Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Menyerang Duluan
“Sekarang aku sudah resmi menjadi karyawan di Ratu Grup. Posisiku sebagai asisten pribadi Louis! Jadi, jelas aku harus mengikuti ke mana pun atasanku pergi!”
“Apa?”
Karissa terkejut.
“Kau ... asisten pribadi Louis?”
Ia mengira Marine hanya kebetulan ikut makan bersama Louis. Tapi ternyata, dia menjadi asisten pribadi Louis.
“Iya! Aku adalah asisten pribadinya! Jadi, aku akan ikut ke manapun Louis pergi!”
Karissa mengepalkan tangannya.
Padahal semalam, dirinya dan Louis sudah berdamai. Louis bahkan berjanji akan menjaga jarak dari Marine. Namun sekarang, Marine justru menjadi asisten pribadinya.
Bagaimana mungkin Louis bisa menjauhi Marine kalau wanita itu terus berada di sisinya?
Pembohong!
“Dasar wanita murahan!” Marine mencibir ketika melihat Karissa terdiam.
“Tidak bisa mendapatkan anaknya, kau malah rela menikahi ayahnya agar bisa hidup serumah dengan Louis!”
Karissa menatap Marine dengan tajam.
“Heemm, apa benar kau menikahi Tuan Lee demi uang?” lanjut Marine dengan penuh kepuasan.
“Hanya demi biaya perawatan ibumu di rumah sakit, kau rela menjual dirimu sendiri?”
Karissa mengepalkan tangan.
“Sekarang ibumu sudah meninggal! Kenapa kau tidak bercerai saja dari Tuan Lee?”
Marine semakin mendekat.
“Kalau bukan karena mau hidup satu atap dengan Louis, untuk apa kau mempertahankan pernikahan itu?”
Marine tertawa sinis.
“Toh, menjual diri pun sudah tidak ada gunanya lagi! Ibumu sudah meninggal. Percuma menikahi pria kaya juga. Yang kau dapatkan hanya nama buruk saja!”
Karissa sudah tidak tahan.
Dalam sekejap, Karissa mendorong tubuh Marine sampai membentur dinding. Satu tangan langsung mencengkeram leher Marine.
“Masalahmu dengan kehidupanku apa?”
Gigi Karissa mengatup erat.
“Aku merugikan hidupmu? Tidak, kan!”
Tekanan tangannya semakin kuat.
“Jadi, kenapa kau terus mengurusi hidupku?”
Marine mulai kesulitan bernapas.
“Aku menikah dengan Tuan Lee sama sekali bukan karena uang!”
Karissa menatapnya tajam.
“Itu karena ... aku memang menyukainya!”
Ia berbohong.
Tidak mungkin Karissa menjelaskan alasan sebenarnya dirinya menikahi Tuan Lee kepada Marine. Tidak mungkin juga ia bilang kalau pernikahannya dengan Tuan Lee hanyalah bagian dari rencana balas dendamnya.
Karissa pun menegaskan,“Uang tabungan kami masih cukup untuk biaya perawatan Ibu sebelum beliau meninggal! Apa itu bisa disebut menjual diri?”
“Uhuk!”
Marine mulai terbatuk.
“Ka-Kariss ... lepaskan aku!”
Tenggorokannya terasa sakit dan napasnya mulai sesak.
Karissa masih menekan lehernya.
Merasa tidak sanggup bertahan lebih lama, Marine tiba-tiba mengangkat kakinya.
Buk!
Sepatu hak tingginya menghantam betis Karissa.
“Aah!”
Karissa meringis.
Tangannya refleks terlepas.
Ia mundur beberapa langkah sambil memegangi betisnya yang terasa sakit.
Marine tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menyerang balik. Kedua tangannya menjambak rambut panjang Karissa.
“Dasar wanita murahan!”
“Argh! Marine, apa kau gila?”
Marine menyeret Karissa dan membenturkan kepalanya ke dinding.
Buk!
“Aah!”
Karissa meringis kesakitan.
“Mati saja kau!”
Marine menyerangnya membabi buta.
Karissa berusaha melawan sebisa mungkin, tetapi kepalanya sudah terasa berdenyut.
Ada luka di dahinya akibat benturan tadi.
Keributan itu semakin keras.
Tidak lama kemudian, seorang wanita lain masuk ke dalam toilet.
Ia langsung terkejut melihat dua wanita sedang bertengkar.
