NovelToon NovelToon
SEESAW

SEESAW

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.

Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.

Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.

Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

"Sudah kukatakan, kau harus hamil anaknya!"

Suara itu meledak kaku, memantul di antara pilar-pilar marmer yang menjulang dingin di ruang keluarga Mansion Mewah Nycekerh.

Teriakan sang ayah menggema begitu pekat, sarat akan amarah yang telah mengendap busuk selama empat tahun.

Empat tahun lamanya pria tua itu menanti di atas kursi roda dan tabung oksigennya, namun sama sekali tidak pernah mendengar kabar baik dari putri bungsunya.

Tidak ada kabar kehamilan, tidak ada ahli waris, dan tidak ada pengikat darah yang bisa menjamin kekayaan keluarga Bond mengalir abadi ke dalam kantong mereka.

Rex berdiri terpaku di tengah ruangan, gaun mewahnya yang serba hitam terasa bagai kain kafan yang melilit tubuhnya erat-erat.

Hawa dingin malam New York menyusup lewat celah jendela, namun tak ada yang lebih membekukan daripada tatapan mata orang-orang yang berbagi darah dengannya.

"Kau benar-benar tidak berguna!"

Suara itu menyusul, lebih tipis namun tak kalah tajam.

Itu suara sang Ibu.

Wanita setengah baya dengan perhiasan berlian yang bergelayut di lehernya itu menatap Rex dengan tatapan jijik yang tak ditutup-tutupi.

Sang ibu, sosok yang harusnya menjadi penopang dan pelindung di kala seluruh dunia meremukkan jiwanya, baru saja mengatainya tidak berguna di depan para pelayan yang menunduk kaku di sudut ruangan.

Sebuah tawa sumbang dan parau lolos dari tenggorokan Rex.

Rasa panas membakar matanya, namun tak ada lagi air mata yang tersisa setelah semalam habis dikuras di lantai kamar mandi.

"Bagaimana mungkin aku bisa hamil kalau dia bahkan tidak pernah menyentuhku, Mom?!" seru Rex, suaranya bergetar menahan kehancuran yang amat sangat.

"Setiap malam aku bahkan terlihat seperti wanita murahan—berlutut di hadapannya, memohon sedikit rasa kemanusiaan, berpura-pura menjadi istri yang patuh hanya agar perusahaan Daddy tidak gulung tikar!"

"Kau memang wanita murahan yang tidak berguna, Rex!"

Deg.

Hantu keheningan mendadak mencengkeram ruangan.

Kalimat itu bukan datang dari sang ayah, bukan pula dari ibunya. Suara itu meluncur mulus dari bibir bertoreh gincu merah menyala milik Lexana Nycekerh.

Kakaknya.

Saudari kandungnya sendiri baru saja meneriakinya wanita murahan.

Rex menatap wanita di hadapannya itu dengan pandangan tak percaya.

Di dalam keluarga Nycekerh, aturan tak tertulis selalu berlaku tegas: semua orang harus berguna, atau mereka akan dibuang sebagai sampah.

Jika Rex dinikahkan demi aliansi bisnis dan diserahkan sebagai tumbal kepada Arthur Bond, maka kakaknya, Lexana, dijual oleh sang ayah dengan cara yang lebih halus—dijajakan dari satu kolega bisnis ke kolega bisnis lainnya, menemani jamuan malam yang penuh dengan asap cerutu dan tatapan mesum para pria berkuasa.

Namun anehnya, Lexana tetap menjadi anak kesayangan, mahkota keluarga yang disanjung tinggi di dalam mansion megah ini.

Dan gilanya, wanita yang menjual keanggunannya dari satu meja makan ke meja makan lain itu baru saja meneriakinya murahan.

Sungguh konyol.

"Kau baru saja mengataiku tidak berguna?" desis Rex, matanya menyipit menahan badai emosi yang siap meremukkan dadanya.

"Ya! Kau memang tidak berguna!" ungkap Lexana melangkah maju, tumit sepatu hak tingginya berketuk nyaring di atas lantai granit.

Wajah cantiknya terangkat angkuh, memancarkan kedengkian murni yang tersimpan sejak mereka masih kanak-kanak.

Sejak kecil, Rex dan sang kakak selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di mata sang ayah.

