Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Reyhan membungkuk canggung lalu bergegas pergi meninggalkan lobi restoran itu setengah berlari.
Dia bahkan tidak berani menoleh sedikit pun ke arah Lamborghini Urus hitam saat mengambil mobilnya dari petugas valet.
Kepergian Reyhan yang memalukan itu membuat orang tua Siska kehilangan kata-kata.
Mereka baru saja hampir menjodohkan putri tunggal mereka dengan seorang pria penuh hutang yang gila pamer.
Dan ironisnya, pemuda yang baru saja mereka hina habis-habisan ternyata adalah miliarder sesungguhnya yang sangat rendah hati.
Siska yang sejak tadi duduk mematung di sebelah Bima akhirnya bisa mengatur kembali napasnya.
Dia menatap profil wajah Bima dari samping dengan pandangan kagum yang tak terlukiskan.
'Ternyata Kak Bima benar-benar bukan dosen biasa, dia jauh lebih luar biasa dari yang kubayangkan,' batin Siska penuh kekaguman.
Bima menepuk pelan tangan Siska yang masih mengait di lengannya.
"Tugas pacar palsu selesai," bisik Bima pelan agar hanya didengar oleh Siska.
Siska mengangguk cepat dengan wajah merona merah.
Bima mengalihkan pandangannya kembali menatap orang tua Siska yang kini terlihat sangat canggung dan serba salah.
"Om, Tante, karena calon kencan Siska sudah pulang duluan, sepertinya acara malam ini batal," ucap Bima dengan nada sangat sopan.
Ibu Siska buru-buru memaksakan senyum ramahnya yang terlihat kaku.
"T-tidak batal kok Nak Bima, kita masih bisa makan malam bersama sebagai keluarga."
"Tante sudah memesan meja VIP di dalam, ayo kita masuk dan mengobrol lebih akrab lagi."
Sikap menjilat yang sangat cepat berubah ini membuat Bima merasa sedikit muak di dalam hatinya.
Ini adalah bukti nyata betapa hipokritnya tatanan sosial yang hanya mendewakan harta kekayaan semata.
"Mohon maaf Tante, tapi saya dan Siska ada urusan lain malam ini," tolak Bima secara halus namun tegas.
"Kami baru ingat ada tugas kampus yang harus diselesaikan bersama."
Ayah Siska yang menyadari bahwa Bima sengaja menolak mereka hanya bisa menelan kepahitannya sendiri.
"B-baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Nak Bima," ucap ayah Siska dengan suara pelan dan menunduk.
"Tolong jaga putri kami dengan baik."
Bima berdiri dari sofa dan membantu Siska berdiri dengan gerakan pria sejati yang sangat elegan.
"Pasti, Om."
Bima dan Siska melangkah pergi meninggalkan lobi restoran tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi.
Orang tua Siska hanya bisa menatap punggung Bima yang menjauh dengan perasaan penyesalan yang teramat sangat.
Mereka baru saja membuang kesempatan emas untuk memiliki menantu seorang miliarder super kaya raya hanya karena menilai orang dari pakaiannya.
Ting.
Suara mekanis dari sistem terdengar nyaring di kepala Bima saat mereka melangkah keluar dari restoran.
[Sistem Pekerjaan Impian Evaluasi Misi Sampingan.]
[Misi berhasil diselesaikan dengan hasil sempurna menghancurkan mental pria sombong tanpa ampun.]
[Hadiah tambahan loyalitas sosial dan perlindungan reputasi VIP kota berhasil diaktifkan.]
Bima tersenyum tipis mendengar rentetan notifikasi kemenangan tersebut.
Udara malam kota terasa sangat menyegarkan saat Bima dan Siska berdiri di samping Lamborghini Urus yang gagah itu.
Petugas valet yang berjaga langsung membungkuk hormat saat melihat Bima mendekat.
"Terima kasih, Tuan," sapa petugas itu.
Bima mengangguk pelan lalu membukakan pintu penumpang untuk Siska.
Siska masuk ke dalam kabin mobil mewah itu dengan perasaan yang masih melayang seperti sedang bermimpi.
Aroma kulit premium yang sangat mahal menyapu indra penciumannya.
Cklik.
Bima duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin monster besi tersebut.
"Kak Bima," panggil Siska pelan memecah keheningan kabin.
"Ya?" sahut Bima sambil memutar kemudi.
"Kakak ini sebenarnya siapa?"
"Dosen pengganti, miliarder yang menyamar, atau agen rahasia negara?" tanya Siska dengan mata bulat yang polos.
Bima tertawa lepas mendengar rentetan tebakan imajinatif dari mahasiswinya ini.
"Aku ini pengangguran beruntung yang kebetulan disuruh oleh sesuatu yang tidak terlihat untuk menjadi dosen kalian minggu ini," jawab Bima jujur meski tahu Siska tidak akan percaya.
"Alasan yang buruk sekali," gerutu Siska sambil mengerucutkan bibirnya menggemaskan.
"Tapi Kak, terima kasih banyak untuk bantuan malam ini."
"Kalau Kakak tidak datang, aku pasti sudah dipaksa bertunangan dengan dokter penuh hutang itu."
Bima menganggukkan kepalanya santai.
"Sama-sama, melihat wajah hancur pria kacamata tadi juga menjadi hiburan tersendiri buatku."
Siska tersenyum lebar dan menyandarkan punggungnya di jok yang empuk.
"Sebagai tanda terima kasih, aku yang traktir jalan-jalan malam ini ya Kak."
"Kita pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota, aku mau beli perlengkapan live streaming terbaruku."
"Boleh," jawab Bima tanpa menolak.
"Sekalian aku temani kamu berkeliling agar tidak ada pria aneh lain yang mengganggumu malam ini."
Vrooom.
Mobil SUV seharga miliaran rupiah itu melesat membelah jalanan malam, meninggalkan segala drama keluarga Siska di belakang mereka.
Kini saatnya Bima menikmati waktu bersantai sambil melihat keramaian pusat perbelanjaan kaum elit kota.