Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kejujuran di Balik Topeng
Hening seketika merayapi sudut privat kedai Kopi Sunyi setelah kain masker hitam tebal itu terlepas sepenuhnya dari wajah Arga. Terpaan cahaya hangat lampu gantung kedai terpancar pas menyoroti garis wajah tegapnya. Tidak hanya Nadia yang sempat terpaku dengan desiran aneh di dadanya, tetapi Rina yang berdiri di samping Nadia pun ikut terpukau kaku. Mata Rina berkedip halus, terpesona oleh ketampanan alami Arga yang sangat kontras jika dibandingkan dengan pembawaan konyolnya sewaktu berakting di Kafe Merah dulu, menurut keterangan Nadia.
Namun, suasana takjub itu tidak bertahan lama. Sensasi asing di dada Nadia dengan cepat terimbangi oleh sorot kemarahan dan ketegasan dingin yang terpancar dari matanya. Ia kembali memoles raut wajahnya menjadi pimpinan perusahaan yang tak tersentuh.
Melihat kilatan amarah di mata Nadia yang masih membakar, Arga menarik napas panjang. Ia paham betul posisi tawarnya sedang berada di titik nadir. Dengan gestur tubuh yang tegap namun penuh rasa hormat, Arga mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap Nadia dengan pandangan lurus dan penuh kesungguhan.
"Bu Nadia," panggil Arga, suaranya terdengar berat, dalam, dan sangat tenang, sangat berbeda dari raungan kekanakan Bimo yang menggelikan beberapa saat lalu. "Saya tahu perbuatan saya bersama Bimo di Kafe Merah dan aksi kucing-kucingan saya di kantor tadi pagi sama sekali tidak bisa dibenarkan. Saya sadar saya sudah melakukan kesalahan besar, memalsukan identitas, dan mempermainkan Ibu."
Bimo yang duduk di sampingnya hanya bisa menunduk makin dalam, tidak berani menyela sepatah kata pun.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kebohongan itu, Bu," lanjut Arga dengan nada bicara elegan yang tetap menjaga martabatnya. "Tapi jika boleh, saya memohon dengan sangat... tolong jangan pecat saya dari posisi Satpam di Menara Utama Nugroho Group."
Nadia menaikkan sebelah alisnya, mengamati intonasi bicara Arga yang begitu tertata. "Kamu pikir setelah semua penipuan konyol ini, kamu masih berhak minta dipertahankan di perusahaan saya, Arga?"
"Saya paham kekesalan Bu Nadia," sahut Arga tenang, jemarinya tetap teratup rapat. "Tapi jujur Bu, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Pekerjaan Satpam ini adalah mata pencaharian utama saya sekarang. Gaji dari posisi ini bukan cuma buat saya bayar uang kontrakan bulanan, tapi juga untuk membantu biaya operasional dan kebutuhan anak-anak di panti asuhan tempat saya dibesarkan dulu."
Rina yang mendengar penuturan itu seketika melunakkan raut wajah terkejutnya. Matanya melirik ke arah Nadia yang masih bergeming di kursi kayu.
"Kenapa kamu mau melakukan kebohongan konyol ini dari awal kalau tahu risikonya sebesar ini?" cecar Nadia, suaranya sedikit melunak walau nada intimidasi itu belum sepenuhnya sirna.
Arga mengembuskan napas halus, melirik Bimo sekilas sebelum kembali menatap Nadia. "Awalnya murni karena rasa pertemanan, Bu. Bimo ini sahabat saya dari SMA. Waktu dia datang merengek dan panik setengah mati bilang mau dijodohkan paksa, saya cuma bermaksud bantu dia sebagai teman. Rencananya cuma mau bikin Bu Nadia ilfil di Kafe Merah supaya perjodohan ini batal secara alami."
"Tapi kenyataannya kamu malah Tanda Tangan surat perjanjian nikah kontrak itu!" potong Nadia tajam.
"Iya, Bu, itu murni kecerobohan dan ketidaktahuan saya," aku Arga jujur tanpa berusaha mencari kambing hitam. "Saya panik waktu Bu Nadia mendesak Tanda Tangan di tempat. Saya sama sekali enggak tahu kalau perusahaan ayahnya Bimo sedang terikat investasi besar dengan Nugroho Group. Saya juga tidak pernah menyangka kalau Bu Nadia yang ada di Kafe Merah malam itu adalah CEO tertinggi dari gedung tempat saya baru diterima kerja."
Arga memajukan tubuhnya sedikit, menatap Nadia penuh ketulusan. "Saya melakukan semuanya bukan karena ada niat jahat untuk menipu keluarga Nugroho atau memeras keuntungan. Saya cuma rakyat biasa yang kejepit situasi karena rasa kasihan pada sahabat. Jadi, kalau Bu Nadia mau menghukum saya atas kelakuan di Kafe Merah, hukumlah saya secara pribadi. Tapi tolong, jangan cabut mata pencaharian saya sebagai Satpam di kantor Ibu."
Penjelasan Arga yang jujur, lugas, dan disampaikan secara dewasa tanpa sedikit pun gaya merengek manja membuat ruangan itu menghening. Cara Arga memohon sangat elegan, menunjukkan kualitas karakter dan harga diri yang kuat meskipun dalam kondisi terdesak.
Mendengar seluruh penuturan tersebut, hati kecil Nadia sebenarnya sedikit terenyuh. Bagaimanapun, Nadia masih memiliki nurani. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nadia tahu betul bahwa Arga pada dasarnya hanyalah korban dari kemanjaan dan kepanikan konyol Bimo. Arga tidak memiliki niat jahat terencana sejak awal.
Namun, situasi yang dihadapi Nadia saat ini sedang berada dalam kondisi darurat tinggi. Kakek Nugroho, sang pendiri Nugroho Group sedang terbaring sakit, sudah tidak bisa dikompromikan lagi. Sang kakek sangat mendesaknya ingin segera melihat cucu tunggalnya menikah, bahkan berita pernikahan tersebut sudah terlanjur dipamerkan ke jajaran media nasional dan investor saham eksekutif.
Nadia memandangi wajah tegap Arga yang kini pasrah menunggu keputusan darinya. Sebuah monolog internal yang dalam dan pelik bergejolak hebat di dalam benak Nadia.
"Jujur... saya tidak tega kalau harus memecat laki-laki ini," batin Nadia seraya menatap dalam-dalam mata tegas Arga. "Dia bicara begitu jujur, dewasa, dan punya alasan yang sangat mulia demi panti asuhan tempat tinggalnya. Dia sangat berbeda jauh dari Bimo yang cuma bisa merengek dan melarikan diri dari masalah."
Nadia mengetukkan jemarinya di meja, menahan gejolak empati yang mulai tumbuh di dadanya.
Tapi kondisinya sekarang sangat kritis. Kakek sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dan berita pernikahan dengan nama Bimo Wira Perkasa sudah terlanjur meledak di publik. Kalau saya membatalkan pernikahan ini atau membiarkan Bimo kabur, reputasi keluarga Nugroho dan saham perusahaan akan hancur seketika.
Nadia memejamkan matanya sejenak, mengeras nuraninya dan mengambil keputusan rasional yang sangat dingin.
"Maafkan saya, Arga... Saya tahu kamu cuma korban dari tingkah konyol sahabatmu. Tapi untuk saat ini, saya harus berhati besi. Kamu yang sudah menandatangani surat perjanjian nikah itu di Kafe Merah, dan kamu juga yang harus bertanggung jawab menyelesaikan kekacauan ini bersama saya."