NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Susu Kotak

Sementara itu ditempat lain, Bellona menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Kebaya berwarna krem lembut dengan payet halus bertengger di atas tempat tidur, persis di tempat Sarah meletakkannya tadi pagi. Ia sama sekali belum menyentuh kotak itu, apalagi mencoba isinya.

Dada Bellona terasa bergemuruh. Rumah ini terasa terlalu luas, terlalu sepi, sekaligus terlalu menyekik tanpa kehadiran Oma. Setiap sudutnya seolah menyimpan gema suara wanita tua itu—suara yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Bellona hanya dengan beberapa kata sederhana.

Ponsel di atas meja bergetar pendek, menampilkan nama Sarah di layarnya.

Belle, nanti malam jangan lupa ikut makan malam bersama keluarga Om Rizal, ya. Pakaiannya pakai yang Mama beliin.

Bellona hanya menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Tanpa membalas, ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali ke meja. Makan malam keluarga. Sebuah formalitas konyol di saat tanah kuburan Oma bahkan belum sepenuhnya kering.

Ia mengembuskan napas panjang, merapikan gaun santainya, lalu mengambil tas kecil. Rumah ini terasa terlampau menyesakkan. Kalau ia terus berdiam diri di dalam kamar, Bellona yakin kepalanya bisa pecah oleh tumpukan memorinya sendiri. Ia butuh keluar, sekadar mencari udara segar atau membiarkan kakinya melangkah tanpa arah.

Malam mulai jatuh di sudut kota. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membiaskan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah oleh sisa gerimis tipis.

Bellona menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Riuh kendaraan yang berlalu-lalang sama sekali tak berhasil mengalihkan pikirannya. Kesedihan itu masih ada di sana, mengendap rapat di dada, menolak untuk pergi.

Saat melintasi sebuah lorong pertokoan yang agak senggang, langkah Bellona terhenti oleh lengkingan suara yang tiba-tiba menggelegar dari balik pintu kaca sebuah rumah makan sederhana.

“ANJING! KAN GUE BILANG JANGAN MAJU SENDIRIAN, BEGO! RETREAT! RETREAT!”

Bellona mengerutkan dahi. Ia menoleh ke arah sumber suara.

Melalui kaca jendela yang sedikit berembun, terlihat seorang pria berkaus hitam polos sedang duduk menyandar di kursi kayu. Satu kakinya diangkat ke atas bangku, sementara jemarinya bergerak cepat di atas layar ponsel yang digenggam miring. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, dan raut wajahnya tampak sangat serius seolah-olah hidup dan matinya sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran lima inci itu.

“YA ELAH, DEFEAT LAGI! ELU PADA MAIN PAKAI JEMPOL APA PAKAI TUMIT, SIH?!” pria itu mengumpat lagi, memukulkan telapak tangannya ke meja kayu hingga gelas es teh manis di sampingnya bergoyang.

Beberapa pengunjung di dalam warung hanya menggeleng-gelengkan kepala, sepertinya sudah terbiasa dengan kehebohan pria itu.

Bellona mengamati pemandangan tersebut dari luar. Untuk sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa ia sadari. Konyol. Pria dewasa dengan postur tubuh tinggi tegap dan wajah tegas itu justru mengamuk histeris hanya karena kalah bermain gim ponsel.

Merasakan ada yang memperhatikan, pria itu—Devan—mendadak menoleh ke arah jendela.

Mata mereka berdua beradu selama beberapa detik.

Devan melotot kecil, masih dengan sisa kekesalan di wajahnya, sementara Bellona yang tersadar langsung memalingkan wajah dan dengan canggung menetralkan raut mukanya yang sempat tersenyum.

Devan mendengkus, meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar, lalu bergumam sendirian. “Ngapain tuh bocah liat-liat? Gue tahu gue ganteng, tapi kagak usah sampai kasihan gitu juga kali liat gue kalah.”

