Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Di Kunci Dalam Kamar Sendiri
Seluruh ruangan kembali sunyi.
Raja menatap Wang Laoyin sekali lagi. Kali ini, tatapannya bukan hanya dipenuhi kemarahan, melainkan juga sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: kecurigaan.
Wang Laoyin mengenal tatapan itu.
Ia pernah melihatnya ketika seorang jenderal dituduh menggelapkan perbekalan perang. Ia pernah melihatnya ketika para pejabat berusaha menyembunyikan kegagalan mereka di balik kebohongan.
Tatapan seorang penguasa yang mulai mempertimbangkan bahwa seseorang yang dipercayainya mungkin telah mengkhianatinya.
Dan malam itu, tatapan tersebut diarahkan kepadanya.
"Permaisuri Wang Laoyin," ujar Raja Han Quan perlahan, "hingga penyelidikan selesai, kau tidak boleh meninggalkan Paviliun Fengyi." Kata-kata itu jatuh seperti palu besi, meski di ucapkan dengan nada rendah.
Wang Laoyin membeku, kaki dan tangannya terasa dingin. Matanya terasa panas, sementara dadanya bergemuruh kencang. Tak pernah dia merasa setakut dan sekecewa ini pada sosok tang dicintainya itu.
"Yang Mulia..." Kekecewaan yang sarat tak bisa di sembunyikan dalam nada suara Wang Laoyin
"Jangan memaksaku mengulangi perintah." Raja Han Quan menyahut segera seakan tak mau mendengar kata-kata Wang Laoyin lagi.
Wang Laoyin menatap suaminya dengan mata bulat, seakan lelaki di hadapannya telah berubah menjadi orang asing.
"Aku adalah istrimu." Suaranya bergetar, putus asa.
"Aku adalah permaisurimu. Aku telah berdiri di sisimu selama delapan tahun. Ketika para pejabat menentangmu, aku membantumu menyusun strategi. Ketika rakyat kelaparan, aku membuka gudang persediaan istana. Ketika kau jatuh sakit, aku berjaga di samping ranjangmu selama berhari-hari." Ia melangkah mendekat.
"Dan sekarang, karena seseorang menempatkan mayat di ranjangku, kau bahkan tidak bersedia memberiku kepercayaan untuk menjelaskan apa yang terjadi?"
Raja tidak menjawab.
Kesunyian itu jauh lebih kejam daripada bentakan.
Wang Laoyin menatapnya lama, berusaha menemukan lelaki yang pernah menggenggam tangannya di bawah pohon plum pada hari pernikahan mereka. Mencari putra mahkota, remaja pendiam yang dulu menyematkan bunga persik di rambutnya dan melamarnya pada usia mereka masih belia itu.
Dahulu, bahkan Han Quan saat mereka bersumpah kepada langit dan bumi, ia pernah berjanji bahwa selama ia masih hidup, tidak seorang pun akan dapat merendahkan istrinya tanpa menghadapi kemarahannya.
Kini, lelaki yang sama berdiri di hadapannya, membiarkan para pejabat memandangnya seperti seorang penjahat.
Sesuatu di dalam dada Wang Laoyin retak.
Bukan karena ia takut kehilangan mahkota.
Bukan pula karena ia takut kehilangan kedudukannya.
Melainkan karena ia mulai menyadari bahwa cinta yang selama ini ia percayai mungkin tidak cukup kuat untuk bertahan menghadapi kebohongan.
Raja Han Quan berbalik. Jubah kekaisarannya menyapu lantai giok ketika ia berjalan menuju pintu, terseret halus di lantai marmer.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Jangan biarkan siapa pun mengubah tempat ini sebelum tabib datang." Suaranya tegas dan dingin.
Lalu ia melangkah pergi. Seakan dia tak perduli kalau istrinya itu menyembunyikan ketakutan yang luar biasa jauh di lubuk hatinya, di kurung bersama sosok mayat yang kini menjadi bukti sebuah skandal jahat atas nama permaisuri kerajaan.
Para pejabat dan pengawal mengikutinya, meninggalkan Wang Laoyin berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi bau darah dan lilin yang hampir padam dan pelayannya Qing'er yang bersimpuh di pinggir ruangan dengan suara terisak.
Pintu ditutup. Bunyi palang kayu dipasang terdengar dari luar. Permaisuri Wang Laoyin kini terkunci di kediamannya sendiri. Ia menatap pintu itu dengan mata yang perlahan kehilangan cahaya.
Di luar, angin malam berembus semakin kencang. Tirai merah bergerak seperti kain kafan yang digantung di langit-langit. Lilin terakhir di atas meja bergetar, lalu padam.
Ruangan tenggelam dalam kegelapan. Wang Laoyin berdiri sendirian di antara darah dan bayang-bayang. Di hadapannya, Shen Rui terbaring sebagai saksi bisu atas sebuah kejahatan yang belum terungkap. Di balik pintu, para pejabat mulai menyusun cerita yang akan disampaikan kepada seluruh kerajaan.
Dan di tempat lain dalam Istana Weishan, seseorang mungkin sedang tersenyum, mengetahui bahwa langkah pertama rencananya telah berhasil.
Wang Laoyin menunduk, menggenggam liontin giok kecil yang tergantung di lehernya. Itu adalah hadiah dari Raja Han quan pada tahun pertama pernikahan mereka. Iontin turun temurun yang di wariskan garis keturunan pewaris raja.
Giok itu terasa dingin di telapak tangannya.
"Jika langit masih memiliki mata," bisiknya, "maka biarlah langit menyaksikan siapa yang benar-benar bersalah malam ini." Ia mengangkat wajah. Air mata akhirnya jatuh, tetapi tidak ada isak yang menyertainya.
"Aku tidak akan mengakui dosa yang tidak pernah kulakukan." bisiknya lirih, untuk menguatkan dirinya sendiri.
Di luar jendela, guntur menggelegar. Seolah-olah langit telah menjawab sumpahnya. Namun, Wang Laoyin belum mengetahui bahwa malam berdarah di Istana Weishan hanyalah permulaan. Bahwa esok hari, namanya akan disebut dengan bisikan hina di antara para pelayan. Bahwa lusa, para pejabat akan mengubah kecurigaan menjadi tuduhan. Dan bahwa tidak lama lagi, mahkota phoenix yang selama ini ia kenakan dengan penuh martabat akan direnggut dari kepalanya.
Ia juga belum mengetahui bahwa jauh di dalam tubuhnya, sebuah kehidupan kecil telah mulai tumbuh. Kehidupan yang kelak akan menjadi alasan bagi kebenaran untuk kembali ke Istana Weishan.
Kehidupan yang akan mengguncang takhta, menghancurkan kebohongan, dan membuat seluruh Kerajaan Weiyang menyesali malam ketika mereka memilih mempercayai fitnah daripada seorang permaisuri. Malam itu, Wang Laoyin kehilangan ketenangan tidurnya. Dan sebelum fajar menyingsing, ia mungkin segera kehilangan seluruh dunianya. (Bersambung....😚 ikuti terus ya novel ini readers kesayangan)