Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa Jin Ke Kos
*BAB 7
Lorong sempit di bagian belakang rumah tua itu terasa jauh lebih lembap dibanding ruang depan. Lantainya yang terbuat dari plesteran semen tua tampak mengelupas di sana-sini, mengeluarkan bau tanah basah dan debu pekat yang langsung menusuk hidung begitu mereka melangkah masuk. Dindingnya dingin dan agak kasar saat tersentuh, membuat bulu kuduk siapa pun yang meraba akan berdiri. Tidak ada penerangan sama sekali di sana, hanya kegelapan pekat yang membuat Raka, Bayu, dan Dimas harus berjalan merapat sambil meraba dinding untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.
"Mbok ya lampunya dinyalakan dulu, Ratu Jin," gerutu Bayu setengah berbisik di belakang. Tangannya mencengkeram erat ujung jaket Dimas karena tidak ingin tertinggal di kegelapan. Suaranya agak gemetar menahan takut. "Ini jalannya kayak mau masuk ke liang lahad, bukan mau ambil barang. Gelap banget, Mbak, saya nggak lihat jalan."
"Diamlah, manusia berisik," suara Zahmira terdengar dari depan, memantul di dinding lorong yang sempit dan lembap. "Tempat ini tidak butuh cahaya buatan manusia. Aku hafal setiap sudutnya meski tanpa lampu."
Dimas yang berjalan di tengah mendengkus pelan, menunduk supaya kepalanya tidak kejedot balok kayu rendah yang melintang di atas lorong. "Bukan masalah butuh atau tidak, Mbak. Masalahnya kalau kita kepeleset pecahan kaca atau menginjak bangkai tikus, urusannya jadi panjang. Bisa infeksi, harus ke puskesmas."
"Di sini tidak ada tikus," sahut Zahmira dingin tanpa menoleh. "Bangsa tikus tidak tahan berlama-lama di tempatku. Energi di sini membuat mereka pergi dengan sendirinya."
"Oh, baguslah kalau begitu," timpal Bayu lega, meski kakinya masih melangkah hati-hati dan menatap ke bawah. "Minimal kalau kita pingsan nanti, penyebabnya bukan karena tikus got. Lumayan, Mbak bisa jadi pengusir hama alami, keren juga."
Raka, yang berjalan tepat di belakang Zahmira, memilih diam sambil memperhatikan punggung perempuan bergaun ungu itu. Di tengah gelapnya lorong, sulaman benang emas di gaun Zahmira tampak memantulkan pendar cahaya keperakan yang samar-samar, cukup untuk menjadi penunjuk arah bagi mereka bertiga. Aroma melati yang dibawa perempuan itu sedikit menetralkan bau apek yang sejak tadi menyesakkan dada. Langkahnya tetap anggun meski lantai di bawahnya kotor dan berdebu tebal.
Beberapa detik kemudian, lorong itu berakhir pada sebuah ruangan yang sedikit lebih luas dari lorong.
Ukurannya mungkin hanya selebar dua kamar kos mereka digabung, tapi langit-langitnya lebih tinggi dan ada satu meja kayu di tengahnya yang sudah miring kakinya dan penuh goresan. Di sudut ruangan ada tumpukan kendi tanah liat yang sudah retak dan ditumbuhi sedikit lumut hijau.
Zahmira berhenti di ambang pintu, lalu mengangkat tangan kanannya ke arah meja kayu reyot di tengah ruangan.
"Sebentar," gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Iya menyentuh bagian atas sebuah kendi kecil yang terlihat paling bersih di antara yang lain. Sentuhan jarinya yang berhiaskan gelang emas itu membuat kendi tersebut perlahan memancarkan pendar cahaya putih lembut dari dalam. Cahayanya tidak menyilaukan seperti lampu neon di kos, melainkan lembut seperti cahaya bulan yang terperangkap di dalam kaca. Ruangan itu pun perlahan terang, memperlihatkan debu-debu yang beterbangan di udara.
Raka, Bayu, dan Dimas langsung tertegun begitu melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Mereka mengira akan menemukan sesuatu yang wah, tapi kenyataannya jauh dari bayangan mereka.