Ia meneguk es teh manisnya sampai kandas, mencoba menetralkan emosinya yang habis terkuras oleh kekalahan beruntun. Namun, saat tatapannya kembali tertuju pada sosok perempuan di luar jendela yang kini mulai berjalan menjauh, Devan menyadari sesuatu.

Perempuan bergaun simpel itu berjalan dengan bahu yang agak terkulai. Langkahnya lambat, dan meski dari kejauhan, Devan bisa melihat ada raut duka yang amat dalam menyelimuti wajahnya. Raut wajah yang sangat familier bagi Devan—raut seseorang yang sedang merasa terasing di tengah keramaian.

Devan memiringkan kepalanya, menatap punggung perempuan itu yang perlahan menghilang di belokan jalan.

“Ceper amat jalannya,” gumam Devan pelan. Ia menggelengkan kepala, merogoh saku celananya untuk mengambil dompet. “Buset, ngapain juga gue ngurusin orang asing. Mending gue mikirin cacing di perut gue yang udah demon dari tadi.”

Ia menepuk mejanya pelan, lalu berteriak ke arah dapur warung. “Bang! Nasi gorengnya satu! Pedesnya biasa aja, jangan bikin gue ketemu malaikat maut malam ini!”

***

Bellona menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah taman kota yang agak sepi. Pohon-pohon rindang berbaris rapi, menaungi beberapa bangku kayu yang dipasangi lampu taman berkesan vintage. Suasana di sini jauh lebih tenang dibanding trotoar jalan raya tadi.

Ia memilih duduk di salah satu bangku kosong di bawah pohon besar. Angin malam berembus dingin, membawa kenangan yang lagi-lagi menampar dadanya. Dulu, jika ia merasa sedih atau tertekan, Oma selalu membawanya ke tempat seperti ini. Membiarkan Bellona menyandarkan kepala di bahunya tanpa menuntut penjelasan apa pun.

Sekarang, bahu itu sudah tidak ada.

Bellona merapatkan jas luarnya, menunduk menatap sepatu kets putihnya yang ternoda sedikit lumpur. Air matanya yang sejak pagi ditahan kini mulai menetes satu per satu, menetes ke atas pangkuannya. Tidak ada suara isakan keras, hanya bahunya yang gemetar menahan sesak yang teramat sangat.

Sementara itu, tidak jauh dari sana, Devan berjalan santai sambil mengunyah permen karet. Tangan kanannya memegang kantong plastik berisi bungkus nasi goreng dan sekotak susu UHT, sementara tangan kirinya terbenam di dalam saku celana.

Ia berniat memotong jalan lewat taman kota agar lebih cepat sampai ke rumah tuanya. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok perempuan bergaun simpel yang tadi sempat memperhatikannya di depan warung makan.

Perempuan itu duduk sendirian di bawah lampu taman yang redup, menunduk dalam-dalam dengan bahu bergetar pelan.

Devan menghentikan langkahnya. Ia memiringkan kepala, menatap perempuan itu dari jarak beberapa meter.

“Lah, bocah yang tadi,” gumam Devan pelan pada dirinya sendiri.

Devan bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Biasanya, jika melihat orang menangis di tempat umum, Devan akan memilih berbalik arah dan pura-pura amnesia. Tapi entah kenapa, tatapan kosong perempuan ini saat di depan warung makan tadi terus berputar di kepalanya.

Devan mendesah kasar. Ia mengusap tengkuknya yang terasa gatal, memprotes nuraninya sendiri.

“Aduh, Van... jangan cari masalah, lah. Lo bukan pahlawan kesiangan,” bisiknya kesal.

Namun, alih-alih berbalik jalan, kakinya malah melangkah mendekati bangku taman tersebut.

Kriyet.

Suara gesekan alas sepatu Devan di atas ranting kering membuat Bellona terkejut. Dengan cepat, Bellona mengusap pipinya yang basah menggunakan punggung tangan dan menengadah.

Di hadapannya, berdiri seorang pria berkaus hitam dengan rambut berantakan—pria yang beberapa menit lalu mengamuk histeris gara-gara gim online.

