Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
Detik demi detik berlalu hingga akhirnya tanpa terasa hari telah sore. Alena berjalan dengan tegak seperti biasa di sisi Nathan mengiringi langkah pria itu menuju keluar dari gedung Wijaya Kusuma Group. Seperti biasa, Alena membukakan pintu terlebih dulu untuk Nathan, dan memastikan bosnya itu duduk dengan nyaman sebelum kemudian dirinya berjalan memutar dan duduk di kursi pengemudi.
Awalnya tidak seperti itu. Alena sebelumnya selalu membuka penumpang di bagian tengah. Namun, saat itu wajah Nathan selalu terlihat kesal. Dan dengan pedasnya pria itu berkata…
“Kamu menyuruhku duduk di belakang, sementara kamu sendiri duduk di depan? Benar-benar asisten yang tidak punya sopan santun!"
Lalu dengan wajah yang terlihat gusar, pria itu membuka diri pintu bagian depan, masuk, duduk, lalu menutup pintu dengan kasar.
Alena sempat terbelalak mendengar tuduhan dan melihat tingkat bosnya itu. Gadis yang bahkan sampai menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
Sebenarnya kesalahan apa yang telah dia perbuat, hingga bosnya itu selalu saja mengeluarkan kata-kata yang pedas dan menyebalkan jika bicara dengan dirinya? Padahal seingatnya, di manapun, yang namanya bos pasti selalu duduk di kursi penumpang bagian tengah bukan di depan bersama dengan sopir.
Namun, apa yang bisa Alena lakukan selain menghela nafas pasrah. BOS SELALU BENAR. Akhirnya sejak saat itu Alena tak lagi pernah membuka pintu belakang.
*
Perjalanan terasa begitu tenang. Alena fokus menatap jalanan di depan, sementara Nathan setia menunduk meneliti berkas yang belum sempat ia baca di kantor dengan mata yang sesekali melirik ke arah Alena sambil menyembunyikan senyum tipisnya.
Namun belum terlalu jauh kendaraan melaju…
Tring…
Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari dalam tas Alena yang ada di kursi penumpang bagian belakang. Alena melirik sekilas ke arah tasnya melalui kaca spion yang tergantung di kaca di hadapannya. Namun tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari jalan.
Dering itu sempat berhenti, namun beberapa detik kemudian terdengar kembali. Alena menghembuskan napas pelan, namun tetap tak berniat untuk mengambilnya. Karena untuk melakukan hal itu dia harus menghentikan mobil yang sedang ia kemudian. Dalam hatinya hanya berkata, siapa pun yang menelepon, jika memang penting pasti akan menghubungi lagi.
Akan tetapi, sepertinya orang di seberang sana tak mau menyerah. Ponsel itu kembali berdering meskipun kemudian kembali mati dengan sendirinya.
Nathan yang merasa kesal dengan suara dering yang tiada henti itu, tiba-tiba melepas sabuk pengamannya, lalu membalikkan badannya melewati celah di antara kursi penumpang dan pengemudi untuk menjangkau tas itu dan menariknya ke pangkuannya.
"Tuan?" Alena spontan menoleh sebentar.
"Ponselmu pasti murahan makanya berisik sekali," ucap Nathan sarkas
Kedua tangan Alena yang sedang memegang setir seketika itu juga mencengkeram dengan erat. Apa tidak bisa sekali saja bosnya itu tidak mengeluarkan kata-kata pedas? Namun apa daya? Alena hanya bisa menghilang nafas panjang lalu kembali menatap jalanan yang ada di depannya.
"Maar, Tuan," ucapnya terdengar merasa bersalah.
Nathan tak menjawab, namun tangannya bergerak membuka tas dan mengambil ponsel membuat Alena kembali menghela nafas. Memangnya boleh, bos membuka pas bawahannya? Tapi yang di sampingnya ini adalah tuan Nathan.
Ponsel yang berada di tangan Nathan kembali berdering, dan dan satu nama “Kak Rudi" muncul di layar membuat ekspresi wajah Nathan seketika berubah. Rahang pria itu mengeras tanpa disadari. Dalam hatinya bertanya, siapa pria bernama Rudi ini? Dan kenapa Alena memberinya nama panggilan yang begitu akrab?
