"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 DUA SINAR YANG SEMAKIN TERANG
Hari demi hari terus bergulir, merajut minggu demi minggu yang tak terasa berlalu begitu cepat di bawah naungan langit Jogja.
Angin kemarau yang biasanya membawa hawa kering, kini terasa jauh lebih sejuk dan menyegarkan bagi para penghuni SMA Budi Bangsa, khususnya bagi mereka yang mendiami ruang kelas XI IPS 2.
Di mata seluruh teman-teman sekelas mereka, ada sebuah fenomena baru yang diam-diam menjadi perbincangan hangat, namun sekaligus membawa senyum kelegaan.
Fenomena itu adalah kedekatan yang semakin erat antara Wira Aji Pratama dan Asmara Putri.
Dua insan yang pada awalnya bagaikan api dan air itu, kini seolah telah menemukan titik didih yang pas, menciptakan sebuah energi baru yang membuat seisi kelas terasa "lebih hidup" dan "lebih segar".
Wira tidak lagi menjadi robot patuh yang kehilangan nyawanya, dan Asmara tidak lagi menjadi patung anggun yang tak tersentuh.
Mereka berdua melebur.
Mereka saling meminjam warna satu sama lain, melukiskan sebuah kanvas persahabatan—atau mungkin lebih dari itu—yang membuat dinamika masa SMA mereka menjadi jauh lebih berwarna.
Perubahan paling mencolok tentu saja terlihat pada diri Sang Matahari dari Bogor.
Wira telah mendapatkan kembali jiwa begajulannya. Cara jalannya kembali sedikit diayun dengan dagu yang terangkat penuh percaya diri. Suara tawanya kembali menggelegar lepas, dan celetukan-celetukan tengilnya kembali meramaikan sudut-sudut kelas.
Namun, ada satu hal yang membuat Wira yang sekarang jauh lebih berbahaya dan mematikan dibandingkan Wira di hari pertama ia sekolah.
Sifat begajulan pemuda itu kini telah tercampur aduk, terkalibrasi dengan sempurna oleh semua ajaran, arahan, dan nilai-nilai unggah-ungguh yang selama satu bulan penuh disuntikkan oleh Asmara ke dalam otaknya.
Wira menjelma menjadi sebuah anomali yang brilian: seorang preman jalanan yang memiliki tata krama tingkat tinggi.
.....
.....
Suatu sore, tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi, jadwal piket harian kelas XI IPS 2 jatuh pada kelompok Danang dan dua siswi perempuan, Ririn dan Sinta.
Karena hari itu ada tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan, Ririn dan Sinta terlihat sangat kelelahan saat mengangkat kursi-kursi ke atas meja untuk mulai menyapu.
Wira yang sebenarnya sudah bersiap untuk pulang dan sedang menunggu Asmara membereskan catatan OSIS-nya, melihat pemandangan itu dari ambang pintu.
Otak begajulannya langsung bekerja.
Jika dulu Wira akan mencibir dan melangkah pergi tanpa peduli, kali ini, pemuda itu justru memutar balik langkahnya.
Ia berjalan menghampiri Ririn yang sedang kepayahan memegang gagang sapu, lalu dengan gerakan cepat namun tak terkesan kasar, Wira merebut sapu itu dari tangan gadis tersebut.
"Ya elah, Rin... Pegang sapu aja gaya lo udah kayak orang mau pingsan gitu," celetuk Wira dengan nada tengil andalannya. "Lemah bener sih jadi cewek."
Ririn yang kaget sapunya direbut langsung mengerucutkan bibirnya. "Ih, Wira apaan sih! Kan emang capek tahu habis ngerjain tugas sosiologi tadi!"
Alih-alih membalas dengan makian, Wira justru menyeringai. Ia menegakkan bahunya, membusungkan dada, dan memasang wajah sok jagoan.
"Minggir lo pada! Biar gue yang beresin ini kelas. Nyapu ginian doang mah kecil! Gini-gini gue ini lulusan terbaik dari akademi kebersihan Ruang Budaya. Sebulan penuh gue digojlok di sana, debu aja takut ngelihat gue!"
Danang yang sedang menghapus papan tulis tertawa terbahak-bahak mendengar kesombongan Wira. "Wah, gayamu, Wir! Beneran nih mau ngebantuin kita piket? Kamu kan bukan jadwalnya hari ini."
