Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gosip mulai menyebar
Suara dering telepon dari meja kerja Reza malam itu memutus paksa momen manis yang hampir terjadi di antara mereka.
Reza menarik napas panjang, menatap Maya sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu berdiri dan berjalan cepat mengambil ponselnya.
Maya bergeming di sofa, mukanya merah padam dan napasnya masih memburu. Dadanya berdebar hebat, menyadari betapa tipisnya batas yang nyaris ia lewati bersama sang bos mafia.
Reza mendengarkan laporan di telepon dengan raut wajah yang kembali mengeras. "Amankan area. Jangan ada satu pun wartawan atau pihak luar yang mencium hal ini," perintah Reza singkat sebelum mematikan sambungan.
Ia tidak kembali ke sofa tempat Maya duduk, melainkan langsung menuju ruang kerja rahasianya. Sejak malam itu, situasi di dalam organisasi Reza menjadi makin memanas.
Beberapa hari berlalu. Maya yang terus mengurung diri di mansion mulai merasakan perubahan suasana, tidak hanya dari sikap Reza yang makin sibuk, tapi juga dari perlakuan orang-orang di sekitarnya.
Pagi itu, dua orang pengawal bertubuh kekar bertugas mengantar bahan makanan mingguan ke dalam mansion.
Maya yang sedang merapikan cangkir di meja dapur bisa mendengar samar-samar obrolan pelan kedua pengawal itu ketika mereka meletakkan kardus-kardus bahan makanan di ruangan depan.
"Jadi benar cewek itu yang dibawa Tuan Reza dari lorong restoran?" bisik pengawal bersetelan hitam dengan tato garis di lehernya.
"Ssshh! Pelankan suaramu!" tegur temannya yang berambut papak. "Kalau Tuan Reza dengar, kepalamu bisa melayang."
"Ya tapi kamu dengar sendiri kan apa kata anak-anak di markas bawah?" kekeh pengawal bertato itu sinis.
"Semua orang lagi bahas dia. Si bos yang biasanya dingin sama cewek, mendadak nekat bawa cewek biasa ke mansion pribadinya. Dengar-dengar Nyonya Sora sampai mengamuk hebat."
"Jelas lah mengamuk. Nyonya Sora kan istri sah. Mana ada istri yang terima suaminya pelihara cewek simpanan di mansion mewah begini?" balas pengawal berambut papak.
"Tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga bos besar. Cewek kayak begitu kan cuma buat mainan sementara. Kalau sudah bosan paling juga dibuang."
"Tapi kasihan juga sih, cap pelakor sudah nempel sama dia di lingkaran dalam. Orang-orang klan Nyonya Sora bahkan sudah mengincar dia," bisik pengawal bertato lagi sambil terkekeh kaku.
PRANG!
Gelas kaca yang dipegang Maya mendadak terlepas dari genggamannya, jatuh terhempas ke lantai dapur dan hancur berkeping-keping.
Suara pecahan kaca itu mengejutkan kedua pengawal di depan. Obrolan mereka seketika terhenti.
Kedua pria itu langsung berbalik dan melihat Maya berdiri kaku di ambang pintu dapur dengan wajah pucat pasi.
Pengawal berambut papak batuk kecil untuk mengalihkan rasa canggung. "Ma-maaf, nona Maya. Kami tidak sengaja..."
Maya mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Bibirnya gemetaran menahan rasa malu dan sakit hati yang membakar dadanya. Kata-kata "cewek simpanan", "mainan sementara", dan "pelakor" menancap sangat dalam di hatinya.
"Tolong...letakkan barangnya di sana saja, lalu keluar," ujar Maya dengan suara bergetar pelan, berusaha keras menjaga sisa harga dirinya.
Kedua pengawal itu saling pandang, lalu menunduk kaku. "Baik, nona. Kami permisi dulu."
Mereka bergegas keluar dari mansion dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu pintu tertutup, air mata yang disembunyikan Maya akhirnya jatuh menetes. Maya berlutut di lantai dapur, berniat memungut pecahan kaca, namun tangannya yang gemetaran justru tergores pinggiran kaca yang tajam.
