NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — AKSES TERAKHIR AR-01

Arga Pratama membaca catatan itu berkali-kali.

AR-01.

Identitas yang muncul pada log cadangan tersebut adalah kode yang pernah digunakannya saat bekerja di proyek ARX-9 lima tahun lalu.

Ia mengenal kode itu dengan baik. AR-01 bukan sekadar nama pengguna dalam sistem. Kode itu merupakan identitas teknis yang diberikan kepadanya ketika ia menjadi salah satu insinyur utama dalam pengembangan sistem kendali ARX-9.

Namun, catatan akses yang baru ditemukan itu menunjukkan sesuatu yang tidak masuk akal.

Menurut dokumen resmi, Arga telah meminta pengujian dihentikan sebelum insiden terjadi. Setelah itu, ia dinyatakan bertanggung jawab atas pelanggaran prosedur yang menyebabkan proyek tersebut gagal.

Jika log cadangan itu benar-benar mencatat aksesnya setelah kejadian, berarti ada sesuatu yang belum mereka ketahui.

Apakah seseorang menggunakan identitasnya?

Ataukah ia sendiri pernah mengakses sistem tanpa mengingatnya?

Arga tidak ingin langsung memilih salah satu kemungkinan.

Ia duduk di ruang belakang bengkel Agung Joyo Motor, membuka laptop, dan menyalin nomor referensi yang diberikan tim audit.

Catatan tersebut berasal dari log cadangan yang belum diperiksa secara menyeluruh.

Waktu akses tercatat pada pukul 23.58, malam ketika pengujian ARX-9 dihentikan.

Jenis akses: PEMERIKSAAN DOKUMEN.

Pengguna: AR-01.

Tujuan akses: TR-09/17-B.

Arga mengerutkan kening.

TR-09/17-B adalah kode dokumen yang selama ini mereka cari.

Jika catatan itu benar, seseorang telah menggunakan identitas AR-01 untuk mengakses dokumen tersebut pada malam yang sama ketika Arga menerima salinan catatan pemindahan berkas.

Pukul 23.41, Bima menyerahkan dokumen kepadanya.

Pukul 23.58, sistem mencatat akses menggunakan identitas AR-01.

Selisihnya hanya tujuh belas menit.

Arga menutup laptop.

Ada sesuatu yang harus ia pastikan sebelum penyelidikan berlanjut.

Ia harus mengingat kembali apa yang terjadi pada malam itu.

Keesokan paginya, Arga menemui Pak Darto sebelum bengkel dibuka.

Ia membawa buku catatan lama dan salinan log cadangan.

“Pak, saya perlu bantuan mengingat kejadian lima tahun lalu.”

Pak Darto meletakkan cangkir kopi di atas meja.

“Duduklah. Apa yang terjadi?”

Arga menunjukkan catatan akses tersebut.

Pak Darto membaca halaman itu dengan saksama.

“AR-01?”

“Ya, Pak. Sistem mencatat identitas saya digunakan untuk mengakses dokumen TR-09/17-B pada pukul 23.58.”

“Apakah kamu ingat pernah mengakses dokumen itu?”

Arga menggeleng.

“Saya ingat berada di kantor proyek malam itu. Saya juga ingat ada masalah pada data aktuator dan saya meminta pengujian dihentikan. Tetapi setelah itu, ingatan saya tidak lengkap.”

Pak Darto tidak langsung menanggapi.

Ia mengetahui bahwa lima tahun lalu, Arga melewati masa yang sangat sulit. Setelah insiden ARX-9, banyak pemeriksaan dilakukan, dan berbagai dokumen yang disodorkan kepadanya berubah menjadi dasar tuduhan.

Namun, Pak Darto tidak ingin mengisi bagian ingatan Arga dengan dugaan.

“Apakah kamu punya catatan pribadi tentang kegiatanmu malam itu?”

Arga membuka buku lamanya.