"Udah, bacot lo, Nang! Daripada gue nungguin Ririn sama Sinta nyapu yang durasinya ngalahin sinetron, mending gue yang turun tangan. Kalian duduk manis aja sana di pojokan, nggak usah banyak gaya! Permisi, orang ganteng mau kerja," balas Wira blak-blakan, sambil mulai mengayunkan sapunya dengan kecepatan dan ketepatan yang memang luar biasa berkat latihan kerasnya selama masa hukuman.
Ririn dan Sinta saling berpandangan, lalu tersenyum lebar. Wira mengucapkan kata-kata itu dengan gaya yang sangat arogan dan ceplas-ceplos, tapi esensi dari tindakannya adalah sebuah kepedulian yang sangat tulus. Pemuda itu membantu mereka meringankan beban tanpa pamrih.
"Makasih banyak lho, Wira. Maaf ngerepotin," ucap Sinta dengan nada sopan.
Wira hanya melambaikan tangan kirinya tanpa menoleh, terus menyapu hingga ke sudut kelas. "Santai... Tapi inget, kebaikan gue ini nggak gratis. Besok kalau gue lupa ngerjain PR Matematika, buku lo berdua harus udah siap di meja gue sebelum bel masuk. Paham?"
Asmara yang sedari tadi memperhatikan dari mejanya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum menahan tawa.
Wira memang tidak bisa menghilangkan cangkang arogannya, tapi gadis itu tahu persis bahwa di balik kalimat sok pamrih itu, Wira hanya ingin menutupi rasa gengsinya karena telah berbuat baik.
Kejadian lain yang tak kalah mengejutkan seisi sekolah terjadi pada hari Jumat minggu yang sama.
Saat itu, Ruang Bimbingan Konseling (BK) sedang dalam proses renovasi besar-besaran karena atapnya yang bocor. Akibatnya, semua barang inventaris, lemari arsip, dan tumpukan kardus berisi dokumen harus dipindahkan ke ruangan sementara di gedung sayap kiri.
Siang itu, matahari bersinar sangat terik. Pak Anton, sang guru BK bertubuh besar yang ditakuti seluruh siswa, tampak sedang berdiri di koridor dengan seragam batik yang sudah basah oleh keringat. Beliau sedang mencoba mengangkat tumpukan kardus yang cukup berat sendirian karena petugas tata usaha sedang sibuk.
Wira yang kebetulan sedang berjalan menuju kantin, melihat kejadian itu.
Langkah Wira terhenti. Ingatan tentang bagaimana Pak Anton memberinya kesempatan kedua dan tidak jadi mengeluarkannya kembali terlintas.
Tanpa membuang waktu, Wira membelokkan langkahnya, berjalan menghampiri guru BK berwajah sangar tersebut.
"Pak Anton!" sapa Wira dengan suara lantang, mengagetkan guru tersebut hingga kardus di tangannya nyaris merosot.
"Wira? Ada apa kamu jam segini keluyuran?" tegur Pak Anton, menyeka keringat di dahinya.
Wira tersenyum miring, memasang pose sok pahlawan dengan menyandarkan salah satu sikunya ke tumpukan kardus yang lain. "Bapak ini badannya aja yang gede, tapi ngangkat kardus tiga biji aja keringatnya udah kayak habis lari maraton keliling alun-alun. Kalau pinggang Bapak encok, besok siapa yang mau marahin anak-anak yang bolos, Pak?"
Mendengar kalimat blak-blakan yang nyaris kurang ajar itu, mata Pak Anton membelalak. Namun, sebelum beliau sempat mengomel, Wira sudah lebih dulu membungkuk.
Dengan tenaga yang terlatih oleh kerasnya jalanan Bogor dan rutinitas bersih-bersih Bude Ning, Wira mengangkat tiga kardus berat itu sekaligus dengan satu gerakan yang sangat mulus.
"Minggir, Pak. Biar otot anak muda yang beraksi," ucap Wira santai, mengambil alih beban itu sepenuhnya dari tangan Pak Anton. "Mau dipindahin ke ruang mana nih, Pak? Ruang audiovisual, kan? Ayo, jalan duluan, Pak, tunjukin jalannya."
Pak Anton berdiri mematung selama beberapa detik, terlalu shock melihat kelakuan muridnya yang satu ini. Namun akhirnya, seulas senyum bangga terbentuk di balik kumis tebalnya.
"Ya sudah, ayo ikuti Bapak," kata Pak Anton, berjalan mendahului Wira.
Selama hampir satu jam penuh, Wira bolak-balik dari ruang BK lama ke ruangan BkK sementara, memindahkan belasan kardus dan membantu menggeser meja-meja besi yang berat.
