NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Bayangan raksasa monster zirah hitam menutupi pandangan Ren saat makhluk itu mendarat di lantai marmer.

Hembusan angin kencang akibat lompatan sang monster menghempas wajah Ren, membawa hawa panas dan bau busuk bangkai yang mengendap di sela lempeng sisiknya. Lantai batu di bawah kaki bergetar keras, meremukkan marmer putih menjadi serpihan runcing yang berhamburan liar ke segala arah seperti pecahan kaca.

Barisan depan seketika kacau balau. Teriakan panik membuncah dari tenggorokan para prajurit pelopor yang berdesakan, berebut ruang untuk mundur meski mereka tahu ujung tombak para perwira pengawas di belakang sudah siap menembus siapa pun yang memutar badan.

"Maju! Kunci rantai ke kaki depannya sekarang juga!"

Teriakan perwira pengawas dari barisan belakang memecah kebisingan aula. Suara itu menggema kencang melalui sihir pengeras suara, memaksa regu pelopor bergerak menyongsong bahaya tanpa memedulikan keselamatan mereka sendiri.

Tiga pemuda di sebelah kiri Ren, sesama prajurit kasta rendah yang baru beberapa pekan memegang senjata, berlari ke depan dengan langkah kaki goyah. Keringat membanjiri pelipis mereka, dan mata mereka membelalak liar menatap cakar monster yang sebesar lemari besi. Mereka berusaha melempar rantai besi tebal berukir mantra penahan ke arah cakar depan sang monster.

Logam berdenting keras saat rantai itu melilit pergelangan kaki monster, berpendar ungu redup mencoba menahan bobot tubuh raksasanya agar tidak menerjang lebih jauh ke tengah aula. Namun, usaha itu tidak berarti banyak.

Monster berkaki enam itu sama sekali tidak melambat.

Otot di balik lempeng sisik hitamnya menggembung keras. Lewat satu sentakan menyamping, rantai besi bermantra penahan itu putus berhamburan seperti tali rapuh.

Serpihan besi melesat liar ke udara dengan kecepatan tinggi, mendesing di dekat telinga Ren. Pecahan rantai yang tajam menghantam dada prajurit terdekat, merobek zirah tipisnya dan melempar tubuhnya ke belakang hingga menabrak barisan kawan. Belum sempat orang itu menyentuh lantai, ekor berduri sang monster menyapu mendatar, menghantam dua prajurit lain hingga terpental bersimbah darah.

Jeritan kesakitan seketika memenuhi aula Lantai 10, melenyapkan sisa keberanian yang sempat tersisa di dada para rekrutan baru.

Di barisan pendukung beberapa langkah di belakang, Riku memeluk busur kayunya sambil menunduk di balik kotak perbekalan. Anak itu gemetar hebat, matanya terpaku pada ceceran darah yang mulai membasahi lantai marmer. Di sampingnya, Shizuka berlutut menahan bahu Riku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam sebotol ramuan penenang dengan bibir terkatup rapat.

"Jangan berdiri lurus di depannya!" teriak Vargas dari samping kanan. Pria veteran itu menancapkan dasar perisai besinya ke rekahan lantai, merendahkan bahu untuk menahan semburan debu dan serpihan batu. "Ren! Banting langkahmu ke kanan! Makhluk ini melibas apa pun yang segaris dengan moncongnya!"

Ren langsung bergerak tanpa menunda. Insting bertahannya yang terasah dari tahun-tahun keras di perkampungan kumuh pelabuhan mendorong kakinya berlari kencang.

Ia memacu langkah ke arah kanan, mengincar dasar pilar batu ketiga seperti yang disarankan Vargas. Tangannya menggenggam erat gagang tombak pendek, sementara matanya terus mengamati rekahan marmer yang berserakan di depan. Tubuhnya dibuat condong rendah demi menjaga keseimbangan di atas lantai licin berlumut.

Namun, lantai menara tidak pernah memberi jalan mulus bagi manusia fana.