“Ini yang saya punya. Ada catatan pukul 22.14 tentang permintaan penghentian pengujian. Lalu ada kode TR-09/17-B, tetapi saya tidak mencatat jam penerimaannya.”

“Kalau begitu, kita perlu mencari catatan lain. Jangan memaksakan ingatan hanya karena sistem menunjukkan sesuatu.”

Arga mengangguk.

“Saya ingin meminta rekaman jadwal kerja dan catatan akses fisik.”

“Lakukan melalui tim audit. Kalau ada yang mencoba menyembunyikan sesuatu, kita perlu memastikan bukti yang kita peroleh tetap sah.”

Arga menyimpan dokumen itu.

“Pak, menurut Bapak, apakah mungkin seseorang menggunakan identitas AR-01?”

Pak Darto berpikir cukup lama.

“Secara teknis, mungkin saja. Tetapi kita belum tahu bagaimana sistem autentikasi saat itu bekerja. Kode pengguna tidak selalu membuktikan siapa yang berada di depan terminal.”

“Artinya, log itu membuktikan identitas yang digunakan, bukan orang yang menggunakannya.”

“Benar.”

Arga tersenyum tipis.

Itulah perbedaan penting yang harus mereka pertahankan.

Selama penyelidikan ini, mereka telah berkali-kali menemukan nama, kode, dan tanda tangan. Tetapi nama dalam dokumen tidak selalu menunjukkan siapa yang benar-benar melakukan tindakan.

Mereka harus mencari bukti yang menghubungkan identitas dengan orangnya.

Siang harinya, Arga menghubungi Nadia.

“Aku sudah melihat catatan akses AR-01,” katanya.

“Aku juga baru menerima salinan dari tim audit. Mereka menyebutnya sebagai catatan yang perlu diperiksa lebih lanjut.”

“Apakah mereka tahu jenis autentikasi yang digunakan?”

“Belum. Sistem lama memiliki beberapa jenis akun. Ada akun teknis, akun administrasi, dan akun bersama untuk pemeriksaan tertentu.”

Arga mengerutkan kening.

“Akun bersama?”

“Ya. Beberapa terminal pengujian memiliki profil teknis yang digunakan bergantian oleh personel berwenang. Tetapi aku belum tahu apakah AR-01 termasuk akun pribadi atau profil teknis bersama.”

“Kalau begitu, kita harus mendapatkan dokumen penetapan akun.”

“Aku sudah mengajukan permintaan. Namun, ada satu masalah.”

“Apa?”

“Log cadangan yang kita terima hanya memuat identitas, waktu, dan tujuan akses. Catatan alamat terminal serta metode autentikasinya tidak ikut tersimpan dalam salinan itu.”

Arga menarik napas perlahan.

“Jadi, kita belum tahu dari terminal mana akses itu dilakukan.”

“Benar.”

“Apakah log lengkapnya masih ada?”

“Tim audit sedang mencari cadangan lainnya.”

Arga terdiam sejenak.

“Bagaimana dengan catatan fisik? Apakah ada daftar orang yang masuk ke ruang pengujian pada pukul 23.58?”

“Belum ditemukan. Kita harus membandingkan dengan VIS-09 dan catatan kartu akses.”

Arga segera membuka buku catatannya.

Mereka akhirnya memiliki hubungan yang jelas antara beberapa dokumen.

VIS-09 dapat membantu mengidentifikasi orang yang masuk ke fasilitas.

SEC-22 mencatat masalah kartu akses.

TR-09/17-B berkaitan dengan penyerahan dokumen.

Log cadangan menunjukkan bahwa identitas AR-01 digunakan untuk mengakses dokumen tersebut.

Jika seluruh catatan dapat disinkronkan, mereka mungkin bisa mengetahui apakah Arga benar-benar berada di depan terminal pada pukul 23.58.

