NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Penjara Kaca

Dinding kaca satu arah di ruang kerja utama High Tower memantulkan bayangan Arkananta yang berdiri mematung, seolah ia sendiri adalah bagian dari arsitektur gedung yang dingin ini. Di luar sana, lampu-lampu Astinapura masih berkedip, namun di dalam ruangan ini, udara terasa mati. Oksigen terasa tipis, bercampur dengan bau ozon yang tajam—sebuah pertanda bahwa energi hampa di dalam tubuh Arkan mulai bocor akibat tekanan batin yang ekstrem. Arkan menatap jam tangan peraknya; jarum detiknya tidak lagi berdetak dengan ritme yang wajar. Kadang ia melambat, kadang berhenti total, seolah integritas waktu di sekitar Arkan sedang dikompresi oleh kemarahan yang tertahan.

Pintu kaca di belakangnya berdesis terbuka. Dua pengawal pribadi keluarga besar masuk dengan langkah kaku, diikuti oleh Nyonya Besar. Ibu Arkan melangkah masuk tanpa suara, namun auranya yang otoriter memenuhi ruangan layaknya gas beracun.

"Lakukan peletakan perangkat komunikasi Anda di atas meja, Arkan. Serahkan juga instrumen akses digital untuk sayap barat," ucap Nyonya Besar, suaranya sedatar garis kematian di monitor medis.

Arkan tidak menoleh. Rahangnya mengunci rapat hingga urat lehernya menonjol. "Nyonya Besar baru saja melakukan terminasi terhadap agresi Kireina dan Kyai Hitam di pesta tersebut. Mengapa sekarang Anda justru mengaktivasi prosedur seolah saya adalah subjek pengkhianatan?"

"Pencapaian martabat istri Anda di pesta tersebut adalah sebuah anomali yang mendegradasi citra keluarga, Arkan. Anda membiarkan pasangan Anda melakukan provokasi terhadap dewan keluarga secara terbuka. Anda membiarkan dia memproses ilusi kekuatan untuk melawan regulasi High Tower," Nyonya Besar berdiri di belakang Arkan, menatap punggung putranya dengan tatapan mendingin. "Untuk periode sementara, Anda akan tetap di ruangan ini. Tanpa transmisi komunikasi. Tanpa unit Bayu. Dan terutama, tanpa pengaruh gadis panti tersebut."

Arkan memutar tubuhnya perlahan. Buku jarinya memutih saat ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan gerakan yang penuh penekanan, ia meletakkan benda itu di atas meja kaca. Krak. Sebuah retakan halus muncul di permukaan meja, menjalar dari bawah ponsel tersebut meski Arkan meletakkannya dengan pelan.

"Anda sedang mencoba melakukan disosiasi terhadap jangkar saya. Anda memahami bahwa tanpa koordinasi taktis saya, Nayara akan menjadi target rentan bagi sisa manifestasi serangan Kyai Hitam," suara Arkan merendah, berat dengan ancaman.

"Dia harus mengasimilasi fakta bahwa di menara ini, statusnya adalah nol tanpa otorisasi dari saya. Jika dia benar-benar memiliki 'Mata Kebenaran' seperti klaim Anda, biarkan dia melakukan observasi atas posisi realitanya yang rapuh saat ini," Nyonya Besar memberi isyarat kepada pengawal. Salah satu dari mereka mengambil ponsel Arkan dan segera keluar.

Denting Kaca yang Terancam

Kesunyian kembali menelan ruangan itu setelah Nyonya Besar pergi, menyisakan Arkan dalam isolasi yang steril. Di sayap bangunan yang berbeda, Nayara sedang duduk di tepi ranjang, meremas sapu tangan Terra-nya hingga kain itu terasa panas oleh keringat dinginnya. Ia merasakan resonansi Shared Scar yang menyiksa—sebuah sensasi dingin hampa di dadanya, seolah jantungnya berhenti berdetak sesaat setiap kali ia mencoba memanggil nama Arkan di dalam hatinya.

Nayara berdiri dan melangkah menuju jendela besar di kamarnya. Ia menatap ke arah sayap utama tempat ruang kerja Arkan berada. Penglihatan batinnya menangkap getaran ganjil pada struktur bangunan itu. Dinding-dinding kaca High Tower seolah merintih, mengeluarkan bunyi krek halus yang berfrekuensi tinggi.

