NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden abu-abu di kamar itu terasa seperti jarum yang menusuk tepat ke retina Naya. Ia mengerang tertahan, buru-buru menarik selimut tebal ke atas kepalanya. Namun, gerakan sekecil itu saja sudah cukup untuk memicu dentuman dahsyat di dalam tengkoraknya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada sekelompok orang yang sedang menabuh genderang perang di dalam otaknya.

Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir, dan perutnya masih menyisakan gejolak mual yang tidak menyenangkan. Efek samping dari Tequila murah dan patah hati yang brutal rupanya bukan kombinasi yang bisa dimaafkan oleh tubuhnya yang sudah menginjak usia dua puluh enam tahun.

Dengan mata yang masih menyipit menahan silau, Naya menyibak selimut dan memaksa dirinya duduk. Ia menunduk, menatap pakaian yang melekat di tubuhnya. Kaus oblong kebesaran berwarna putih pudar bertuliskan 'I Woke Up Like This' dan celana pendek berbahan kaus. Ini jelas bukan pakaiannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dinding bercat krem, aroma vanilla musk dari diffuser di sudut meja, dan tumpukan novel fiksi di rak buku sebelah ranjang.

Kamar tamu di rumah Nessa.

Naya menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut. Kepingan-kepingan ingatan dari malam tadi mulai bermunculan satu per satu, menyusun sebuah film pendek yang mengerikan di kepalanya. Hujan deras. Apartemen. Kotak Tiramisu yang basah. Suara erangan dari balik pintu kamar. Pakaian dalam berenda merah di atas karpet.

Dada Naya kembali terasa sesak. Rasa sakit yang semalam ia coba tenggelamkan dengan alkohol kini muncul kembali ke permukaan, lebih nyata dan lebih tajam. Tiga tahun kebersamaannya dengan Reno berakhir menjadi lelucon paling tragis dalam hidupnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan agar air matanya tidak kembali jatuh. Ia sudah menghabiskan kuota tangisannya semalam suntuk; ia menolak untuk menangisi pria brengsek itu lagi pagi ini.

Namun, saat Naya mencoba mengingat bagaimana ia bisa sampai ke kasur ini, potongan memori lain yang jauh lebih memalukan mendadak menghantam kepalanya tanpa ampun.

Ia ingat menekan kode sandi rumah Nessa. Ia ingat masuk ke dalam kegelapan. Dan... seorang pria. Pria jangkung di dapur. Pria dengan bahu lebar dan aroma cedarwood yang maskulin. Naya melebarkan matanya saat rentetan kalimat bodoh yang ia racaukan semalam terngiang kembali di telinganya.

"Berapa Nessa bayar kamu, huh?" "Pelayanannya... lumayan juga."

Naya mengerang frustrasi, menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kasur dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal. "Mati saja kau, Naya. Mati saja," rutuknya pada diri sendiri.

Bagaimana mungkin ia bisa menuduh pria asing di rumah sahabatnya sebagai pria panggilan? Dan yang lebih parah, siapa sebenarnya pria itu? Apakah Nessa benar-benar... ah, tidak mungkin. Secentil apa pun Nessa, sahabatnya itu terlalu pelit untuk menyewa pria hanya demi memijat bahunya.

Setelah mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang berserakan, Naya menyingkirkan bantal dari wajahnya dan beringsut turun dari ranjang. Kakinya masih terasa sedikit lemas saat ia melangkah menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamar tersebut.

Begitu ia menghidupkan lampu dan menatap pantulan dirinya di cermin di atas wastafel, Naya nyaris menjerit ngeri. Wajahnya terlihat seperti zombi yang kekurangan jam tidur bertahun-tahun. Matanya bengkak parah dengan lingkar hitam yang tercetak jelas di bawahnya, kulitnya pucat, dan rambutnya mengembang tidak keruan bak singa yang baru tersambar petir.

"Luar biasa. Penampilan yang sangat pantas untuk seorang wanita yang baru diselingkuhi," gumam Naya sarkas.

Ia segera memutar keran, mencuci wajahnya dengan air dingin berkali-kali hingga suhu tubuhnya terasa lebih normal. Naya membuka laci kabinet wastafel Nessa, mencari sesuatu yang bisa menyelamatkan wajahnya. Ia menemukan sebuah clay mask di sana—masker wajah yang sering mereka gunakan bersama saat menginap. Tanpa pikir panjang, Naya mengoleskan masker itu tebal-tebal di area bawah mata dan pipinya yang membengkak, berharap sensasi dingin dari tanah liat itu bisa menarik keluar jejak kesedihan dan mabuknya semalam. Setelah menunggu beberapa menit dan membilasnya bersih, ia menepuk-nepukkan serum penenang kulit andalan Nessa ke wajahnya. Setidaknya, sekarang ia terlihat sedikit lebih mirip manusia.