“Teruskan permintaan pemeriksaan,” kata Arga. “Aku tidak ingin log itu digunakan untuk menuduh siapa pun sebelum metode autentikasinya jelas.”

Nadia menyetujui.

Namun, sebelum percakapan berakhir, ia menyampaikan kabar lain.

“Arga, ada informasi tentang Mira Kinasih.”

“Apa?”

“Dia bersedia memberikan keterangan resmi. Tapi dia meminta agar satu orang dari unit pengawasan juga hadir.”

“Siapa?”

“Gunawan Wiratama.”

Arga terdiam.

Nama itu sudah berkali-kali muncul dalam catatan pemindahan arsip, penerimaan dokumen, dan jalur kewenangan eksternal.

“Apakah Gunawan menyetujui permintaan tersebut?”

“Belum ada jawaban.”

Arga menutup buku catatannya.

“Kalau mereka bersedia memberikan keterangan, kita akan mendengarkan. Tapi semua pertanyaan harus dicatat secara resmi.”

Dua hari kemudian, pusat dokumentasi mengadakan pertemuan pemeriksaan terbatas.

Arga hadir bersama Nadia dan Ratih. Mira Kinasih duduk di sisi lain meja, membawa sejumlah dokumen administrasi yang telah diserahkan melalui prosedur resmi.

Gunawan Wiratama belum datang.

Petugas audit membuka pertemuan dengan menjelaskan bahwa tujuan pemeriksaan adalah memverifikasi proses pemindahan arsip, bukan menetapkan kesalahan seseorang.

Mira mengangguk.

“Saya memahami hal itu.”

Petugas menunjukkan formulir RCV-17.

“Apakah Ibu mengenali dokumen ini?”

Mira memeriksanya.

“Formatnya sesuai dengan formulir yang pernah saya tangani. Tetapi saya perlu melihat nomor registrasi lengkap sebelum memastikan bahwa ini salinan dari formulir yang sama.”

Petugas menunjukkan nomor registrasi pada salinan resmi.

Mira membandingkannya dengan dokumen yang dibawanya.

“Ya. Ini berkaitan dengan pemindahan berkas VIS-09/TRF-2.”

“Apakah Ibu yang menandatangani persetujuan pemindahan?”

“Tidak. Tanda tangan saya tercatat pada bagian pelaksanaan administrasi. Persetujuan menggunakan kode unit pengawasan.”

“Apakah Ibu mengetahui siapa yang menggunakan kode tersebut?”

Mira menggeleng.

“Tidak dari formulir ini saja. Pada waktu itu, kode GW-04 digunakan untuk jalur persetujuan administratif. Saya tidak memiliki kewenangan untuk mengubah identitas pengguna yang tercatat pada sistem.”

Arga memperhatikan jawabannya.

“Apakah Ibu mengetahui mengapa identitas penerima dokumen tidak dilengkapi?”

Mira menarik napas.

“Saya ingat ada dokumen yang diterima untuk pemeriksaan lanjutan, tetapi daftar penerimanya belum lengkap. Saya mengembalikan formulir kepada unit terkait untuk dilengkapi.”

“Apakah formulir itu kemudian dikembalikan kepada Ibu?”

“Seingat saya, ada lembar penutupan inventaris yang masuk beberapa hari kemudian. Saya tidak bisa memastikan apakah seluruh data penerimanya sudah lengkap ketika saya melihatnya.”

Petugas audit mencatat jawaban tersebut.

“Apakah Ibu sendiri yang mengubah status inventaris menjadi selesai?”

Mira menggeleng tegas.

“Tidak. Saya tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan temuan pemeriksaan kartu akses. Saya hanya menangani proses administrasi pemindahan dokumen.”

Arga menunggu sampai petugas selesai mencatat.

Kemudian, ia mengajukan pertanyaan.

“Ibu, apakah pernah ada permintaan untuk memisahkan dokumen teknis dari catatan keamanan pada masa penutupan proyek?”

Mira terdiam beberapa saat.

