Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es krim : 28
“Sebaiknya kita ke rumah sakit besar, periksa ke dokter spesialis kandungan.” Sakta menarik sabuk pengaman, motornya dititipkan ke petugas penjaga parkiran.
Helyara tak merespon, terus meracau dengan suara bisikan keras. “Mereka mau buat aku gila? Gila?”
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala, terlontar lebih dari enam kali.
Tatapan mata Helya tidak fokus, pikirannya berkelana, hati berkecamuk. Shock berat belum dapat diatasi olehnya.
Abi Sakta Haujan mengemudikan mobil Helyara, memilih rute aman meskipun memakan waktu lebih lama.
Dipertengahan perjalanan, tiba-tiba Helyara berteriak kencang sambil memukul-mukul dasbor mobil.
“Ternyata bertahun-tahun aku tinggal satu atap dengan para monster! Akhh!” Tangannya terasa nyeri, memerah, tapi tidak dihiraukan.
Laju mobil berhenti di bahu jalan sepi karena bukan rute utama, lampu hazard dinyalakan sebagai peringatan ke pengendara lainnya.
“Ayah! Ayah!!!” jeritnya sejadi-jadinya menekankan panggilan teruntuk pahlawan paling tulus dalam hidupnya.
Helya menutupi muka menggunakan tangan, dari sela-sela ruas jari, air mata meluncur hingga lengan dan terserap kain.
Abi Sakta memilih diam, menatap ke arah jalan bagian samping. Membiarkan sang klien meluapkan rasa sakit, shock nya.
Tangan gemetaran itu mengambil ponsel baru, ketika hendak mencari kontak nama, handphonenya meluncur jatuh ke lantai mobil.
Hah! Akhhh!
Lagi-lagi dia berteriak, kali ini memukuli pahanya sendiri.
Abi Sakta Haujan memajukan badan dengan wajah melihat kedepan, tangannya terulur ke depan lutut Helyara. Mengambil ponsel yang layarnya masih menyala.
“Siapa yang mau kamu hubungi?” tanyanya telah menghilangkan sebutan formal. Anda.
“Ki … nan. Kinan,” ulangnya dengan benar.
Entah sudah berapa banyak lembaran tisu menyusut air mata tak jua kering, serat kayu itu berserakan di bawah kaki Helyara.
Sakta mencari nama Kinan di daftar kontak, lalu mendial panggilan dan langsung terhubung.
Pada dering kedua sudah diangkat, suara diujung sana menyapa tidak bernada riang, dia ikutan cemas menunggu hasil tes darah sahabatnya.
“Helyara … kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya lirih, duduk di sofa bersama suaminya yang juga menantikan kabar adik sepupu. Perasaan mereka dirundung cemas, sampai semalam sulit tidur.
Panggilan itu loudspeaker, dan ponsel dalam jepitan jemari tangan kanan Sakta. Mikrofon terarah dekat mulut Helyara.
“Mereka, mereka mau buat aku gila, Kinan,” adunya seraya terisak-isak.
“Astaga!” pekikan Kinan disahuti suara keterkejutan suaminya.
“Dek, apa hasilnya? Kamu lagi sendirian atau sama siapa?” tanya Prayoga, duduknya tidak lagi santai.
“Dia bersamaku. Kami baru saja dari laboratorium, dan mendengarkan penjelasan hasil tes darah dan cairan tertinggal,” Sakta membeberkan apa yang dikatakan oleh petugas tadi.
Helyara membekap mulut, tapi tangisnya tetap lolos. Badannya lemas, dengan otak seperti tidak berfungsi. Buntu.
“Dek, pergilah ke rumah sakit. Periksa kesehatan menyeluruh, jangan ada yang terlewat! Kurang ajar. Harusnya manusia seperti mereka tidak hidup didunia ini. Dasar sampah!” Prayoga terkenal pribadi tenang, tutur kata terjaga, kali ini lepas kendali dikarenakan emosi tingkat tinggi.
Kinan juga ikutan mengumpat, tidak terima sahabatnya diperlakukan tak manusiawi. “Sebelum membalas mereka, kamu harus sembuh dulu, sehat!”
“Kedua orang tuaku selalu mewanti-wanti jangan sampai jadi seorang pecandu yang dapat merusak tubuh sendiri. Jangankan bersentuhan dengan barang haram itu, mencoba nikotin atau minuman alkohol saja tidak pernah, dan paling anti. Namun ….” Dia menelan ludah agar bisa melanjutkan kata.
