Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : JINGGA PULANG
Mentari hanya anak magang yang kebetulan kenal sejak lama dengan Angkasa. Dulu ibunya pernah jadi pembantu di rumah keluarga Kusuma di masa kejayaannya. Angkasa sudah menganggap Mentari seperti adik kecilnya sendiri.
Tetapi bukan berarti Mentari punya hak ingin tahu banyak tentang Angkasa. Ia tahu batasnya.
Berbeda dengan Bintang. Istri sah mana bisa tenang melihat gelagat suaminya yang mendadak pergi tanpa sempat pamit.
Dengan kacamata hitam dan masker, Bintang sudah berada di bandara yang sama dengan Angkasa. Ia menyamar tapi tidak menemukan Angkasa atau seseorang yang di ujung telepon suaminya di dalam terminal kedatangan. Karena ternyata...
"Aku sudah keluar bandara, temui aku di rumah makan arah pintu masuk bandara." Itu isi chat Jingga ke HP Angkasa, 10 menit sebelum Angkasa sungguh tiba. Pantas saja Bintang tidak bertemu mereka di dalam.
Di rumah makan sederhana dekat pintu masuk bandara, Angkasa terperangah.
"Jingga?"
Perempuan di depannya dalam balutan tertutup, selendang menutup rambutnya, kacamata hitam besar menempel di wajahnya. Nyaris Angkasa tak mengenal perempuan yang pernah jadi cinta pertamanya itu.
"Kassa..." Jingga berhambur memeluk Angkasa dengan erat. Tangisnya pecah. Terasa banyak beban yang ingin ia tumpahkan pada lelaki yang hampir 5 tahun ia tinggalkan karena pernikahan paksa.
"Tenang, Jing. Aku di sini," tepuk Angkasa menenangkan Jingga. Aroma parfum Jingga masih sama seperti dulu.
"Kassa, aku masih ada di dalam sini kah?" tunjuknya pada dada bidang Angkasa dengan jari gemetar.
"Hei... kok nanyanya gitu?" Angkasa tidak dapat menyembunyikan, betapa Jingga pernah bertahta indah di hatinya. Bahkan dari jaman putih abu-abu sampai kampus biru. Cinta mereka berakhir kelabu. Terhalang restu. Jingga harus menikah dengan Heru Saputra, rekan bisnis orang tuanya. Saat itu Angkasa masih mahasiswa biasa, bukan CEO Kusuma Land seperti sekarang.
Angkasa melerai pelukan, melihat Jingga dari ujung kaki hingga kepala. Dengan canggung, ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi menempel di wajah cantik itu.
"Kok lebam?" Suara Angkasa bergetar. Di pelipis dan dekat mata Jingga ada memar keunguan yang jelas. Bukan jatuh biasa.
"Aku udah gak tahan sama Heru, Kaa..." Jingga menyeka air matanya sendiri, isaknya makin kencang.
"Gimana? Heru apain kamu?"
"Heru bukan lelaki yang baik. Dia... dia ringan tangan kalau kalah tender atau mabuk. Terlalu banyak hal yang gak bisa lagi aku tolerir. Aku kabur, Kassa. Aku gak punya siapa-siapa lagi."
Angkasa mengepalkan tangan di bawah meja. Rahangnya mengeras. Ia memasang kembali kacamata Jingga dengan lembut agar orang lain tidak melihat.
"Kita makan saja dulu. Nanti lagi ngobrolnya," putus Angkasa. Ia perlu waktu untuk berpikir. Tidak mungkin membawa Jingga ke rumah utama sekarang. Bintang bisa hancur.
Keduanya makan tanpa suara. Karena setiap kali Jingga akan bicara, Angkasa selalu menggeleng pelan. "Makan. Kita perlu tenaga untuk menghadapi apapun setelah ini."
Begitulah Angkasa. Yang selalu manis dan pengertian. Hal terbesar yang Jingga sesali seumur hidupnya adalah tidak berani nekat bertahan dengan Angkasa dulu.
Sementara itu di Kantor Kusuma Land, Bintang terlihat duduk frustasi karena misi penyelidikannya gagal. Ia tidak menemukan siapa pun di bandara.
"Bu Bintang, pekerjaan ku sudah selesai. Bisa tolong Ibu periksa?" Mentari yang selalu sopan sudah di tepi meja Bintang dengan map.
Dengan malas Bintang menyambut berkas itu.
"Mentari. Kemarin kamu bilang disuruh Bu Ratna mengantar kopi ke ruangan Angkasa. Iya?" Bintang baru ingat dengan ucapan Mentari kemarin di depan pintu ruang CEO.
"Iya Bu. Ibu Ratna bilang, tidak bisa menghubungi Ibu atau Bapak. Jadi Tari disuruh pura-pura antar kopi, sekalian lihat Bapak sudah makan siang atau belum," jawab Mentari polos, tidak ada dusta pada ucapan itu.
"Jadi kamu di sini juga sebagai mata-mata ibu mertua saya?" Bintang membuang napas dengan berat. Kok jadi Bintang capek ya. Di rumah dimata-matai mertua, di kantor dimata-matai anak magang suruhan mertua.
"Saran ku, kalau mau kerja di sini sebagai pegawai tetap. Jangan patuh kepada orang yang bukan Bos mu secara langsung," tegas Bintang memandang lekat gadis muda itu.
"Fokus saja dengan pekerjaanmu sebagai pekerja kantoran. Jangan pernah gabungkan soal rumah dan kantor jadi satu. Kerja ya kerja, bagaimanapun dekatnya hubungan kalian di masa lalu. Masa depan lebih penting."
Itu nasihat tulus dari Bintang, karena ia tahu suaminya juga sudah menganggap Mentari seperti adiknya sendiri. Ia tidak ingin Mentari jadi korban Ratna juga.
Mentari mengangguk. "Siap, Bu. Terima kasih."
Di tempat lain, Angkasa sudah memesan apartemen rahasia untuk Jingga. Apartemen itu jauh dari rumah utama.
Malam ini, ia harus membagi diri: Bintang yang menunggu di rumah, Bumi dan Damar yang mungkin masih demam dan Jingga yang baru saja lolos dari neraka.
Bersambung …
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......
tinggal keputusan ada ditangan author mau gimana🤭🤭🤭😂😂😂
maksudnya bintang Thor.....mau dibawa kemana rumtang ya terserah bintang kan......dilepas juga baik mumpung belum ada Monik...... bertahan ya harus siap sakit hati.....karena ada jingga di sampingnya kasa...... mantannya lagi....,ada bumi yang diamanahi kakak nya.....tresno jalaran kulino momong damar🤭🤭🤭.....mentariiii......bisa jadi pelakor sungguhan loh 😅😅😅