“Ada permintaan pemisahan arsip berdasarkan klasifikasi. Dokumen teknis disimpan terpisah dari dokumen keamanan dan administrasi.”

“Apakah pemisahan itu dilakukan sebelum atau setelah laporan akhir diterbitkan?”

“Sebagian dilakukan sebelum laporan akhir diterbitkan, sebagian lagi setelahnya.”

“Apakah Ibu mengetahui bahwa salah satu lampiran keselamatan tidak muncul dalam laporan akhir?”

Mira menggeleng.

“Saya tidak memeriksa isi teknis laporan akhir. Itu bukan tugas saya.”

Jawaban itu konsisten dengan perannya sebagai petugas administrasi.

Namun, Arga belum mendapatkan jawaban tentang siapa yang mengubah status inventaris.

Ia mengeluarkan salinan log cadangan.

“Apakah Ibu pernah melihat catatan akses ini?”

Mira membaca halaman tersebut.

Wajahnya berubah ketika melihat kode AR-01.

“Saya pernah melihat kode itu dalam daftar pengguna proyek.”

“Apakah Ibu tahu siapa yang menggunakan identitas tersebut pada pukul 23.58?”

“Tidak.”

“Apakah Ibu bisa memastikan bahwa akses tersebut dilakukan oleh Arga Pratama?”

Mira langsung menggeleng.

“Tidak. Saya tidak bisa memastikan identitas fisik pengguna hanya dari catatan ini.”

Arga mengangguk.

“Terima kasih. Itu juga yang ingin kami pastikan.”

Petugas audit kemudian menunjukkan formulir penutupan SEC-22.

Mira membaca bagian yang menyatakan bahwa kartu hitam belum tercatat kembali, tetapi pemeriksaan dihentikan berdasarkan instruksi unit pengawasan.

“Saya tidak menangani pemeriksaan kartu akses secara langsung,” katanya. “Tetapi saya ingat bahwa beberapa dokumen keamanan dipindahkan setelah temuan administrasi dinyatakan selesai.”

“Apakah Ibu melihat siapa yang menyatakan temuan itu selesai?” tanya Nadia.

Mira menggeleng.

“Tidak. Perubahan status dilakukan melalui sistem lain.”

“Apakah sistem tersebut masih bisa diperiksa?”

“Seharusnya ada log cadangan. Tetapi saya tidak tahu apakah data pengguna masih tersimpan.”

Arga mencatat jawaban itu.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam. Mira menjawab pertanyaan yang dapat dijawabnya, tetapi ia tidak memberikan nama baru yang dapat langsung mengarah pada pelaku.

Setelah pemeriksaan berakhir, petugas audit meminta semua pihak menunggu hasil verifikasi dokumen tambahan.

Arga berdiri dan merapikan mapnya.

Mira mendekatinya.

“Pak Arga, saya ingin mengatakan sesuatu di luar pemeriksaan.”

Arga menoleh.

“Silakan, Bu.”

“Lima tahun lalu, saya memang menangani pemindahan dokumen ARX-9. Tetapi saya tidak pernah mengetahui bahwa nama Anda akan digunakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu.”

Arga memandangnya dengan tenang.

“Apakah Ibu pernah melihat laporan awal?”

“Tidak secara lengkap.”

“Apakah Ibu pernah melihat laporan akhir?”

“Saya melihat daftar dokumen yang harus diarsipkan, bukan keseluruhan laporan teknis.”

Arga mengangguk.

“Saya menghargai keterangan Ibu. Tapi saya harus tetap memeriksa semua dokumen.”

“Tentu. Saya hanya berharap Anda tidak menganggap semua orang yang terlibat dalam administrasi sebagai bagian dari rencana untuk menjatuhkan Anda.”

Arga menjawab dengan suara pelan.

“Saya tidak mencari orang untuk disalahkan, Bu. Saya mencari orang yang benar-benar melakukan tindakan yang merugikan proyek dan membuat laporan tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.”

