NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Sosok di Balik Setelan Gelap

Ruang rapat direksi di lantai tiga belas Mahardika Tower terasa tegang.

Slide presentasi dari kepala divisi pemasaran baru saja berhenti. Para manajer senior duduk kaku di kursi masing-masing, sementara di ujung meja kaca, Ian Xavier Mahardika menyandarkan punggungnya.

Setelan jas hitam melekat sempurna di tubuhnya. Jemarinya mengetuk permukaan meja.

Tuk. Tuk. Tuk.

"Dua belas persen?" tanyanya pelan. "Kamu minta persetujuan anggaran lima miliar cuma buat proyeksi pertumbuhan penjualan dua belas persen di kuartal empat?"

Kepala Divisi Pemasaran, pria berusia empat puluhan, buru-buru menyeka keringat di dahinya.

"I-iya, Pak Ian. Mengingat kondisi pasar yang sedang lesu dan kompetitor yang—"

"Pasar lesu itu alasan buat tim yang malas."

Ian melipat kedua tangannya di atas meja.

"Sembilan bulan lalu, waktu saya angkat jadi kepala divisi, kamu janji minimal dua puluh persen. Kalau cuma dua belas persen, anak magang juga bisa bikin perhitungan seperti itu tanpa harus dibayar gaji dua digit."

Ruangan kembali hening.

Bagi karyawan Mahardika Group, Ian dikenal sebagai direktur muda yang disegani sekaligus ditakuti. Belum genap tiga puluh tahun, ia sudah memegang kendali atas dua anak perusahaan besar dan berhasil melipatgandakan keuntungan dalam dua tahun terakhir.

Pikirannya tajam, perhitungannya selalu presisi, dan ia paling tidak suka mendengar alasan dari orang yang bekerja setengah hati.

"Revisi proposalnya sebelum jam empat sore."

Ian menutup laptopnya.

"Kalau angkanya masih sama, bawa surat pengunduran diri sekalian. Rapat selesai."

Ia berdiri, mengancingkan jas, lalu keluar dari ruangan. Edy, sekretaris sekaligus sahabatnya, segera menyusul.

"Ian, jadwal jam dua siang nanti ada makan siang sama jajaran direksi dari—"

"Batalin, Dy. Aku mau pulang."

Edy mengerjap. "Pulang? Ini baru jam satu. Biasanya kamu di kantor sampai jam sembilan malam."

Ian berhenti di depan lift khusus eksekutif.

"Mika sendirian di rumah. Sama pengasuh baru itu."

Edy langsung mengangkat sebelah alis. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya.

"Oalah... cewek yang kemarin kamu ceritain di grup WhatsApp? Pengasuh baru yang gajinya dua belas juta itu?"

Ian melirik tajam.

"Gak usah senyum-senyum. Aku cuma mau memastikan dia gak macam-macam sama adikku. Cewek itu pintar akting."

"Akting atau kamu yang paranoid?" goda Edy santai.

Di luar urusan pekerjaan, Edy termasuk salah satu dari sedikit orang yang bisa bersikap seenaknya di hadapan Ian.

Mereka sudah bersahabat sejak SMA. Bersama Dimas, sahabat mereka yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak, ketiganya menjadi lingkaran kecil yang tahu bagaimana Ian sebenarnya.

Di balik sikap dinginnya, Ian adalah teman yang sangat loyal. Ia tidak segan membantu saat sahabatnya kesulitan, bahkan siap pasang badan kalau ada yang berani mengusik mereka.

"Aku gak paranoid, Dy," tegas Ian sambil menekan tombol lift. "Cewek itu beda. Matanya tajam, mulutnya lancang, dan dia pintar memutarbalikkan kata-kata di depan Papi."

"Tapi kata Pak Nathaniel, dia bisa bikin Mika tenang, kan?"

Edy menyilangkan tangan di dada.

"Yan, kamu cuma belum terbiasa ada orang baru di rumah. Sejak Tante Sarah meninggal, kamu kayak anjing penjaga yang curiga sama semua orang yang mendekat ke Papi dan Mika."

Mendengar nama mendiang ibunya, sorot mata Ian sedikit berubah. Ada kerinduan sekaligus kepedihan yang melintas sebelum kembali tertutup ekspresi dinginnya.

Ia memilih diam.