Ia melakukannya sambil terus mengoceh, melemparkan lelucon-lelucon tengil tentang fasilitas sekolah yang tua, namun tangannya tak pernah berhenti bekerja dengan sangat rapi dan cekatan.
Saat kardus terakhir selesai ditata, Wira mengibaskan debu dari seragamnya. Keringat membasahi pelipisnya, namun wajahnya memancarkan kepuasan.
"Sudah beres semua nih, Pak," kata Wira, bersandar pada pintu ruangan. "Tatanannya udah presisi. Dijamin arsip anak-anak nakal nggak bakal hilang."
Pak Anton mengambil sebotol air mineral dingin dari kotak pendingin portabelnya dan melemparkannya kepada Wira. "Terima kasih banyak, Wira. Bapak tidak menyangka kamu punya inisiatif sebesar ini. Walau ocehanmu itu sebenarnya nggak sopan, tapi kamu sangat membantu."
Wira menangkap botol itu dengan gaya keren, membukanya, dan meminumnya hingga tandas setengah. Ia lalu menyeka bibirnya dan menatap Pak Anton dengan seringai jahilnya.
"Sama-sama, Pak. Tapi ingat lho, Pak. Kebaikan saya ini saya catat sebagai deposit investasi masa depan," kata Wira menunjuk-nunjuk Pak Anton dengan gaya menantang. "Nanti kalau misalnya bulan depan saya ketahuan tidur di kelas atau telat masuk gerbang, Bapak diskon ya hukumannya. Jangan langsung kasih SP. Anggap aja impas sama tenaga kuli saya hari ini."
Pak Anton tertawa lepas mendengar negosiasi konyol itu. Alih-alih marah karena merasa ditantang, guru itu justru menepuk bahu Wira dengan keras. "Kamu ini, sudah berbuat baik masih saja cari untung. Ya sudah, sana kembali ke kantin. Jangan sampai telat masuk kelas setelah bel istirahat."
Wira melenggang pergi dengan langkah ringan.
Di mata guru-guru, Wira bukan lagi ancaman. Ia adalah murid nakal yang cerdas dan bisa diandalkan. Sikap tengilnya tidak lagi dipandang sebagai sebuah pemberontakan yang merusak, melainkan sebagai sebuah warna yang membuat interaksi semua guru dengan Wira di sekolah ini menjadi jauh lebih menyenangkan.
Jika Wira menyerap unggah-ungguh Asmara dan mengubahnya menjadi 'Kesopanan Sang Preman', maka hal yang sama pun terjadi pada diri Asmara Putri.
Sang Bulan dari keraton yang selalu memancarkan keanggunan, ketenangan, dan kesantunan yang tiada tara itu, kini terlihat jauh lebih "hidup".
Asmara mulai banyak meniru gaya Wira. Ia belajar bahwa ketegasan tidak selalu harus dibungkus dengan senyuman maklum. Ia belajar bahwa terkadang, untuk menghadapi dunia yang keras, kita perlu menaikkan dagu dan menatap mata lawan tanpa rasa takut sedikit pun.
.....
.....
Sebuah momen pembuktian terjadi saat rapat evaluasi panitia acara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) sekolah di ruang OSIS.
Asmara, sebagai ketua OSIS, sedang memimpin rapat yang dihadiri oleh ketua-ketua divisi.
Suasana rapat sedikit memanas karena divisi perlengkapan yang diketuai oleh Fajar—seorang siswa kelas XI IPA yang terkenal malas dan suka meremehkan tanggung jawab—belum juga mengumpulkan daftar rincian alat yang dibutuhkan.
"Fajar, saya sudah meminta daftar perlengkapan itu sejak tiga hari yang lalu," tegur Asmara dari ujung meja, suaranya masih terdengar lembut namun penuh penekanan. "Acara kita tinggal dua minggu lagi. Kalau daftarnya belum masuk hari ini, bendahara tidak bisa mencairkan dananya."
Fajar, yang sedang duduk bersandar dengan kaki disilangkan, hanya mendecak malas. Ia memutar-mutar pulpen di jarinya, menatap Asmara dengan tatapan meremehkan yang sering ia tunjukkan pada siswi perempuan.
"Alah, santai aja kali, Ra. Cuma urusan bola basket, net voli, sama tambang doang. Nanti sore juga saya kerjain," jawab Fajar enteng, tanpa rasa bersalah. "Lagian kamu tuh kaku banget sih jadi ketua. Kayak ngurusin proyek negara aja. Udahlah, ntar saya serahin langsung ke bendahara. Kamu nggak usah bawel."
Kata-kata Fajar yang merendahkan itu membuat suasana ruang rapat mendadak tegang. Beberapa pengurus OSIS lain saling melirik canggung.