Naya mengikat rambutnya asal-asalan menjadi cepol berantakan di atas kepala, lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Samar-samar, dari arah lantai bawah, indera penciumannya menangkap aroma yang sangat menggugah selera. Perpaduan antara roti panggang, mentega yang dilelehkan, dan aroma pekat kopi hitam. Perut Naya bergemuruh seketika, menuntut untuk diisi.

Dengan langkah pelan, Naya menuruni anak tangga satu per satu. Suasana lantai bawah sudah terang benderang oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di ruang tamu.

Di ruang tengah, Naya menemukan Nessa sedang duduk bersila di atas karpet bulu yang tebal. Sahabatnya itu mengenakan piyama satin berwarna hijau zamrud yang mencolok. Ponselnya digenggam erat dalam posisi horizontal, sementara kedua ibu jarinya bergerak dengan kecepatan penuh di atas layar.

"Maju woy, tank-nya mana sih?! Astaga, buta map banget sih tim gue! Lord-nya dijagain, heh!" teriakan Nessa menggema ke seluruh ruangan, sepenuhnya terserap ke dalam pertempuran sengit di layar ponselnya.

Naya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan sahabatnya. Sejak kuliah, bermain game mobile memang menjadi pelarian utama Nessa jika sedang stres, dan tampaknya kebiasaan itu belum berubah.

Naya berjalan gontai menghampiri sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana, tepat di belakang punggung Nessa.

"Nes... air putih dong. Serak banget tenggorokan gue," keluh Naya dengan suara parau.

Nessa bahkan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar. "Ambil sendiri di dapur, Nay. Tanggung nih, musuhnya sisa satu di base! Jangan ganggu konsentrasi gue, ini match penentuan naik rank!"

Naya mendengus kesal. Ia memeluk sebuah bantal sofa ke dadanya. Ingatan tentang pria semalam kembali melintas, mengalahkan rasa hausnya. Ini saat yang tepat untuk menuntut penjelasan dari sahabatnya yang gila ini.

"Nes, gue mau nanya serius," Naya memulai, nadanya menuntut. "Senekat-nekatnya lo sebagai jomlo menahun, masa lo beneran sampai nyewa cowok panggilan sih semalam? Bawa ke rumah pula. Lo nggak takut dia perampok berkedok gigolo apa?"

Pergerakan ibu jari Nessa di atas layar mendadak terhenti total. Karakter di dalam game-nya mungkin saja baru terbunuh, namun Nessa sama sekali tidak peduli. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Naya dengan dahi berkerut dalam dan ekspresi yang sulit diartikan.

"Hah? Lo ngomong apa sih, Nay? Cowok sewaan apa? Otak lo ketinggalan di botol Tequila semalam?" tanya Nessa dengan nada tinggi, menatap Naya seolah sahabatnya itu baru saja berbicara menggunakan bahasa alien.

Naya berdecak sebal. "Nggak usah ngeles deh. Semalam waktu gue datang, ada cowok jangkung di dapur lo. Lo kan kemarin sore baru aja ngeluh pengen nyewa cowok tampan buat mijetin bahu lo. Ngaku aja, itu beneran cowok pesanan lo kan?"

Keheningan yang mencekam tiba-tiba turun menyelimuti ruang tamu itu. Mulut Nessa sedikit terbuka, matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya melebar sempurna, seolah baru saja menyadari sebuah fakta yang sangat mengerikan.

Namun, sebelum Nessa sempat membuka suara untuk membela diri, suara bariton yang berat, dalam, dan terlampau tenang mengalun dari arah belakang Naya.

"Jadi, semalam Kakak benar-benar mengira aku ini pria panggilan?"

Darah di tubuh Naya seolah berhenti mengalir saat itu juga. Jantungnya anjlok hingga ke dasar perut. Perlahan, sangat perlahan bagaikan di dalam film horor, Naya menoleh ke arah sumber suara.

Di ambang batas antara ruang keluarga dan dapur bersih, berdiri seorang pria.

Pria itu mengenakan kaus polos lengan pendek berwarna hitam yang mencetak jelas bahunya yang lebar dan lengannya yang kokoh. Rambut hitamnya masih sedikit basah, air menetes pelan dari ujung rambutnya turun ke leher jenjangnya. Di tangan kanannya, ia memegang dua buah cangkir keramik yang mengepulkan asap tipis beraroma kopi pekat.