Pintu lift terbuka. Ian langsung masuk, meninggalkan Edy yang hanya bisa menggelengkan kepala.

 

SUV hitam milik Ian memasuki gerbang kediaman Mahardika.

Setelah memarkir mobil, ia keluar sambil melepas jas dan menyampirkannya di lengan. Ian masuk melalui pintu samping, lalu berjalan menuju area tengah rumah.

Suasana rumah tampak sepi seperti biasa.

Namun, saat mendekati halaman belakang yang dibatasi pintu kaca geser, ia mendengar suara tawa anak kecil bercampur jeritan konyol seorang perempuan.

Ian menghentikan langkah di balik pilar.

Pemandangan di halaman belakang membuatnya terdiam.

Di atas rumput, Mika berlari sambil membawa selang air taman. Anak itu tertawa lepas, mengejar Keira yang berputar-putar sambil melindungi kepalanya dengan ember plastik merah.

"Mika! Jangan disemprot ke sini! Baju Mbak Keira cuma tiga lembar. Kalau basah semua, besok Mbak pakai sarung Papi kamu!"

Keira melompat menghindari cipratan air.

Celananya sudah basah dari paha ke bawah. Kaosnya juga terkena air, sementara wajahnya cemong karena tadi sempat terpeleset di tanah basah.

Anehnya, perempuan itu sama sekali tidak terlihat kesal.

Ia malah tertawa sambil merangkak di atas rumput seperti tentara yang sedang latihan. Beberapa detik kemudian, Keira bangkit dan berbalik mengejar Mika.

"Aaa! Mbak Keira mau nangkep Monster Mika! Nyam, nyam, nyam!"

Kedua tangannya bergerak seperti capit kepiting.

Mika menjerit kegirangan. Ia melempar selang ke rumput, lalu berlari menghampiri Keira. Perempuan itu menangkap tubuh mungil Mika dan memutarnya sebentar sebelum mereka berdua jatuh bergulingan di atas rumput.

Tawa mereka pecah bersamaan.

Ian berdiri kaku.

Matanya tak lepas dari adiknya.

Sudah lebih dari dua tahun sejak ibunya meninggal, dan selama itu pula ia jarang sekali mendengar tawa Mika sebebas ini.

Rumah yang biasanya terasa sepi kini dipenuhi suara tawa. Mika yang dulu sering murung dan mudah menangis, sekarang berguling-guling di rumput tanpa peduli bajunya kotor.

Tanpa sadar, sudut bibir Ian terangkat membentuk senyum tipis.

Namun, senyum itu segera menghilang ketika ingatan tentang masa lalu kembali muncul.

Ia teringat ibunya, Sarah Mahardika.

Dulu, Ian adalah anak yang sangat manja kepada ibunya. Bahkan saat sudah dewasa, ia masih sering duduk di samping Sarah, menyandarkan kepala di pangkuannya sambil meminta rambutnya diusap ketika sedang pusing belajar.

Bagi Ian, ibunya adalah pusat dunia. Sosok hangat yang membuat rumah itu terasa seperti rumah.

Namun, kecelakaan dua tahun lalu merenggut semuanya.

Kepergian Sarah membuat dunia Ian seolah runtuh. Sejak saat itu, ia membangun benteng di sekeliling hatinya. Ia tidak ingin orang asing masuk ke rumah mereka, apalagi menggantikan posisi ibunya atau memanfaatkan kesepian ayahnya dan kepolosan Mika demi keuntungan pribadi.

Jangan tertipu, Ian.

Perempuan itu cuma menjalankan tugasnya karena dibayar dua belas juta.

Ian mengembuskan napas panjang. Ia membuang jauh-jauh rasa hangat yang sempat muncul, lalu membetulkan posisi jas di lengannya.

Dengan wajah kembali dingin, ia mendorong pintu menuju halaman belakang.

Srek.

"Ehem!"

Dehamannya terdengar cukup keras hingga memotong tawa di halaman.

Keira yang sedang berbaring di rumput sambil memangku Mika langsung menoleh.

Matanya membesar saat melihat sosok tinggi berjas hitam berdiri di tepi teras dengan wajah galak.

"Waduh... Si Beruang datang," bisiknya pelan.

Refleks, ia menutup mulut dengan tangan agar ucapannya tidak terdengar.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!