NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Tumpukan map tebal dilemparkan ke atas meja kerja Baskoro dengan suara keras.

Adrian duduk di kursi seberang ayahnya sambil melonggarkan dasi kerjanya dengan wajah serius.

"Asistenku sudah menggali semua informasi tentang ayah anak bernama Clara itu Pa," lapor Adrian.

"Namanya Baharudin, dia menjabat sebagai kepala dinas tata kota di wilayah selatan."

Baskoro membuka map itu dan mulai membaca deretan angka serta laporan mutasi bank.

"Gajinya sebagai pejabat daerah tidak seberapa, tapi dia punya tiga rumah mewah dan koleksi mobil sport," gumam Baskoro membaca data itu.

Adrian tersenyum sinis dan menyilangkan kakinya.

"Itu karena dia sering memeras pengusaha lokal yang ingin mengurus izin bangunan Pa."

"Kalau mereka tidak menyetor uang pelicin ratusan juta, izin mereka akan ditahan sampai perusahaannya bangkrut," jelas Adrian membeberkan fakta kotor itu.

Baskoro menutup map tersebut dengan raut wajah jijik.

"Pejabat kotor seperti ini berani membiarkan putrinya mengancam putri dari keluarga Ayodhya?" desis Baskoro sangat dingin.

"Dia rupanya sudah bosan hidup nyaman."

Baskoro menatap putra sulungnya itu dengan pandangan yang mengisyaratkan sebuah perintah mutlak.

"Kumpulkan semua bukti transfer gelap dan rekaman pemerasan itu Adrian."

"Serahkan semuanya ke komisi pemberantasan korupsi sore ini juga," perintah Baskoro tanpa ampun.

Adrian mengangguk mantap sambil tersenyum mematikan.

"Siap Pa, aku akan memastikan Baharudin memakai rompi tahanan oranye sebelum matahari terbenam besok," janji Adrian.

Hanya karena sebuah ancaman kecil di taman kanak-kanak, karir dan hidup seorang pejabat korup akan dihancurkan rata dengan tanah.

Keesokan paginya di Taman Kanak-Kanak Pelita Hati.

Lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring membuat anak-anak berhamburan keluar menuju taman bermain.

Lula sedang duduk di ayunan sambil memakan bekal biskuit cokelatnya dengan tenang.

Riko bermain perosotan di dekatnya bersama anak-anak laki-laki lainnya.

Dari kejauhan, Clara terus menatap Lula dengan tatapan penuh kebencian dan rasa iri.

"Gara-gara anak pungut itu, aku jadi dimarahi Bu Risa kemarin," gerutu Clara dalam hati.

Clara meremas ujung rok seragamnya mencari cara untuk membalas dendam pada Lula.

Matanya tiba-tiba tertuju pada bangunan kecil di sudut lapangan yang pintunya sedikit terbuka.

Itu adalah gudang penyimpanan alat-alat olahraga yang sangat gelap dan berdebu.

Sebuah ide nakal langsung muncul di kepala anak perempuan bermanja itu.

Clara mengatur ekspresi wajahnya lalu berjalan menghampiri ayunan tempat Lula duduk.

"Hai Lula, kamu sedang makan biskuit ya?" sapa Clara dengan nada yang dibuat-buat ramah.

Lula menghentikan kunyahannya dan menatap Clara dengan kening berkerut bingung.

Dia ingat kemarin anak ini sangat marah padanya.

"Iya Clara, kamu mau biskuit cokelat?" tawar Lula polos sambil menyodorkan kotak bekalnya.

Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Tidak usah, aku cuma mau minta tolong padamu," bohong Clara.

"Bola kasti milikku menggelinding masuk ke dalam gudang olahraga itu, tapi aku takut gelap."

Clara menunjuk ke arah gudang di sudut lapangan yang sepi.

"Lula berani kan temani aku ambil bolanya ke dalam sana?" bujuk Clara licik.

Lula menatap gudang kecil itu lalu menatap wajah Clara.

Tiba-tiba mata bulat Lula menangkap kabut abu-abu tipis yang keluar dari telinga dan tangan Clara.

"Asap abu-abunya muncul lagi," batin Lula menyadari ada yang tidak beres.

Lula tahu Clara sedang berbohong dan pasti merencanakan hal yang jahat.

Namun bukannya berlari, Lula malah turun dari ayunan dan menutup kotak biskuitnya.

"Ayo Clara, Lula temani ambil bolanya," jawab Lula dengan sangat tenang.

Lula sengaja menurut karena dia ingin tahu apa sebenarnya yang direncanakan Clara.

Lagipula Lula merasa aman karena dia ingat pesan dan benda dari Kak Adrian.