Rex mempelajari tata krama, menguasai tiga bahasa, mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan sepatah kata pujian dari sang ayah.

Walaupun dia telah melakukan semua hal—bahkan menyerahkan kebebasan hidupnya dengan menikahi monster dingin seperti Arthur Bond—tetap saja tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dilakukan oleh saudarinya.

Menemani para kolega itu minum?

Tersenyum manis di pangkuan para pria tua bangkai?

Menurut sang ayah, pengorbanan Rex sama sekali tidak sebanding dengan yang dilakukan Lexana.

Menikahi pria kaya seperti Arthur Bond dianggap sebagai tugas mudah, sebuah keberuntungan yang disia-siakan oleh Rex karena gagal melahirkan seorang anak.

Sang ayah tiba-tiba terbatuk pelan, menyedot napas dari selang oksigennya sebelum berkata dengan suara serak namun penuh kebanggaan, "Lex sekarang mendapatkan hasil yang luar biasa. Dia tidak perlu berlutut di bawah kaki keluarga Bond."

Pria tua itu menatap Lexana dengan binar mata yang tak pernah dia berikan pada Rex.

"Sekarang dia dekat dengan pewaris Ashford."

Deg.

Jantung Rex seperti berhenti berdetak seribu detik.

Seluruh persendiannya mendadak lemas, seolah-olah seluruh udara di dalam ruangan itu ditarik keluar secara paksa.

"Pewaris Ashford?" tanya Rex spontan, suaranya nyaris berbisik, bergetar ketakutan akan jawaban yang sudah bisa dia tebak.

Lexana tersenyum semakin lebar, sebuah senyuman penuh kemenangan yang menggetarkan dinding-dinding mansion.

Dia membusungkan dadanya, menatap Rex dari atas ke bawah dengan tatapan mengasihi yang merendahkan.

"Diedrick Glodereus Ashford," Ucap Lex lantang, setiap suku kata nama itu dieja dengan nada ketagihan yang memabukkan.

"Dia kekasihku."

Ruangan itu mendadak hening bagi Rex.

Suara ketukan jam dinding, desis tabung oksigen ayahnya, dan gesekan gaun ibunya luluh lantak digantikan oleh gema nama itu.

Diedrick.

Nama yang semalam dia bisikkan dalam tangis di balik pintu kamar mandi.

Pria yang memeluknya di bawah hujan musim gugur empat tahun lalu. Pria yang sentuhannya masih tertinggal di kulitnya, yang kenangannya dia simpan sebagai benteng terakhir dari rasa sakitnya.

"Kau pasti terkejut dengan pencapaianku, kan?" gumam Lexana mendekat, menyipitkan mata saat melihat perubahan ekspresi di wajah pucat adiknya.

"Hm, tatapan tajammu itu kuanggap sebagai sebuah pujian. Aku mendapatkan jackpot mendekati keluarga Ashford yang mungkin tidak akan pernah kau bayangkan dengan otak tumpulmu itu."

Lexana terkekeh pelan, mengusap ujung jemarinya yang terawat.

"Dekat dengan keluarga Ashford... bukankah aku bahkan bisa membeli saham keluarga Bond? Saat aku menjadi istrinya nanti, kupastikan kau menjadi pelayan di mansionku. Aku akan menyuruhmu membersihkan kamarku dan Diedrick setiap pagi."

Tampak sang ibu dan sang Ayah tersenyum puas, saling bertukar pandang penuh kemenangan seolah-olah masa depan keluarga Nycekerh baru saja diselamatkan oleh sang putri mahkota.

Mereka melupakan keberadaan Rex yang berdiri kaku bagai patung garam.

Berbeda dengan Rex.

Di balik topeng dingin yang terpasang di wajahnya, jiwanya meronta hancur. Hatinya yang sudah berdarah akibat makian Arthur semalam, kini dicabik-cabik hingga tak tersisa oleh kenyataan bahwa pria yang menjadi alasan bernapasnya kini telah digenggam oleh saudarinya sendiri.

Kau sudah melupakanku, Diedrick? batinnya lirih, kepalanya terasa pening bagai dihantam gada berat.

Empat tahun aku menyembunyikan dosa masa lalu kita... dan kini kau Telah mengulurkan tanganmu pada wanita yang paling membenciku?