"Arkan... prosedur apa yang sedang mereka operasikan terhadap Anda?" bisik Nayara, suaranya pecah di tengah kamar yang sunyi.

Ia meraba tasbih kayu di pergelangan tangannya. Butiran kayu itu terasa bergetar, merespons kegelisahan pemiliknya. Nayara merasakan sebuah dinding ghaib yang tebal sedang dibangun di antara mereka, sebuah penghalang yang bukan hanya fisik, tapi juga metafisika.

Kembali ke ruang isolasi, Arkan berjalan menuju dinding kaca satu arah. Ia meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca yang beku. Di bawah sentuhannya, pola-pola energi keunguan mulai berpendar redup—energi hampa yang biasanya ia gunakan sebagai senjata politik, kini merembes keluar sebagai emosi murni yang destruktif.

"Tuan Arkananta, Anda tidak disarankan melakukan kontak fisik dengan panel kaca tersebut. Sensor tekanan akan melakukan aktivasi alarm keamanan jika integritas material teridentifikasi mengalami gangguan," suara asisten digital ruangan itu terdengar, datar dan tidak berperasaan.

Arkan tertawa singkat, suara yang terdengar seperti gesekan kaca pecah. "Integritas? Anda membicarakan integritas material di saat Anda baru saja menginisiasi destruksi terhadap integritas manusia di dalam gedung ini?"

Ia menarik tangannya, namun bayangan telapak tangannya tertinggal di kaca dalam bentuk retakan mikro. Arkan merasakan telinganya berdenging hebat, seolah ada ribuan gelas kristal yang pecah bersamaan di dalam kepalanya. Itu adalah sinyal resonansi dari Nayara; istrinya sedang mengalami ketakutan luar biasa di sisi lain menara.

"Nyonya Besar berasumsi bahwa densitas dinding ini cukup untuk melakukan terminasi terhadap apa yang telah diinisiasi," gumam Arkan pada dirinya sendiri.

Arkan melangkah menuju meja kristal di tengah ruangan. Ia mengambil sebuah gelas kristal kosong, menatapnya sejenak, lalu menekannya dengan kekuatan sumsum tulang besinya. Gelas itu hancur menjadi serpihan halus di dalam genggamannya, namun telapak tangan Arkan tidak mengeluarkan setetes darah pun. Integritas fisiknya melampaui tajamnya kristal, namun integritas batinnya sedang berada di titik nadir.

Dilema martabat menghimpitnya; ia bisa saja menghancurkan pintu itu sekarang dan menjemput Nayara, namun itu akan memberikan alasan hukum bagi dewan keluarga untuk membuangnya secara resmi dari garis suksesi Empire Group sebelum waktunya tiba. Ia harus tetap diam, berdiri dalam kehampaan ini, sambil merasakan setiap tarikan napas Nayara yang semakin berat melalui ikatan luka mereka.

Gema Kesunyian

Di dalam kamar yang kini terasa seperti sel mewah, Nayara mencoba mengatur napasnya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan dinding kaca yang memisahkan dirinya dengan Arkan. Penderitaan batinnya tidak lagi berbentuk air mata, melainkan beban berat di ulu hati yang membuat setiap tarikan oksigen terasa seperti menghirup debu halus. Ia berjalan menuju pintu kamar, namun dua pelayan senior sudah berdiri di sana dengan wajah sekaku patung lilin.

"Nyonya Nayara, instruksi dari Nyonya Besar adalah agar Anda tetap berada di dalam untuk prosedur meditasi pembersihan. Anda tidak memiliki otorisasi untuk meninggalkan sayap ini sampai terdapat notifikasi lebih lanjut," ucap salah satu pelayan, suaranya mengandung nada merendahkan yang tajam.

Nayara mengepalkan tangannya di balik kain sapu tangan Terra. "Meditasi pembersihan? Ataukah ini isolasi sistematis untuk menjamin saya tidak dapat melakukan observasi visual terhadap pasangan saya?"

