NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Perintah untuk Membunuh

Gu Chen tidak segera menjawab pengakuan Lin Yue. Ia hanya menatap gadis itu, berusaha membedakan mana yang merupakan kebohongan dan mana yang benar-benar berasal dari hatinya. Di dalam sakunya, bidak hitam masih terasa hangat. Pesan yang baru muncul terus terbayang di benaknya.

\[Pemain Pertama telah mengajukan permintaan.\]

\[Target: Lin Yue.\]

\[Perintah: Bunuh dia sebelum matahari terbenam.\]

Gu Chen belum mengetahui siapa Pemain Pertama. Ia juga tidak tahu mengapa sosok tersebut menginginkan kematian Lin Yue. Namun, satu hal sudah jelas: orang yang mampu mengirimkan perintah melalui bidak itu sedang mencoba mengendalikan tindakannya.

Dan Gu Chen membenci orang yang mencoba mengendalikannya.

“Gu Chen?” Lin Yue memanggilnya lagi. “Kau tidak akan mengatakan sesuatu?”

“Aku sedang memikirkan cara membunuhmu.”

Wajah Lin Yue langsung berubah. Tangannya bergerak ke gagang belati.

Gu Chen melanjutkan dengan nada datar, “Kalau aku membunuhmu, apakah ayahmu akan memberiku hadiah? Atau justru mengirim lebih banyak orang untuk memburuku?”

Lin Yue menatapnya beberapa detik sebelum menyadari bahwa Gu Chen sedang menyindirnya. Ia mengembuskan napas panjang, tetapi tidak melepaskan belatinya.

“Kalau kau ingin membunuhku, kau tidak perlu bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Aku benar-benar sedang mempertimbangkannya.”

“Kalau begitu, setidaknya beri aku kesempatan menjelaskan.”

Gu Chen menyilangkan tangan. “Silakan. Aku sedang mendengarkan.”

Lin Yue menatap liontin retak di tangannya. “Ayahku menemukan namamu dalam sebuah dokumen yang dibawa orang dari Sekte Pedang Awan. Di sana tertulis bahwa seorang anak bernama Gu Chen akan memasuki Pegunungan Tulang Kelabu dan membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci. Ayahku diperintahkan untuk menangkapmu, tetapi ia tidak menjelaskan alasannya.”

“Siapa yang memberikan dokumen itu?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar percakapan mereka dari balik pintu.”

“Dan kau memutuskan mengikutiku karena ingin mengetahui kebenarannya?”

Lin Yue mengangguk. “Aku mencurigai keluargaku terlibat dalam hilangnya orang-orang yang menyelidiki Dinasti Wuming. Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.”

Gu Chen memandangnya dengan dingin. “Kau sadar bahwa dengan mengikuti perintah ayahmu, kau mungkin sedang membawaku langsung ke perangkap?”

“Aku sadar.”

“Lalu mengapa kau tetap mengikutiku?”

Lin Yue terdiam sejenak. “Karena aku ingin mengetahui apakah keluargaku masih layak kusebut keluarga.”

Jawaban itu membuat Gu Chen tidak segera membalas. Ia memahami perasaan tersebut lebih daripada yang ingin diakuinya. Sejak kematian ayahnya, rumah yang dulu menjadi satu-satunya tempat aman baginya telah berubah menjadi tempat penuh pertanyaan. Ia tidak lagi tahu apakah masa lalu keluarganya benar-benar seperti yang selama ini ia percayai.

Namun, memahami perasaan seseorang tidak berarti mempercayainya.

“Baiklah,” kata Gu Chen akhirnya. “Kita lanjutkan perjalanan bersama.”

Lin Yue tampak terkejut. “Kau masih mau mempercayaiku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Karena kalau kau benar-benar berniat menyerahkanku kepada keluargamu, aku lebih suka berada di dekatmu daripada membiarkanmu mengatur perangkap dari kejauhan.”

Lin Yue menghela napas. “Kau memang menyebalkan.”

“Aku sudah sering mendengarnya.”

Mereka meninggalkan ruangan bundar dan mengikuti lorong lain yang terbuka setelah ledakan tadi. Lorong itu menurun ke bagian terdalam reruntuhan. Tidak ada ukiran pada dindingnya, hanya batu hitam yang sesekali memantulkan cahaya samar. Gu Chen berjalan di depan, sementara Lin Yue menjaga jarak beberapa langkah di belakangnya.

