NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESAN TERAKHIR LELUHUR

Malam sebelum Evan harus kembali ke sekolah, ia menghabiskan waktu di ruangan rahasia rumah Kakek Darmo, menyinari ruangan dengan satu lampu minyak yang menyala lembut. Di depannya terbuka kotak kayu yang berisi warisan leluhur – keris pusaka bersinar di bawah cahaya lampu, sementara gulungan kain sutra tua dan surat Kakek Darmo tersusun rapi di sisinya.

Saat Evan mulai membaca surat tersebut untuk kedua kalinya, ia merasa seolah ada angin lembut menyentuh wajahnya, dan suara Kakek Darmo seolah terdengar jelas di telinganya – seperti ketika leluhurnya masih hidup dan sedang memberikan nasihat penting.

"Cucu tercinta..." – suara Kakek Darmo seolah bergema di ruangan itu – "Jika kamu mendengar pesan ini, berarti aku sudah tidak lagi berada di sisi kamu secara fisik. Namun aku ingin kamu tahu bahwa setiap ilmu yang telah kujarkan padamu adalah hasil dari pengalaman dan kebijaksanaan leluhur kita yang telah hidup jauh sebelum kita."

Evan merasa dada nya terasa hangat, dan ia tahu bahwa ini bukan hanya khayalan belaka. Ia melihat ke arah buku-buku kuno yang tersusun di rak, dan salah satu buku secara perlahan terbuka sendirinya pada halaman tertentu. Di sana tertera tulisan tangan yang sangat tua, dengan huruf-huruf yang indah dan jelas.

"Instruksi penting untuk penerus warisan:" – baca Evan dengan suara pelan, mengikuti kata-kata yang muncul seolah sedang dibacakan oleh Kakek Darmo sendiri.

 

PERTAMA: TENTANG MENJAGA WARISAN

"Ilmu yang kamu terima bukan milikmu sendiri – kamu hanya menjadi penjaga sementara untuk generasi berikutnya. Jaga setiap buku, setiap catatan, dan setiap benda pusaka dengan penuh rasa hormat. Simpan mereka di tempat yang aman dari api, air, dan kejahatan. Setiap tahun, bersihkan dan periksa mereka dengan hati-hati, sambil mengingat makna dan sejarah di balik setiap barang tersebut. Jangan pernah menjual atau menyalahgunakan warisan ini untuk keuntungan pribadi – karena nilai nya jauh melampaui segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang."

KEDUA: TENTANG MENGGUNAKAN ILMU BELADIRI

"Ilmu beladiri yang kamu pelajari diciptakan untuk tiga tujuan utama: melindungi diri sendiri, melindungi orang yang lemah dan tidak berdaya, serta menjaga kedamaian dan keadilan. Jangan pernah menggunakan nya untuk menyakiti orang tanpa alasan yang benar, atau untuk membuktikan kekuatan diri. Ingatlah – keberanian sejati bukanlah tentang bisa mengalahkan orang lain, melainkan tentang bisa mengendalikan diri dan memilih jalan damai meskipun kamu memiliki kekuatan untuk bertarung. Jika terpaksa harus bertindak, lakukan dengan hati yang tenang dan tidak pernah mencoba menyakiti lebih dari yang diperlukan untuk menghentikan bahaya."

KETIGA: TENTANG MENGGUNAKAN ILMU PENGOBATAN

"Sebagai penyembuh, kamu memiliki tanggung jawab yang besar terhadap setiap orang yang datang meminta bantuan. Selalu periksa kondisi pasien dengan cermat dan jangan pernah memberikan pengobatan jika kamu tidak yakin akan khasiat dan keamanannya. Selalu sarankan kepada pasien untuk mencari bantuan medis modern jika kondisi mereka membutuhkannya – ilmu tradisional kita adalah pelengkap, bukan pengganti. Jangan pernah meminta imbalan yang berlebihan untuk bantuan yang kamu berikan – tolongilah orang lain dengan hati yang tulus, seperti yang telah dilakukan oleh leluhur kita sebelum kamu."

KEEMPAT: TENTANG MEMILIH PENERUS

"Pada waktunya, kamu harus memilih penerus yang layak untuk meneruskan warisan ini. Jangan pilih seseorang hanya karena dia adalah anggota keluarga atau karena dia memiliki kemampuan fisik yang hebat. Pilihlah orang yang memiliki hati yang baik, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan tekad yang kuat untuk menggunakan ilmu ini untuk kebaikan. Uji mereka dengan sabar dan berikan pelajaran dengan penuh kesabaran, seperti yang telah kulakukan padamu. Pastikan mereka memahami bahwa warisan ini adalah amanah, bukan hak milik pribadi."