Rasa pahit menjalar di lidahnya.

Kebenaran ini lebih menyakitkan daripada pukulan atau hinaan Arthur.

Rex memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun kembali serpihan harga dirinya yang berserakan di lantai.

Jika memang tidak ada lagi tempat baginya untuk berpulang, jika pria dari masa lalunya pun telah berpaling, maka tidak ada lagi alasan untuk bertahan di dalam neraka ini.

Rex membuka matanya, menatap sang ayah dan ibu dengan tatapan kosong, hampa dari segala emosi.

"Jika seperti itu... apa aku boleh mengajukan perceraian?" tanya Rex datar. Suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat senyum di wajah ibunya membeku.

"Bukankah putri kesayangan Daddy sudah mendapatkan kekuasaan Ashford? Kalian tidak membutuhkan uang Arthur Bond lagi, bukan?"

Bukannya belas kasihan yang dia dapatkan, sang ayah justru memukul pegangan kursi rodanya dengan keras.

Mata pria tua itu melotot murka.

"Omong kosong apa yang kau katakan?!" gertak sang ayah, napasnya memburu kencang.

"Kau harus hamil anaknya! Baru kau bisa bercerai! Kau pikir aliansi Ashford sudah cukup untuk mengamankan posisiku? Tidak sebelum aku memiliki cucu berkulit Bond! Posisi ku baru akan benar-benar aman dan tak tersentuh jika aku memiliki cucu dari keluarga Bond dan menantu dari keluarga Ashford!"

Rex tertawa pelan, tawa yang penuh dengan keputusasaan dan ironi yang mendalam.

Miris sekali nasibnya.

Dia bukan seorang anak, bukan seorang putri, dan bukan pula seorang manusia di mata mereka.

Dia hanyalah sebuah rahim sewaan, alat tukar bisnis yang dirantai pada dua nama besar New York.

Di mata Arthur dia adalah barang bekas yang menjijikkan, sementara di mata keluarganya sendiri dia adalah wadah pencetak ahli waris yang belum membuahkan hasil.

"Jadi aku harus menyerahkan tubuhku pada pria yang membenciku, hanya agar kau bisa tidur nyenyak di atas tumpukan uang, Dad?" bisik Rex, menatap ayahnya dengan tatapan yang membuat pria tua itu sedikit terpaku.

"Jaga mulutmu, Rex!" potong sang Mommy tajam.

"Harusnya kau bersyukur kami menyuruhmu mempertahankan pernikahan mewah itu! Lihat dirimu, potong rambut pendek seperti wanita jalang tanpa kelas. Arthur pasti makin jijik melihatmu!"

Lexana melipat kedua tangannya di dada, tersenyum mengejek.

"Sudahlah, Mom. Jangan terlalu keras padanya. Kasihan... dia pasti iri karena Diedrick memanjakanku dengan gaun dan perhiasan setiap minggu. Sesuatu yang tidak pernah Arthur berikan padanya."

Lexana melangkah mendekat, berbisik tepat di samping telinga Rex dengan nada beracun.

"Malam ini, keluarga Ashford mengadakan pesta makan malam tertutup. Diedrick mengundangku sebagai pasangannya. Dan kau tahu apa yang paling menyenangkan? Arthur juga diundang. Aku tidak sabar melihat suamimu yang terhormat itu membungkuk di hadapan calon suamiku."

Rex menahan napasnya.

Kehadiran pesta itu... Arthur semalam berkata akan mengadakan pesta untuk memancing pria dari masa lalunya.

Apakah Arthur sudah tahu? Atau takdir sedang mempermainkan mereka semua dalam satu panggung sandiwara yang berdarah?

"Pergi dari sini, Rex," perintah sang ayah tanpa perasaan, memalingkan wajahnya seolah-olah melihat Rex adalah sebuah kemalangan.

"Malam ini kau harus mendampingi Arthur di pesta keluarga Ashford. Pasang wajah bahagiamu, dan pastikan Arthur tidak terlambat Mengirimkan dana pengobatan ke rekening keluarga ini."

Rex menatap ketiga orang di hadapannya satu per satu.