Mereka belum berjalan jauh ketika terdengar suara gesekan dari kegelapan.

Gu Chen langsung berhenti dan mengangkat tangan. Lin Yue meraih busurnya.

Sebuah bayangan muncul di ujung lorong. Sosok itu mengenakan jubah abu-abu yang robek, dengan wajah tertutup topeng kayu. Ia berjalan terpincang-pincang, menyeret sebuah pedang berkarat di lantai. Dari cara tubuhnya bergerak, Gu Chen menduga orang itu terluka parah.

“Siapa kau?” tanya Gu Chen.

Sosok bertopeng itu berhenti. Kepalanya terangkat perlahan, lalu ia tertawa serak.

“Anak Gu Yuan… akhirnya kau datang.”

Gu Chen langsung menegang. “Kau mengenal ayahku?”

“Aku mengenal orang yang seharusnya tidak pernah memiliki seorang anak.”

Lin Yue mengangkat busurnya. “Jawab pertanyaannya!”

Sosok itu tidak menghiraukannya. Ia justru menatap Gu Chen dengan sesuatu yang menyerupai belas kasihan.

“Berapa banyak yang sudah kau ketahui tentang ayahmu?”

“Cukup untuk tahu bahwa banyak orang takut pada namanya.”

“Kalau begitu, kau belum mengetahui apa pun.”

Gu Chen melangkah maju. “Ceritakan semuanya.”

Sosok itu menggeleng. “Tidak bisa. Ada aturan yang bahkan orang mati tidak dapat langgar.”

“Kalau begitu, mengapa kau muncul di hadapanku?”

“Karena ada satu hal yang masih bisa kukatakan kepadamu.”

Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjuk bidak hitam di saku Gu Chen.

“Jangan pernah membiarkan benda itu menyelesaikan permainan.”

Sebelum Gu Chen sempat bertanya, sosok itu tiba-tiba terjatuh. Tubuhnya menghantam lantai batu, lalu mulai mengeluarkan asap hitam. Gu Chen bergerak mendekat, tetapi Lin Yue segera menarik lengannya.

“Jangan sentuh dia!”

Asap itu menebal. Dalam beberapa detik, tubuh sosok tersebut hancur menjadi serpihan abu. Topeng kayunya jatuh ke lantai, memperlihatkan sebuah lambang terukir di bagian dalamnya: sembilan garis yang mengelilingi lingkaran kosong.

Gu Chen mengenali bentuk itu.

Lambang yang sama terdapat pada lempengan kayu pemberian Shen Mo.

Ia berjongkok dan mengambil topeng tersebut. Begitu jarinya menyentuh permukaan kayu, sebuah suara bergema di kepalanya.

\[Peringatan: Saksi telah dihapus.\]

\[Informasi yang tersisa tidak dapat dipulihkan.\]

Gu Chen mengepalkan tangan. Bahkan sebelum ia sempat memperoleh jawaban, seseorang telah menghapus saksi yang mungkin mengetahui kebenaran tentang ayahnya.

Ia mulai memahami bahwa masalahnya bukan sekadar menemukan masa lalu Gu Yuan. Ada pihak yang secara aktif menjaga agar masa lalu itu tetap terkubur.

“Gu Chen,” kata Lin Yue pelan, “lihat ke sana.”

Di ujung lorong, sebuah pintu batu terbuka sedikit. Dari celahnya keluar cahaya keemasan. Gu Chen memasukkan topeng kayu ke dalam tas, lalu berjalan mendekati pintu tersebut. Di baliknya terdapat ruangan kecil dengan rak-rak batu yang sebagian besar telah runtuh.

Di tengah ruangan berdiri sebuah monumen berbentuk papan catur. Sebagian besar kotaknya kosong, tetapi di salah satu sudut terdapat ukiran seorang pria berambut panjang yang memegang pedang.

Gu Chen berhenti bernapas.

Wajah pria itu sangat mirip dengan ayahnya.

Di bawah ukiran tersebut terdapat sederet tulisan kuno. Kali ini, bidak hitam di sakunya bergetar sebelum huruf-huruf itu berubah menjadi tulisan yang bisa dibacanya.

GU YUAN — PENJAGA PAPAN KETIGA.

Di bawahnya tertulis:

STATUS: PENGKHIANAT.