"Kami hanya mengimplementasikan protokol, Nyonya. Dan demi stabilitas martabat keluarga, disarankan Anda tidak menginisiasi gangguan yang akan memperburuk valuasi citra Anda di ruang publik," balas pelayan itu sembari menutup pintu ganda kamar dengan suara dentuman yang bergema di sepanjang lorong.

Nayara berbalik, menatap ruangan luas yang kini terasa seperti penjara tanpa jeruji. Ia mengeluarkan tasbih kayunya yang retak. Di bawah lampu kamar yang temaram, butiran kayu itu tampak semakin pucat. Ia mulai memutar butiran tersebut, mencoba mencari ketenangan melalui dzikir lirih, namun resonansi Shared Scar terus menarik jiwanya ke arah ruang kerja Arkan.

Sementara itu, di dalam ruang isolasi kaca, Arkananta duduk di kursi kerjanya yang ergonomis namun terasa seperti kursi pesakitan. Tanpa ponsel dan akses data, ia hanya ditemani oleh detak jam tangan peraknya yang kini bergerak sangat lambat, seolah waktu sendiri telah membeku di bawah otoritas ibunya.

"Nyonya Besar berasumsi bahwa saya akan melakukan kapitulasi hanya karena dilakukan pemutusan terhadap instrumen komunikasi?" Arkan berbisik pada kehampaan ruangan.

Ia menatap dinding kaca satu arah. Ia tahu Nyonya Besar kemungkinan sedang melakukan observasi terhadapnya melalui layar pengawas di ruangan lain. Arkan menegakkan punggungnya, otot-otot di pipinya berkedut samar saat ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Integritas tulang besinya diuji bukan oleh serangan fisik, melainkan oleh keheningan yang dirancang untuk menghancurkan kewarasannya.

Tiba-tiba, Arkan merasakan sensasi "denting kaca pecah" yang sangat nyata di telinganya. Itu adalah proyeksi emosi Nayara yang sedang mencapai titik puncak desolasi. Arkan memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga buku jarinya memutih saat menggenggam pinggiran meja kristal.

"Bayu, saya mengasumsi Anda dapat menangkap frekuensi ini jika posisi Anda masih berada di perimeter," Arkan bicara pelan, memanfaatkan sistem interkom internal yang ia tahu masih aktif namun hanya bersifat satu arah untuk pemantauan.

Di luar gedung, di dalam mobil taktis yang tersembunyi, Bayu menatap layar monitornya yang menangkap distorsi frekuensi dari ruang kerja Arkan. Ia tidak bisa menjawab, namun ia tahu Arkan sedang memberikan instruksi tersirat melalui pola ketukan jarinya di atas meja yang tertangkap kamera sensor gerak.

"Tuan Arkananta, mohon pertahankan status tenang. Upaya sabotase teknis hanya akan memperpanjang interval isolasi Anda," suara dingin Nyonya Besar mendadak terdengar melalui pengeras suara ruangan.

"Anda tidak dapat mengisolasi kebenaran," sahut Arkan tanpa membuka mata. "Anda memiliki otoritas untuk menyita ponsel saya, memutus akses saya ke Empire Group, bahkan melakukan penguncian di balik kaca ini. Namun Anda tidak memiliki kapasitas untuk memutus resonansi yang telah mendarah daging."

"Resonansi itu adalah variabel kelemahan Anda, Arkan. Dan malam ini, variabel tersebut akan memvalidasi bahwa Anda belum memenuhi kualifikasi untuk memegang takhta tertinggi," suara Nyonya Besar menghilang, meninggalkan keheningan yang lebih mencekam dari sebelumnya.

Arkan berdiri kembali, berjalan menuju pusat ruangan. Ia merasakan aura Void Energy di sekitarnya semakin pekat, membuat suhu ruangan turun beberapa derajat. Di kejauhan, ia melihat bayangan kabur Nayara melalui mata batinnya—istrinya sedang bersujud di atas lantai dingin, memeluk tasbih retaknya seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra penderitaan.

Penderitaan sunyi mereka malam ini menjadi fondasi bagi kemarahan yang akan meledak di hari esok. Arkan tahu, meskipun ia terkurung dalam penjara kaca ini, integritasnya justru semakin mengkristal. Ia tidak lagi peduli pada aturan High Tower; ia hanya peduli pada janji yang ia bisikkan di telinga Nayara saat pesta topeng tadi.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!