NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13.

Derasnya kucuran air dingin dari shower terus menghantam tubuh Bella tanpa ampun, menciptakan suara gemercik yang memekakkan telinga di dalam kamar mandi bernuansa kelabu itu. Bella meringkuk di lantai keramik yang basah, menggigil hebat hingga giginya bergemeretak.

​Di tengah kesadarannya yang berkabut pekat akibat zat kimia dan alkohol, suara teriakan Nathan berdengung samar di telinganya. Ia melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya bagaikan bayangan asing yang tak dikenal. Namun, kalimat terakhir yang dilontarkan Nathan menghujam begitu tajam, menembus lapisan kesadarannya yang paling dalam.

​Bukan anak kandung... anak pungut dari jalanan...

​"A-apa...?" cicit Bella lirih, suaranya nyaris tenggelam di bawah deru air shower. Air mata hangat tumpah bercampur dengan air dingin di wajahnya. Sekalipun ia berada di bawah pengaruh obat, kenyataan pahit itu terasa begitu nyata dan meremukkan hatinya berkeping-keping.

​Di ambang pintu kamar mandi, Christian berdiri dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang menyipit tajam. Melihat Nathan yang masih bernapas memburu, mencengkeram selang air dengan buku-buku jari memutih, Christian tahu pria muda itu sudah kehilangan kendali sepenuhnya atas emosi.

​"Cukup, Nathan," suara bariton Christian menginterupsi dengan nada rendah, dingin, namun mengandung otoritas mutlak yang tak bisa dibantah.

​Nathan menoleh sekilas dengan napas memburu, matanya merah padam. "Dia sudah keterlaluan, Om! Dia mencuri, mempermalukan keluarga, dan—"

​"Saya bilang cukup," potong Christian tegas, melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan tangannya di atas bahu keponakannya. "Keluar. Biar saya yang urus dia."

​Nathan menatap pamannya sesaat, lalu melepas cengkeramannya dari selang dengan kasar. Napasnya masih memburu naik-turun. "Terserah, Om! Capek aku ngurusin anak tidak tahu diuntung ini!" maki Nathan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik, membanting pintu kamar mandi, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.

​Keheningan seketika mengambil alih, menyisakan suara air yang masih mengalir deras.

​Christian mematikan keran shower dengan gerakan patah-patahan. Suasana di dalam kamar mandi mendadak sunyi, hanya menyisakan suara napas Bella yang tersengal-sengal dan isak tangis tertahan yang keluar dari bibir pucat gadis itu.

​Christian berjongkok pelan di hadapan Bella. Ia menatap keponakannya yang terduduk lemas dengan pakaian basah kuyup menempel di kulit, menggigil kedinginan di atas lantai keramik. Tidak ada kemarahan di wajah matang pria itu saat ini; yang ada hanya sorot mata gelap yang menyelami kehancuran mutlak di hadapannya.

​"Bangun, Arabella," bisik Christian rendah.

​Bella mendongakkan kepalanya dengan susah payah. Pandangannya kabur, tubuhnya lemas tak bertulang akibat sisa obat dan kelelahan luar biasa. Saat melihat sosok di depannya, halusinasi kembali melanda otaknya.

​Dengan gerakan lambat, Bella mengulurkan tangannya yang basah, menyentuh rahang tegas Christian. "Vero... kamu beneran di sini...?" bisiknya parau, suaranya sarat akan keputusasaan yang pilu. "Kenapa kamu ninggalin aku...? Kenapa semuanya benci sama aku...?"

​Christian terdiam kaku saat sentuhan jemari dingin Bella mendarat di wajahnya. Pria itu menatap lurus ke dalam iris mata keponakannya yang kehilangan arah.

​"Kamu salah orang, Arabella," ucap Christian dingin, namun kali ini tanpa nada membentak. Suaranya terdengar begitu berat, mencengkeram kesadaran yang tersisa. "Pria bajingan itu tidak akan pernah kembali untukmu."

​Bella menggeleng lemah, air matanya kembali tumpah. "Aku cuma mau disayang... aku nggak punya siapa-siapa..." racaunya lirih sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar putus total.

