Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Bertemu Wanita Cantik Lagi
Galih mempercepat langkahnya melintasi gang sempit hingga akhirnya membelok memasuki halaman kostan yang dinaungi pohon mangga rindang. Suasana di bagian depan terasa sepi, Pak Yono tidak lagi berada di teras. Tanpa membuang waktu, Galih mengayunkan kaki menuju lorong dalam, melangkah lurus menuju area belakang tempat dapur umum berada.
Dapur umum di kostan itu tergolong sangat sederhana, berhimpitan langsung dengan area kamar mandi bersama. Di sana terdapat kompor gas dua tungku yang sedikit berkerak, rak piring plastik, serta meja makan kayu berukuran kecil. Begitu menginjakkan kaki di area dapur, pendengaran Galih menangkap gemercik air yang cukup deras dari balik pintu kamar mandi di sampingnya. Seseorang sedang mandi di sana.
Mengingat aturan kostan campuran ini, Galih tidak terlalu ambil pusing. Ia merobek dua bungkus mie goreng, menyalakan kompor, dan mulai merebus air di panci stainless kecil. Aroma bumbu mie yang gurih segera menyerbak, memenuhi ruangan dapur yang agak pengap.
Setelah air mendidih dan mie beserta dua butir telur matang sempurna, Galih memindahkannya ke sebuah mangkuk melamin. Dari pada membawa makanan itu kembali ke kamarnya dan kerepotan bolak-balik untuk mencuci alat masak, Galih memutuskan untuk makan langsung di meja makan kecil dapur. Dengan begitu, setelah kenyang ia bisa langsung membersihkan panci dan mangkuknya.
Baru saja Galih mendaratkan bokongnya di kursi kayu dan mengaduk mie hangat tersebut, suara slot pintu kamar mandi digeser berbunyi cukup nyaring.
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka, dan seorang wanita melangkah keluar dengan uap hangat yang tipis mengikutinya. Secara refleks, mata Galih terangkat memandang ke arah wanita itu. Namun, pemandangan yang tersaji di depan matanya seketika membuat Galih tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya mendadak kaku, dan matanya membelalak kaget.
Jika tadi pagi Indri sudah cukup membuat jantungnya berdebar, wanita yang baru keluar dari kamar mandi ini menyuguhkan tingkat keberanian yang jauh berbeda. Wanita itu keluar hanya dengan mengenakan tank top ketat berwarna hitam bertali tipis dan celana pendek kain yang sangat minim. Pakaian itu mencetak jelas lekuk tubuhnya yang sangat molek dan berisi, memperlihatkan belahan dada yang begitu montok dan terekspos terbuka, jauh lebih berani dibandingkan Indri yang belahan dadanya tidak terlihat sama sekali.
Rambut basahnya yang terurai menyiksa tetesan air di atas pundaknya yang mulus. Saat matanya mengamati lebih dekat, Galih menyadari adanya bercak-bercak merah kebiruan yang menghiasi area leher hingga pipi bagian bawah wanita itu. Bekas-bekas cupang yang sangat jelas. Meski penampilannya terkesan begitu vulgar dan acak-acakan, tak dapat dimungkiri bahwa wajah wanita itu sangat cantik dengan bibir tebal yang menawan.
Wanita itu menyadari keberadaan Galih. Bukannya canggung atau berusaha menutupi tubuhnya, ia justru melempar senyuman manis dan menyapa dengan nada yang sangat ramah.
"Eh, halo... Kamu penghuni baru yang di kamar sebelah ya?" tanyanya seraya mengibaskan rambut basahnya ke belakang.
Galih buru-buru memalingkan pandangannya sedikit ke samping, berusaha menjaga kesopanan meski dadanya bergemuruh kencang. Wajahnya yang memar merona merah padam. "I-iya, Mbak... Aku baru masuk tadi siang."
Wanita itu melangkah mendekati area dapur, melipat kedua tangannya di dada sehingga makin menekankan bentuk tubuhnya. "Salam kenal ya. Namaku Fika. Tadi aku sempat ketemu Pak Yono di depan, terus beliau ngasih tahu kalau kamar sebelahku udah ada yang nempatin."
