*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 - Simpul yang Terurai
Saat senja mulai turun dan cahaya oranye kemerahan mewarnai langit, suasana di kamp berubah.
Cahaya biru pucat dari Pohon Palliton itu mulai berpendar lebih terang, namun tetap menyedihkan. Pintu terpal dari bangunan utama kembali disibak dengan kasar. Sang Gora, Urgon, melangkah keluar.
Ia berjalan dengan langkah berat ke arah sel kami. Wajahnya masam. Saat ia semakin dekat, cahaya api unggun menerpa lehernya, menampakkan bekas luka bakar yang mengerikan. Luka itu melingkar seperti kalung, kulitnya yang pucat tertarik dan mengkilap—sebuah tanda dari sebuah kekerasan brutal di masa lalunya.
Ia berhenti di depan sel, matanya yang dingin menatap tajam pada pedagang gempal yang gemetar.
"Aku tanya sekali lagi, gendut," desisnya. "Di mana kalian simpan koin Auren lainnya?"
"Su-sumpah, Tuan, ti-tidak ada lagi..." gagap si pedagang, air mata mulai menggenang di matanya.
"Bohong!" raungnya.
Kecewa tak mendapat jawaban, ia melampiaskan frustrasinya. Dengan satu gerakan cepat, ia menendang tulang kering si pedagang gempal melalui celah jeruji kayu.
BUK!
Pria itu menjerit kesakitan dan jatuh tersungkur, memegangi kakinya yang kini pasti memar parah.
"Sampah tak berguna..," umpatnya dengan geram, sebelum akhirnya meludah ke tanah dan berjalan pergi dengan puas, meninggalkan kami dalam keheningan yang kini dipenuhi ringisan perih si pedagang gempal.
Si pedagang pria yang sudah sadar mencoba melihat kondisinya. Aku dan Fiora saling berpandangan. Tindakan kekejaman yang tak perlu itu adalah sebuah pesan yang jelas: kami berurusan dengan orang yang menikmati penderitaan orang lain. Kami harus kabur segera atau bisa mati konyol disini.
Senja berganti malam.
Para bandit menyalakan api unggun utama di tengah kamp. Mereka memasak sesuatu dalam panci besi besar. Aroma sup daging—mungkin hasil buruan tadi siang—melayang di udara. Meskipun kualitasnya jauh di bawah standar kantin Tarker, perutku yang kosong tetap keroncongan.
Gora bertubuh besar itu saat ini berada di dekat api unggun bersama para bandit liar lainnya, dengan gurauan kasar sambil membagi jatah sup.
Ewan, yang sejak tadi hanya duduk merenung bersama kelompoknya, bangkit. Wajahnya keras. Ia sudah muak.
Ia berjalan dengan langkah mantap membelah kamp, menuju ke arah Urgon.
"Urgon, kita perlu bicara," kata Ewan, suaranya tenang namun tegas.
Urgon menoleh perlahan, masih dalam posisi duduknya dan memegang sebuah mangkok sup. Seringai mengejek tersungging di bibirnya.
“Oh? Mau mengeluh lagi, Ewan?”
"Apa ide brilianmu selanjutnya? Mau kau apakan lagi sandera itu? Tidak sekalian kau umpankan pada Mist Panther kemarin?" Suara Ewan terdengar frustrasi.
"Diam kau!" hardik Urgon.
"Semua sudah kupertimbangkan. Ikuti saja rencanaku dan tutup mulutmu."
“Rencanamu?" Ewan tertawa sinis, nada suaranya meninggi.
"Sejak kapan kau merasa menjadi ketua di sini, hah? Memang sudah benar kau hanya ditempatkan sebagai 'keamanan' di Cragspire dulu. Begitu otakmu diberi tugas berpikir, semuanya jadi rusak! Ketua tertangkap juga karena kebodohanmu!"
Suara tawa di sekitar api unggun mati seketika.
Ini adalah kesempatan. Saat semua mata tertuju pada dua pemimpin yang sedang berdebat, aku mulai mencoba menarik sedikit dari genangan di luar sel. Aku memusatkan sisa Daya yang baru saja pulih, untuk menggerakkan air yang bercampur lumpur itu.
“Air tenang... padatkan diri... bergerak.”
Setitik air terbentuk di belakang telapak tanganku, bergerak perlahan naik turun menggesek tali rami yang mengikat pergelangan tanganku. Sangat sulit mengendalikan air dari genangan yang sudah bercampur lumpur ini—partikel tanahnya membuat pengendalian air terasa jauh lebih berat—sangat jauh berbeda dibandingkan elemen air dari Sigil-ku.
Perdebatan di luar semakin menjadi-jadi. Urgon tersulut emosi, melemparkan mangkok sup nya ke lantai.
PRANG!!
"Bajingan! Berhenti berlagak jadi pahlawan. Kalau bukan karena aku yang menyeretmu keluar, SAAT KAU GEMETAR TERKENCING-KENCING DISANA, KAU SUDAH MEMBUSUK DI PENJARA LEGION SEKARANG!"
Sreet.
Saat Urgon mengucapkan hinaan itu, tali ikatanku putus. Tanganku bebas.
Namun, salah satu bandit, melirik curiga ke arah sel kami, ke arahku. Matanya menyipit, melihat sesuatu yang tidak wajar dari gerakanku.
Aku langsung diam mematung, tanganku kembali ku taruh ke belakang seperti masih terikat. Pria itu menatapku selama beberapa detik yang terasa sangat lama, sebelum akhirnya perhatiannya kembali teralih pada pemimpinnya yang mengamuk.
"OH YA?" Ewan balas berteriak, amarahnya akhirnya meledak. "SEKARANG KITA LIHAT SIAPA YANG GEMETAR!"
Dengan satu gerakan cepat, Ewan mengeluarkan batonnya dan menekannya hingga masuk ke mode aktif. Di belakangnya, beberapa bandit pendukungnya juga mengeluarkan senjata mereka.
Eskalasi ketegangan ini terjadi begitu cepat. Aku memfokuskan Daya mencari batonku, namun masih tak kutemukan. Tak ada waktu. Kuputuskan mengganti fokus ke Kuda Batu.
Urgon menyeringai bengis. Ia pun mengaktifkan batonnya dan mengacungkannya ke depan muka Ewan.
"Jangan coba-coba kau, bocah pengecut." desisnya dengan suara rendah namun terdengar jelas. Nada bicaranya dingin dan mengerikan, seperti seseorang yang tidak akan ragu untuk membunuh. Bandit-banditnya yang lebih besar juga bersiap di belakangnya.
Suasana menjadi sangat tegang. Kedua kubu saling berhadapan, siap saling mangsa.
Tiba-tiba dari barisan belakang kelompok Ewan, sebuah semburan air bertekanan tinggi melesat tanpa suara.
DUAK!!
Serangan itu menghantam seorang anak buah Urgon hingga terlempar tak sadarkan diri.
Ewan tampak sama kagetnya dengan yang lain. Urgon, wajahnya merah padam karena marah, berteriak,
"KURANG AJAR! MAJU KAU EWAN!"
Tunggu?! Apa yang barusan terjadi?!
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