"Siapa Kak Rudi?” tanya Nathan tanpa menatap Alena.
“Haa?" Alena seketika menoleh ke arah Nathan. "Ah, itu. Kakak senior waktu di kampus.”
Dengan wajah yang semakin menggelap, Nathan menggeser tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara.
"Jawablah!” perintah Nathan dengan suaranya yang dingin. Tangannya memegang ponsel itu dan mendekatkannya pada Alena.
Alena merasa bingung, ada apa dengan bos nya itu? Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah? Padahal beberapa menit yang lalu masih baik-baik saja.
"Iya, Kak?" jawab Alena akhirnya.
Nathan yang sedang memegang ponsel seketika menoleh dan mengerutkan kening mendengar nada suara Alena. Suara yang begitu lembut dan lebih hangat dibandingkan cara gadis itu berbicara dengannya.
"Alena? Kamu baik-baik saja?” Terdengar suara cemas seorang pria dari seberang sana membuat Nathan tanpa sadar mengepalkan tangannya.
"Iya, Kak. Aku baik-baik saja. Ada apa memangnya?"
Terdengar helaan nafas lega dari seberang. "Kakak sempat cemas tadi, soalnya dari tadi menghubungimu tapi tidak tersambung. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja."
"Maaf, tadi aku lagi kerja, Kak."
"Iya, Kakak tahu." Suara Rudi terdengar cemas. "Kakak sudah melihat berita yang sedang viral tentangmu. Dan kakak hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir."
Sebelah tangan Nathan yang bertumpu di paha perlahan mengepal semakin erat. Rahang pria itu terlihat mengeras, matanya mengeluarkan aura yang tajam dan berapi-api. Mungkin jika saat ini pria bernama Rudi itu berada di hadapannya, pasti sudah terbakar menjadi abu.
"Kakak mengenal kamu, dan Kakak tidak percaya kamu seperti itu. Tidak usah kamu pedulikan kata-kata mereka. Mereka hanya orang yang ingin melihatmu hancur."
Tatapan Nathan makin dingin mendengar kata-kata penuh keyakinan dari Rudi. Dada pria itu tiba-tiba terasa sesak, entah kenapa.
Dengan mata yang masih fokus menatap jalanan di depan, Alena tersenyum tipis.
"Terima kasih, Kak Rudi."
"Jangan berterima kasih. Kalau ada apa-apa, telepon Kakak saja, ya."
"Baik, Kak."
"Jangan terlalu dipikirkan beritanya."
"Iya. Aku mengerti."
"Jaga dirimu, Lena."
Panggilan sayang itu membuat jantung Nathan seakan berhenti berdetak sesaat.
"Iya, Kak. Kak Rudi juga ya."
Sambungan terputus entah siapa yang memutusnya. Alena meraba tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Suasana dalam mobil itu mendadak begitu hening mencekam. Namun, belum sempat ia menoleh, gadis itu terjingkat ketika tiba-tiba Nathan melemparkan ponselnya dengan kasar ke atas dasbor.
Alena tersentak kaget, matanya membelalak melihat ponselnya yang dibeli beberapa bulan yang lalu itu tergeletak tanpa ia berani menolongnya. Dada gadis itu seketika berdesir karena terkejut melihat sikap bosnya yang tiba-tiba berubah begitu kasar.
Alena melirik ke arah Nathan sekilas dan terlihat olehnya pria itu menatap lurus ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi, namun hal itu malah membuat Alena semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.
"Pacarmu?"
Tiba-tiba Nathan bertanya dengan suaranya yang datar.
Alena menoleh dengan kening yang berkerut. Tapi sesaat kemudian gadis itu sadar siapa yang ditanyakan oleh bosnya. "Bukan," jawabnya.
"Oh.” Nathan hanya mengangguk kecil, tanpa menoleh.
Alena kembali menoleh ke arah Natan dengan keningnya yang berkerut. Namun wajah Nathan sudah tidak lagi segelap tadi. Dan itu membuatnya semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah Tuan Nathan ini seorang bipolar?”
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