Galih mengangguk patah-patah, berusaha meredakan kegugupannya. Berarti wanita inilah pemilik suara desahan, sekaligus korban bentakan dan tangisan, di balik sekat kayu kamarnya tadi. Rasa bersalah karena sempat memikirkan hal-hal liar tentangnya mendadak beradu dengan rasa canggung.
"Aku Galih, Mbak Fika," jawab Galih pelan. Merasa tidak enak jika hanya diam, Galih mencoba bersikap ramah dengan menyodorkan mangkuk mienya sedikit. "Mau... mie instan, Mbak? Aku baru aja masak."
Fika terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar renyah dan manja. "Duh, makasih ya, Galih. Tapi aku lagi nggak pengen makan mie malam-malam gini."
Fika kemudian melangkah menuju sebuah kulkas dua pintu berwarna merah yang berdiri di sudut dapur. Ia membuka pintunya, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah wadah plastik bening berisi udang balado yang merah membara.
"Nih, aku ada udang balado buatan sendiri. Mau nggak?" tawar Fika seraya menunjukkan wadah tersebut pada Galih.
"Eh, nggak usah, Mbak... Nggak apa-apa, ini aku udah ada mie goreng sama telur," tolak Galih halus, merasa sungkan karena ia baru saja mengenal wanita ini.
Namun, Fika seolah tidak menerima penolakan. Ia justru mengambil teflon kecil dari rak, menyalakan tungku kompor di sebelah Galih, dan menuangkan udang balado itu ke atasnya untuk dipanaskan. Suara desis bumbu cabai yang terkena minyak panas langsung memenuhi udara dapur, menebarkan aroma pedas gurih yang amat menggugah selera.
"Udah, makan aja! Banyak begini, aku sepertinya nggak bakal habis kalau makan sendirian," tutur Fika santai sambil mengaduk udang balado di atas kompor. Gerakan tangannya yang santai membuat Galih harus berjuang keras menjaga pandangan matanya agar tidak melirik ke arah dada wanita itu.
Fika mematikan kompor, lalu merogoh sendok dan menuangkan beberapa ekor udang balado beserta kuah merahnya yang kental tepat di atas tumpukan mie goreng milik Galih.
"Tuh, dimakan! Biar mienya makin mantap," ujar Fika tersenyum puas.
"Makasih banyak ya, Mbak Fika... Jadi repot-repot begini," ucap Galih tulus, merasa tersentuh oleh kebaikan tetangga barunya itu di tengah kondisinya yang serba terbatas.
Fika kemudian menunjuk ke arah sudut dapur dekat kulkas merah. "Kalau kamu butuh nasi, ambil aja di rice cooker warna merah dekat kulkas itu ya. Nasi di situ memang disediakan buat bersama kok, ambil aja kalau kurang kenyang."
"Iya, Mbak. Sekali lagi terima kasih banyak," balas Galih.
Fika mengangguk ramah, lalu mengambil sisa udang balado yang dipanaskannya ke atas piring kecil. Sebelum melangkah kembali menuju kamarnya, Fika sempat melirik lebam di wajah Galih dengan tatapan penuh arti, namun ia memilih untuk tidak bertanya apa-apa.
"Aku ke kamar duluan ya, Galih. Selamat makan!" pamit Fika seraya melangkah pergi, meninggalkan jejak aroma wangi sabun dan sampo yang menyegarkan di area dapur.
Galih menatap piring mienya yang kini berhiaskan udang balado merah merona. Ia menyuapkan sendok pertamanya. Rasa pedas manis dari udang berpadu sempurna dengan gurihnya mie instan. Di balik segala kerumitan, suara percekcokan, dan keanehan lingkungan kostan campuran ini, Galih setidaknya merasa bersyukur karena masih dipertemukan dengan orang-orang yang mau berbagi di hari pertamanya merantau.