Mira mengangguk, lalu pergi meninggalkan ruangan.

Nadia mendekati Arga.

“Dia tidak memberikan banyak informasi baru.”

“Tapi keterangannya membantu memperjelas batas kewenangannya.”

“Artinya, kita masih membutuhkan orang yang mengubah status inventaris.”

“Dan orang yang mengendalikan akses AR-01.”

Sore itu, ketika Arga kembali ke arena kompetisi, Rendy sudah menunggunya di dekat ruang teknis.

“Kamu terlambat,” kata Rendy.

“Ada pemeriksaan dokumen.”

“Kalau begitu, aku anggap kamu punya alasan yang bagus. Tapi jangan berharap aku mengalah hanya karena kamu sibuk mengurus masa lalu.”

Arga tersenyum.

“Aku tidak meminta kamu mengalah.”

Dimas muncul dari belakang sambil membawa lembar jadwal.

“Babak berikutnya dimulai tiga puluh menit lagi. Kita harus memeriksa sistem kendali kendaraan sebelum pengujian.”

Arga segera mengalihkan perhatiannya ke persiapan kompetisi.

Mereka memeriksa sensor, jalur komunikasi, dan respons sistem dalam beberapa kondisi berbeda. Arga memastikan bahwa semua data awal dicatat sebelum pengujian dimulai.

Rendy memperhatikan kebiasaannya itu.

“Kamu selalu mencatat kondisi awal dengan sangat rinci.”

“Karena kalau ada masalah, kita perlu tahu apakah perubahan terjadi sebelum atau sesudah pengujian.”

Rendy mengangguk.

“Masuk akal.”

Dalam tantangan tersebut, tim mereka berhasil menemukan ketidaksesuaian pada pembacaan sensor. Mereka tidak langsung mengganti komponen, melainkan melakukan pengukuran ulang dan memeriksa jalur komunikasi.

Hasil akhirnya membuat mereka kembali memperoleh nilai tinggi.

Ketika pengumuman selesai, Rendy mengangkat kedua tangannya.

“Baiklah. Hari ini kita bekerja bagus.”

Dimas tertawa.

“Tumben kamu tidak langsung mengatakan bahwa kamu paling hebat.”

“Aku memang hebat,” jawab Rendy. “Tapi aku juga tahu kapan harus mengakui kerja tim.”

Arga tertawa kecil.

Untuk sesaat, suasana terasa ringan.

Namun, ketika ia memeriksa ponselnya, sebuah pesan dari Nadia telah masuk.

Tim audit menemukan log cadangan tambahan. Ada informasi tentang terminal yang digunakan untuk akses AR-01.

Arga segera meneleponnya.

“Terminal mana?”

“Terminal pemeriksaan dokumen di ruang administrasi bawah tanah.”

“Apakah ada catatan kartu akses?”

“Ada, tetapi waktunya tidak cocok secara langsung dengan log sistem. Catatan fisik menunjukkan kartu hitam digunakan beberapa menit sebelum akses AR-01.”

Arga berhenti tersenyum.

“Apakah mereka bisa memastikan siapa yang membawa kartu itu?”

“Belum. Nomor kartu terlihat, tetapi kolom pemegangnya kosong.”

Arga memejamkan mata sejenak.

Kartu hitam.

Ruang administrasi bawah tanah.

Identitas AR-01.

Dokumen TR-09/17-B.

Semua petunjuk itu mulai mengarah ke tempat yang sama.

Namun, masih belum ada bukti yang menghubungkan pengguna kartu dengan orang yang menggunakan identitas AR-01.

“Apakah log tambahan itu sudah diverifikasi?”

“Tim audit sedang memeriksanya. Mereka meminta kita tidak membuat kesimpulan sampai seluruh catatan dibandingkan.”

“Baik. Jangan sebarkan salinannya kepada siapa pun di luar tim.”

