Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Deru mesin mobil yang dikemudikan Pak Mamat berhenti tepat di pelataran parkir toko kue Lumiere Bakehouse. Setelah memastikan Tania aman menyalimi gurunya di depan gerbang sekolah tadi, Alana melangkah keluar dari mobil.
Begitu kakinya menapak area toko, aroma harum adonan roti yang baru dipanggang, gurihnya mentega cair, dan manisnya ekstrak vanila langsung menyeruak menyambut kedatangannya. Aroma khas itu biasanya selalu berhasil menjadi penawar lelah dan memberikan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan di rumah megahnya sendiri.
Namun pagi ini, suasana tenang itu seketika sirna. Baru saja Alana mendorong pintu kaca utama yang memicu denting lonceng kecil di atasnya, Maya asisten kepercayaan sekaligus kepala koki di toko kue tersebut langsung berjalan cepat menghampirinya. Wajah gadis itu tampak serba salah, cemas, dan penuh gelisah.
"Bu Alana..." panggil Maya pelan, matanya melirik khawatir ke arah koridor menuju area kantor pribadi di bagian belakang toko.
"Ada apa, Maya?" tanya Alana seraya merapikan letak tali tas tangannya di bahu, mencoba mempertahankan raut wajah seprofesional mungkin.
"Itu... Ibu Anda ada di dalam ruang kerja Bu Alana. Beliau sudah menunggu dari setengah jam yang lalu," bisik Maya penuh kehati-hatian, sangat paham dengan situasi keluarga atasisannya.
Langkah Alana seketika terhenti kaku. Dadanya berdesir dingin. Jujur saja, Alana sama sekali belum memiliki persiapan mental sedikit pun untuk berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu. Setelah pertengkaran hebatnya dengan Gema dan badai emosi yang menguras seluruh tenaganya kemarin, menghadapi sang ibu wanita yang sepanjang hidupnya selalu membedakan dirinya dengan almarhumah Kirana adalah hal terakhir yang ingin Alana lakukan hari ini.
Alana menghela napas panjang, mencoba menetralkan raut wajahnya agar tetap tenang dan terkontrol. "Terima kasih informasinya, Maya. Tolong buatkan teh hangat dan antar ke dalam ya."
"Baik, Bu Alana."
Alana melangkah menyusuri koridor dingin yang memisahkan area dapur produksi dengan area perkantoran. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat. Dengan keteguhan hati yang tersisa, ia memutar gagang pintu kayu ruang kerjanya dan membukanya perlahan.
Begitu pintu terbuka, pandangan Alana langsung tertuju pada sosok wanita paruh baya yang duduk santai di kursi kerja kebanggaannya. Ibunya tampil seperti biasa sangat glamor dengan pakaian bermerek, riasan wajah yang tebal, serta berbagai perhiasan emas dan permata yang berkilauan melingkari leher serta pergelangan tangannya.
Belum sempat Alana mengucap salam, menyapa, atau melangkah masuk lebih jauh ke dalam ruangan, wanita itu sudah berdiri dari kursi dan langsung melayangkan serangan verbal tanpa basa-basi sedikit pun.
"Bagus ya, jam segini baru sampai toko! Mentang-mentang kamu ini bosnya, bisa semau jidat datang siang begini!" semprot ibunya dengan nada tinggi dan pandangan mata yang menyindir tajam.
Alana menatap ibunya dengan tatapan datar, menahan gejolak di dadanya. "Mah, Alana baru saja mengantar Tania ke sekolah. Jalanan menuju sekolah juga sedikit macet."
"Halah! Alasan saja kamu, Alana!" kibas ibunya dengan kibasan tangan yang dipenuhi gemerincing gelang emas di pergelangan tangannya. "Kamu itu dari dulu tidak pernah yang namanya bersyukur! Sudah beruntung dinikahi oleh laki-laki kaya, pengusaha sukses mantan suami kakakmu sendiri. Bisa-bisanya kamu berbuat yang tidak-tidak kepada menantu Mama!"
Alana mengernyitkan dahi. Rasa lelah yang teramat sangat seketika menjalar di seluruh persendiannya. "Maksud Mama apa?"
Ibunya bersedekap dada, menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi yang amat dingin. "Gema telepon Mama semalam! Suamimu itu sampai lesu dan bingung karena sikap kamu yang bertingkah! Kamu tahu tidak, Gema itu kebanggaan keluarga kita! Kurang apa dia sama kamu? Dasar anak tidak tahu diri!"
Alana mengepalkan jemarinya kuat-kuat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Jadi, Gema benar-benar menghubungi ibunya semalam? Dan seperti yang sudah bisa ditebak sejak awal, tanpa mau tahu duduk perkaranya, tanpa menanyakan keadaannya, ibunya langsung mengambil posisi membela Gema dan menyalahkan dirinya secara membabi buta.
