NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Warisan yang Menjerat

Livia membanting pintu guest house dengan kekuatan yang cukup untuk menggetarkan kaca-kaca jendela. Ia bersandar di balik pintu yang tertutup rapat, napasnya masih menderu, memburu seperti mesin yang kelebihan beban.

Air hujan menetes dari ujung rambutnya, membasahi lantai kayu mahoni yang mahal itu. Ia menunduk, menatap kausnya yang sudah hancur—robekan di bagian dada itu adalah bukti nyata betapa brutalnya Rangga tadi. Dan yang lebih menyebalkan? Livia tidak bisa berhenti menyentuh bekas gigitan di lehernya yang terasa berdenyut panas.

"Sialan, Rangga... bajingan gila," makinya lirih, meski suaranya justru terdengar seperti rintihan rindu.

Ia berjalan tertatih menuju kamar mandi utama di dalam guest house. Setiap langkahnya terasa berat; otot pahanya gemetar hebat akibat posisi ekstrem di atas net tadi. Saat ia melewati cermin besar di lorong, Livia terhenti.

Penampilannya mengerikan. Rambut kusut, riasan mata yang luntur hingga ia tampak seperti hantu, dan tanda-tanda merah yang menghiasi kulit pucatnya. Namun, di balik itu semua, matanya bersinar dengan intensitas yang tidak bisa ia sangkal. Ia terlihat... hidup. Lebih hidup daripada saat ia berdiri di depan altar dengan senyum palsu.

Livia memutar keran shower air panas, membiarkan uap mulai memenuhi ruangan. Ia menanggalkan sisa-sisa pakaiannya yang basah kuyup, membiarkannya teronggok di lantai seperti rongsokan harga dirinya.

Perang Dingin di Kamar Mandi

Saat air panas mengguyur tubuhnya, Livia memejamkan mata. Namun, yang terbayang bukan lagi wajah Komisaris dari Jakarta atau ketakutan akan kariernya yang hancur. Yang terbayang adalah bagaimana otot punggung Rangga menegang saat pria itu mengklaimnya di bawah hujan.

Denting.

Ponselnya yang ia letakkan di pinggir wastafel menyala. Sebuah pesan masuk dari Rangga.

Rangga: "Jangan pakai baju yang terlalu tertutup setelah mandi. Aku benci harus merobek kain lagi kalau aku bisa langsung menyentuh kulitmu. Tunggu aku 20 menit. Tamu ini cuma interupsi kecil."

Livia mendengus, jemarinya yang masih basah mengetik balasan dengan cepat.

Livia: "Mimpi saja sana! Aku mau kunci pintu kamar. Dan jangan harap ada ronde kedua. Aku benci kamu, ingat?"

Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk.

Rangga: "Benci aku sesukamu, Liv. Tapi kita berdua tahu, tadi kamu nggak bilang 'benci' waktu aku ada di dalammu. See you in 20 minutes, My Rebel."

Livia melempar ponselnya ke tumpukan handuk kering. Ia merasa frustrasi karena Rangga selalu tahu cara memenangkan argumen, bahkan tanpa perlu berada di ruangan yang sama.

Ia melilitkan handuk putih tebal di tubuhnya, lalu melangkah keluar menuju area dapur kecil di guest house untuk mengambil minum. Tenggorokannya terasa terbakar. Namun, saat ia melewati jendela yang menghadap ke rumah utama, ia melihat bayangan Rangga di teras seberang—pria itu sudah berganti kemeja bersih, sedang menjabat tangan tamu-tamunya dengan tenang, seolah beberapa menit lalu ia tidak sedang bercinta dengan liar di tengah badai.

"Munafik," gumam Livia.

Tapi kemudian, dari kejauhan, Rangga seolah merasakan tatapannya. Pria itu menoleh ke arah guest house, menyeringai tipis sambil membetulkan kerah kemejanya yang tinggi—mungkin untuk menutupi bekas cakaran Livia di bahunya—lalu kembali fokus pada tamunya.

Livia merasakan denyut itu lagi di bawah perutnya. Ia tahu malam ini baru saja dimulai. Taruhan itu... ia kalah telak. Ia tidak akan ke Jakarta besok. Dan bagian terburuknya adalah: sebagian kecil dari dirinya sama sekali tidak merasa keberatan.

... ***...

Di rumah utama yang megah, suasana sangat kontras dengan kegilaan yang baru saja terjadi di lapangan belakang. Ruang tamu itu beraroma kayu cendana dan teh melati mahal. Rangga berdiri dengan postur tegak, kemeja putihnya yang baru disetrika menyembunyikan amarah dan gairah yang masih bergejolak di balik kulitnya.

Di hadapannya, duduk Komisaris Utama Adiwinata Group, seorang pria sepuh dengan tatapan yang masih setajam silet. Di sampingnya, Ratna, ibunda Rangga, duduk dengan wajah yang nampak sepuluh tahun lebih tua dari biasanya.

"Maaf membuat Anda menunggu, Pak Broto," suara Rangga terdengar berat dan stabil, meski napasnya masih sedikit pendek.

"Saya dengar ada 'insiden kecil' di lapangan?" Pak Broto mengangkat alis, matanya melirik ke arah rambut Rangga yang masih sedikit lembap di bagian ujung.