Tidak ada tumpukan harta karun berkilau atau peti emas seperti yang ada di cerita dongeng pengantar tidur. Yang ada hanyalah sebuah meja kayu tua yang permukaannya penuh goresan, beberapa kendi tanah liat yang retak dan berdebu tebal, dan sebuah kotak kayu berukir klasik berukuran sedang yang terbuka setengah. Di dalamnya terlihat gulungan kain beludru tua yang warnanya sudah sedikit pudar dan diikat tali kecil.
Zahmira melangkah mendekati meja tersebut, langkahnya hati-hati seperti sedang mendekati sesuatu yang sangat berharga. Ia mengambil sebuah gulungan kain beludru tua dari dalam kotak kayu itu. Ia mengusap permukaan kain itu dengan gerakan lembut, seolah benda tersebut adalah barang paling berharga di dunia. Tatapannya yang tadi tajam kini sedikit melembut, meski hanya sesaat.
Bayu melongokkan kepalanya dari balik bahu Dimas, matanya mengerjap-ngerjap kecewa. Ekspresi di wajahnya berubah dari tegang menjadi kempes seperti balon bocor. "Lho, Mbak... Kirain mau ambil peti permata atau koin emas peninggalan kerajaan kuno yang bisa buat bayar kos tiga bulan sama traktir gorengan sebaskom. Ternyata cuma gulungan kain lap?"
Zahmira langsung menoleh tajam, menatap Bayu dengan sorot mata yang membuat pemuda itu spontan menutup mulut rapat-rapat dan mundur selangkah sampai punggungnya menempel dinding yang dingin. "Ini bukan kain lap, manusia bodoh! Ini adalah gulungan peta peninggalan leluhurku! Jaga mulutmu kalau tidak mau kuubah jadi patung kendi di sudut itu!"
"Oh... Peta pusaka," gumam Bayu pelan, lalu berbisik kepada Dimas dengan suara super kecil yang hampir tidak terdengar. "Kira-kira bisa digadai di pegadaian desa nggak ya? Lumayan buat bayar kos."
"Kalau kamu mau pulang tinggal nama, silakan coba tanya langsung ke dia," balas Dimas datar, sambil melirik Zahmira yang masih mengelus kotak kayunya dengan penuh sayang.
Raka maju mendekat sedikit, menjaga jarak aman agar tidak menyinggung harga diri sang putri jin. Iya mencoba melihat lebih jelas gulungan itu, tapi kainnya tergulung rapat dan diikat dengan tali emas kecil yang berkilau. "Sebenarnya, barang apa itu, Mbak Zahmira? Kenapa harus diambil dulu sebelum kita pergi?"
Zahmira menaruh kembali gulungan itu ke dalam kotak, lalu menutupnya rapat-rapat dengan bunyi klik pelan. Ia memeluk kotak itu dengan satu tangan, seperti anak kecil memeluk boneka kesayangan yang tidak boleh direbut orang lain. "Benda ini adalah penuntun arahku selama perjalanan. Tanpa benda ini, aku tidak bisa menemukan jalan kembali ke duniaku.
Tapi benda ini saja tidak cukup. Aku masih harus mencari cara lain. Jalan pulangku belum terbuka sempurna."
"Jadi Mbak memang lagi nggak bisa pulang sekarang?" tanya Raka pelan, menangkap celah dari kalimat Zahmira. "Makanya Mbak masih di sini?"
Zahmira terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkedut, menunjukkan bahwa pertanyaan Raka baru saja menyentuh bagian paling sensitif dari masalah yang sedang dihadapinya. Tangannya yang memegang kotak sedikit mengencang. Namun ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas pendek dan memalingkan wajah.
Saat itu perut Bayu berbunyi lagi, lebih kencang dari sebelumnya. Krucukkk... Suaranya menggema di ruangan kecil itu, memecah keheningan.
"Aduh, maaf, Mbak Ratu, bukan komat-kamit manggil jin, ini perut saya asli minta diisi dari siang belum makan nasi," kata Bayu sambil memegang perutnya yang melilit dan meringis.
