Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Keesokan paginya.
Sementara Daniel mandi untuk bersiap ke kantor, Emira meraih ponselnya dan mendapati pesan dari Marko yang masuk sejak kemarin. Tapi ia mengabaikannya dan menyimpan ponsel itu ke dalam tas dalam keadaan senyap.
Keduanya berangkat ke perusahaan. Sepanjang perjalanan, Daniel sibuk dengan tabletnya, mengejar ketertinggalan urusan perusahaan. Saat itu masuk sebuah notifikasi berita dengan judul, "Kecelakaan Mobil, 4 Terluka dan 3 Tewas".
Di antara nama korban tewas yang disebutkan terdapat nama Marko Gunawan. Kecelakaan itu terjadi tengah malam di jalan tol, dan para korban dilarikan ke Rumah Sakit M.C.
Daniel tampak khusyuk membaca artikel itu dengan wajah terkejut. Emira menyadari reaksinya dan menoleh ke tablet. Ia langsung membeku saat melihat daftar korban tewas.
Dada Emira terasa sesak, sebuah gumpalan mengganjal di tenggorokannya, sementara air mata mengalir menuruni pipinya.
Daniel berhenti membaca ketika mendengar erangan pilu Emira. Emira menahan napasnya. Daniel mengusap air mata yang terus keluar dari matanya, lalu memeluknya tanpa sepatah kata pun.
Daniel merasa cemburu karena istrinya menangisi pria lain. Namun di sisi lain, ia mengerti bahwa hubungan Emira dengan Marko sudah terjalin bertahun-tahun sebelum mereka berdua saling kenal, dan wajar kalau Emira bereaksi demikian.
Beberapa saat kemudian, ia menanyakan pada Emira apakah ia ingin melihat Marko untuk terakhir kalinya, dan Emira mengangguk. Sang sopir memutar arah menuju Rumah Sakit M.C.
Setibanya di rumah sakit, David dan Bagus, teman-teman Marko, tampak tenang di resepsionis bersama Bara. Mereka berbincang seakan sudah saling mengenal bertahun-tahun.
David memalingkan pandangan dan cepat-cepat berdiri saat melihat Emira. Saat itu Bara menoleh ke arah yang dilihat David dan Bagus, dan begitu melihat Emira, wajahnya memucat dan tubuhnya menegang. Ketika Emira melihat mereka, ia merasa janggal dengan pemandangan dan tingkah laku itu, tapi pikirannya terfokus pada Marko yang sudah tewas.
Saat itu David mendekati Emira dan berkata dengan suara pelan bahwa Marko tidak tewas. Emira terkejut, begitu pula Daniel.
"Tapi di laporan berita namanya masuk dalam daftar korban tewas," ucap Emira.
"Kami mengira begitu juga," jawab David. "Tapi dia ada di kamar itu, hanya dengan luka kecil."
Bagus mendekat. "Dia cuma mengalami benturan di kepala."
Mendengar kabar bahwa Marko tidak tewas, Emira mengembuskan napas panjang dengan sangat lega. Tiba-tiba, dari dalam kamar Marko terdengar suara sesuatu yang pecah. Ketika para pemuda itu membuka pintu, mereka melihat Selena yang ketakutan dengan mata berlinang air mata.
"Berani-beraninya kau menyentuhku!" teriak Marko.
Wulan mencoba menenangkannya. "Nak, kau tak ingat kekasihmu? Ini Selena, wanita yang akan kau nikahi."
"Menikah?" Marko berteriak dengan kalut. "Ma, umurku baru lima belas tahun, kenapa aku harus menikah?"
Semua orang terkejut mendengar Marko. Para perawat berusaha menenangkannya, sementara dokter memberi tahu orang tuanya bahwa tidak baik bagi pasien dengan gangguan ingatan untuk mengalami emosi yang besar, ataupun dipaksa untuk mengingat, karena bisa menimbulkan kerusakan pada otak.
Marko melepaskan diri dan turun dari ranjang dengan ketakutan. Saat itu David dan Bagus masuk untuk membantu para perawat menenangkannya. Tapi Marko bisa mengenali teman-temannya, lalu memeluk mereka seperti yang dulu ia lakukan di masa remaja. Keduanya agak kikuk menghadapi perubahan mendadak ini.
Kemudian Marko menyadari kehadiran Emira, dan dengan penuh semangat serta tatapan lembut, ia berkata,
"Halo, gadis kecil. Apa kabarmu?"
Emira terguncang oleh tingkah lakunya, tapi setiap gerak-geriknya mengingatkannya pada pemuda yang pertama kali ia kenal dulu — tatapannya begitu murni dan tulus.
Namun, Daniel mendekat dan meraih pinggangnya, membuat Emira lepas dari keterpakuannya. Saat itu Marko bertanya dengan heran pada Emira,
"Gadis kecil, siapa dia?"
"Dia adalah—"
"Dia suaminya, dan kau milikku." Selena mendekat sambil mengelus perutnya. "Marko, kita akan menjadi orang tua."
"Diam. Berhenti bicara omong kosong. Lagi pula Emira ini masih anak-anak, bagaimana bisa kau bilang dia menikah dengan pria tua itu?"
Dokter mendekati orang tua Marko. "Sebaiknya jauhkan nona ini. Ia bisa membahayakan putra Anda dan bayi dalam kandungannya."
"Dokter, kapan ia bisa memulihkan ingatannya?" tanya Wulan.
"Bisa sebulan, bahkan bertahun-tahun. Sangat bergantung pada masing-masing pasien... Untuk saat ini yang terbaik adalah membiarkannya berhubungan dengan teman-temannya. Itu bisa merangsang dan membantu memulihkan ingatannya sedikit demi sedikit."
Marko menarik Emira dan menempatkannya di belakang punggungnya. "Menjauhlah dari pria tua cabul itu."
"MARKO." Daniel berseru marah.
Daniel menyadari bahwa Marko gemetar ketakutan, tapi ia hanya berusaha melindungi Emira. Daniel berdecak sambil menahan amarahnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab mental Marko sudah berubah menjadi bocah lima belas tahun.
Dengan tenang, mencoba memahami situasi, Emira menyentuh bahu Marko dan berkata sambil kembali ke sisi Daniel, "Dia takkan menyakitiku."
Bara berbisik pada Daniel, "Sebaiknya kalian berdua keluar, sebelum dia mulai melekat pada Emira."
Daniel meraih tangan Emira dan membawanya keluar dari kamar. Tapi dari kejauhan masih terdengar suara Marko memanggilnya. Mereka naik ke mobil dan pergi bersama ke perusahaan, tapi Daniel merasa gelisah, khawatir Emira ingin kembali pada Marko.
Di dalam kantor, saat jam kerja usai, Daniel memandangi Emira yang tampak melamun menatap ponselnya. Setelah itu Emira keluar karena Regina memanggilnya untuk suatu urusan dokumen.
Daniel bangkit dari kursinya dan karena penasaran, ia mengambil ponsel Emira, melihat pesan yang tertinggal dalam keadaan terbuka. Ia mengernyitkan dahi begitu menyadari isinya, dan bahwa pengirimnya adalah Marko.
Itu adalah pesan yang dikirim Marko sebelum kecelakaan. Wajah Daniel berubah kelam dan geram. Ia kembali ke kursinya dan tetap bersuasana hati buruk sepanjang sisa jam kerjanya.