Gu Chen menatap monumen itu lama sekali. Ia tidak tahu apakah harus marah, tertawa, atau menghancurkan seluruh ruangan. Ayahnya disebut pengkhianat oleh peradaban yang telah dihapus dari sejarah. Sementara orang-orang yang membunuhnya tampaknya masih berusaha menutupi sesuatu.

“Penjaga Papan Ketiga…” gumam Lin Yue. “Aku pernah mendengar istilah itu.”

Gu Chen menoleh. “Dari mana?”

“Dari ayahku. Ia pernah berkata bahwa keluarga Lin dahulu bertugas menjaga sesuatu yang disebut Papan Ketiga. Aku mengira itu hanya legenda keluarga.”

Gu Chen kembali menatap ukiran ayahnya. “Kalau begitu, keluargamu mungkin mengetahui lebih banyak daripada yang kau kira.”

Sebelum Lin Yue menjawab, sebuah bunyi nyaring terdengar dari bidak hitam. Cahaya merah memenuhi ruangan, dan pesan baru muncul di hadapan Gu Chen.

\[Pemain Pertama mengulangi perintah.\]

\[Target: Lin Yue.\]

\[Batas waktu: Matahari terbenam.\]

\[Kegagalan akan mengakibatkan penghapusan bidak.\]

Gu Chen menatap tulisan terakhir itu dengan wajah dingin.

Jadi, jika ia menolak membunuh Lin Yue, dirinya yang akan dihapus.

Ia hampir tertawa. Setelah menghabiskan seluruh hidupnya sebagai orang biasa, kini ada entitas tak dikenal yang mengancam akan menghapus keberadaannya hanya karena ia menolak mematuhi perintah.

Seolah-olah hidupnya hanyalah milik seseorang yang duduk di balik papan.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Lin Yue.

Gu Chen memasukkan bidak itu kembali ke sakunya.

“Karena aku baru saja menemukan sesuatu yang menarik.”

“Apa?”

“Musuh kita ternyata sangat bodoh.”

Lin Yue mengerutkan kening. “Kau baru saja menerima ancaman kematian. Bagian mana yang menarik?”

“Dia mengira ancaman bisa membuatku patuh.”

Gu Chen mengangkat kepala dan memandang monumen ayahnya sekali lagi. Ia belum tahu bagaimana cara melawan para pemain. Ia bahkan belum mampu mengendalikan energi spiritual dalam tubuhnya dengan benar. Namun, untuk pertama kalinya, ia memiliki tujuan yang jauh lebih jelas daripada sekadar mencari pembunuh ayahnya.

Ia akan menemukan cara untuk membebaskan dirinya dari permainan itu.

Dan jika satu-satunya jalan keluar adalah menghancurkan papan beserta semua orang yang duduk di atasnya, ia akan melakukannya.

“Lin Yue,” katanya, “mulai sekarang, jangan pernah berjalan sendirian.”

Gadis itu menyipitkan mata. “Kau takut aku melarikan diri?”

“Bukan. Aku takut seseorang membunuhmu sebelum aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Lin Yue terdiam, kemudian mengangguk perlahan.

Mereka melanjutkan perjalanan ke bagian terdalam reruntuhan. Namun, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa di balik monumen Gu Yuan, sebuah celah kecil telah terbuka. Dari dalamnya, sepasang mata yang tertutup debu mengamati kepergian mereka.

Ketika langkah mereka menghilang, mata itu terbuka sepenuhnya.

Sebuah suara tua bergema di ruangan kosong.

“Gu Yuan… putramu memilih jalan yang sama.”

Jauh di tempat lain, di ruangan tempat para pemain mengamati papan raksasa, satu bidak putih tiba-tiba bergerak tanpa perintah.

Seorang pemain bertopeng menoleh dengan tajam.

“Siapa yang menggerakkan bidak itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Lalu, sebuah tulisan muncul di permukaan papan.

\[Pemain Pertama kehilangan hak untuk mengendalikan target.\]

Topeng putih yang duduk di ujung meja perlahan retak.

“Tidak mungkin…”

Suara lain terdengar dari balik kegelapan.

“Sepertinya bidak itu mulai belajar bahwa perintah bukanlah takdir.”

Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, salah satu pemain merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka perhitungkan.

Ketakutan.

Bersambung ke Bab 8.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!