Setelah panggilan berakhir, Arga berdiri di dekat arena dan memandangi kendaraan yang sedang dipersiapkan untuk pengujian.

Lima tahun lalu, identitas AR-01 telah digunakan untuk membangun tuduhan terhadap dirinya.

Kini, catatan baru menunjukkan bahwa identitas yang sama mungkin digunakan untuk mengakses dokumen setelah ia meminta pengujian dihentikan.

Jika akses itu dilakukan oleh orang lain, seseorang telah memanfaatkan identitasnya.

Jika akses itu memang dilakukan olehnya, ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Arga tidak akan menghindari kemungkinan mana pun.

Ia hanya membutuhkan bukti.

Malam itu, tim audit mengirimkan pemberitahuan resmi.

Log cadangan tambahan berhasil ditemukan, tetapi sebagian metadata masih dalam proses pemulihan.

Satu informasi telah dikonfirmasi.

Terminal yang digunakan untuk mengakses TR-09/17-B berada di ruang administrasi bawah tanah, bukan di ruang kerja teknis tempat Arga biasanya melakukan pemeriksaan.

Catatan kartu akses menunjukkan bahwa sebuah kartu hitam digunakan di pintu masuk sebelum akses AR-01 tercatat.

Namun, karena jam pada sistem pintu dan sistem dokumen belum diselaraskan, tim audit belum dapat memastikan urutan kejadian secara mutlak.

Arga membaca pemberitahuan itu dengan saksama.

Seseorang membawa kartu hitam ke ruang administrasi.

Seseorang menggunakan terminal untuk membuka dokumen TR-09/17-B.

Sistem mencatat identitas AR-01.

Tetapi belum diketahui apakah ketiga kejadian itu dilakukan oleh orang yang sama.

Arga menambahkan catatan tersebut ke buku penyelidikannya.

AKSES AR-01 TERCATAT DARI TERMINAL ADMINISTRASI BAWAH TANAH. KARTU HITAM DIGUNAKAN SEBELUMNYA. PENGGUNA FISIK BELUM TERIDENTIFIKASI.

Ia menutup buku.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan anonim baru muncul.

Sekarang kau tahu mengapa mereka membutuhkan identitasmu.

Arga membaca pesan itu tanpa bergerak.

Pesan berikutnya menyusul.

Jangan mencari orang yang menggunakan kartu hitam. Cari orang yang membuat identitas AR-01 tetap aktif setelah pengujian dihentikan.

Arga mengangkat kepala.

Pertanyaan itu mengubah arah penyelidikan.

Selama ini, mereka mencari siapa yang menggunakan kartu hitam dan siapa yang mengakses dokumen.

Namun, jika identitas AR-01 seharusnya dinonaktifkan setelah Arga meninggalkan proyek, mereka harus mencari catatan tentang status akun tersebut.

Siapa yang mempertahankannya?

Siapa yang memiliki kewenangan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan profil teknis?

Dan mengapa identitas Arga masih dapat digunakan pada malam yang seharusnya menjadi akhir dari keterlibatannya dalam ARX-9?

Arga membuka laptop sekali lagi.

Ia menuliskan permintaan baru kepada tim audit.

PERMOHONAN PEMERIKSAAN RIWAYAT STATUS AKUN AR-01, TERMASUK CATATAN AKTIVASI, PENONAKTIFAN, DAN PIHAK YANG MEMBERIKAN PERSETUJUAN.

Setelah mengirimkannya, ia bersandar di kursi.

Untuk pertama kalinya, penyelidikan tidak lagi hanya berpusat pada dokumen yang hilang.

Mereka mulai menelusuri bagaimana identitasnya tetap hidup di dalam sistem.

Dan jika catatan itu masih tersimpan, mungkin mereka akhirnya akan mengetahui siapa yang memiliki kewenangan untuk menggunakan namanya ketika ia sendiri tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di ARX-9.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!