Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Terucap
Lan Suya menatap Gao Rui lalu tersenyum tipis.
“Rui'er, makanlah yang banyak. Jangan hanya makan sedikit.”
Gao Rui segera mengangguk.
“Tenang saja, Bibi. Aku sudah makan sampai kenyang.”
Lan Suya baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika suara Sha Nuo tiba-tiba terdengar.
“Nona Ya, sarapanlah dulu.”
Lan Suya terdiam.
Sha Nuo menatapnya dengan tenang.
“Bagaimana seseorang bisa bekerja dengan baik jika bahkan sarapan saja tidak sempat?”
Lan Suya tampak sedikit canggung.
Ia tidak menyangka Sha Nuo akan menegurnya secara langsung. Setelah terdiam sesaat, perempuan itu tersenyum sopan.
“Selamat pagi, Senior.”
Lan Suya memang selalu memanggil Sha Nuo dengan sebutan Senior. Ia tahu pria di hadapannya bukanlah seseorang yang bisa diperlakukan sembarangan.
Kekuatan Sha Nuo sangat dikenal di kalangan para pendekar. Dari segi usia, Lan Suya juga merasa pria itu berada di atas dirinya.
Terlebih lagi, Sha Nuo dikenal sebagai tangan kanan Boqin Changing. Kedudukan Boqin Changing di alam ini sangat tinggi. Karena itu, secara tidak langsung posisi Sha Nuo juga membuatnya dihormati oleh banyak orang.
Sha Nuo sendiri tidak keberatan dipanggil Senior oleh Lan Suya. Sebaliknya, ia tetap memanggil perempuan itu dengan sebutan Nona Ya.
“Duduklah.”
Lan Suya merasa semakin tidak enak. Ia sebenarnya hanya berniat mampir sebentar untuk menemui Gao Rui sebelum menuju cabang Harta Langit. Namun setelah diperingatkan Sha Nuo, ia tidak mungkin lagi pergi begitu saja.
Perempuan itu akhirnya menarik kursi dan duduk di samping Gao Rui.
“Baik, Senior.”
Masih ada cukup banyak makanan di atas meja. Lan Suya mengambil beberapa di antaranya, kemudian mulai makan dengan tenang.
Sha Nuo memperhatikannya sekilas.
“Makanlah yang banyak. Aktivitasmu hari ini pasti padat.”
Lan Suya mengangguk kecil.
“Baik.”
Gao Rui yang duduk di sisi lain meja tiba-tiba tertawa kecil.
“Hehehe...”
Lan Suya meliriknya. Tatapannya nampak menghakimi Gao Rui.
“Ada apa?”
Gao Rui segera menggelengkan kepala.
“Tidak ada.”
Namun senyum di wajahnya belum menghilang.
Dalam hati, Gao Rui merasa geli. Biasanya Bibi Ya sering memarahinya jika ia bertindak tidak sesuai keinginan perempuan itu. Sekarang, Bibi Ya justru patuh begitu saja ketika Paman Nuo yang mengatakannya.
Gao Rui diam-diam memuji Sha Nuo dalam hatinya.
“Paman Nuo memang hebat.”
Percakapan ringan kemudian berlangsung di antara mereka.
Gao Rui beberapa kali membicarakan latihan yang akan dilakukannya hari ini. Lan Suya juga sempat menanyakan perkembangan kultivasinya. Sha Nuo sesekali memberikan beberapa nasihat singkat ketika mendengar pembicaraan mereka.
Tidak ada pembicaraan penting. Hanya percakapan sederhana di meja makan. Namun bagi Sha Nuo, kehadiran Lan Suya membuat suasana pagi itu terasa sedikit berbeda.
Setiap kali ia melihat wajah perempuan itu, bayangan Ye Lian kembali muncul di dalam pikirannya. Ia berusaha mengabaikannya. Namun semakin ia mencoba tidak memikirkannya, semakin jelas wajah dari masa lalu itu muncul.
Beberapa saat kemudian, Lan Suya akhirnya meletakkan sumpitnya.
“Aku sudah selesai.”
Sha Nuo mengangguk.
“Kalau begitu, silakan.”
Lan Suya berdiri dari kursinya.
“Aku harus pergi ke cabang Harta Langit. Masih ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan pagi ini.”
Gao Rui ikut menoleh.
“Bibi mau pergi sekarang?”
Lan Suya tersenyum.
“Iya.”
“Kau juga jangan lupa berlatih.”
Gao Rui mengangguk.
“Tenang saja.”
Lan Suya kemudian menatap Sha Nuo.
“Sampai jumpa lagi, Senior.”
Sha Nuo mengangguk ringan.
“Sampai jumpa, Nona Ya.”
Lan Suya pun pergi meninggalkan ruangan makan.
Tidak lama kemudian, Gao Rui juga berdiri.
“Kalau begitu, aku juga pergi berlatih Paman.”
Sha Nuo menatapnya.
“Pergilah.”
Gao Rui mengangguk.
“Sampai nanti, Paman.”
Setelah itu, Gao Rui meninggalkan ruangan.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi percakapan kembali menjadi tenang. Kini hanya Sha Nuo yang masih duduk sendirian di meja.
Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Kemudian menghela napas pelan.
“Lalu... hari ini aku mau pergi ke mana?”
Sha Nuo terdiam. Tadi ia menolak ajakan Gao Rui untuk berlatih dengan alasan ingin pergi keluar. Padahal kenyataannya, ia hanya sedang malas melatih bocah itu. Ia sendiri bahkan belum memiliki tujuan.
