"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ketupat
Lima belas hari sudah Ramadan kami lalui. Dan saat lima belas hari ini, kami akan membuat ketupat. Adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat di daerah kami saat lima belas hari Ramadan.
Abah pulang semalam, hari ini aku ingin belajar membuat ketupat padanya.
"Bah, pengen belajar bikin kupat," ucapku menghampiri abah yang sedang duduk di dekat sumur.
"Ambil daun kelapanya!" titah abah. Aku berlari ke dalam rumah menghampiri mak yang juga sedang membuat ketupat. Ada teteh juga di sana pulang dari pesantren.
"Mak, minta daun kelapa mau buat kupat sama abah," ucapku seraya mengambil dua daun kelapa dan membawanya pada abah.
Aku dan Aceng duduk bersama abah di bawah pohon lobi-lobi yang tumbuh di belakang rumah.
"Gimana, Bah?" tanyaku.
"Pisahkan dulu daun sama lidinya, kaya gini!" ucap abah menunjukkan daun kelapa yang sudah terpisah dari lidinya.
Aku memisahkan daun dan lidi sehingga menghasilkan dua buah daun kelapa. "Kaya gini, Bah?" tanyaku menunjukkan daun kelapa yang sudah kupisah.
Abah menikah dan meneliti daun kelapa milikku, lalu mengangguk.
"Sekarang, satu lilitkan di sebelah kiri dan satu lagi di sebelah kanan. Tiga lilitan saya, ya!" ucap abah.
Kulakukan apa yang diperintahkan abah, "Kaya gini?" tunjukku pada kedua tangan yang sudah dililit daun kelapa.
"Ya, sekarang ambil kedua ujungnya satu-satu. Masukan ke setiap celah melewati satu kotak." Abah menunjukan bagaimana caranya memasukkan ujung daun kelapa pada setiap kotak yang terbentuk.
Kuperhatikan bagaimana cara abah melakukannya. Lalu mengikuti secara perlahan dan berulang.
"Udah, Bah!" kataku setelah kedua ujung daun kelapa itu menyatu satu sama lain.
"Sekarang, bagian kepalanya! Nah, masukan ke setiap daun yang berdampingan," lanjut abah seraya menunjukkan padaku bagaimana cara melakukannya.
Aku kembali memasukkan bagian kepala daun kelapa ke setiap celah yang ada. Sampai dua ujung itu kembali bertemu.
"Kaya gini, Bah!" kataku menunjukan kupat yang sudah jadi hanya belum sempurna.
"Nah, iya! Cepet banget belajarnya," kata abah dengan senyum lebarnya.
"Tunggal mengencangkan, pendekkan bagian kepala ini dengan mengeratkan hingga ke ujung," titah abah lagi.
Aku mulai menyusuri setiap kotak, menariknya agar kencang dan tertutup rapat. Hingga pada ujungnya. Dan jadilah!
"Udah jadi, Bah!" seruku senang. Mengangkat tinggi-tinggi ketupat hasil buatanku.
"Bagus!" seru abah mengusap kepalaku lembut.
"Gimana, Ceng?" tanya abah pada Aceng yang masih berkutat dengan daun kelapanya. Sama sekali tidak jadi ketupat.
Aku tertawa sedikit keras, saat Aceng bersikap lesu karena ketupat yang dibuatnya tidak berbentuk apa pun.
"Nih!" Abah menyerahkan satu bahu ketupat berbentuk burung. Aceng sumringah menerimanya dengan senyum senang.
"Itu kupat apa, Bah?" tanyaku pada abah.
"Itu namanya kupat manuk," jawab abah. Aku mengangguk.
Aku kembali mengambil daun kelapa dan memisahkan daun dengan lidinya. Takut lupa caranya membuat ketupat. Dan, benar saya! Baru saja tadi berhasil sudah lupa membentuk kerangkanya.
Abah kembali membimbingku dengan sabar. Kuikuti setiap arahannya. Dua buah ketupat berhasil aku buat.
Jadilah, hari itu aku hanya membuat ketupat. Dan sore hari akan menyetorkan hafalan suratku hingga akhir ayat.
