Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Pesta Pemakan Bangkai dan Teror di Balik Kabut
Pagi itu, udara di dalam gua terasa jauh lebih pengap dan lembap dari biasanya. Di atas ranjang batu yang dialasi tumpukan kulit hewan, Lyra kembali tertidur pulas setelah menghabiskan tiga ekor burung pegar dan setengah keranjang buah beri liar. Napasnya teratur, namun perutnya kini mulai menunjukkan lengkungan yang tidak wajar untuk ukuran kehamilan manusia yang baru berusia beberapa hari.
Altair berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangan di dada sambil menatap tajam ke arah sisa-sisa tulang belulang di atas nampan kayu.
Vitalitasnya tersedot dengan cepat, dan nafsu makannya akan terus berlipat ganda, batin Altair, matanya menyipit penuh kalkulasi. Jika ini terus berlanjut, persediaan daging utuh di sarang ini akan habis besok pagi.
Kaisar anomali itu berbalik, menyingkap tirai kulit, dan melangkah keluar menuju aula utama gua. Ratusan pasang mata hijau kekuningan langsung tertuju padanya. Serentak, para goblin menjatuhkan diri, berlutut memuja di atas tanah yang kotor dan berlendir.
Di barisan paling depan, Anrus-sang Goblin Scholar ungu yang tua dan renta-mengetukkan tongkatnya ke tanah sebagai tanda penghormatan tertinggi.
"Yang Mulia..." suara parau Anrus bergema ke seluruh relung gua. "Pasukan pengintai melaporkan bahwa manusia-manusia berzirah masih berputar-putar di sektor selatan hutan. Kabut ilusi kita bekerja menahan mereka. Namun... persediaan buruan kita menipis dengan cepat."
Altair menatap lautan makhluk kerdil di hadapannya. Secara biologis, goblin memiliki sistem pencernaan yang sangat adaptif. Mereka berevolusi untuk bertahan hidup di lingkungan terburuk. Ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan kelebihan menjijikkan tersebut demi efisiensi perang.
"Anrus," suara Altair menggelegar dingin, memantul di dinding gua dan menembus jiwa setiap goblin yang mendengarnya. "Mulai detik ini, seluruh cadangan daging, unggas, dan air bersih yang ada di sarang ini hanya diperuntukkan bagi wanita di dalam sana. Tidak ada satu pun dari kalian yang diizinkan menyentuhnya."
Gua itu hening sejenak. Anrus mengangkat wajahnya yang keriput, matanya berkedip penuh kebingungan. "Lalu... apa yang harus dimakan oleh para prajurit untuk mempertahankan kekuatan tempur mereka, Yang Mulia?"
Altair menyeringai tipis. Senyum itu sangat menawan, mengingatkan pada keagungan ras Elf, namun memancarkan kekejaman seorang tiran absolut. Ia menunjuk ke arah sudut gua yang gelap, lembap, dan dipenuhi jamur serta serangga yang merayap.
"Akar beracun. Lumut batu. Laba-laba, kelabang, dan bangkai cacing tanah. Mulai hari ini, kalian akan memakan apa pun yang merayap di tanah dan tumbuh di lumpur. Telan racunnya, biarkan lambung kalian membusuk dan bermutasi melawannya. Jadilah pemakan bangkai yang sejati."
Di dunia luar, jika seorang jenderal memerintahkan pasukannya memakan kotoran dan serangga berbisa, pemberontakan akan meledak saat itu juga. Namun, ini adalah goblin. Di mata mereka, Altair bukanlah sekadar pemimpin; dia adalah dewa yang bernapas.
Mendengar titah itu, bukannya mengeluh, mata ratusan goblin itu justru berbinar fanatik.
"Hidup Sang Kaisar! Kami akan memakan tanah! Kami akan menelan racun demi penerus garis keturunan!"
