NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kode dinding es

Aris mendekati Wali Kota yang sudah terduduk lemas di sudut ruangan. Aris memegang kerah mantel wol mahal milik Wali Kota, menariknya berdiri dengan kasar.

"Dengar, Tuan Wali Kota!" gertak Aris, napasnya keluar dalam bentuk uap putih yang tebal. "Kita punya waktu kurang dari lima menit sebelum paru-paru kita membeku total di sini.

Orang di luar sana sengaja mengunci pintu ini untuk menghabisi kita semua, termasuk Anda, agar tidak ada saksi yang tersisa!" Wali Kota mendongak, matanya yang mulai sayu memancarkan ketakutan.

Dia menyadari kebenaran ucapan Aris; faksi di luar telah mengkhianatinya demi mengubur konspirasi ini selamanya.

"Panel... panel darurat," bisik Wali Kota dengan suara menahan dingin, tangannya menunjuk ke arah kotak besi di samping brankas dinding yang terbuka. "Di balik tuas sakelar utama... ada tombol bypass manual."

Aris membiarkan Wali Kota merosot kembali ke lantai. Dia bergerak cepat menuju panel besi tersebut. Menggunakan ujung pisau saku miliknya, Aris mencungkil penutup kotak besi yang sudah mulai dilapisi es.

Di dalamnya, papan ketik angka peninggalan renovasi gudang akhir era 80-an.

"Berapa kodenya?!" tuntut Aris, jemarinya yang mulai mati rasa bersiap di atas tombol-tombol karet. "Satu... sembilan... lima... sembilan," sebut Wali Kota terbata-bata. Tahun kebakaran lahan Desa Talas. Angka kutukan itu ternyata menjadi kunci rahasia bagi pelarian mereka malam ini.

Aris menekan tombol 1-9-5-9 diikuti oleh hantaman keras telapak tangannya pada sakelar merah di bawahnya.KLIK... BZZZZZT!Suara dengung mesin kompresor pendingin di langit-langit mati total.

Detik berikutnya, bunyi hantaman hidrolik yang berat dari arah pintu baja utama. Pengunci elektronik eksternal terbuka secara paksa dari dalam. Pintu baja itu perlahan merenggang, membiarkan embusan udara dari luar masuk dan mencairkan kabut es di dalam ruangan.

Kegembiraan itu tertahan ketika Aris melihat siluet tiga orang pria bersenjata laras panjang sudah berdiri siaga di balik celah pintu yang terbuka, siap menyambut siapa pun yang berhasil keluar hidup-hidup dari dalam ruang pembekuan.

Aris bertindak secepat kilat. Otaknya yang terlatih menolak menjadikan Wali Kota yang sudah lemas dan tak berdaya sebagai tameng; pria tua itu bisa pingsan atau tertembak mati sebelum mereka sempat melangkah keluar, menghancurkan statusnya sebagai saksi kunci di pengadilan kota.

Aris melihat sebuah tabung gas pemadam api (APAR) berwarna merah yang tergantung di dekat panel kontrol es. Aris meraihnya, mencabut segel pengamannya, lalu dengan sisa seluruh tenaga di lengannya, dia melempar kan tabung gas itu melewati celah pintu baja tabung merah itu menggelinding deras ke tengah-tengah kaki tiga pria bersenjata di luar.

Sebelum mereka sempat bereaksi atau mundur, Aris membidikkan revolver .38 miliknya melintasi celah pintu. DOR! Peluru tajam menghantam tepat pada katup tekanan tinggi tabung pemadam tersebut. BOOOOSH! Tabung itu meledak tekanan gas CO2 dan bubuk kimia putih pekat dalam volume masif.

Dalam hitungan detik, seluruh koridor luar gudang pendingin daging tertutup kabut putih tebal, membutakan pandangan ketiga pria bersenjata tersebut. Suara batuk-batuk histeris dan tembakan senapan yang membabi buta ke segala arah. RATATATATATAT! Aris memanfaatkan kekacauan tersebut.

Sembari memegang erat catatan suap asli di balik jaket kulit, dia merunduk rendah, mencengkeram kerah mantel Wali Kota, dan menyeret pria itu keluar melewati lantai beton yang diselimuti kabut putih tebal.

Langkah kakinya bergerak taktis ingatan arah menuju jalur evakuasi kontainer tua tempat jip patrolinya terparkir.

Di belakang mereka, Drs. Mulya yang ditinggalkan di atas meja stainless steel menghembuskan napas terakhirnya.

menyisakan sang Wali Kota sendirian untuk mempertanggungjawabkan kasus Uang Darah Sepuluh Ribu Rupiah ini di hadapan hukum negara yang sesungguhnya.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!