"Mama bahkan tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Alana, tapi Mama langsung menyalahkan Alana?" bisik Alana dengan nada dingin yang kian menguat.
"Untuk apa bertanya?! Mama sudah tahu tabiat kamu yang dari dulu suka iri dan cari perhatian!" sergah ibunya tak acuh. Wanita paruh baya itu kemudian mengibaskan tangannya lagi, mengalihkan pembicaraan ke tujuan utamanya mendatangi toko pagi ini. "Sudahlah, Mama ke sini bukan mau dengar drama kamu. Mama ke sini mau bicarakan soal acara selamatan pengajian untuk kematian Kirana."
Alana tetap diam mematung, menyimak ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Acara selamatan tujuh tahun Kirana akan dilaksanakan tepat setelah acara pengajian di rumah mertua kamu bulan depan," lanjut ibunya tanpa rasa canggung sedikit pun. "Mama mau buat acara yang agak besar di rumah. Dan untuk semua biayanya... Mama minta dari kamu, Alana. Kamu yang tanggung semuanya."
Alana menatap ibunya dengan tatapan tak percaya yang terselubung ketenangan luar biasa. "Mama minta uang dari Alana?"
"Ya iyalah! Minta sama siapa lagi?!" sahut ibunya dengan nada menuntut yang begitu alami. "Uang jatah bulanan dari Gema ke kamu itu pasti banyak sekali, kan? Jadi jangan pelit-pelit sama keluarga sendiri! Ingat, Kirana itu almarhumah kakak kandungmu, mantan istri dari suamimu yang sekarang memberimu hidup mewah!"
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ibunya menghantam dada Alana bagaikan bilah-bilah es yang tajam. Kebenarannya begitu menyakitkan. Selama enam tahun menikah dengan Gema, Alana tidak pernah menikmati yang namanya uang nafkah pribadi dari suaminya. Gema hanya memberikan uang transferan khusus untuk keperluan sekolah, pakaian, dan perawatan Tania.
Untuk kebutuhan pribadinya, biaya berobat pendarahan lambungnya, hingga modal awal membangun Lumiere Bakehouse, Alana menggunakan uang tabungannya sendiri dari hasil kerja kerasnya dari nol. Ibunya sama sekali tidak tahu atau memang tidak mau tahu bahwa putri kedua yang selalu diremehkannya ini hidup mandiri tanpa pernah mengemis rupiah dari Gema.
Ibunya merapikan letak tas kulit mewahnya, lalu melangkah mendekati Alana yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Saat melewatinya, wanita itu menghentikan langkah sejenak, memiringkan kepala menatap Alana dari samping, lalu membisikkan kalimat kejam tanpa beban sedikit pun.
"Sayang sekali... kenapa harus Kirana yang meninggal dunia, bukannya kamu, Alana."
Setelah mengucapkan kalimat beracun itu tanpa sedikit pun rasa bersalah atau ragu, ibunya melangkah keluar dari ruang kerja dengan santai, meninggalkan keheningan yang mencekam dan dingin di dalam ruangan.
Pintu kayu itu tertutup rapat kembali.
Apakah Alana menangis?
Tentunya tidak. Air matanya telah habis terkuras untuk rasa sakit yang sama selama bertahun-tahun. Hatinya sudah terlalu kebas untuk sekadar terluka oleh ucapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Ucapan itu justru menjadi penegas akhir bahwa di dunia ini, Alana memang tak pernah memiliki tempat untuk pulang selain pada dirinya sendiri.
Alana menghela napas panjang, meluapkan seluruh hawa sesak dan panas di dadanya. Wajahnya tetap tenang, tatapannya tetap jernih dan tajam.
Ia melangkah pelan menuju meja kerjanya, menduduki kursi kebanggaannya, lalu merangkul ponsel pintar dari dalam tas. Jarinya bergerak lincah menavigasi aplikasi mobile banking.
Alana mengetikkan nomor rekening ibunya, lalu memasukkan nominal transferan dalam jumlah yang sangat banyak jumlah yang jauh lebih dari cukup untuk membiayai acara selamatan yang megah.
Uang itu dikirimkannya bukan dari rekening nafkah pemberian Gema yang tak pernah ada, melainkan murni dari rekening pendapatan usahanya sendiri, Lumiere Bakehouse, yang kini telah sukses berkembang pesat.
Bagi Alana, uang itu adalah harga dari sebuah pelepasan. Ia membayar kewajibannya sebagai anak dan adik untuk terakhir kalinya, bukan karena cinta atau pembuktian, melainkan untuk menegaskan bahwa dirinya telah berdiri kokoh di atas kakinya sendiri tanpa perlu bergantung pada bayang-bayang Kirana, ibunya, maupun Gema.
Setelah menekan tombol konfirmasi transfer, Alana meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menegakkan punggungnya, memanggil Maya melalui intercom untuk membawakan dokumen pesanan kue, dan kembali fokus bekerja dengan kepala tegak.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....