Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 18
BAB 18
Di atas papan pengumuman digital yang tergantung anggun di tengah hall pameran, peringkat lima besar babak krusial terpampang jelas dipindai puluhan pasang mata:
1. REN— Skor Akumulatif: 94,8
2. MAYA / STUDIO NILAKANDI— Skor Akumulatif: 89,2
3. CLARISSA ARUM / ARUM HOUSE— Skor Akumulatif: 88,7
4. KONSORSIUM KRIYA BIMA— Skor Akumulatif: 82,1
5. VANO & CO.— Skor Akumulatif: 80,5
Sebagai pengamat independen dan konsultan kerajinan logam, Rendra memisahkan diri dari Maya begitu mereka memasuki arena kompetisi. Memegang papan jepit berisikan lembar evaluasi teknis, Rendra berjalan perlahan menyusuri deretan manekin kompetisi di bawah sorotan lampu sorot yang tajam. Langkahnya terhenti di tiga manekin utama: milik Clarissa Arum, milik Maya, dan display ukiran logam abstrak milik REN—sang juara bertahan yang sosok fisiknya tak pernah menampakkan diri.
Suasana di sekitar panel juri mendadak tegang saat Rendra mendekat. Dewan juri senior dan puluhan pengunjung yang memadati area kompetisi langsung berbisik-bisik kasak-kusuk.
"Rendra datang..." bisik seorang mahasiswa seni di barisan penonton.
"Dengar-dengar kalau dia sudah menggeser pena di papan evaluasinya, poin teknis peserta bisa goyah."
"Tapi dia kan cuma pengamat? Bukan juri penentu?" sahut pengunjung di sebelahnya ragu.
"Bukan penentu di atas kertas, tapi argumen teknis Rendra itu selalu dipakai tim kurator utama buat menganulir karya bermasalah!"
Rendra mula-mula berhenti di depan gaun merah mewah milik Clarissa Arum. Ia mengamati detail sambungan bahu yang dipenuhi payet kristal mahal. Dengan ujung pulpennya, Rendra mengetuk pelan bagian engsel tersembunyi di balik kain tersebut.
"Konstruksi bahu ini terlalu memaksa," ujar Rendra datar. Suaranya terdengar jelas oleh dewan juri di sekitarnya. "Kalian memberikan nilai tinggi untuk efek jatuh kainnya, tapi kalian mengabaikan beban gravitasi pada jahitan dalam. Kain sutra berat ini ditopang oleh penyangga plastik elastis murah. Di atas runway bergerak nanti, saat peragawati melangkah lima meter, simetri gaun ini akan miring setidaknya tiga derajat ke kanan."
Profesor Handoko, salah satu juri senior, membetulkan letak kacamata dan mendekat. "Tapi Rendra, komposisi kemewahannya memukau. Secara visual komersial, Arum House sangat matang!"
"Estetika tanpa struktur adalah kebohongan yang ditutupi perhiasan, Profesor," tembak Rendra dingin tanpa emosi. Ia menandai dua coretan merah di lembar evaluasinya.
Clarissa yang berdiri agak jauh menahan napas dengan wajah merah padam, sementara cemoohan halus berbisik dari arah penonton. "Aduh, dibilang kebohongan berbalut payet..."
Rendra kemudian bergeser, melangkah ke depan gaun sutra organza hitam milik Maya. Matanya menatap tajam setiap lekuk jahitan tangan yang membungkus manekin tersebut. Maya yang berdiri jauh di barisan penonton menahan napasnya.
Rendra menatap gaun Maya dengan pandangan kritis yang tak terhentikan.
"Kejujuran garis potongnya luar biasa. Karakter sutranya bernapas, menggambarkan kelembutan, kejujuran, dan keindahan. Sifatnya yang ringan dan melayang memberikan kesan anggun serta memiliki jiwa pada gaun," ucap Rendra pelan, membuat napas Maya berdesir. Namun, Rendra segera melanjutkan dengan nada membedah, "Tapi karya ini telanjang dari perlindungan. Karena serat organza sangat halus dan tidak memiliki bobot tebal, kain ini rapuh dan mudah bergeser atau melorot jika diterpa gerakan ekstrem di atas runway atau panggung. Tanpa kerangka penopang di bagian pinggang dan dada, kain ini terlalu rapuh menghadapi turbulensi panggung. Ini gaun yang indah untuk dipajang di museum mati, tapi berisiko hancur jika diterpa dinamika gerak yang ekstrem."