Tanpa berani ikut campur, wanita itu segera keluar lagi. Dia tidak ingin terlibat dalam perkelahian mereka.
Sementara itu, suara keributan tersebut terdengar sampai ke luar.
Louis yang menyadarinya segera mendekati toilet wanita.
Ketika melihat ke dalam, matanya langsung membesar.
Seorang wanita terlentang di lantai, sementara seorang wanita lainnya berada di atasnya.
“Kariss! Marine! Apa yang kalian lakukan?”
Louis segera berlari masuk.
“Marine, apa kau ingin membunuhnya?”
Ia menarik tangan Marine agar menjauh dari Karissa.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Sangat memalukan!”
Louis segera berjongkok dan membantu Karissa bangun.
“Kau tidak apa-apa?”
“Ah ... ti-tidak!”
Karissa meringis sambil menahan rasa sakit.
Namun, ia tetap mengatakan dirinya baik-baik saja.
Padahal, darah sudah mengalir dari luka di dahinya.
Karissa bangkit berdiri dengan bantuan Louis.
“Kariss yang menyerangku duluan!”
Marine langsung menuduh.
“Dia mencekikku. Dia ingin membunuhku!Masa aku harus diam saja?”
Karissa membulatkan mata.
Ia menatap Marine dengan jijik.
Bisa-bisanya wanita ini memutarbalikkan fakta!
Padahal Marine sendiri yang terus menghina dan menyudutkan Karissa. Kalau tidak, mana mungkin ia mencekik orang tanpa alasan.
“Louis!”
Marine kembali mengadu.
“Ibu tirimu ini sungguh sangat kejam!”
Louis menatapnya.
“Dia ingin mengambil semua harta kekayaan ayahmu dengan menikahinya! Tadi Karissa sendiri yang bilang kepadaku!”
Marine menunjuk Karissa.
“Dia ingin meng—”
“Brengsek!”
Karissa maju selangkah.
“Coba katakan sekali lagi! Akan aku robek mulutmu!”
Karissa hendak menghampiri Marine. Namun segera ditahan.
“Stop!”
Louis segera menahan tubuh Karissa.
“Ayo, pergi!”
Louis menarik tangan Marine dan membawanya keluar dari toilet wanita.
Marine berjalan melewati Karissa dengan ekspresi puas.
Dalam pikirannya, Louis akhirnya memilih dirinya dan meninggalkan Karissa yang terluka.
Setelah keduanya pergi, tubuh Karissa tiba-tiba kehilangan tenaga. Ia terjatuh di lantai. Kepalanya terasa semakin pusing dan sakit. Darah dari luka di dahinya terus mengalir, menodai wajah cantiknya.
Bruk!
Karissa akhirnya pingsan.
***
Di dalam mobil, Louis mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang cukup ramai.
Kakinya terus menekan pedal gas. Tangannya mencengkeram kemudi erat, sementara mobil beberapa kali berpindah jalur dengan cepat.
Suara klakson kendaraan lain terdengar bersahutan. Namun, Louis tidak memedulikannya. Matanya hanya fokus menatap jalan di depan.
Marine yang duduk di kursi penumpang memejamkan mata sambil memegang erat pegangan di atas pintu.
Ia menggigit bibir karena menahan rasa takut.
“Lain kali, aku tidak ingin melihatmu menyakiti Kariss lagi!”
Suara Louis tiba-tiba terdengar keras.
Ia membanting kemudi ke kiri hingga tubuh Marine ikut bergoyang.
“Apa kau mengerti?”
“I-iya ... aku me-mengerti!”
Marine masih memegang pegangan dengan erat.
“Tapi ... ke-kenapa?”
Ia memberanikan diri bertanya.
“Kenapa kau masih membela Kariss?”
Marine menelan ludah.
“Apa karena kau ma-masih menyukai wanita murahan itu?”
Louis terdiam sesaat.
“Itu karena ...”
Ia menatap lurus ke jalan.
“Dia adalah bagian dari keluargaku sekarang!”
Nada suaranya tegas.
“Jadi, kau ataupun orang lain tidak boleh menghina atau menyakitinya!”
“Oh ... ba-baiklah!”
Marine sedikit lega.
Ia sempat berpikir Louis membela Karissa karena masih memiliki perasaan terhadap wanita itu.
Tapi ternyata, hanya karena wanita murahan itu sekarang menjadi ibu tirinya.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Marine.
Ia merasa lega.