KELIMA: TENTANG MENGEMBANGKAN WARISAN

"Jangan pernah merasa bahwa ilmu kita sudah sempurna dan tidak bisa dikembangkan lagi. Dunia terus berubah, dan kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut. Pelajari ilmu modern dengan sungguh-sungguh, temukan cara untuk menggabungkannya dengan ilmu tradisional kita, dan ciptakan sesuatu yang baru yang bisa memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. Leluhur kita tidak pernah berhenti belajar dan mengembangkan ilmu ini – maka kamu juga tidak boleh berhenti."

 

Setelah membaca semua instruksi dengan cermat, Evan merasa bahwa tangannya mulai meraba sebuah bagian dari kotak kayu yang terasa sedikit berbeda. Dengan hati-hati, ia membuka bagian tersembunyi di dalam kotak yang sebelumnya tidak pernah ia sadari ada. Di sana terdapat sebuah buku kecil yang terbuat dari kulit kayu yang sangat tipis, dengan ukiran pohon beringin di sampulnya.

Ketika ia membukanya, ia menemukan bahwa buku tersebut adalah buku harian pribadi Kakek Darmo yang ditulis selama beberapa dekade terakhir. Di dalamnya, Kakek Darmo mencatat setiap kasus penyembuhan yang pernah ia tangani, setiap pelajaran yang pernah ia pelajari, dan setiap pesan yang ingin ia sampaikan kepada penerusnya.

Di halaman terakhir buku tersebut, terdapat pesan khusus yang ditulis dengan tangan Kakek Darmo beberapa hari sebelum ia sakit:

"Untukmu, Evan – cucu yang telah membuatku sangat bangga. Aku tahu bahwa kamu akan menghadapi banyak tantangan di masa depan, namun aku juga tahu bahwa kamu memiliki kekuatan dan kebijaksanaan untuk mengatasinya. Jangan pernah ragu untuk mengikuti hati dan pikiranmu yang benar. Ingatlah selalu bahwa aku akan selalu ada di sana untukmu – di setiap daun tanaman obat yang kamu sentuh, di setiap gerakan beladiri yang kamu lakukan, dan di setiap langkah yang kamu ambil menuju masa depan yang lebih baik. Warisan ini sekarang adalah milikmu – jaga dengan baik dan gunakan dengan bijak."

Evan menutup buku dengan hati-hati dan menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu. Ia merasakan bahwa beban tanggung jawab yang ada di pundaknya semakin jelas, namun juga semakin ringan karena ia sekarang memahami sepenuhnya tujuan dan makna dari warisan yang diterimanya.

Ia keluar dari ruangan rahasia dan berjalan ke bawah pohon beringin yang besar. Di luar, bulan sudah berada di puncak langitnya, menyinari lapangan dengan cahaya yang lembut namun jelas. Evan berdiri tegak di tengah lapangan dan melakukan serangkaian gerakan beladiri yang telah diajarkan Kakek Darmo – setiap gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran dan penghormatan, seolah ia sedang menunjukkan kepada leluhurnya bahwa ia telah siap untuk menjalankan amanahnya.

Setelah selesai berlatih, Evan duduk bersila di bawah pohon beringin dan menutup matanya untuk bermeditasi. Ia merasakan energi alam yang mengalir di sekitarnya, seolah Kakek Darmo sedang membimbingnya dan memberinya kekuatan. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan mematuhi setiap pesan dan instruksi yang diberikan leluhurnya – bahwa ia akan menjaga warisan ini dengan segenap hati, menggunakan nya dengan benar, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Kakek Darmo dan leluhur-leluhur sebelum mereka.

Di saat matahari mulai menunjukkan warna jingga muda di ufuk timur, Evan berdiri dan melihat ke arah rumah Kakek Darmo yang tenang dan damai. Ia tahu bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke kota dan melanjutkan studinya – untuk mengejar impian mereka berdua tentang menggabungkan ilmu tradisional dan modern. Dengan kotak kayu yang berisi warisan leluhur di dalam tasnya dan pesan terakhir Kakek Darmo yang selalu ada di dalam hatinya, Evan merasa bahwa dirinya sudah benar-benar siap untuk menghadapi perjalanan hidup yang panjang dan penuh dengan makna.

"Aku akan melakukan yang terbaik, Kakek," bisiknya dengan suara yang penuh tekad, sambil melihat ke arah langit yang mulai terang. "Aku akan membuatmu bangga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!