Bellona mengerutkan dahi, spontan memasang mode waspada. “Mau apa?” tanyanya dengan suara serak.

Devan tidak langsung menjawab. Ia menatap Bellona dari atas ke bawah, lalu mendengkus pelan. Tanpa meminta izin, pria itu langsung menjatuhkan dirinya di bangku yang sama, duduk di ujung kanan—memberi jarak aman di antara mereka.

“Kagak mau apa-apa,” jawab Devan santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Gue cuma mau makan nasi goreng. Di rumah gue berantakan, kagak enak diliatnya.”

Bellona memiringkan tubuhnya sedikit menjauh. “Ini tempat umum, tapi bangku lain masih banyak yang kosong.”

Devan membuka bungkus nasi gorengnya, membuat aroma bumbu tumis yang gurih menyebar di udara. “Tapi cuma di bangku ini yang lampunya kagak kedip-kedip kaya wahana hantu. Lagian, parkir di sini gratis.”

Bellona merapatkan bibirnya. Ia berniat bangkit dan pergi, tidak sudi berbagi tempat dengan pria aneh yang bicaranya tidak jelas ini. Namun, baru saja ia hendak berdiri, suara Devan kembali terdengar—kali ini tanpa nada bercanda yang berlebihan.

“Kalau mau nangis, nangis aja kali. Kagak usah ditahan sampai muka lo merah gitu. Kaya kepiting rebus.”

Langkah Bellona terhenti. Ia menoleh tajam ke arah Devan. “Saya nggak menangis.”

Devan terkekeh pelan, menyuap sendok pertama nasi gorengnya. “Iya, iya. Yang netes di pipi lo itu cuma embun malam yang kesiangan. Gue percaya, kok.”

Bellona mengepalkan tangannya di samping tubuh. “Mas ini siapa, sih? Tiba-tiba datang, sok kenal, terus ngatur-ngatur.”

Devan mengunyah makanan di mulutnya sampai telan, lalu menunjuk dirinya sendiri menggunakan sendok plastik. “Gue? Panggil aja Devan. Pria tampan berhati mulia penghuni bumi bagian utara.”

Ia kemudian merogoh kantong plastiknya dan mengeluarkan kotak susu UHT rasa cokelat. Tanpa kata-kata puitis atau ucapan manis, Devan menyodorkan susu kotak itu ke arah Bellona.

“Nih.”

Bellona menatap kotak susu itu dengan dahinya yang berkerut dalam. “Apa ini?”

“Susu beruang versi KW. Bisa bikin ketikan jempol lo makin cepat kalau lagi main gim,” asal Devan menjawab. “Ambil aja. Gula bisa bikin otak lo kagak korslet gara-gara mikirin beban hidup.”

Bellona tidak menyentuh susu itu. “Saya nggak minta.”

“Memang kagak minta. Gue yang kasih,” balas Devan acuh tak acuh. Karena Bellona tak kunjung menerima, Devan meluruskan tangannya dan menaruh kotak susu tersebut tepat di samping paha Bellona di atas bangku kayu.

Setelah itu, Devan kembali fokus menghabiskan nasi gorengnya seolah-olah Bellona sudah tidak ada lagi di sana.

Bellona menatap kotak susu cokelat di sampingnya, lalu beralih menatap samping wajah Devan. Pria di sebelahnya ini benar-benar aneh, kasar, bertingkah sesuka hati, dan bicaranya ceplas-ceplos. Tapi anehnya, kehadiran Devan yang berisik dan absurd ini justru menyedot suasana sesak yang sejak tadi menghimpit dada Bellona.

Keheningan di antara mereka kembali tercipta, tapi kali ini terasa berbeda. Hanya ada suara denting halus sendok plastik Devan dan desir angin malam di antara dedaunan.

Tanpa sadar, Bellona mengulurkan jemarinya yang dingin, lalu meremas pelan kotak susu cokelat pemberian pria asing itu.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!