Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Manis
Seperti rencana yang telah mereka sepakati. Pagi ini mereka pergi ke toko buku untuk membeli buku kamus bahasa Mandarin.Mereka memarkirkan kendaraan mereka di samping jalan.
“Mia liat!itu buah kayanya enak.”
Dania menunjuk pada buah anggur yang menggantung di toko buah.
“Ish, nanti lah pulangnya baru beli. Sekarang ini ramai woi!”
Pasar sangat ramai, mereka sampai berdesakan.
“Mian!motornya ditepikan!”
Seorang pemuda berteriak memanggil Mia. Mia menoleh, seorang pemuda yang menggunakan masker dan juga topi menghampirinya di tengah banyaknya kerumunan orang.
“Manggil aku kah,bang?”
Dia bertanya pada pemuda itu.
“Iya, motornya tolong di tepi kan sedikit Mian…ganggu jalan soalnya.”
Pemuda itu berbicara dengan nada yang lembut pada Mia.
“Iya,ku tepikan.”
Mia menoleh, dia tak menemukan Dania. Terlalu banyak orang disana, mungkin saja Dania sudah duluan masuk ke toko buku. Jadi, dia memutuskan untuk menepikan motor itu. Dia sedikit kewalahan, pasar yang sangat ramai dan jarak motor yang berdempetan membuatnya kesusahan.
“Bang!tolongin!”
Dia memanggil pemuda yang tadi berbicara padanya. Pemuda itu menghampiri lalu menepuk jidat Mia.
“Kalau gak bisa coba bilang dari awal.”
Pemuda itu mengoceh.
“Kan sesuai kata pepatah…”
Pemuda itu berdiri di depan Mia.
“Apa kata pepatah?”
“Kita tak akan tau jika tidak mencoba. Aku udah coba… dan aku gak bisa hehe.”
“Ish geramnya!”
Dia mencubit pipi Mia. Mia mundur.
“Eh! Jangan pegang-pegang aku! Ku pukul kau ya!”
Pemuda itu hanya tertawa. Motor telah selesai dibenarkan posisinya.
“Makasih.”
“Hmmm”
“Cuma hmm?”
“Iya… sama-sama sayang… hati-hati jalannya.”
Mendengar itu Mia malah marah.Dia cemberut.
“Tuh, tadi aku bilang hmmm marah dijawab lengkap marah… cewek memang susah dipahami. Udah sana pergi, awas temenmu diculik orang.”
Pemuda itu memutar badan Mia dan menyuruhnya pergi.
“Mia! Kau kemana aja?!”
Dania panik mencarinya.
“Kau tuh,markir motor di tepi jalan. Ganggu orang lewat ajah.Jadi, tadi aku disuruh nepiin motor ama abang-abang itu.”
Mia menunjuk ke pemuda yang tengah sibuk menertibkan jalan itu.
“Ganteng kah?”
“Mana ku tau, dia pake topi ama masker.Mana dia manggil nama kau salah lagi.”
Mia kesal.
“Dia manggil kau siapa?”
“Masa aku dipanggil Mian sama dia.”
“Beda dikit gpp lah hahaha”
Mereka kemudian mencari buku kamus bahasa Mandarin.Tiap buku di sana mereka perhatikan dengan baik.
“Nyari buku apa?”
Pemuda tadi mendekati Mia dan Dania.Mereka menoleh.
“Kamus bahasa Mandarin.”
Dania menjawab.
Dia membantu mereka mencarikan.
“Bang, yang ini harganya berapa?”
Pemuda itu mengambilnya,dia memanggil pemilik toko.
“Mbak, buku yang ini berapa?”
Dia memperlihatkan buku yang dia pegang.
“Yang ini 80 ribu mas, kalau mas mau ada yang dilengkapi dengan latihan percakapan.Mau mas?”
Ibu-ibu berusia 45 tahun itu bertanya pada pemuda itu. Sedangkan Mia dan Dania kaget, mereka salah mengira kalau pemuda itu merupakan karyawan disana dan ternyata bukan.