"Udah habis, Bah!" kataku menoleh ke sekitar sudah tak ada lagi daun kelapa. Semuanya sudah menjadi ketupat.
Aku membawanya ke dapur, menyerahkan pada Mak dan teteh untuk diisi dengan beras.
Beras yang dicuci terlebih dahulu, akan dicampur dengan kelapa dan garam sebelum dimasukkan ke dalam cangkang ketupat dan direbus.
Merebus ketupat memerlukan waktu yang lama. Sebuah dandang berukuran besar telah bertengger di atas tungku.
Mak mengisinya dengan air dan memasukkan ketupat yang sudah berisik ke dalamnya. Lalu menurunnya dan menunggunya sampai matang. Sesekali akan mengaduknya guna membalik ketupat yang di atas ke bawah.
Sayur lodeh disiapkan mak sebagai kuah untuk menyiram ketupat. Tidak ada yang istimewa, hanya sebuah pepaya mudah yang diiris kecil-kecil dan memanjang seperti mie.
Tahu dan tempe sebagai tambahan. Ada juga bihun sebagai pelengkap. Aku berjaga di depan tungku, menjaga api agar tetap menyala meski mak sudah melarangku.
Satu kayu besar memenuhi tungku. Baranya begitu panas terasa. Kusudahi duduk di depan tungku karena bara api sudah stabil.
Kau pergi keluar untuk bermain bersama teman-teman. Kami bermain ketupat yang diikat diujung lidi.
Ada yang membuat keris dari daun kelapa. Bagus! Yang aku buat hanyalah sebuah kacamata.
Kacamata dari lidi yang aku lilitkan membentuk lingkaran. Dua buah lingkaran dari lilitan lidi sudah siap kubentuk menjadi kacamata.
Tinggal memberikan gagangnya saja yang diselipkan di sela-sela lilitan. Jadilah, kacamataku.
________*
Hari beranjak sore, setoran hafalan surat sudah aku selesaikan dengan baik. Kini, aku sedang duduk di ruang tengah bersama abah dan Aceng.
Sementara mak sedang menyiapkan ketupat yang akan dibawa ke mushola untuk diriungkan.
"Bah, udah punya uang beli baju?" tanya Aceng tak sabar.
Aku yang sedang khusyuk membaca kisah wali songo yang diberikan abah tadi menoleh ke arahnya.
"Insya Allah, besok aja ke pasarnya, ya!" jawab abah. Aku dan Aceng bersorak senang.
"Coba, bacain yang keras! Abah mau denger," pinta abah padaku. Aku pun menurut, membaca kisah wali songo dengan suara yang lantang.
"Kisah Raden Said, Sunan Kalijaga ...." Kubaca setiap kata dan abah mendengarkannya dengan khusyuk.
Salah satu kisah dari wali sembilan yang aku suka. Raden Said yang duduk bersila di pinggir sebuah kali. Tak ada apa pun yang dapat membangunkannya, hanya suara seruan adzan yang diperdengarkan di telinganya mampu membuat matanya terbuka.
Karena itulah ia dijuluki Sunan Kalijaga. Berdakwah menggunakan seni, menambahkan dzikir menyebut nama Allah pada adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Adat tidak bisa dihapus begitu saja, tapi merubahnya secara perlahan dan mengganti dengan dzikir menyebut nama Allah bisa dilakukan.
Seperti acara riungan, dulu semua persembahan mereka jadikan sebagai sesajen. Dengan ritual-ritual adat yang mereka lakukan.
Seiring masuknya agama Islam ke tanah Jawa dan banyaknya yang mulai memeluk agama, adat dapat dirubah secara perlahan.
Diisi dengan dzikir-dzikir dan shalawat kepada nabi.
Kubacakan salah satu tembang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.
"Lir Ilir ...."
"Pake nada!" tukas abah memotong bacaanku. Aku mendongak dari buku dan menatap abah dengan bingung.
"Gini, dengerin, ya!" pinta abah. Aku mengangguk. Abah mulai melantunkan tembang Jawa karya Sunan Kalijaga tersebut.
Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako
Surak iyo
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