Naya mematung. Napasnya tertahan.

Di bawah cahaya pagi yang benderang, Naya akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan sangat jelas. Rahang yang tegas bak pahatan patung Yunani kuno, hidung yang bangir sempurna, dan sepasang mata legam yang kini menatap lurus ke arah Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya mendadak lemas.

Pria itu... wajah itu... Naya mengenalnya. Sangat mengenalnya, namun sekaligus terasa sangat asing.

"K-Kafka...?" suara Naya keluar tidak lebih dari sebuah bisikan yang gemetar.

Pria di hadapannya menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis. Senyum yang entah mengapa membuat debar jantung Naya semakin tidak karuan.

Itu Kafka. Adik kandung Nessa. Anak laki-laki kurus, berambut ikal berantakan, dan canggung yang terakhir kali Naya lihat lima tahun lalu di bandara Soekarno-Hatta sebelum berangkat ke London untuk menempuh pendidikan sarjananya.

Namun, pria yang berdiri di hadapannya saat ini sama sekali bukan anak laki-laki itu. Transformasinya terlalu drastis. Bahu kurus itu kini digantikan oleh dada bidang yang semalam tanpa sengaja Naya tabrak. Wajah kekanakan itu kini dipenuhi garis-garis kedewasaan maskulin yang sangat tajam. Aura yang dipancarkannya bukan lagi adik sahabatnya yang sering Naya suruh membelikan martabak, melainkan aura seorang pria dewasa yang mengintimidasi.

Nessa yang masih duduk di atas karpet tiba-tiba memecahkan keheningan dengan tawa yang meledak begitu keras hingga ia harus memegangi perutnya.

"Astaga naga, Naya! Lo ngira Kafka itu gigolo?!" Nessa tertawa hingga berguling di atas karpet, air mata menyudut di matanya. "Ya Tuhan, Kafka baru mendarat semalam dari London, langsung lo tuduh jadi cowok sewaan gue?! Gila, perut gue sakit banget!"

Wajah Naya seketika memerah padam, semerah tomat rebus. Rasa malu yang luar biasa menyengat wajah hingga ke telinganya. Jika ada tombol untuk meledakkan bumi saat ini juga, Naya pasti sudah menekannya berkali-kali tanpa ragu.

Kafka mengabaikan tawa kakaknya yang menggelegar. Ia melangkah maju dengan tenang, mendekati sofa tempat Naya duduk mematung. Setiap langkah Kafka memancarkan dominasi yang membuat Naya tanpa sadar menahan napas. Aroma cedarwood dan mint yang bercampur dengan wangi sabun mandi menguar kuat dari tubuh pria itu, membawa kembali memori pelukan tak terduga semalam.

Kafka meletakkan salah satu cangkir kopi di atas meja kaca tepat di hadapan Naya. Alih-alih langsung berdiri tegak, Kafka mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu tangannya di sandaran sofa, tepat di sebelah bahu Naya. Jarak mereka menjadi sangat dekat. Terlalu dekat. Naya bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria itu dan melihat dengan jelas bayangan dirinya sendiri di mata hitam Kafka yang menatapnya tanpa kedip.

Naya menelan ludah dengan susah payah. Otaknya memerintahkan tubuhnya untuk mundur, menjauh untuk menjaga jarak aman, namun entah mengapa tubuhnya menolak bekerja sama. Ia terpaku pada tatapan mata pria itu.

"Ini kopi hitamnya, tanpa gula, seperti yang biasa Kak Naya suka," suara Kafka terdengar rendah dan bergetar tepat di depan wajah Naya, menyapu permukaan kulit wanita itu hingga membuat bulu kuduknya meremang.

Kafka memiringkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Naya. Gerakan itu begitu pelan dan terukur.

"Omong-omong," bisik Kafka, nadanya berubah menjadi bisikan parau yang dipenuhi nada menggoda yang berbahaya. "Kalau aku memang pria panggilanmu semalam... apa pelayananku benar-benar memuaskan, Kak?"

Waktu seakan berhenti. Ruangan itu mendadak kehilangan pasokan oksigennya. Jantung Naya yang semula berdetak lambat karena efek alkohol kini berpacu dengan kecepatan penuh, memompa darah dengan liar hingga wajahnya terasa panas membakar. Di tengah kehancuran hatinya akibat pengkhianatan Reno, Naya sama sekali tidak menduga bahwa ujian terbesarnya pagi ini justru datang dari adik sahabatnya sendiri. Adik sahabatnya yang kini menatapnya dengan tatapan lapar yang tidak berusaha ia sembunyikan sama sekali.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!