Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Kota
"HUAAAAA.... kita sudah mendarat bu" ucap Aulia, setelah menguap dan meregangkan kedua tangannya.
"Sudah, ayo turun." jawab bu Ulfa, Aulia mengangguk. Sedangkan pak Amir, sudah turun dan mengambil tas juga koper.
"Selamat datang nona muda, ini kunci rumah dekat sekolah. Tidak besar dan juga tidak kecil, ada halaman yang cukup luas. Di bawah, sudah ada sopir yang menunggu. Dia akan mengantar kan nona muda dan yang lain, sampai ke rumah dengan selamat." ucap anak buah keluarganya
"Baik, terima kasih om." jawab Aulia tersenyum, seraya menerima kunci tersebut. Ia dan yang lain berjalan menuju lift, tak lupa Aulia menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam. Begitu juga dengan ibu Ulfa dan pak Amir, hanya saja mereka tak menggunakan kacamata.
Saat Aulia sampai di lantai dasar, banyak pegawai yang melihat nya berjalan keluar lift. Aulia yang di kelilingi pengawal, di tambah lagi dengan orang kepercayaan kakek Pamir. Tentu menjadi pusat perhatian orang-orang, kasak kusuk dan bisik-bisik mulai ramai terdengar. Namun Aulia tak peduli, ia berjalan lurus menuju pintu keluar perusahaan.
'Siapa dia?'
'Bukankah yang berjalan di samping gadis itu, tuan Vano?? Orang kepercayaan tuan besar.'
'Apa mungkin, gadis itu nona muda? Cucu dari tuan Syahrizki?'
'Waaahhh... Padahal dia menggunakan kacamata dan masker, tapi aura kepemimpinan nya begitu bersinar.'
'Kamu benar, meski di tutupi. Aku yakin, bila nona muda sangat cantik. Lihat kulit tangannya, terlihat putih dan mulus. Berapa yang ia habiskan, untuk satu kali perawatan.'
'Pasti ratusan juta'
'Kurasa, tanpa perawatan gadis itu memang cantik. Kalian tidak lupa kan bagaimana cantik dan tampannya, mendiang kedua orang tua nona muda.'
Semua sibuk berbisik, dengan prasangka dan keyakinan masing-masing.
Di luar sudah ada dua buah mobil menunggu, Aulia masuk ke dalam mobil yang ada di depan. Sedangkan ibu Ulfa dan pak Amir, mereka masuk ke dalam mobil yang ada di belakangnya.
"Jangan ada iring-iringan om, Aulia ga mau jadi pusat perhatian di jalan nanti. Bukankah Aulia ingin menyembunyikan identitas, jangan seramai ini." ucap Aulia, sebelum menutup pintu mobil
"Baik nona, saya akan menyuruh mereka mundur." ucap om Vano
"Kalo gitu Aulia pamit ya om, Assalamu'alaikum" Aulia pun menutup pintu mobil
"Wa'alaikum salam, hati-hati nona muda." ucap ok Vano, seraya sedikit membungkukkan punggungnya.
Kedua mobil itu pergi, meninggalkan perusahaan raksasa. Yang didirikan, oleh kakek Pamir saat muda.
.
.
Waktu berlalu, 2 hari sebelum kegiatan belajar mengajar di mulai. Aulia sedang sarapan, tentunya di temani ibu Ulfa dan pak Amir.
"Lia, hari ini kamu jadi ke sekolah untuk melakukan administrasi ulang? Kenapa ga minta tolong sama kake Fauzi, biar sekalian beliau yang mengurus semuanya. Supaya Lia ke sekolah, di saat sudah mulai sekolah." tanya ibu Ulfa
"Jadi bu, ga papa bu. Lia juga sekalian ingin jalan-jalan, liat gedung sekolah seperti apa? Apa ada yang harus di benahi? Atau apakah ada orang, yang diam-diam berkhianat di belakang kakek." jawab Aulia, bu Ulfa dan pak Amir mengangguk paham.
"Kalo memang begitu, kamu harus berhati-hati. Biar bapak yang antar..." Aulia langsung menggelengkan kepalanya, ia menolak tawaran pak Amir
"Kakek udah siapin sepeda kok pak, jarak dari sini ke sekolah dekat. Hanya membutuhkan waktu 20 menit, pake sepeda. Sekalian olahraga, di kota tidak seperti di gunung. Terlalu banyak kendaraan, terlalu banyak polusi udara." ucap Aulia
"Baiklah, kalo itu memang keputusan Lia." jawab pak Amir, membuat Aulia tersenyum.
