Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekar Misterius yang Kuat
Pria itu masih menatap pemuda di hadapannya dengan wajah pucat. Ia pernah melihat seseorang menggunakan portal dimensi, meskipun hanya sekali sepanjang hidupnya. Saat itu, seorang pendekar tingkat tinggi menggunakan sebuah artefak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ia belum pernah melihat seseorang keluar dari sebuah cermin.
Pria itu menelan ludah. Ia memaksakan dirinya berdiri, kemudian menatap pemuda tersebut dengan penuh kewaspadaan.
"Siapa kau?"
Pemuda itu menoleh kepadanya. Tatapannya tampak tenang.
"Terima kasih karena kau bersedia berdiri cukup lama di depan cermin ini."
Pria itu mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Pemuda itu tersenyum padanya.
"Pandanganmu pada cermin itu telah mengaktifkan portal dimensi menuju alammu. Aku sudah menunggu momen ini cukup lama."
Kehadiran pria itu di depan cermin kebetulan memenuhi syarat yang diperlukan untuk mengaktifkan portal dimensi itu.
Pria bertubuh kekar itu terdiam. Ia tidak sepenuhnya memahami perkataan pemuda tersebut. Namun, ia menangkap satu hal penting dari penjelasannya. Cermin itu merupakan portal dimensi.
Pikiran itu membuatnya merasakan hawa dingin menjalar di punggung. Ia tidak tahu seberapa kuat pemuda tersebut, tetapi seseorang yang mampu melintasi portal dimensi jelas bukan orang biasa.
Meski demikian, ketika mengingat kekayaan yang memenuhi ruangan itu, keserakahan kembali menguasai pikirannya. Pria itu melirik tumpukan emas di sekelilingnya, lalu kembali menatap pemuda tersebut.
"Kalau begitu, kedatanganmu tidak ada hubungannya dengan harta karun ini, bukan?"
Pria tersebut melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.
"Bagus. Kalau begitu, semua harta di tempat ini adalah milikku!"
Ia bahkan berani menegakkan dadanya meskipun luka di perutnya masih mengeluarkan darah.
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia memandang pria tersebut selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Kau menginginkan semua harta ini?"
Pria itu segera mengangguk.
"Tentu saja! Aku telah mempertaruhkan nyawaku untuk mendapatkannya. Semua orang yang datang bersamaku telah mati. Aku tidak mungkin membiarkan orang lain mengambil hasil perjuanganku!"
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Begitu rupanya."
Pria itu mengira pemuda tersebut akhirnya memahami keadaannya. Ia bahkan mulai membayangkan bahwa orang asing itu tidak akan mengganggunya.
Namun, tepat ketika ia hendak mengatakan sesuatu, sosok pemuda di hadapannya mendadak menghilang.
Mata pria itu membelalak.
"Eh..."
Tusukan tajam tiba-tiba menembus tubuhnya. Ia menunduk dengan susah payah. Sebilah pedang putih telah menembus dadanya.
Pemuda itu berdiri tepat di belakangnya, menggenggam gagang pedang dengan satu tangan. Kecepatannya begitu mengerikan hingga pria tersebut bahkan tidak sempat merasakan kehadirannya sebelum serangan itu mengenai tubuhnya.
"Kau..."
Pria itu berusaha menoleh. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan, seolah-olah ia tidak pernah membayangkan pemuda yang baru saja tersenyum kepadanya akan tiba-tiba menyerangnya.
"Kau... berani..."
Ia berusaha mengangkat tangannya, tetapi kekuatannya terus menghilang. Darah mengalir dari mulutnya, membuat kata-katanya semakin sulit terdengar.
Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, kedua kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh menghantam lantai.
Pemuda itu menarik pedangnya, kemudian memandang pria yang kini terbaring tak bergerak tersebut.
"Kau ingin mengambil semua harta ini?"
Ia menggelengkan kepala dengan ekspresi seolah-olah sedang melihat sesuatu yang sangat konyol.
"Itu sungguh tidak tahu diri."
Pemuda itu tahu pria di depannya pasti yang membunuh keempat rekannya sendiri demi menguasai seluruh kekayaan di ruangan ini. Bahkan setelah mendapatkan semuanya, ia masih menganggap bahwa orang lain tidak berhak menyentuh satu benda pun. Sayangnya, ia tidak pernah menyadari bahwa keserakahan yang membawanya sampai ke tempat ini juga menjadi alasan kematiannya.
Pemuda itu tidak lagi memedulikan mayat tersebut. Ia mengibaskan pedangnya hingga darah yang menempel pada bilah putih itu terlepas, kemudian menyarungkannya kembali ke pinggang.
Setelah itu, ia mengangkat tangan kirinya. Sebuah cincin berwarna hitam melingkar di salah satu jarinya.
Pemuda itu menggerakkan tangannya dengan santai. Seketika, sebuah kekuatan tak terlihat menyelimuti tumpukan koin emas di hadapannya.
