NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Mantra Kafir Yang Tidak Bisa Di Lawan Manusia

Sumur di belakang rumahku masih hitam pekat, mendidih, setelah Jamil anak Kiai Jirji yang berkhianat loncat dan jadi Jin Kafir.

Dari dalam sumur hitam itu, suara Banaspati tertawa, "RANIA... RANIA..."

Di HP, Ibu angkat ku menjerit dari Surabaya, "Arga! Rania kejang! Dinding kamarnya keluar darah hitam! Dia sebut nama Banaspati!"

Aku panik, aku mau tutup sumur pakai tongkat cendana, tapi Malik tahan tanganku.

"Jangan, Arga! Kalau kamu tutup sumur sekarang dengan paksa, Jamil yang di dalam akan mati kejepit, dan jiwanya akan jadi tumbal Banaspati. Dan Rania di Surabaya akan tetap ketarik, karena mantranya sudah dikirim.."ucap Malik.

"Mantra apa, Ustadz? tanyaku.

Malik wajahnya pucat, dia gendong anaknya yang baru jadi Jin Islam, anaknya yang dulu Jin Kafir.

   "Mantra Kafir Yang Tak Bisa Dilawan Manusia. Namanya Mantra Sangkala Ghaib. Mantra ini diciptakan Banaspati dari bahasa Majapahit kuno, campur bahasa Jin. Kalau manusia dengar langsung, otak manusia langsung kosong, langsung menurut. Tidak bisa dilawan dengan ayat kursi, tidak bisa dilawan dengan parang, tidak bisa dilawan dengan Banyu Suci. Hanya bisa dilawan dengan mantra Jin Islam yang setara...."jawab Malik.

"Bagaimana bunyi mantranya..? tanyaku.

Malik tidak mau ucapkan, tapi Kiai Jirji yang dari tadi nangis karena anaknya berkhianat, maju.

"Mantranya berbunyi begini, Arga, dengarkan baik-baik, tapi jangan kau ikuti..."ucap Kiai Jirji.

Kiai Jirji baca dengan suara gemetar:

"Ingsun amatak ajian sangkala... Sirah ingsun Ratu Kidul... Getih perawan kanggo tumbal... Sapa sing krungu bakal melu..."ucap Kiai Jirji.

Begitu Kiai Jirji ucapkan satu baris saja, aku langsung pusing, kepala ku berat, mata ku hitam, telinga ku berdenging. Aku hampir jatuh.

Malik langsung tutup mulut Kiai Jirji dengan cahaya.

"Jangan lanjut! Itu mantranya! Arga, kau dengar kan? Baru satu baris kau sudah mau kesurupan. Bayangkan Rania di Surabaya, yang mantranya dikirim full lewat sumur ini langsung ke telinganya lewat dinding kamarnya. Dia tidak akan kuat...."ucap Malik.

Aku harus selamatkan Rania dari jarak jauh.

"Bagaimana cara lawannya, Ustadz? tanyaku.

Malik menatap anaknya yang kecil, anak santri 5 tahun yang baru direbut dari Banaspati.

"Satu-satunya cara, Arga, kita harus kirim mantra balasan. Mantra Jin Islam. Tapi mantra Jin Islam hanya bisa diucapkan oleh Jin Islam yang pernah jadi Jin Kafir dan kembali lagi. Karena dia tahu dua bahasa. Dan di sini, hanya satu yang bisa: anak saya."

Anak kecil 5 tahun itu menatap sumur hitam yang mendidih.

Anak itu, yang dua hari lalu adalah pemimpin 20 anak bermata hitam, yang pakai kain kafan bayi, sekarang sudah putih, tapi dia masih ingat bahasa Kafir.

Malik bisik ke anaknya, "Nak, bapak tahu berat, tapi kamu harus lawan mantan rajamu. Kamu harus baca Mantra Nur Illahi untuk tutup telinga Rania di Surabaya. Kalau tidak, Rania akan jadi tumbal darah perawan untuk obat Banaspati...."ucap Malik ke Anaknya.

Anak kecil itu gemetar, dia takut. Dia ingat Banaspati adalah ayah angkatnya selama 5 tahun di Alam Seberang.

Tapi dia lihat aku yang menangis telpon Ibu, dia lihat Kiai Jirji yang kehilangan anak.

Dia pun mengangguk tanda setuju.

Anak kecil itu berdiri di bibir sumur hitam yang mendidih, yang di dalamnya ada Jamil yang baru jadi Jin Kafir dan Banaspati yang tertawa.

Dia angkat tangan kecilnya, dia baca mantra balasan, dengan suara anak kecil tapi menggema seperti 1000 santri:

"Ingsun amatak nur illahi... Sirah ingsun Nur Muhammad... Getih suci dadi tamba... Sapa sing krungu bakal waras..."ucap anak Malik.

Dua mantra bertabrakan di dalam sumur.

Mantra Kafir Yang Tak Bisa Dilawan Manusia vs Mantra Jin Islam.

Sumur hitam itu meledak. Air hitam muncrat lima meter ke atas, membentuk dua naga: naga hitam mantra Banaspati dan naga putih mantra anak Malik, saling gigit di udara.

Aku yang manusia, tidak bisa ikut, aku hanya bisa tutup telinga, karena kalau dengar full dua mantra itu, otakku bisa pecah.

Perang mantra itu berlangsung selama 10 menit, langit Dusun Krajan yang sudah terang bulan purnama kembali hitam lagi karena asap dua naga itu.

Sampai akhirnya, naga putih mantra anak Malik menang, dia telan naga hitam.

Sumur hitam yang mendidih, langsung bening lagi, tapi beningnya bercahaya putih, bukan bening biasa.

Dari dalam sumur yang bening itu, muncul Jamil. Jamil yang tadi loncat jadi Jin Kafir hitam, sekarang tubuhnya abu-abu lagi, setengah putih setengah hitam, dia pingsan di bibir sumur dan muntah darah hitam.

Dan di HP ku, Ibu berteriak, "Arga! Rania sadar! Rania sadar! Dia muntah air hitam! Tapi dia sadar! Dia bilang dengar suara anak kecil ngaji di telinganya!"

Mantra Kafir Yang Tak Bisa Dilawan Manusia berhasil dipatahkan, bukan oleh manusia, tapi oleh Jin kecil yang pernah jadi Kafir.

Malik peluk anaknya, anaknya pingsan karena kehabisan tenaga setelah adu mantra.

Kiai Jirji peluk Jamil, anaknya yang berkhianat yang berhasil direbut balik setengah.

Tapi di dasar sumur yang sudah bening bercahaya itu, masih ada sisa darah hitam Banaspati yang tidak bisa hilang, darah itu membentuk tulisan terakhir malam ini:

"MANTRA GAGAL - TAPI KESURUPAN MASSAL SUDAH DIMULAI - LIHAT MASJID"

Kami semua lari ke Masjid Tua Tanpa Karpet.

Retakan dua meter yang tadi sudah putih, sekarang menganga lagi jadi enam meter, paling besar sepanjang sejarah, dan dari retakan enam meter itu, keluar suara 1000 orang kesurupan bersamaan dari arah kampung.

Satu kampung kesurupan massal.

Dan penyebabnya bukan mantra ke Rania, tapi mantra yang gagal itu memantul ke warga Krajan yang masih punya sisa air hitam di perut mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!