Mereka berdua berjalan menjauhi area bermain yang ramai menuju sudut lapangan yang sepi.

Clara mendorong pintu kayu gudang itu hingga berderit pelan.

Kriet.

Di dalam sana suasananya sangat gelap karena tidak ada lampu yang menyala.

Banyak tumpukan matras tua, ring basket rusak, dan keranjang berisi bola kotor.

"Bolanya ada di pojok sana Lula, kamu masuk duluan ya cari bolanya," suruh Clara sambil berdiri di ambang pintu.

Lula melangkah masuk ke dalam gudang gelap itu tanpa rasa takut sedikitpun.

Baru saja Lula melangkah masuk sejauh dua meter, Clara langsung bertindak.

Brak.

Clara menarik pintu gudang itu dari luar dan menutupnya dengan sangat kuat.

Klik.

Suara gembok besi di luar pintu dikaitkan dengan cepat oleh Clara.

"Hahaha! Rasakan itu anak pungut! Kamu dihukum di dalam gudang gelap sampai pulang sekolah!" tawa Clara puas dari luar.

Clara langsung berlari meninggalkan gudang itu dan kembali ke area bermain seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam gudang, suasananya berubah menjadi gelap gulita.

Udara terasa pengap dan bau debu sangat menyengat hidung.

Anak TK biasa pasti sudah menangis histeris dan memukul-mukul pintu karena ketakutan.

Namun Lula hanya berdiri diam sambil menghela nafas pelan.

"Gelapnya tidak menakutkan, lebih seram waktu Lula tidur di kolong jembatan dulu," gumam Lula pada dirinya sendiri.

Lula tidak berteriak minta tolong karena dia tahu suaranya tidak akan terdengar sampai ke lapangan utama.

Gadis kecil itu meraba dada seragamnya dan menemukan sebuah lencana berbentuk bunga matahari.

Itu adalah alat pelacak dan tombol darurat yang dipasangkan oleh Adrian di hari pertamanya sekolah.

"Kata Kak Adrian kalau ada orang jahat, Lula harus tekan bunga ini kuat-kuat," ingat Lula.

Tit.

Lula menekan bagian tengah lencana bunga matahari itu selama tiga detik.

Lencana itu bergetar sangat pelan menandakan sinyal bahaya telah berhasil dikirimkan.

Setelah menekan tombol itu, Lula memilih duduk santai di atas tumpukan matras olahraga yang empuk.

Dia tahu ksatria pelindungnya akan segera datang menjemputnya.

Di waktu yang sama, di dalam ruang rapat direksi Grup Lentera.

Adrian sedang mempresentasikan proyek triliunan rupiah di depan belasan investor asing.

Suasana rapat sangat formal dan tegang karena ini menyangkut masa depan perusahaan.

Tiba-tiba ponsel di saku jas Adrian bergetar hebat tanpa henti.

Bukan getaran panggilan telepon biasa, melainkan getaran alarm darurat dengan nada khusus.

Adrian langsung menghentikan presentasinya dan merogoh sakunya.

Layar ponselnya berkedip merah terang menampilkan peta dengan sebuah titik merah yang berkedip di area sekolah Lula.

Titik merah itu berada jauh dari area kelas maupun taman bermain yang seharusnya.

Wajah Adrian yang tenang seketika berubah menjadi sangat mematikan.

Aura membunuh menguar kuat dari tubuh putra sulung Ayodhya itu hingga membuat para investor asing merinding.

Baskoro yang duduk di kursi pimpinan langsung berdiri menyadari ada yang tidak beres dengan putranya.

"Ada apa Adrian?" tanya Baskoro dengan suara rendah.

"Tombol darurat Lula ditekan Pa, posisinya ada di sudut paling belakang sekolah yang tidak wajar," lapor Adrian dingin.

Baskoro langsung mengebrak meja rapat itu tanpa mempedulikan para investor.

"Tunda rapat ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan," perintah Baskoro tegas.

"Adrian, hubungi pengawal bayangan yang ada di sekolah sekarang juga!"

Adrian langsung menekan alat komunikasi di telinganya.

"Tim Alpha, masuk ke area sekolah sekarang, temukan koordinat GPS Lula detik ini juga!" perintah Adrian lewat radio.

Di luar tembok sekolah Pelita Hati, dua pria berpenampilan seperti tukang kebun langsung membuang sapu mereka.

1
Adelina Lin
thor, buat keluarganya si manda jatuh miskin, biar dia merasakan gimana jadi gembel
kiyoe: siap kak di tunggu aja bab selanjutnya hehe
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni sehat selalu 🙏
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang bagus sejauh ini.,ternyata gak semua orang kaya dan anak orang kaya terdidik dgn baik.
kiyoe: terimakasih kak atas support nya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!