​Tubuh mungil itu terkulai ke depan, jatuh lemas tepat di dada bidang Christian. Pria berusia 31 tahun itu dengan sigap menangkap tubuh keponakannya, menahan berat Bella dalam dekapannya.

​Christian menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan beban dan pergulatan batin yang hebat. Tanpa berkata apa pun lagi, Christian mengangkat tubuh Bella yang basah kuyup ke dalam gendongannya, membawanya keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur utama.

​Sesampainya di kamar tidur utama, Christian membaringkan tubuh Bella perlahan di atas tempat tidur king-size yang luas. Ia segera berbalik dan melangkah cepat menuju pintu kamar, lalu memanggil Bibi Hani yang tampak masih cemas menunggu di luar koridor.

​"Bi Hani," panggil Christian dengan nada tegas. "Masuklah. Ganti pakaian Non Bella dengan piyama yang hangat, dan siapkan selimut tebal. Dia kedinginan."

​"B-baik, Tuan!" jawab Bibi Hani tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam kamar.

​Tanpa membuang waktu, Christian meninggalkan kamar utama sebentar dan melangkah menuju kamarnya sendiri. Ia membuka laci khusus di meja kerjanya, mengambil kotak peralatan medis darurat, serta beberapa ampul obat penenang dan vitamin yang biasa ia simpan sebagai dokter spesialis.

*

​Begitu ia kembali ke kamar Bella, Bibi Hani sudah selesai mengenakan piyama katun yang hangat pada tubuh gadis itu.

​"Keluar dulu, Bi. Biar saya yang tangani sisanya," perintah Christian singkat.

​Bibi Hani mengangguk patuh dan segera meninggalkan ruangan, menutup pintu kamar rapat-rapat.

​Christian mendekati sisi tempat tidur. Ia membuka kotak peralatan medisnya, menyiapkan jarum suntik steril, lalu meracik dosis obat penawar dan penguat kesadaran dengan presisi tinggi layaknya seorang dokter bedah profesional.

​Dengan gerakan tenang namun pasti, Christian meraih lengan Bella yang terkulai lemas di atas kasur. Ia menyingkap sedikit lengan piyama katun itu, mencari pembuluh darah vena di pergelangan tangan Bella, lalu mengusapnya dengan kapas beralkohol.

​Tek.

​Jarinya menekan pendorong jarum suntik, memasukkan cairan obat itu secara perlahan langsung ke dalam aliran darah keponakannya.

​"Bangun, Arabella," bisik Christian rendah di dekat telinga gadis itu, menunggu reaksi dari zat medis yang ia berikan agar kesadaran Bella segera pulih sepenuhnya dari pengaruh obat bius murahan dan alkohol.

​Cairan bening di dalam jarum suntik itu perlahan menyatu dengan aliran darah Bella. Dalam hitungan menit, napas gadis yang tadinya memburu dan tersengal-sengal itu berangsur-angsur menjadi lebih teratur. Kerutan di keningnya melunak, menandakan zat penenang dan pemulih kesadaran buatan Christian mulai bekerja meredakan sirkulasi tubuhnya yang sempat kacau.

​Christian merapikan peralatan medisnya ke dalam kotak kecil, lalu menutupnya dengan bunyi klik pelan. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wajah Bella yang kini tertidur jauh lebih tenang di balik selimut tebal. Namun, di balik topeng profesionalismenya sebagai seorang dokter, ada sensasi asing yang bergemuruh aneh di dalam dadanya—sebuah tarikan tak kasat mata yang membuat jemarinya gatal untuk kembali menyentuh kulit gadis itu.

​Merasa hawa di dalam kamar itu mendadak terlalu menyesakkan, Christian memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamar. Ia harus menjauh sebelum akal sehatnya runtuh sepenuhnya di hadapan keponakannya sendiri.

*

​Pria itu menuruni anak tangga marmer satu per satu menuju lantai dasar yang temaram. Begitu tiba di ruang keluarga, ia mendapati Nathan sedang duduk merosot di atas sofa panjang dengan sebotol wiski di tangan kanannya. Sisa-sisa amarah masih jelas terpancar di wajah pemuda itu, sementara tatapannya kosong menatap lantai kaca di depannya.