Sang ayah yang rakus, sang ibu yang dingin, dan sang kakak yang penuh dengan kedengkian. Tidak ada hangat rumah di ruangan ini.

Yang ada hanyalah bau busuk transaksi manusia.

"Baik," jawab Rex pelan.

Dia membalikkan badan, membelakangi mereka semua.

"Aku akan pergi."

Dengan langkah kaku, Rex melangkah keluar dari ruang keluarga yang megah itu.

Setiap pijakan kakinya di atas lantai marmer terasa begitu berat, seolah-olah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan.

Rambut pendeknya yang baru dipotong membiarkan angin dingin malam New York menyapa lehernya yang terbuka, memberikan rasa perih yang begitu nyata.

Di dalam mobil hitam yang sudah menunggunya di luar mansion, Rex menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.

Pandangannya menembus kegelapan kota New York yang dipenuhi lampu-lampu pencakar langit.

Diedrick Glodereus Ashford.

Pria itu kini milik kakaknya.

Pria yang dulu ia campakkan demi sangkar emas ini, kini telah memeluk wanita yang menyiksanya sejak kecil.

Rex memejamkan mata, merasakan dadanya yang hampa.

Jika malam ini dia harus bertemu kembali dengan Diedrick di bawah tatapan tajam Arthur, maka dia akan memastikan satu hal: dia tidak akan membiarkan siapa pun melihat betapa hancurnya dia di dalam.

Dia akan memakai topeng terdingin yang dia miliki, menjadi patung porselen yang tak bersulut, bahkan jika harus terbakar habis di akhir malam.

1
Mei TResna Rahmatika
banyak bgtt tantangan hubungan mereka thor
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗
winpar
smngt kk 💪
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
terus semangat berkarya Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak reader 🫶 sehat selalu Dimana pun berada 😍
total 1 replies
Yusry Ajay
ya gpp thor dimaklumi 🤗🤗🤗
Yusry Ajay
up lg Thor kurang...
Rosdianah 🌷: huhu maafkan author 🙏🏻 beberapa hari ini author sibuk dunia nyata
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
ugal"an bangettt cinta nya pria ashford satu ini😍
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru kali ini keturunan asford jd gembel,, 😌
Rosdianah 🌷: ya Tuhan nggak jadi dramatis saya🤣🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
🤣 diedrick malang sekaliii
Rosdianah 🌷: author baru update 🤭🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
menegangkan thor bacanya 🤗🤗
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Mei TResna Rahmatika
nanggung kak, penasaran 🤣
Rosdianah 🌷: siap kak, Ma'aciww sudah stay baca cerita ku🌷
total 3 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh gercep ini sophi,pliss kak jangan pisahin rexana sama diedrick lagi kesian banget kisah mereka 😭
Mei TResna Rahmatika: keturunan ashford yg kisah cintanya gak banyak hura hara cuma leander sama pearl
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
dari berita ini semoga kembarannya rexana tau keberadaan rexana🤭
Mei TResna Rahmatika: udah mulai klimaks ini ceritanya, tambah penasaran apakah deidrick bakalan dapet bogeman dari kaetos🤭
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
ceritanya agak mirip sama kisahnya aurora,braxley sama jonathan bedanya disini ternyata Arthur terobsesi sama rexana, lanjut kak penasaran 🤭
Mei TResna Rahmatika: soalnya aku udah baca semua karya mu kak jadi inget🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
gak pernah gagal karya" mu kak
love sekebon
Rosdianah 🌷: Lopyuu Setaman kak🤭🌷
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kisah cinta rexana dan diedrick kaya nya penuh liku nih kaya kisahnya emak bapaknya
Mei TResna Rahmatika: banyak bangett yg perlu di bahas di kisah mereka🤭selalu nunggu up nya kak😍
total 2 replies
Debu Nakal
bunga n like q kirimkan sebagai ucapan terimakasih krn dikau sdh mbuat karya yg woowwww
happy graduation eh happy birthday mksdnya
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii ma'aciww kak reader 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
up lagi thor kurang ihh🤭
Asriani Rini
Arthur yg bodoh kamu sudah trrlambat rexena sudah kembali kepelukan diedrick kamu tidak akan parrnah ada lagi kesempatan untuk memilikinya
Rosdianah 🌷: Nah Arthur terlambat 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!