Sorak-sorai menjijikkan bergema. Tanpa membuang waktu, para goblin itu mulai berlarian ke sudut-sudut gua, menggali lumpur dengan kuku kotor mereka, menangkap serangga-serangga besar beracun, dan mengunyah akar-akar pahit dengan rakus. Cairan hijau dan bisa hitam menetes dari rahang mereka.
Pemandangan itu begitu grotesk dan mengerikan, sebuah perayaan bertahan hidup yang mencabut paksa sisa-sisa batasan rantai makanan mereka. Altair menyaksikan semua itu dengan tatapan sedingin es.
Makanlah. Tumbuhlah menjadi kebal, pikir Altair. Saat manusia itu tiba, kalian bukan lagi goblin lemah yang mati hanya karena goresan panah beracun.
Sementara itu, di sektor selatan Hutan Misti...
Khaelar-sang petualang veteran berperingkat Perunggu-mengayunkan parangnya, menebas semak berduri tebal yang merintangi jalan. Napasnya memburu. Sudah hampir seharian mereka berputar-putar di wilayah yang sama. Kabut di hutan ini tampaknya lebih tebal dari biasanya, menutupi sinar matahari dan mengacaukan insting pelacakannya.
Di belakangnya, para ksatria Rejerson mulai kehilangan kesabaran dan kelelahan. Luthar, ksatria muda yang sebelumnya begitu optimis membicarakan kesucian sang putri, kini terlihat pucat pasi.
"Khaelar, kau bilang kau tahu jalan menuju sarang utama mereka!" gerutu Luthar, mengusap peluh dingin di dahinya. "Kita hanya membuang-buang waktu di sini!"
"Diam dan tetap waspada, Bocah!" potong Khaelar kasar, langkahnya mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap pepohonan di depannya.
Ada yang salah. Sangat salah. Hutan ini terlalu sunyi. Tidak ada kicauan burung, tidak ada suara jangkrik. Udara mendadak menjadi sangat berat, seolah gravitasi baru saja ditarik ke bawah.
Khaelar berjongkok, menyentuh tanah yang terasa bergetar halus. Insting survival-nya menjerit keras. Getaran ritmis ini... ini bukan dari langkah barisan prajurit goblin, bukan pula dari ksatria.
"Semuanya, cabut senjata kalian!" teriak Khaelar, wajahnya yang penuh bekas luka kini memucat pasi. "Formasi melingkar! Sekarang!"
Dari balik kabut tebal di depan mereka, udara berdesir kencang. Sepasang mata kuning kemerahan sebesar lentera menyala dalam kegelapan kabut. Suara geraman rendah yang menggetarkan tulang dada bergema ke seluruh penjuru hutan, disusul oleh siluet seekor monster raksasa bersisik gelap yang melangkah menghancurkan pepohonan.
Itu bukanlah goblin. Itu adalah seekor Warcraft Overlord-penguasa rantai makanan sesungguhnya di hutan ini.
Pada detik itu juga, Khaelar menyadari satu kebenaran yang mengerikan: para goblin tidak pernah lari karena takut pada manusia. Mereka sengaja menyingkir dan membiarkan para ksatria bodoh ini masuk ke dalam teritori perburuan monster purba.
Namun, yang tidak diketahui oleh Khaelar dan pasukannya yang kini bersiap menyambut ajal... di perbatasan Hutan Misti yang lain, derap tapak kuda lapis baja baru saja memecah keheningan.
Dipimpin oleh seorang ksatria wanita angkuh dengan zirah perak yang berkilau-Cassvia-gelombang bala bantuan kedua dari umat manusia melangkah dengan kepala tegak memasuki hutan. Sang ksatria wanita datang dengan rasa jijik untuk memburu monster-monster hijau yang kotor, sama sekali tidak menyadari bahwa dari dalam kegelapan gua, sebuah tatapan emas telah lebih dulu menargetkannya.
Bukan untuk dibunuh, melainkan untuk ditundukkan, dipatahkan, dan dijadikan ibu dari pangeran-pangeran goblin berikutnya.