"Awh!" ringis Maya pelan saat darah segar mulai menetes dari ibu jarinya.
Tapi rasa sakit di jarinya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Gosip itu sudah menyebar.
Di mata anak buah Reza, di mata orang-orang dunia malam, dan di mata keluarga Sora, Maya tak lebih dari seorang cewek simpanan murahan yang merusak rumah tangga orang demi kemewahan.
"Aku bukan simpanan... Aku cuma mau selamat..." bisik Maya terisak sendirian di lantai dapur yang dingin.
Tiba-tiba, pintu utama mansion kembali terbuka. Langkah kaki tegap dan terburu-buru terdengar melangkah masuk.
Reza yang baru saja kembali dari markas besar berjalan menuju dapur, berniat mencari air minum. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat Maya terduduk di lantai sambil memegangi jarinya yang berdarah di antara pecahan kaca.
Reza panik. Pria dingin yang ditakuti seluruh kota itu langsung berlari kecil dan berlutut di samping Maya.
"Maya! Kamu kenapa?" tanya Reza cemas, langsung meraih tangan Maya yang terluka.
"Jangan sentuh aku!" teriak Maya tiba-tiba sambil menarik tangannya kasar dari cengkeraman Reza.
Reza tertegun, terkejut melihat reaksi emosional Maya yang tidak biasa. Ia melihat mata Maya yang sembap dan penuh air mata.
"Maya, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Reza dengan raut wajah khawatir.
Maya menatap Reza dengan pandangan penuh luka dan keputusasaan.
"Reza... sampai kapan kamu mau mengurung aku di sini? Sampai kapan kamu mau biarkan semua orang menganggap aku ini cewek simpanan murahan kamu?!"
Reza mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Siapa yang bilang begitu sama kamu? Anak buah saya ada yang lancang?!"
"Memang itu kenyataannya, kan?!" jerit Maya, emosi yang ia tahan selama berhari-hari akhirnya meledak.
"Di mata semua orang, aku ini pelakor! Aku ini cewek simpanan yang kamu bawa ke mansionmu! Aku tidak punya harga diri lagi di sini, Reza!"
Reza terdiam, menatap Maya yang terisak hebat di depannya. Garis rahangnya mengeras, menahan emosi yang mulai membakar dadanya.
Pria itu menghela napas berat, lalu tanpa mempedulikan pecahan kaca di lantai, ia menarik tubuh Maya ke dalam pelukannya.
Maya berusaha meronta dan memukul dada bidang Reza. "Lepasin! Lepaskan aku, Reza!"
"Diam, Maya!" bisik Reza tegas tapi lembut, memeluk tubuh Maya makin erat hingga gadis itu tidak bisa bergerak lagi.
"Dengar saya. Kamu bukan simpanan. Kamu bukan pelakor. Saya tidak pernah menganggap kamu seperti itu!"
"Tapi orang-orang kamu—"
"Orang-orang saya tidak tahu apa-apa!" potong Reza tajam di dekat telinga Maya. "Saya tidak peduli apa kata mereka, dan kamu juga tidak boleh peduli."
Maya menangis sesenggukan di dalam dekapan hangat Reza, menyandarkan kepalanya di dada pria itu karena kehabisan tenaga untuk meronta.
Reza mengusap lembut rambut Maya, matanya menatap tajam ke arah pintu mansion dengan tatapan membunuh.
Ia tahu gosip ini sengaja disebarkan oleh pihak tertentu untuk merusak mental Maya dan memancing reaksinya.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Reza bergetar hebat. Reza merogoh ponselnya tanpa melepas pelukannya pada Maya. Layar ponsel menampilkan nama pemanggil yang sangat ia kenal: Sora.
Reza menggeser layar dan menempelkan telepon ke telinganya.
Dari seberang telepon, suara Sora terdengar sangat tenang, berkelas, tapi penuh kemenangan.
"Bagaimana kabar cewek simpananmu, Reza?" tanya Sora sinis lewat telepon.
"Aku dengar gosipnya sudah menyebar ke seluruh klan. Menarik sekali, ya? Tapi kalau kamu pikir gosip itu cuma gertakan sambal... coba kamu cek jendela mansionmu sekarang."
Bersambung.......