"Hanya masalah teknis akibat badai, Pak. Sudah teratasi," jawab Rangga singkat. Ia melirik ibunya, yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah cangkir teh. "Ma, ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak sekali?"

Ratna mendongak, matanya berkaca-kaca. "Papamu, Rangga... kondisinya kritis lagi sore tadi. Tim dokter di Singapura bilang, fungsi jantungnya terus menurun. Dia sudah tidak bisa lagi memimpin rapat, bahkan lewat Zoom sekalipun."

Rangga tertegun. Meskipun hubungannya dengan ayahnya penuh ketegangan, berita ini seperti hantaman smash tepat di dadanya.

"Rangga," sela Pak Broto dengan nada otoriter. "Stabilitas Adiwinata Group ada di tanganmu sekarang. Pasar mulai goyang karena rumor kesehatan ayahmu. Kami tidak bisa membiarkan seorang atlet yang 'hanya sesekali' mampir ke kantor untuk memegang kemudi perusahaan sebesar ini."

Ratna memegang tangan Rangga, genggamannya gemetar. "Ini saatnya, Nak. Kamu harus mengambil tanggung jawab penuh. Kamu adalah pewaris tunggal Adiwinata. Kamu harus pulang ke Jakarta... menetap di sana, dan mengurus perusahaan setiap hari."

Rangga mengerutkan kening. "Maksud Mama? Aku masih punya kontrak turnamen. Aku masih punya target di peringkat dunia, Ma!"

"Lupakan raket itu, Rangga!" suara Ratna meninggi, pecah oleh tangis. "Papamu sedang bertaruh nyawa, dan perusahaan kita terancam kolaps karena tidak ada pemimpin yang fokus! Kamu tidak bisa lagi main-main di lapangan badminton sementara kerajaan yang dibangun kakekmu sedang di ambang kehancuran!"

Pak Broto mengeluarkan sebuah map hitam dari tas kulitnya dan meletakkannya di meja marmer. Bunyi dokumen itu mendarat terasa seperti vonis mati bagi Rangga.

"Dokumen pengunduran diri dari pelatnas dan manajemen atletmu sudah disiapkan. Kami butuh jawaban malam ini, Rangga. Besok pagi, kamu harus ikut kami ke Jakarta sebagai CEO baru Adiwinata Group."

Rangga terdiam. Pikirannya melayang ke guest house—ke arah Livia yang sedang menunggunya dengan penuh amarah dan luka. Livia mencintai badminton sama besarnya dengan dia mencintainya. Livia adalah pasangannya di lapangan dan di hidup.

"Kalau aku setuju..." suara Rangga tercekat. "Bagaimana dengan Livia? Dia punya karir yang bagus....Aku nggak bisa, ma."

Ratna menghela napas panjang, menatap putranya dengan iba namun tegas. "Livia harus mendukungmu sebagai istri seorang pemimpin Adiwinata. Dan itu artinya, dia juga harus berhenti. Tidak ada tempat bagi 'drama atlet' di lingkungan yang akan kamu pimpin sekarang."

Dunia Rangga seolah runtuh seketika. Di satu sisi, ada tanggung jawab darah yang tak mungkin ia khianati. Di sisi lain, ada janji—dan taruhan—yang baru saja ia buat dengan wanita yang paling ia gilai.

"Pensiun dari badminton?" Rangga berbisik pada dirinya sendiri, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.

"Malam ini, Rangga," tegas Pak Broto. "Tanda tangani, atau kita kehilangan segalanya."

1
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ngerinyee
Hafidz Nellvers
gak bahaya ta😂
Tulisan_nic
Badas kali Thor, tenang yang mematikan🫣
Tulisan_nic
wih promotenya keren nih ke Livia, tapi aku beda...🤭
Mentariz
Dari sinopsisnya aja udah menarik banget, terus pas baca bab 1 langsung masuk konflik seru abisss, dibuat penasaran terus sama bab selanjutnya, sangat rekomen 👍👍
Panda%Sya🐼
So far, semuanya menarik. Buat yang suka romance gelap dan, with a deeper meaning behind it. Di sini jawapannya.
Panda%Sya🐼
Kadang ini selalu jadi masalah, kalau enggak ceweknya pasti cowoknya. So damn proud of you, Rangga/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Takutnya nanti ada yang nangis, kan susah itu/Facepalm/
j_ryuka
wah bahaya ini
Tulisan_nic
Thats true Rangga, stand applouse buat kamu
Tulisan_nic
Body spek jam pasir apa gitar spanyol nih Livia🤭
chas_chos
rangga sedikit posesif ya
chrisytells
Malah jadi Berita Utama lagi
chrisytells
Mantap sekali Livia, sanggahan anda👍
chrisytells
Wah... wah... wah... gawat nih Livia!
Nadinta
LIVIA sumpah ya... bikin gregetan/Facepalm/
Mentariz
Panassss, kok panas ya bacanyaa 🤣
Mentariz
Aakkhh pengen teriakkk, aku mau ranggaaa 😍
Mentariz
Adududu~~~ berbahaya niihh 🤣
Mentariz
Badaasss sekaleee 😁👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!