“Mau yang ada latihan nya kah?”
Pemuda itu bertanya pada Dania dan Mia.
Mereka berdua mengangguk.
“Dia siapa coi?”
“Gak tau lah.”
Dania dan Mia berbisik.Mereka heran dengan pemuda itu yang tiba-tiba datang pada mereka.
“Nih!”
Tampak dari matanya, pemuda itu memberikan buku itu pada Mia dengan tersenyum sambil cengengesan. Mia yang tak pernah dekat dengan lelaki sebelumnya merasa sedikit kesal dengan tingkah pemuda itu.
“Ambil cui.”
Mia menyuruh Dania yang mengambil buku dari tangan pemuda itu.
Mereka pergi membayar. Pemuda itu mengikuti dari belakang, Mia membalikkan badannya dan mengoceh pada pemuda itu.
“Kenapa gak pergi?”
“Nungguin kamu pergi, baru aku mau pergi.”
“Gila…”
Mia bergumam, sedangkan pemuda itu masih cengengesan. Dia sepertinya menyukai Mia. Namun, Mia yang memiliki prinsip “sebelum lulus kuliah tak boleh pacaran” itu membuatnya menolak semua lelaki secara mentah-mentah.
“Kamu tinggal dimana?”
Dia bertanya pada Mia
“Di Beili.”
“Beili? Dimana itu?”
“Tianqi.”
Mia menjawab asal setiap pertanyaan nya.
Pemuda itu berhenti bertanya dan mendekati Mia.Mia merasa risih.Dia berbalik dan menatap sinis pemuda itu.
“Ish, jauh-jauh! Aku udah punya tunangan!”
Pemuda itu seketika terdiam.
Dania menghampiri pemuda itu, dia menepuk pundak pemuda itu sambil menasehati nya.
“Carilah wanita lain untuk kau goda duhai buaya darat. Kau salah sasaran, dia itu kaisar…dia tak akan mudah tunduk pada rayuanmu itu hahaha”
Dania malah mengejeknya.
Tatapan pemuda itu sedikit sedih dan kecewa.Dia terdiam saat mengetahui Mia memiliki tunangan, dia tak berani untuk mendekati Mia lagi. Dia pergi tanpa sepatah katapun.
Dania tertawa.
“Jurus andalan udah keluar!”
“Ish dah,aku merasa risih kalau di deketin kaya gitu.”
“Kau bohong sama dia, haha coba kau lihat muka dia tadi… langsung sedih dia.”
“Ya, gimana lagi. Aku kan gak mau ngasih harapan sama orang lain. Beda ama kau, kau sih sering memberi harapan palsu pada orang lain. Sekalinya diajak nikah malah ogah…”
“Hehehe”
“Tuh, gitu caranya…kau tiru aku.Biasanya aku bilang gitu kalau ada cowok yang chat aku di FB. Tak kusangka harus dipake di real life juga, tapi gak enak rasanya bohong sama orang.”
“Itulah kau… kau terlalu jujur jadi manusia.Bohong gak mau, nerima suap gak mau, nipu orang gak mau,bahkan ujian pun kau gak mau nyontek. Memang kau ini cocok jadi presiden… yakin aku…kalau kau jadi presiden, makmur negara ni.”
“Udahlah… yuk, kita pulang.”
“Ayo!”
Mereka keluar dari toko buku itu. Dari seberang jalan terlihat pemuda tadi itu melirik ke arah Mia, namun saat Mia melirik ke arahnya…dia memalingkan wajahnya.Pemuda itu tampak murung.
“Mia, jadi gak beli buah nya?”
“Jadilah, ayo pilih.”
Mereka pergi membeli buah di toko buah itu. Mereka membeli anggur dan juga apel. Mia juga mengambil sebotol air mineral dingin.
“Berapa bu?”
Dania bertanya pada bibi penjual buah.
“84 dek.”
Dania memberikan uangnya pada ibu itu.
“Terimakasih bu.”