​Christian melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di sofa seberang tanpa bersuara. Ia meraih gelas kosong di atas meja, menuangkan sedikit cairan ambar dari botol yang dipegang Nathan, lalu meneguknya dalam sekali tenggak untuk mendinginkan tenggorokannya yang mendadak kering.

​Suasana sempat terkelu dalam keheningan yang berat sebelum akhirnya Christian membuka suara.

​"Jadi... itu alasanmu selama ini memperlakukannya dengan dingin?" tanya Christian tenang, memecah sunyi malam sambil meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. "Alasan kenapa kamu tidak pernah sudi memberikan sedikit pun kasih sayang sebagai seorang kakak?"

​Nathan mendengus sinis, meneguk langsung dari botol wiskinya sebelum menjawab. "Bagaimana bisa aku menganggapnya adik, Om? Dia bukan darah daging kita," tukas Nathan ketus, rahangnya mengetat. "Aku tahu batasan. Sejak awal, keberadaannya di rumah ini cuma jadi pengingat buat kesalahan-kesalahan yang dibuat Papa dan Mama."

​Mendengar itu, Christian menggelengkan kepalanya perlahan. Sorot mata cokelat gelapnya menatap keponakannya dengan ketegasan yang mutlak.

​"Saat orang tuamu membawa Bella pertama kali ke rumah ini, Mereka sudah meminta kepada seluruh anggota keluarga besar Allegra untuk sah menganggapnya sebagai putri kandung di keluarga kita," ucap Christian dingin namun penuh penekanan. "Statusnya di akta keluarga tidak pernah berbeda darimu, Nathan."

​Nathan tertawa hambar, suara tawanya terdengar getir dan penuh protes. "Status di atas kertas nggak bisa mengubah darahnya, Om! Papa dan Mama terlalu memanjakannya. Mereka kasih semua kemewahan, kartu kredit tanpa batas, dan kebebasan mutlak karena merasa bersalah. Mereka lupa... anak itu berasal dari keluarga kriminal."

​"Kamu salah besar, Nathan," potong Christian cepat, suaranya naik satu tingkat, memotong bantahan pemuda itu dengan otoritas seorang pria yang paling disegani di keluarga.

​Nathan tertegun, menatap pamannya dengan alis bertaut bingung.

​Christian menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang yang menyiratkan pemahaman mendalam tentang jiwa rapuh Bella.

​"Bukan karena darahnya yang kotor," lanjut Christian dengan nada suara yang perlahan melembut, namun sarat akan kepedihan tersembunyi. "Yang membuat Bella jadi seperti itu adalah karena dia tumbuh dalam kekurangan kasih sayang yang nyata dari keluarganya sendiri. Kalian sibuk dengan bisnis, urusan luar negeri, dan ego kalian masing-masing. Rumah ini cuma jadi sangkar emas buat dia."

​Christian menoleh, menatap Nathan lekat-lekat hingga pemuda itu terpaku di tempatnya.

​"Karena dia tidak menemukannya di dalam rumah ini, dia mencari validasi dan kasih sayang itu ke dunia luar," pungkas Christian dingin. "Dan di luar sana, bajingan-bajingan seperti Vero dengan mudah memangsa kepolosan yang tidak pernah kalian berikan padanya."

*

*

*

1
Mia Camelia
bella akhirnya mengakui pesona sang paman Christian🤭
lanjut thor😁😁😁
Vira Anisah
2 eps dalan sehari thor
MissSHalalalal: author usahakan ya kak.
total 1 replies
🍌
plok2🌚?
🍌
🌚🌚🌚 sikat
Nurmalia Lia
aishhh gak sabar nunggu bella nih thor😍👍
🍌
kapan plok2 🌚
Vira Anisah
lanjut
Ita Putri
munafik tingkat dewa si Alan 🤭
🍌
lama 😗
Mia Camelia
rasakan kau nathan di jutekin Clarisa🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 😍😍😍
Mia Camelia
ceritain Clarisa dan nathan dulu thor, makin penasaran nih 🤭
🍌
jodoh anda 🌚
🍌
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!