Saat Ren hendak menjejakkan kaki beberapa langkah di depan pilar, ubin marmer di bawahnya retak meletupkan cairan lendir hijau pekat dari rongga bawah tanah. Cairan asam itu merembes cepat akibat beban monster yang menghancurkan struktur lantai, mengubah permukaan marmer menjadi lumpur mendidih yang mengepulkan asap pedih ke udara.

Kaki kanan Ren tergelincir di atas cairan itu.

Keseimbangannya buyar seketika. Tubuhnya condong ke depan, dan lutut kirinya menghantam lantai keras, memicu rasa ngilu yang menjalar hingga pangkal paha. Kehilangan pijakan selama sekejap mata di hadapan monster lantai sepuluh menjadi kesalahan fatal yang berujung maut.

Cakar kanan sang monster menyapu mendatar dari arah samping.

Ujung kuku hitam yang bergerigi meluncur membelah udara, memicu desingan tajam menyerupai gesekan puluhan pedang yang diayun bersamaan.

Dalam kilasan singkat itu, Ren melihat pantulan dirinya di permukaan kuku hitam yang gelap. Sosok pemuda kurus berdebu yang terpojok di ujung ajal tanpa ruang sedikit pun untuk menghindar.

Ren mengangkat tombak pendeknya melintang di depan dada, berusaha menahan benturan.

Batang kayu tombak itu patah berkeping-keping saat kuku monster menyentuhnya. Kayu murah itu tidak mampu menahan beban ribuan kilogram. Hantaman cakar raksasa menghantam dada kiri Ren tanpa jeda.

Pelat zirah tipis di dadanya remuk ke dalam, menghantam tulang rusuk hingga patah menusuk rongga dada. Rasa perih yang menyengat merobek paru-parunya, membakar seluruh kesadarannya dalam sekejap.

Darah hangat menyembur keluar dari mulut dan hidungnya, menodai bagian dalam pelindung kepala dan mengaburkan pandangan matanya menjadi merah pekat.

Tubuh Ren terlempar melayang belasan langkah sebelum jatuh menghantam lantai batu di dekat pilar marmer kedua. Punggungnya membentur dasar pilar dengan keras, meremukkan bahunya dan membuatnya terkapar tak berdaya di atas lantai yang basah oleh darahnya sendiri.

Ren berusaha menarik napas dengan sisa tenaga yang ada.

Namun, setiap tarikan udara hanya menyedot cairan hangat yang menggenang di tenggorokannya. Napasnya tersendat dan terbatuk darah. Rasa ngilu yang luar biasa merampas kendali motorik jemarinya, membiarkan tangannya terkulai lemas di atas marmer dingin.

Melalui celah matanya yang buram, Ren menatap ke arah barisan belakang.

Di balik lingkaran perisai sihir emas yang kokoh, Julius von Ravensburg berdiri tegak dengan pedang terhunus di depan dada. Raut wajah sang komandan tampak datar dan dingin, sama sekali tidak terganggu oleh rintihan prajurit pelopor yang bergelimpangan di lantai aula. Bagi Julius, jeritan manusia di garis depan tak lebih dari suara bising yang tak perlu dipedulikan.

"Penyihir, siapkan tombak petir," suara Julius terdengar tenang memberi instruksi melalui sihir pengeras suara. "Monster itu menurunkan bahunya setelah mengayunkan cakar kanan. Tahan serangan sampai makhluk itu membuka celah leher pada ayunan kedua. Biarkan sisa barisan depan memancing posisinya agar kita mendapat sudut tembak yang bersih."

Bagi Julius dan para perwira bangsawan di sekelilingnya, kematian prajurit garis depan hanyalah variabel angka untuk membaca celah monster. Nyawa puluhan prajurit jelata cuma alat pengukur jeda waktu demi kemenangan wangsa mereka. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada keraguan dalam mata sang komandan muda.

Pikiran Ren berputar dalam kepahitan yang menekan batinnya.