"Gila... tajam banget penilainnya!" celetuk salah satu desainer muda dari bangku penonton.
"Punya Maya dipuji jiwanya, tapi dibongkar habis kelemahan fisiknya!"
"Tapi bukannya itu alasan Maya menggandeng perupa logam?" bisik penonton lain.
Terakhir, Rendra melangkah menuju bilik kompetisi nomor satu—karya ukiran logam terstruktur milik REN. Di sana terpasang sebuah harness besi tempa dengan jalinan geometris yang luar biasa presisi, mengambang anggun tanpa bantuan penyangga luar. Karya yang membuat seluruh dewan juri bertekuk lutut dan menempatkannya di skor tertinggi 94,8.
Dewan juri mengamati Rendra dengan saksama. Profesor Handoko tersenyum sinis, seolah ingin menguji Rendra.
"Dan bagaimana pendapatmu tentang mahakarya REN, Rendra? Sejauh ini, Ren adalah satu-satunya yang mendapatkan poin sempurna dalam presisi matematis dan fungsionalitas material. Ada cacat yang bisa kau temukan?"
Rendra berdiri sangat dekat di depan karya REN. Matanya menatap ukiran sudut logam. Jemarinya menyapu permukaan dingin logam tersebut dengan sangat hati-hati.
"Karya REN sempurna secara matematis," jawab Rendra santai. Suaranya tetap terkontrol penuh. "Presisi geometri dan pembagian beban materialnya tidak cela. Tapi..." Rendra jeda sejenak, menatap lekat karya di hadapannya. "... karya ini dingin. REN menciptakan cangkang pelindung yang terkuat di kompetisi ini, namun karya ini terasa hampa karena berdiri sendiri tanpa ada jiwa kain yang ia lindungi."
Seketika riuh bisik-bisik penonton makin pecah.
"Bahkan karya nomor satu REN masih dikritik kurang jiwa?!" seru seorang mahasiswa desain di barisan depan.
"Bung Rendra ini benar-benar tidak bisa dipuaskan!" timpal desainer lain seraya menggelengkan kepala.
"Tapi bukannya benar?” bisik seorang pengunjung wanita pada temannya. “Kalau ukiran logam REN digabung sama kain bernapas milik Maya... bukannya itu bakal jadi gabungan yang mengerikan?"
Profesor Handoko tertegun, lalu terkekeh pelan. "Kau selalu menemukan celah, Rendra. Tapi kritikmu di lembar pengamat ini justru membuka mata kami. Gabungan antara kekuatan struktur dan jiwa material adalah apa yang kami tunggu di panggung final nanti."
Rendra tidak merespons sanjungan itu. Ia menutup papan jepitnya dengan dentupan halus, menyembunyikan rapat-rapat lembar evaluasinya. Ia mengerling sebentar ke arah Maya yang berdiri tenang di dalam kerumunan, menyiratkan tantangan sekaligus sinyal dimulainya kolaborasi terbesar mereka.
Namun, tepat saat Rendra hendak berbalik melangkah keluar arena, Clarissa Arum mendadak menyeruak dari balik kerumunan.
Wajah cantiknya merah padam oleh rasa malu dan amarah yang meluap. Dengan mata berkilat tajam, ia menatap Rendra dan Maya bergantian—sebuah tatapan penuh dendam yang menjanjikan pembalasan mematikan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun di hadapan publik, Clarissa menghentakkan tumit sepatu tingginya keras-keras, memutar tubuhnya, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan arena kompetisi dengan perasaan mendongkol yang membakar dadanya. Ia harus segera mengeksekusi rencana cadangan sebelum kolaborasi Maya dan Rendra benar-benar menghancurkan obsebsinya menjadi juara kompetisi.
Setiap pijakan kakinya di sepanjang koridor meninggalkan gemeretak emosi yang tertahan, memancing tatapan heran dari para staf panitia yang berpapasan dengannya.
Kekalahan dipermalukan di depan dewan juri bukan pilihan yang bisa diterima oleh seorang Clarissa Arum. Dengan langkah tergesa-gesa dan napas memburu, ia menambah kecepatan langkahnya menuju ruang rias privat di lantai atas. Di sana Victor sudah menantinya.