Raka menghela napas panjang. Ia melihat jam di HP-nya yang sudah lowbat dan layarnya retak di ujung.
"Udah jam delapan lewat, Bay. Kita harus balik ke kos sekarang. Kalau kelamaan di sini, Bu Ratna bisa ngamuk karena kita belum balik. Pintu gang dikunci jam sembilan, kalau dikunci kita tidur di luar pos ronda."
Mendengar kata pulang, Zahmira yang tadinya membuang muka, tiba-tiba menoleh dengan cepat. Matanya membelalak sedikit.
"Pulang? Kalian mau pergi ke mana? Mau meninggalkan aku sendiri di sini?" tanya Zahmira dengan nada tinggi, setengah panik setengah angkuh.
Suaranya sedikit bergetar meski iya mencoba terdengar galak dan berwibawa.
"Ke kos kami, Mbak. Tempat sempit yang tadi kami ceritakan. Kos nomor empat di gang Bu Ratna," jawab Raka jujur.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Zahmira lagi, kini suaranya lebih pelan tapi masih menahan gengsi. "Aku tidak mungkin tinggal sendirian di rumah berdebu ini!
Tempat ini sudah tidak aman lagi karena kalian sudah menginjaknya dan mengotori energinya! Kalian harus bertanggung jawab!"
Raka, Bayu, dan Dimas saling berpandangan. Mereka baru sadar, putri jin di depan mereka ini sebenarnya tidak punya tempat lain untuk pergi malam ini. Wajah angkuhnya itu ternyata menyembunyikan kebingungan dan sedikit takut.
"Jadi... Mbak mau ikut kami ke kos?" tanya Dimas ragu-ragu, memastikan ia tidak salah dengar.
"Bukan mau!" sahut Zahmira cepat, dagunya terangkat tinggi untuk menutupi rasa canggungnya. Pipi pucatnya sedikit memerah. "Aku terpaksa ikut kalian!
Karena kalian yang sudah mengotori tempat istirahatku, kalian yang harus menjaga keselamatanku sampai aku menemukan jalan pulang! Anggap saja itu hukuman untuk kalian karena sudah lancang masuk ke rumahku!"
Bayu ingin protes karena kos mereka sudah sempit untuk bertiga, tapi Raka buru-buru memotong dengan mengangguk pasrah. "Ya sudah, Mbak ikut dulu saja ke kos. Tapi kos kami sempit, cuma satu kamar isinya bertiga, kasurnya juga tipis."
"Sudah cukup basa-basinya," kata Zahmira dingin sambil melangkah melewati mereka, kotak kayu masih ia peluk erat di dadanya. "Tunjukkan jalannya sekarang. Kakiku lelah berdiri di tempat kotor ini."
Tiga pemuda itu menghela napas bersamaan, napas panjang yang berat dan penuh kebingungan. Misi awal mereka datang ke rumah tua ini untuk mencari besi rongsokan demi membayar uang kos. Namun, kenyataannya kini justru jauh di luar nalar: mereka harus membawa pulang seorang putri jin angkuh bergaun ungu ke kamar kos sempit nomor empat, lengkap dengan kotak kayu pusakanya yang misterius.
Perjalanan keluar dari rumah tua menuju jalanan dusun berlangsung dalam keheningan yang canggung.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit, dan suasana Desa Kertajaya mulai lengang. Hanya ada beberapa warung yang masih buka dengan lampu minyak temaram. Lampu-lampu jalan yang kuning redup menemani langkah kaki mereka menyusuri jalan berbatu yang berlubang di sana-sini. Suara jangkrik dan katak mulai terdengar dari sawah di samping jalan. Zahmira berjalan di tengah-tengah dengan langkah anggun, kotak kayu ia dekap erat, sementara Raka, Bayu, dan Dimas mengawalnya dari samping layaknya pengawal amatir yang kebingungan.
Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin dan aroma tanah basah dari sawah. Raka berjalan paling depan sambil menenteng senter HP yang cahayanya sudah mulai redup, Bayu di belakangnya masih memegangi perut lapar, dan Dimas di samping Zahmira yang terus memeluk kotaknya.