Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Drama Suami Istri di Depan Keluarga
Menjelang siang, Nic sedang berada di ruang tengah apartemen ketika ponselnya berdering.
Nama Mama muncul di layar.
Nic langsung mengangkatnya.
“Halo, Ma.”
“Nic, kamu di mana?” suara Marry terdengar dari seberang.
“Di apartemen.”
“Jove di mana?”
Nic melirik ke arah kamar Jove yang pintunya tertutup.
“Di kamar.”
“Kalau begitu kalian datang ke rumah Mama, ya.”
Nic menghela napas pelan.
“Ma, kami baru saja menikah. Kami ingin menikmati waktu berdua di apartemen.”
“Menikmati waktu berdua bagaimana? Mama justru kesepian di rumah.”
Nic terdiam.
Ia sudah bisa membayangkan ibunya sedang merengek seperti biasanya.
“Ma, nanti saja kami datang.”
“Tidak mau.”
“Ma…”
“Bawa Jove sekarang. Mama ingin makan siang bersama kalian.”
Nic mengusap wajahnya.
“Jove mungkin ingin istirahat.”
“Nic, Mama cuma minta makan siang bersama anak Mama. Masa tidak boleh?”
Nic kembali menghela napas.
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu datanglah.”
Nic tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Baiklah, nanti aku bicara dengan Jove.”
“Jangan nanti. Sekarang.”
“Ma…”
“Ya sudah, Mama tunggu kalian.”
Sambungan telepon terputus.
Nic menatap ponselnya beberapa saat.
Ia sebenarnya sudah menduga Marry akan meminta mereka datang. Tetapi karena mereka baru saja pindah ke apartemen, Nic berharap mereka bisa menikmati waktu sendiri selama masa cuti tanpa harus terus berpura-pura di depan keluarga.
Ia bahkan sengaja mengatakan kepada Marry bahwa mereka ingin menghabiskan waktu di apartemen agar ibunya tidak terlalu sering meminta mereka datang.
Namun rupanya Marry tidak mudah menyerah.
Belum sempat Nic memberitahu Jove, sebuah pesan justru masuk ke ponsel Jove
Bukan dari keluarganya. Melainkan dari Marry, ibu mertuanya.
Di kamar, Jove yang sedang duduk santai di tepi tempat tidur mengambil ponselnya ketika mendengar notifikasi.
Ia membuka pesan tersebut.
‘Jove sayang, Mama kesepian. Mainlah ke rumah Mama sekarang, Mama akan menyuruh chef untuk memasak yang kamu suka.’
Jove membaca pesan itu beberapa kali.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi hatinya.
Ia baru beberapa hari menjadi menantu keluarga Alvarendra, tetapi Marry sudah memperlakukannya begitu dekat.
Bahkan untuk mengajaknya makan siang saja, Marry sampai mencari tahu makanan kesukaannya.
Jove mengembuskan napas pelan.
Ada rasa tidak tega jika harus menolak.
Ia meletakkan ponselnya, kemudian bangkit dari tempat tidur.
Setelah keluar kamar, Jove berjalan menuju kamar Nic.
Ia berhenti di depan pintu kamar pria itu.
Jove mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.
Tok. Tok.
Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Nic cukup terkejut ketika melihat Jove berdiri di depan kamarnya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Mama mengirimiku pesan, meminta kita makan siang di rumahnya.”
Nic mengembuskan napas berat.
“Tadi juga Mama sudah meneleponku dan aku menolaknya.”
“Kenapa?” tanya Jove.
“Aku takut kamu tidak nyaman.”
Jove mengangguk samar.
“Kita ke rumahmu. Aku tidak enak pada Mamamu.”
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nic memastikan.
“Tidak ada salahnya. Malah jika kita menolak, akan membuat orang curiga.”
Nic pun sependapat.
“Baiklah. Bersiaplah. Satu jam lagi kita berangkat.”
Jove mengangguk.
“Aku akan membalas pesan Mama dulu.”
Mereka kemudian kembali masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap.
Jove mengambil ponselnya dan membalas pesan Marry.
Iya, Ma. Aku akan ke sana bersama Nic. Tunggu aku, ya.
Balasan Marry datang hampir seketika.
‘Baik, Sayang. Mama tunggu. Hati-hati di jalan. ❤️’
Jove tersenyum kecil membaca pesan itu.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Marry memperlakukannya.
Hangat.
Seolah-olah Jove memang sudah menjadi bagian dari keluarga itu sejak lama.
Satu jam kemudian, Jove keluar dari kamarnya.
Ia mengenakan dress berwarna pastel yang sederhana tetapi tetap terlihat elegan. Riasan di wajahnya tipis, sementara rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
Nic sudah menunggunya di ruang televisi.
Pria itu sempat terdiam ketika melihat Jove.
Ia sudah melihat perempuan itu dalam berbagai penampilan.
Setelan formal ketika bekerja.
Dress cantik ketika menghadiri acara keluarga.
Bahkan pakaian rumahan yang begitu sederhana.