Biasanya, jika dihadapkan pada anggota yang membangkang seperti ini, Asmara akan menghela napas sabar, menasihati dengan petuah-petuah halus, atau pada akhirnya, Asmara sendiri yang akan turun tangan mengerjakan tugas orang tersebut demi kelancaran acara.
Namun hari ini, bayangan Wira Aji Pratama berkelebat di dalam benak gadis itu.
"Jangan mau diinjak, Ra. Sesekali lo harus gigit balik biar mereka sadar posisi." kalimat yang pernah diucapkan Wira saat mereka sedang mengobrol di kantin itu menjadi pemicu adrenalin Asmara.
Asmara menutup buku agendanya perlahan. Ia tidak menunduk. Ia tidak tersenyum maklum. Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, Asmara berdiri dari kursinya.
Alih-alih melipat tangan di depan perut dengan anggun, Asmara meniru persis gaya andalan Wira. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja rapat, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menatap tajam langsung ke mata Fajar. Tatapan mata bulat itu kini tidak lagi teduh, melainkan setajam silet yang menyayat.
"Maaf, Mas Fajar," panggil Asmara. Suaranya diucapkan dengan volume yang sangat rendah, tidak berteriak, namun intonasinya begitu dingin dan mengintimidasi, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding.
Fajar yang tadinya bersandar malas, refleks menegakkan punggungnya, sedikit kaget melihat perubahan postur Asmara.
"Sepertinya Mas Fajar lupa sedang berbicara dengan siapa dan berada di forum apa," lanjut Asmara, setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang mutlak. "Ini bukan warung kopi tempat Mas bisa mengulur waktu sesuka hati. Ini organisasi sekolah. Dan saya, adalah ketua yang bertanggung jawab atas seluruh acara ini."
Asmara memiringkan kepalanya sedikit, menatap Fajar dengan pandangan yang merendahkan, persis seperti tatapan elang Wira saat sedang mengintimidasi lawan.
"Kalau Mas merasa ini cuma urusan bola basket dan net voli yang gampang... bagus. Berarti otak Mas masih mampu untuk menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit, kan?" tantang Asmara blak-blakan.
"Saya tunggu daftar itu di meja saya sebelum jam pulang sekolah. Kalau sampai kertas itu belum ada... jangan salahkan saya kalau nama Mas Fajar saya coret dari kepanitiaan hari ini juga, dan Mas bisa menjelaskan sendiri kepada Kepala Sekolah kenapa divisi perlengkapan gagal menjalankan tugasnya."
Asmara menarik kembali tubuhnya, berdiri tegak dengan dagu terangkat pongah. Ia memandangi Fajar dari atas ke bawah. "Ada bantahan, Mas Fajar?"
Fajar menelan ludah. Nyalinya mengkerut seketika. Kesopanan Asmara yang dipadukan dengan aura mengintimidasi dan ancaman blak-blakan itu ternyata ribuan kali lebih menakutkan daripada bentakan guru killer mana pun.
"N-nggak ada, Ra. Iya, nanti jam tiga saya kumpulin," jawab Fajar buru-buru, memalingkan wajahnya karena tak sanggup menatap mata Sang Bulan yang sedang memancarkan panasnya Sang Matahari.
Seisi ruang OSIS hening, menatap ketua mereka dengan rasa hormat yang melonjak drastis. Asmara telah membuktikan bahwa kelembutannya bukanlah sebuah kelemahan.
Pengaruh Wira dalam diri Asmara kembali terlihat beberapa hari kemudian, tepat di luar jam sekolah.
Sore itu, Asmara sedang berjalan menuju gerbang sekolah saat ia melihat sebuah keributan kecil di depan warung nasi rames Bu Tejo. Seorang siswa kelas X, yang seragamnya tidak dimasukkan dan terlihat sok jagoan, sedang berdebat dengan Bu Tejo.
"Utang dulu lah, Bu. Besok saya bayar. Janji deh. Kan saya langganan di sini," ucap adik kelas itu dengan nada yang meremehkan, mengabaikan raut wajah Bu Tejo yang tampak keberatan.
"Aduh, Dek, Ibu bukannya pelit. Tapi bulan ini banyak yang pada ngutang belum dibayar. Ibu mau muter modal buat beli berasnya susah kalau ngutang terus," keluh Bu Tejo dengan sopan.
"Ya elah, Bu, cuma lima belas ribu doang. Pelit amat sih. Besok pasti dibayar," paksa adik kelas itu tak tahu malu.