Wusss!
Koin-koin emas itu menghilang dalam sekejap. Ia mengulangi gerakan tersebut. Kali ini, batangan emas, peti perak, permata, serta berbagai benda berharga lainnya mulai tersedot ke dalam cincin ruang miliknya.
Patung-patung emas dan giok ikut menghilang. Senjata-senjata kuno, gulungan teknik kultivasi, botol obat, serta benda-benda aneh yang tersimpan di atas meja batu juga tidak luput dari perhatiannya. Dalam waktu singkat, ruangan yang sebelumnya dipenuhi kekayaan luar biasa itu perlahan menjadi kosong.
Pemuda itu tidak terburu-buru. Ia memeriksa setiap sudut untuk memastikan tidak ada benda berharga yang tertinggal. Bahkan, ia sempat berhenti di depan beberapa rak batu yang tersembunyi di balik pilar. Setelah memastikan isinya telah tersimpan di dalam cincin ruang, ia akhirnya mengangguk puas.
Tidak lama kemudian, seluruh harta karun di ruangan itu telah lenyap. Yang tersisa hanyalah lima mayat yang tergeletak di antara lantai batu yang dipenuhi noda darah.
Pemuda itu melirik mereka sekilas.
"Benar-benar sekelompok orang yang serakah."
Ia tidak merasa perlu menguburkan mereka ataupun menghabiskan waktu lebih lama di tempat itu. Baginya, orang-orang tersebut telah memilih jalan mereka sendiri.
Pemuda itu kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu besi yang terbuka. Langkahnya tenang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan urusan kecil yang tidak layak dipikirkan lebih jauh.
Setelah melewati lorong-lorong gua yang dipenuhi jebakan, ia akhirnya tiba di pintu keluar. Namun, begitu melangkah keluar dari gua, ia segera merasakan perubahan pada keadaan sekelilingnya.
Alam sedang bergetar. Gemuruh keras terdengar dari kejauhan, membuat bebatuan di lereng gunung berjatuhan. Pepohonan bergoyang hebat, sementara retakan mulai muncul di beberapa bagian tanah.
Di atas sana, langit nampak menghitam. Awan-awan gelap berkumpul dengan kecepatan yang tidak wajar. Kilatan petir menyambar dari satu sisi langit ke sisi lainnya, menerangi pegunungan dalam cahaya putih kebiruan. Kilat demi kilat menyambar tanpa henti, disertai suara guntur yang mengguncang seluruh kawasan.
Pemuda itu berhenti berjalan. Ia mengangkat kepala dan memandangi fenomena alam tersebut dengan tatapan tenang.
"Sepertinya kedatanganku telah menimbulkan sedikit keributan."
Suaranya terdengar ringan, seolah-olah gempa bumi dan badai petir yang sedang terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Namun, fenomena itu belum berakhir. Tiba-tiba, bagian tengah langit yang menghitam mulai menunjukkan perubahan.
Mula-mula, sebuah garis tipis muncul di antara awan-awan gelap. Garis itu perlahan memanjang, membelah langit dari satu sisi ke sisi lainnya.
Krak!
Suara menggelegar terdengar dari ketinggian.
Langit seolah-olah benar-benar terbelah. Retakan raksasa terbentuk di angkasa, memperlihatkan kegelapan yang jauh lebih pekat di baliknya. Kilatan petir menyambar di sepanjang celah tersebut, sementara gelombang tekanan yang mengerikan menyebar ke segala arah.
Makhluk-makhluk buas di pegunungan berlarian ketakutan. Burung-burung terbang meninggalkan sarang, sedangkan para pendekar yang berada di kota-kota terdekat serentak mengangkat kepala.
Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, naluri mereka mengatakan bahwa fenomena ini bukanlah bencana alam biasa.
Di beberapa tempat, para pendekar yang sedang berkultivasi tiba-tiba membuka mata.
"Apa yang terjadi?"
"Langit... kenapa bisa terbelah?"
"Apakah seseorang sedang menerobos ke tingkat kultivasi yang lebih tinggi?"
Berbagai dugaan bermunculan, tetapi tidak seorang pun mampu memberikan jawaban pasti. Sebab, tekanan yang terpancar dari celah di langit itu bukan sesuatu yang pernah mereka rasakan sebelumnya.
Di hadapan gua, pemuda berambut panjang itu justru memperlihatkan senyum tipis. Ia mengamati retakan raksasa tersebut selama beberapa saat sebelum akhirnya melangkah maju.
Angin kencang menyapu pakaiannya. Pedang putih yang terselip di pinggangnya bergetar samar, seolah-olah merasakan perubahan pada alam di sekeliling mereka.
Seorang pendekar kuat telah tiba. Kedatangannya mungkin akan mengubah keseimbangan dunia persilatan di alam ini.