yang berkibar lembut.
Naluri sebagai fotografer membuat Reino cepat mengambil camera-nya, lalu memotretnya secara diam diam.
Setelahnya Reino menjalankan lagi laju kendaraannya menuju ke kantor.
" Bang Rei, dari tadi dicari tuh sama mbak Lika, katanya ditunggu di ruangannya "
Pesan salah satu team ketika Reino masuk ke dalam ruangannya.
Reino tidak berminat untuk ketemu dengan Malika, ucapan Papanya terus berputar di telinga dan kepala Reino.
Benar kata Papa, aku bukan pria yang pantas untuk dikenalkan kepada Papanya.
Reino bergumam getir, dua tahun menjalin hubungan secara diam diam, membuat Reino tidak sadar jika apa yang dilakukan oleh dirinya dan Malika, merugikan mereka berdua.
Saatnya Reino harus mengambil sikap.
" Bang, kok telat ? Bagaimana modelnya, sudah ada yang cocok "
Entah sejak kapan Malika sudah berdiri di ambang pintu.
Reino menunjukkan hasil potret curiannya tadi tanpa menjawab pertanyaan Malika.
" Siapa dia ? "
Tanya Malika setelah selesai melihat hasil foto foto yang di ambil secara diam diam oleh Reino tadi.
Reino hanya mengangkat kedua bahunya.
" Tunjukkan foto itu pada klien, apakah sesuai dengan keinginan mereka ? Kalau iya, aku akan mencari alamat gadis itu, mungkin dia tertarik untuk menjadi model iklan produk yang sedang kita tangani "
Reino hanya menatap keluar jendela.
" Bang, ada apa ? Ada masalah "
Malika berjalan mendekat sangat dekat, tepat di belakang Reino.
" Lika, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi "
Ujar Reino pelan, sebenarnya hatinya sakit dan tidak tega, tapi itu lebih baik dari pada menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Wajah tua Opa Gunawan dan Opa Dimas, berkelebat dalam pikiran Reino.
Mereka semua tinggal bersama sama lebih dari dua puluh tahun, sampai Reino menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, mencari pekerjaan sesuai bidang yang ditekuninya, dia baru keluar dari Mansion untuk mandiri.
Hubungan mereka semua sangat dekat, jadi tidak ada itu Om, Ipar atau sepupu, semua keluarga.
Jadi sebelum terlambat, Reino harus berani mengambil keputusan, atau dia akan menyesal, kepergian Opa Tyo, Oma Clara dan Oma Luna, membuat suasana Mansion tidak sehangat ketika semua penghuni masih lengkap.
" A-abang bergurau ? "
Malika mundur dua langkah ke belakang, menjauh dari Reino.
Reino membalikkan badannya agar bisa menatap Malika, dan Reino meraba hatinya.
Cinta itu masih sama.
Kepala Reino menggeleng, hatinya menangis.
" Tapi kenapa ? "
Suara Malika terdengar bergetar.
" Abang harus segera menikah, keluarga Abang sudah mendesak "
" Itu bukan alasan, kemarin kemarin Abang tidak pernah menyinggung itu "
" Lalu alasan apa yang Abang katakan ? Menunggu sampai Abang cukup layak kamu kenalkan kepada orang tuamu ? Atau sampai Abang tua ? Lika....Abang baru sadar jika Abang memang pria yang tidak pantas menjadi orang yang akan dikenal sebagai kekasih dari Malika, anak perempuan dari Alfian Anggara, seorang pengusaha sukses.
Sebelum tatapan meremehkan itu Abang dapatkan, kita sudahi saja hubungan kita, toh tidak ada yang tahu jika kita pernah menjadi sepasang kekasih "
Malika diam, apa yang dikatakan oleh Reino semua benar, dia yang tidak memiliki keberanian untuk memperkenalkan Reino kepada Papanya.
Malika lupa Mamanya Dinda, bukanlah dari keluarga bertaraf ekonomi seperti Papanya, kakek Dwi hanyalah pensiunan PNS kelas menengah, ketakutan jika Papanya akan menolak terlalu berlebihan.
Malika ternyata tidak mengenal Papanya dengan baik, dibalik sikapnya yang kaku dan wajah yang gahar, Papa Alfian tidak mempermasalahkan dia
berasal dari kalangan mana, dan Malika juga terlalu bodoh, dua tahun menjalin hubungan dengan Reino, dia juga tidak tahu Keluarga Reino seperti apa.
" Semoga kamu mendapatkan pria yang layak untuk kamu kenalkan kepada orang tuamu, aku keluar, dan jika model yang aku tunjukkan tadi sudah disetujui oleh klien, suruh team memberitahukan padaku, biar aku yang mencari alamat gadis itu "
Reino mengambil tas ranselnya, tanpa melihat kearah Malika yang masih berdiri diam, dia meninggalkan ruangan.
Mendengar pintu tertutup di belakangnya, tulang kaki Malika serasa seperti jeli yang tidak mampu untuk menopang tubuhnya.
Malika menjatuhkan badannya diatas kursi yang ada di ruangan Reino, cara Reino menyebut aku dan bukan Abang pada dirinya sendiri seperti sebelumnya, membuat hati Malika serasa teriris, jarak antara keduanya sudah Reino bentangkan.
Tanpa tanda tanda apa pun, Reino memutuskan hubungan, semua bagai mimpi buruk bagi Malika.
...******...
Berkali kali Neo menghembuskan napas kuat lewat sela sela bibirnya, mengurangi rasa gugup,
Papa Elang yang berada di sebelahnya, hanya melirik.
" Kalian baru mau diperkenalkan, bukan langsung dinikahkan, santai, jangan gugup ! "
Teguran Papa Elang membuat Neo terkejut.
Mama Freya yang ada di bangku penumpang, terkekeh.
" Gadis itu tidak kalah cantiknya dengan pacar Bara, tenang saja ! "
Beuh, Mama Freya sok tahu.
" Memang Bara sudah memperlihatkan foto pacarnya pada Mama ? "
Neo melihat wajah Mama Freya lewat kaca spion.
" Tidak perlu melihat pakai mata untuk tahu selera anak Mama, tapi melihat pakai hati, kalau gadis itu biasa biasa saja, Bara tidak akan mungkin menjadikan gadis itu kekasihnya, apa lagi dia berani berterus terang pada Papa, keluarga kita tidak ada yang bermain main dengan anak orang, Neo, jadi kamu juga jangan pernah berpikiran untuk melakukan permainan di perkenalan ini, kamu camkan itu ! "
Nyali Neo tiba tiba menciut, jarang jarang Mamanya memberikan ancaman.
Ini pasti pengaruh Papa.
Nuduh.
Neo melirik ke arah Papanya yang terlihat tersenyum samar.
" Sedikit kencang kau mengemudinya, Om Ali dan keluarganya sudah menunggu lebih dari lima menit, Papa gak suka menjadi orang yang terlambat dan ditunggu, seperti orang penting saja "
Duh, Papa galak lagi, bikin tambah nervous saja.
Walaupun gugup, Neo menambah kecepatan mobil yang dikendarainya, dari pada kena omel lagi.
Sampai kakinya melangkah memasuki sebuah restoran yang menjadi tempat untuk mempertemukan Neo dengan anak Papa Ali, perut Neo mendadak mules.
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...