Asmara yang kebetulan lewat dan mendengar hal itu, merasakan darahnya mendidih.
Jika dulu ia akan mendekat dan membayarkan utang adik kelas itu demi menghentikan keributan, kali ini Asmara memilih jalan yang berbeda.
Ia membelokkan langkahnya. Dengan wajah datar dan langkah pasti, Asmara berjalan menghampiri adik kelas tersebut.
Begitu sampai di samping siswa itu, Asmara melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memposisikan dirinya sangat dekat, menyerobot masuk ke dalam ruang personal adik kelas itu, sebuah taktik intimidasi ruang yang sering Wira gunakan.
"Permisi, Adik Kelas," sapa Asmara dengan bahasa Indonesianya yang sangat sopan.
Siswa kelas X itu menoleh, sedikit kaget melihat kakak kelas yang juga seorang pengurus OSIS berdiri di dekatnya. "Eh... iya, Kak?"
Asmara tidak langsung menjawab. Ia menatap siswa itu dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menilai yang sangat sinis, kemudian mendecak pelan, persis seperti gestur Wira saat meremehkan orang.
"Kamu sekolah di sini bawa buku untuk belajar, atau bawa muka tebal untuk mengemis?" tanya Asmara, suaranya sangat halus, namun kata-katanya menusuk tepat ke jantung.
Adik kelas itu membelalakkan matanya, wajahnya langsung memerah. "M-maksud Kakak apa ya?"
"Maksud saya," Asmara mencondongkan tubuhnya sedikit, matanya menyalang menatap lurus ke dalam mata adik kelasnya, "kalau kamu tidak punya uang untuk membeli makan, kamu bisa meminta tolong dengan sopan. Tapi memaksakan kehendak dan meremehkan keluhan orang tua yang sedang mencari nafkah... itu bukan kelakuan murid terpelajar. Itu kelakuan preman pasar yang tidak tahu malu."
Asmara mengangkat dagunya, menunjuk lambang OSIS di dada adik kelasnya itu.
"Sekarang, kamu bayar makanan yang sudah masuk ke perut kamu itu, atau saya panggilkan Pak Anton sekarang juga biar orang tua kamu yang dipanggil ke sekolah untuk melunasi utang lima belas ribu milik anaknya yang sok jagoan ini. Pilih mana?"
Ditekan oleh tatapan membunuh dan bahasa tajam yang dibungkus dengan nada sopan khas keraton itu, nyali sang adik kelas hancur lebur.
Tanpa berani membantah, siswa itu buru-buru merogoh saku celananya dalam-dalam, menarik selembar uang dua puluh ribuan yang sedari tadi ternyata ia sembunyikan, dan menyerahkannya kepada Bu Tejo.
"M-maaf, Bu. Kembaliannya ambil aja. Maaf, Kak," cicit adik kelas itu dengan suara bergetar, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan warung kantin.
Bu Tejo menatap Asmara dengan pandangan takjub. "Ya Allah, Mbak Asmara... kok ya bisa sangar begitu sekarang? Ibu sampai kaget lho."
Asmara menoleh pada Bu Tejo, mengendurkan posturnya, dan kembali memancarkan senyum keibuannya yang hangat. "Mboten napa-napa, Bu. Sekali-sekali anak-anak seperti itu memang harus diajari bahasa yang mereka mengerti."
Dari kejauhan, di dekat gerbang sekolah, Wira Aji Pratama berdiri bersandar pada pilar pagar. Ia melihat seluruh adegan di depan warung Bu Tejo itu dari awal sampai akhir.
Senyum kebanggaan yang luar biasa lebar menghiasi wajah tampannya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya menatap Asmara dengan penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
Gadis itu telah mencuri gayanya, mencuri keberaniannya, dan menerapkannya dengan keanggunan yang mematikan.
Di bawah langit senja Jogja yang mulai membiaskan warna jingga kemerahan, Wira dan Asmara saling menatap dari kejauhan. Tak ada kata yang perlu diucapkan.
Lewat senyuman yang saling terbalas, mereka tahu bahwa mereka tak lagi sekadar dua kutub yang berlawanan.
Sang Matahari telah belajar bagaimana merendahkan panasnya menjadi kehangatan, dan Sang Bulan telah belajar meminjam cahaya untuk membakar hal-hal yang tidak benar.
Begitulah Wira dan Asmara sekarang.
Dua kutub berbeda yang melebur menjadi satu kesatuan yang utuh, menjadikan kehidupan di SMA Budi Bangsa jauh lebih hidup, lebih berani, dan jauh lebih berwarna dari sebelumnya.