'Kamu benar, udara di sini. Sangat jauh berbeda, dengan di gunung. Bahkan pepohonan sangat sedikit, tak ada tempat berteduh sembari menikmati angin sepoy-sepoy.' ucap Kia
"Mungkin nanti di sekolah ada tempat, yang membuatmu nyaman. Nanti aku akan menanam banyak pepohonan, supaya kamu bisa menikmati yang kamu mau. Eh.. " Aulia teringat sesuatu
"Pak, di belakang rumah ada 3 pohon besar. Dan itu semua pohon bagus, Aulia ingin bapak bangun rumah pohon ya. Di salah satu pohon besar itu, untuk Aulia dan Kia santai." pinta Aulia, pak Amir mengangguk.
Bu Ulfa dan pak Amir memang tak bisa melihat Kia dan Bilal, tapi mereka percaya bila kedua sosok itu ada. Karena tuan besar mereka, bisa melihat keduanya.
"Bapak akan melihat dan menggambar beberapa desain nya nanti, Lia bisa memilih yang menurut Lia bagus." jawab pak Amir
"AAAAAA... PAK AMIR EMANG PALING THE BEST, SAYANG BANGET LIA SAMA BAPAK!" teriak Aulia girang
"Sama ibu nggak?" tanya bu Ulfa, Aulia tertawa
"Sayang dong, kan masakan ibu juga enak banget. Jadi Aulia lebih suka makan di rumah, daripada beli keluar." jawab Aulia
Meski ia belum pernah makan makanan yang ada di kota, tapi bu Ulfa selalu membuatkan semua makanan itu untuknya. Baik itu yang viral, atau pun makanan khas. Dan rasanya, sangat enak. Tapi sepertinya, ia tetap harus mencoba masakan di luar. Sudahlah, nanti jug pasti nyoba.
"Ya udah kalo gitu, Aulia berangkat ya." Aulia mencium punggung tangan sepasang suami istri tersebut
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam, hati-hati nak." Aulia mengangguk, ia pun pergi menuju garasi. Di garasi ada 1 mobil, 1 motor matic dan 1 sepeda. Aulia mengambil sepeda, ia mengayuh pedal dengan hati senang.
Di rumah itu, tak ada pembantu atau pun penjaga. Hanya di huni mereka bertiga, oh.. jangan lupakan Kia.
'Masih pagi, tapi sepetinya cuaca terasa panas ya.' ucap Kia, yang duduk di jok belakang. Sembari duduk membelakangi punggung Aulia, dia juga menyandarkan tubuhnya pada punggung Aulia.
"Kita nikmati saja, semoga kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar." jawab Aulia, yang mulai menerima semua perubahan dalam hidupnya.
'Hmm... Kamu benar, ngomong-ngomong... si Bilal lagi apa ya sekarang?? Pasti sedang duduk leha-leha, di kursi santai milikmu.' ucap Kia, Aulia tertawa.
.
'HACIH' Bilal bersin, ia menggosok hidungnya yang terasa gatal.
"Apa makhluk seperti mu, bisa merasakan geli di hidung juga?" tanya kakek Pamir
'Kamu pikir, hanya manusia saja yang bisa merasakan nya. Jangan lupa, aku bukan arwah. Aku adalah penjaga mu, juga keluargamu.' jawab Bilal, menatap sinis kakek Pamir
'Dua makhluk beda dua alam itu, yang pastinya sedang membicarakan tentang aku. Wajarlah, aku kan tampan dan menggemaskan. Mereka pasti rindu padaku, aku memang selalu membuat siapa pun rindu.' ucap Bilal sombong
"Cih, jangan terlalu PD wahai orang tua. Usia mu bahkan lebih tua daripada aku, tak pernah sadar bila usianya sudah ratusan tahun." ucap kakek Pamir
'Heeiii... Apa kamu tidak bercermin, wahai manusia tua.' balas Bilal, ia beranjak pergi meninggalkan permainan caturnya.
"Cih... Lihatlah foto terbaru di forum perusahaan, wajahku terlihat begitu tampan dan muda." gerutu kakek Pamir
...****************...
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
votenya emak🥰
lanjuttttt yg bykkkk🤭😄💪