Anehnya, Jove selalu terlihat berbeda dalam setiap penampilannya.
Tidak banyak bicara, Jove berjalan mendekatinya.
“Ayo.”
Nic mengangguk.
Ia mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.
Mereka keluar dari apartemen bersama.
Setibanya di rumah keluarga Alvarendra, Nic memarkirkan mobil di halaman.
Namun keduanya belum langsung turun.
Mereka masih duduk di dalam mobil.
Nic memandang Jove.
“Sudah siap?”
Jove tahu maksud pertanyaan itu.
Setiap kali mereka berada di depan keluarga, mereka harus kembali menjalankan peran sebagai pasangan yang bahagia.
Jove mengangguk samar.
“Sudah.”
Nic mematikan mesin mobil.
Ia kemudian turun lebih dulu dan berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu Jove.
Jove turun.
Nic mengulurkan tangannya.
Jove menatap tangan itu sesaat, lalu menyambutnya.
Jari-jari mereka bertaut.
Mereka berjalan memasuki halaman rumah bersama.
Marry yang sejak tadi sudah menunggu di teras langsung tersenyum lebar begitu melihat mereka.
“Akhirnya kalian datang juga!”
Marry segera menghampiri.
Tanpa ragu, ia langsung merangkul lengan Jove hingga pegangan tangan Jove dan Nic terlepas.
“Ma, yang anak Mama ini aku,” protes Nic ketika melihat sang Mama lebih memilih Jove daripada dirinya.
Marry menatap putranya sekilas.
“Tidak lagi, Nic.”
Nic mengerutkan kening.
“Sejak kamu menikah, anak Mama ya Jovelyn.”
Jove hanya bisa menahan senyum.
Nic menghela napas.
“Cepat sekali aku digantikan.”
Marry tertawa kecil sambil tetap menggandeng Jove.
“Jangan cemburu. Kamu tetap anak Mama.”
“Katanya sudah digantikan.”
“Sudah, jangan banyak protes.”
Jove semakin sulit menahan senyumnya.
Suasana yang begitu hangat membuatnya merasa nyaman.
Tak lama kemudian Arman datang dari arah dalam rumah.
Rupanya setelah diberi tahu oleh Marry bahwa Jove dan Nic akan makan siang di rumah, pria itu langsung mengosongkan jadwalnya.
Ia bahkan memilih meninggalkan kesibukan di kantor hanya untuk makan siang bersama anak dan menantunya.
“Anak Papa akhirnya datang juga.”
Arman tersenyum lebar kepada Jove.
Jove membalas senyumnya.
“Siang, Pa.”
“Papa kira kalian tidak jadi datang.”
“Tadi sebenarnya Nic sempat menolak,” jawab Jove.
Arman langsung menoleh kepada putranya.
“Kamu menolak?”
Nic tersenyum kecil.
“Bukan menolak, Pa. Aku hanya berpikir Jove mungkin ingin istirahat di apartemen.”
Marry langsung menyela.
“Untung Jove tidak mengikuti suaminya.”
“Ma,” protes Nic.
Semua tertawa.
Jove hanya tersenyum.
Ada sesuatu yang membuat hatinya terasa hangat sejak memasuki rumah itu.
Ia tidak pernah menyangka setelah menikah, dirinya akan mendapatkan keluarga yang begitu menerima kehadirannya.
Makan siang pun dimulai.
Begitu Jove duduk di meja makan, matanya langsung berbinar melihat berbagai hidangan yang tersaji.
Lobster.
Cumi goreng tepung.
Udang.
Ikan.
Dan berbagai macam hidangan seafood lainnya.
Jove menatap meja makan dengan wajah senang.
“Mama tahu aku suka seafood?” tanyanya.
Marry tersenyum.
“Tentu saja Mama tahu.”
Jove menatapnya.
“Tadi Mama menelepon Mommymu. Mama menanyakan apa makanan kesukaanmu.”
Jove tersenyum semakin lebar.
“Terima kasih ya, Ma.”
“Jangan sungkan, Sayang. Ayo makan.”
Jove mengambil sedikit lobster dan mulai menikmatinya.
Sementara itu, Nic memperhatikan dari tempat duduknya.
Ia kembali melihat sisi lain dari Jove.
Perempuan yang biasanya terlihat tenang dan sulit ditebak itu ternyata bisa terlihat begitu bahagia hanya karena melihat makanan kesukaannya.
Nic tersenyum tipis.
Sekarang ia tahu satu hal lagi tentang istrinya.
Jove menyukai seafood.
Dan entah mengapa, seperti beberapa hal kecil lainnya, informasi itu kembali tersimpan begitu saja di kepalanya.
Tanpa Nic sadari, ia mulai menghafal kebiasaan-kebiasaan kecil perempuan yang sekarang menjadi istrinya.
Padahal mereka sudah sepakat untuk menjalani kehidupan masing-masing.
Dan seharusnya, hal-hal kecil seperti itu bukan sesuatu yang perlu ia ingat.