“Iya, terimakasih juga…”
Mereka menuju motor mereka yang terparkir rapi di tepi jalan itu. Mia mengambil satu apel dari kantong plastik itu.Dania sibuk memutarkan motornya di tengah padatnya kendaraan itu.
Mia menyebrangi jalan.
“Ini.”
Dia memberikan pemuda itu sebotol air minum dan juga sebuah apel.Pemuda itu menatap Mia,namun dia tak mengeluarkan sepatah katapun.Pemuda itu tak mempedulikan Mia, dia sibuk dengan ponselnya.
“Ambillah…”
Mia meraih tangan pemuda itu,dan menaruh botol dan juga buah apel itu di tangannya.Pemuda itu kaget, dia sampai bengong untuk beberapa detik.
“Aku gak makan apel,aku juga gak haus.”
Pemuda itu menolak dan mengembalikan botol dan juga buah itu pada Mia.
“Aku bohong…”
Mia mengaku padanya.
“Bohong,bagian mana?”
“Aku gak punya tunangan.”
“Oh…”
Pemuda itu tak peduli, dia menatap layar ponselnya lagi.Melihat sikap pemuda itu, Mia menjadi kesal.Dia berbalik,dia pergi menjauh.Kendaraan yang ramai membuatnya terjebak cukup lama di seberang.
“Cepat coi, panas ni!”
“Kau lupa kah? Aku kan tak pandai nyebrang jalan! Tadi aku bisa karena ada yang nyebrang juga.”
Dania menepuk keningnya.
Pemuda itu memegang lengan Mia dan membantunya menyeberangi jalan. Mia merasa kaget dengan sikapnya yang penuh dengan kata”Tiba-tiba”itu.Sambil jalan Mia melihat ke arahnya.Namun, pandangan mata pemuda itu hanya fokus pada jalan.
“Makasih…”
Mia berterima kasih padanya. Pemuda itu mengangguk,dia ingin kembali. Namun, setelah setengah jalan dia kembali lagi menghampiri Mia.
“Aku haus, aku juga pengen apel.”
Pemuda itu mengambil air dan juga buah yang ada di tangan Mia dan pergi begitu saja.
“Aneh…”
Mia bergumam.
“Gak mau minta nomor WA nya kah?Kayanya ganteng tuh,lihat tinggi… badannya putih… mata sipit…kalau gak dapat gege ganti ajah jadi koko hahaha”
Dania mengejeknya.
“Ish udahlah, ayo pulang.”
Mereka pun segera kembali.
Cuaca sudah mulai mendung lagi, tanda-tanda akan turun hujan telah terlihat.
“Mau hujan lagi kayanya.”
“Iya… tuh wilayah sana udah turun hujan.”
Mia menunjuk ke daerah yang telah turun hujan.
“Mia…”
“Apa?”
“Selama ini kau gak pernah pacaran kan?”
“Iya… emangnya kenapa?”
“Jadi… yang selama ini chatan sama kau cuma aku?”
“Yoi.”
“Parah…”
“Aku sengaja pake nama fake di FB dan foto anime supaya gak di chat ama cowok.Whatsapp aku juga gak ku sebarluaskan nomornya. Jadi…aman, gak ada yang ganggu. Aku suka risih kalau ada cowok yang nanya aku, udah gitu pertanyaan nya gak penting pula.”
“Aku,kalau ada cowok yang chat aku… aku balas…soalnya gak enak juga. Kalau langsung di blok kaya gak sopan gitu.”
“Dari kata gak nyaman itulah yang bikin kau memberi harapan sama orang lain. Kalau kau memang gak suka jangan dibalas,langsung blok ajah nomernya. Apalagi kalau kau udah punya pacar,yang lain gak perlu kau balas chatnya. Cukup pacar kau ajah yang dibalas.”
“Iyaaaa Yang Mulia… hamba paham.”
Di perjalanan akan kembali itu,anginnya cukup kencang. Mereka mempercepat laju kendaraan mereka. Saat ini memang sudah memasuki musim penghujan, tidak heran cuaca bisa berubah drastis kapan saja.