Sha Nuo menggaruk kepalanya sebentar. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya berdiri.
“Jalan-jalan saja.”
Ia tidak memiliki urusan penting hari ini. Kota ini juga cukup besar. Ada banyak tempat yang belum pernah ia datangi sejak tiba di sini. Sha Nuo pun melangkah keluar dari ruangan makan.
Di luar, suasana kota sudah mulai ramai. Ini adalah Kota Weiyang, Ibukota Kekaisaran Zhou. Sebagai pusat kekaisaran, kota ini jauh lebih ramai dibandingkan kota-kota lain di wilayah ini. Jalan-jalan utama dipenuhi para pedagang, pendekar, kereta kuda, serta orang-orang dari berbagai penjuru wilayah.
Sha Nuo berjalan tanpa tujuan tertentu. Hari ini ia hanya ingin berjalan-jalan. Namun tanpa disadarinya, pikirannya masih terus kembali pada satu wajah. Wajah Lan Suya.
Sha Nuo menghela napas lagi.
“Kenapa harus mirip sekali...?”
Ia mengangkat pandangannya ke arah jalan di depannya. Meski ia sudah berkali-kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Lan Suya bukan Ye Lian, hatinya tetap tidak bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu.
Waktu memang telah berlalu sangat lama. Namun ternyata ada kenangan yang tidak pernah benar-benar mati.
...******...
Sha Nuo terus menjelajahi Kota Weiyang. Ia tidak memiliki tujuan tertentu.
Sesekali ia berhenti di depan toko yang menjual barang-barang menarik. Kadang ia membeli sesuatu yang menurutnya cukup bagus. Tidak jarang pula ia hanya melihat-lihat sebelum melanjutkan perjalanan.
Sudah lama ia tidak berjalan-jalan seperti ini. Tidak ada perintah dan tidak ada pertarungan. Tidak ada pula urusan yang harus segera diselesaikan. Hanya dirinya sendiri yang berjalan mengikuti ke mana langkahnya membawa.
Beberapa orang yang mengenali Sha Nuo segera memberikan jalan. Sebagian bahkan berhenti dan membungkukkan badan dengan hormat ketika pria itu melewati mereka.
“Salam, Senior Sha Nuo.”
“Salam, Senior.”
Sha Nuo yang mendengar sapaan itu langsung mengeluarkan tawa khasnya.
“Hahaha...”
“Tidak perlu terlalu formal.”
"Kalian semua santai saja!"
"Anggap saja bertemu orang biasa."
Orang-orang tersebut langsung mengangkat kepala. Namun tetap saja, sikap hormat mereka tidak berubah.
Sha Nuo tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia hanya melanjutkan perjalanan dengan wajah yang terlihat jauh lebih gembira dibandingkan saat berada di meja makan pagi tadi. Sesekali ia bahkan tersenyum ketika melihat barang-barang aneh yang dijual para pedagang.
Ada beberapa benda yang membuatnya tertarik. Ada pula benda yang menurutnya tidak berguna sama sekali.
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari perlahan naik ke atas kepala. Siang akhirnya tiba.
Sha Nuo berhenti sejenak di tengah jalan lalu menatap ke depan.
“Sudah siang.”
Perutnya juga mulai terasa lapar. Ia kemudian teringat pada salah satu kedai makan yang cukup sering ia kunjungi ketika berada di Kota Weiyang.
“Makan di sana saja.”
Tanpa banyak berpikir, Sha Nuo mengubah arah langkahnya.
Kedai tersebut berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Ia berjalan melewati beberapa toko hingga akhirnya mulai memasuki kawasan yang lebih ramai.
Namun ketika tinggal beberapa puluh langkah lagi dari kedai itu, tiba-tiba dua buah kereta kuda berhenti tepat di depan pintu masuk. Sha Nuo memperlambat langkahnya.
Pintu kereta pertama terbuka dan seorang pria tampan turun dari dalamnya. Pria itu mengenakan pakaian yang terlihat rapi dan memiliki aura seorang bangsawan. Beberapa orang di sekitar bahkan langsung memberikan perhatian kepadanya.
Sha Nuo tidak terlalu peduli. Tatapannya kemudian beralih pada kereta kedua.
Pintu kereta itu terbuka dan seorang perempuan cantik turun perlahan. Langkahnya begitu anggun. Rambut panjangnya bergerak lembut tertiup angin.
Sha Nuo tiba-tiba berhenti. Tubuhnya membeku di tengah jalan dan matanya melebar. Ia mengenal perempuan itu.
Tidak mungkin ia salah. Perempuan yang baru saja turun dari kereta kedua adalah seseorang yang baru ditemuinya pagi tadi, Lan Suya.
Sha Nuo berdiri tanpa bergerak. Suasana ramai di sekitarnya seolah menghilang untuk sesaat.
Tatapannya hanya tertuju pada satu sosok. Wajah Lan Suya, wajah yang sejak pagi terus mengganggu pikirannya. Wajah yang terlalu mirip dengan seseorang dari masa lalunya, Ye Lian.
Jantung Sha Nuo kembali berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka akan bertemu perempuan itu lagi secepat ini. Terlebih lagi, kali ini Lan Suya tidak datang sendiri. Ia datang bersama seorang pria yang tidak dikenalnya.
Sha Nuo menatap keduanya dari kejauhan. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana. Tanpa sadar, tangannya mengepal perlahan.
“Lan Suya.”
Nama itu keluar sangat pelan dari bibirnya. Sha Nuo sendiri bahkan tidak menyadari bahwa ia baru saja mengucapkannya.
...******...
Bonus