Ia teringat hari-hari lapar di dermaga kumuh, berebut remah roti sisa dengan anjing liar, tidur kedinginan di bawah kolong jembatan berlumut, hingga dipaksa masuk ke menara ini demi melunasi utang keluarga yang terus berbunga. Ia telah berjuang menahan lapar dan luka melewati sembilan lantai yang mengerikan.

Kini, di aula dingin ini, hidupnya berakhir hanya sebagai umpan pengalih perhatian bagi orang-orang yang menganggapnya serangga. Keadilan tidak pernah ada bagi rakyat jelata yang terlahir tanpa nama besar.

Langkah kaki berat monster itu terdengar mendekat perlahan, menimbulkan getaran ritmis di lantai marmer yang retak.

Bayangan raksasa monster itu kembali jatuh menutupi tubuh Ren yang terkapar di dasar pilar. Hawa panas dari moncong makhluk itu meniup wajahnya yang bersimbah darah, diiringi tetesan liur asam yang mendesis saat mengenai genangan darah di dekat pelipisnya.

Cakar hitam raksasa terangkat tinggi ke udara, bersiap menginjak kepalanya untuk menghancurkan sisa kesadaran yang tersisa.

Ren memejamkan mata perlahan, menyambut kegelapan yang menelan seluruh indranya. Dadanya berhenti bergerak, detak jantungnya berhenti, dan napasnya padam di atas lantai berdebu.

Tepat saat kesadarannya terputus, sebuah kilatan cahaya perak merebak di dalam benaknya yang gelap gulita.

Rasa sakit yang membakar di dada mendadak berbalik arah, menyerupai cairan panas yang ditarik mundur melewati lorong sempit. Detak jantung yang membeku mendadak berdenyut kembali dengan kecepatan tinggi, membalikkan setiap detik peristiwa yang baru saja terjadi.

[Pembalikan Waktu Singkat Berhasil Diaktifkan.]

[Memundurkan Kesadaran Jiwa Tiga Puluh Detik ke Belakang.]

Pikiran Ren tersentak keras, seolah kesadarannya ditarik dari jurang hampa dan dihempaskan kembali ke dalam raganya dengan sentakan tajam yang memicu dengungan di telinga.

"Ren! Banting langkahmu ke kanan! Makhluk ini melibas apa pun yang segaris dengan moncongnya!"

Suara parau Vargas kembali terdengar di samping telinganya, begitu nyata dan dekat. Aroma tembakau kering dari pipa pria tua itu menyengat hidungnya, berbaur dengan uap keringat dingin yang mengucur di dahinya.

Ren membuka mata lebar-lebar dengan napas memburu.

Ia masih berdiri tegak di atas lantai marmer putih. Tombak pendeknya masih utuh dalam genggaman kedua tangannya yang berkeringat, dadanya belum dihantam cakar, dan darah belum menggenang di bawah kakinya.

Namun, sensasi ngilu yang membakar di tulang rusuk kiri dan rasa asin darah di pangkal lidah masih berdenyut begitu pekat di sistem sarafnya. Rasa sakit phantom itu membuat tubuhnya sempat kaku selama sepersekian detik. Jantungnya berdegup liar memompa darah ke pelipis, memicu keterkejutan yang menyesakkan dada.

Di depannya, monster zirah hitam itu baru saja menyentakkan rantai besi hingga putus berhamburan ke udara, dan ekor berdurinya sedang melesat cepat meremukkan dua prajurit pelopor di sebelah kiri. Suara derak tulang patah dan jeritan putus asa terdengar persis pada nada dan detik yang sama seperti yang baru saja dialaminya.

Pemandangan itu bukan mimpi buruk ataupun halusinasi menjelang ajal.

Waktu benar-benar berputar mundur tiga puluh detik ke belakang. Kematian yang baru saja merenggut nyawanya sedang mengulang pola serangannya ke titik tempat ia berpijak saat ini.

Jika ia mengulangi langkah yang sama seperti sebelumnya, cakar monster itu akan kembali merobek dadanya dalam hitungan belasan detik ke depan. Ren menarik napas pendek yang terasa dingin di tenggorokan, memaksa kakinya yang gemetar untuk mengubah arah pijakan.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!