“Tanpa persetujuan dan sepengetahuanku. Zat berbahaya tersebut masuk ke tubuhku. Paling menjijikan dan miris, aku sendiri yang menyuntikkan obat-obatan itu sambil berdoa semoga segera hamil, kali ini berhasil mengandung. Tanpa tau pelan-pelan melakukan aksi bunuh diri,” adunya pilu.
“Brengsek banget mereka. Bukan satu orang tapi satu keluarga menyerang dan diam-diam berencana membuatmu gila. Astaga Helyara!” Kinan meraung-raung, tidak dapat dibayangkan olehnya betapa malangnya nasib wanita sebatang kara yang hidup satu rumah sama manusia berhati jahat.
Prayoga mengelap air matanya, sebelah tangan merangkul Kinan.
“Sakta, aku mohon ke kamu — tolong dampingi Helyara, beri dia solusi untuk kedepannya. Jangan sampai celaka, paling penting … sembuhkan dulu mental serta fisiknya,” suaranya gemetaran.
“Kalian harap tenang, Helyara sudah resmi menjadi klien kami, sampai kasus ini selesai, dia berada dibawah perlindungan Haujan Law Office!” sahutnya tegas.
“Terima kasih,” balasnya terselip perasaan lega. Setidaknya sang sepupu ada yang menjaga sampai masalah tuntas dan para manusia serakah mendapatkan hukuman setimpal.
“Masih banyak hal mendesak perlu diurus segera, saya matikan sambungan ponsel ini dulu,” izin Sakta.
Terpaksa Prayoga dan Kinan menyetujui, mereka menyemangati Helyara, mengatakan kalau dirinya tidak sendirian, baru setelahnya mengakhiri percakapan.
“Apa kamu siap ke rumah sakit, sekarang?” Ponsel Helyara diletakkan di pembatas bagian tengah jok.
“Ya,” jawabnya singkat, menyandarkan kepala di jendela tertutup rapat. Helya memejamkan mata. Hatinya terasa kebas, masih tak menyangka dan sukar percaya kalau ini nyata.
Sakta memperbaiki posisi duduk, baru setelahnya melaju mobil.
Dia diam kala laju kendaraannya berhenti di depan minimarket, matanya mengikuti langkah pria keluar dari mobil, berjalan cepat masuk ke dalam sana.
Tak lama, hanya sekian menit pria berkemeja warna krem, celana jeans biru pudar sudah keluar lagi dari minimarket.
Abi Sakta membuka pintu kemudi, menyodorkan plastik berisi belanjaan baru dibelinya.
“Menurut penelitian, kandungan asam amino triptofan terdapat dalam es krim membantu memproduksi serotonin (hormon kebahagiaan), sementara rasa manis dan sensasi dinginnya merangsang pelepasan endorfin dan dopamin yang membuat tubuh lebih rileks. Makannya sebelum mencair.”
Helya bergerak agar duduknya tegak, lalu mengambil plastik tadi, mencari es krim diantara permen rasa mint, coklat batangan, ada juga air botol air mineral. Dia pecinta es krim dengan varian rasa apa saja.
“Terima kasih.” Dibukanya tutup kertas cup es krim vanila campur coklat.
Sambil menunggu kliennya makan es krim, Abi Sakta menghubungi rekannya.
Sayup-sayup Helya mendengar percakapan itu sembari menyendok makanan memberi sensasi dingin segar saat melewati kerongkongan.
“Aku sudah bisa diajak ke rumah sakit,” celetuknya, tidak menyadari sudah melepaskan sebutan formal. Saya. Perasaannya sedikit membaik.
“Bisa jadi nanti kita berpapasan dengan mobil ambulans yang menyalakan sirine, lebih baik kamu pakai earphone,” saran Sakta, diambilnya wadah es krim sudah kosong dark tangan Helya, lalu dibuang ke tong sampah terletak di belakang jok yang didudukinya.
Helyara menarik penahan gelungan rambut, dan dibiarkan tergerai lurus mencapai punggung.
Perjalanan ke rumah sakit tidak terlalu jauh, tetapi bagi wanita memiliki trauma bunyi sirine, lampu ambulans berkedip-kedip, seperti melewati medan berbahaya, penuh ranjau.
Setibanya di rumah sakit, Sakta lebih dulu mendaftarkan nama Helyara Utomo ke bagian dokter spesialis kandungan.
Mereka duduk berdekatan, berbaur dengan para ibu hamil menunggu antrian. Earphone Helya sudah dilepas.
Asisten dokter obgyn memanggil nama pasien berikutnya. “Nyonya Helyara Utomo. Anda dipersilakan masuk, mari ...!”
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba