Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 26.
Suara derit besi tua yang bergesek itu masih terngiang jelas di kepala Stella. Kalau saja Lingga tidak bergerak secepat kilat, mungkin bukan pergelangan tangan cowok itu yang terkilir, melainkan kepala Stella yang bocor dihantam tiang dekorasi panggung festival seni kemarin sore.
Sekarang, di sinilah Stella berada. Berdiri di depan gerbang sekolah dengan kotak bekal berwarna biru pastel di pelukannya.
Isinya sederhana, nasi goreng mentega dengan potongan sosis dan telur gulung. Stella sengaja bangun satu jam lebih awal hanya untuk memasak ini. Rasa bersalah yang menyumbat dadanya sejak kemarin malam tidak akan hilang sebelum dia memastikan Lingga bisa makan dengan layak hari ini. Dengan tangan kanan yang dibalut perban elastis, cowok misterius itu pasti kesusahan, kan?
Stella mempercepat langkahnya menuju kelas 12 A. Lorong sekolah masih sepi, hanya ada satu atau dua murid yang piket pagi. Begitu melongok ke dalam kelasnya, Stella mengembuskan napas lega. Targetnya sudah duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela.
Lingga. Cowok yang biasanya seperti pajangan dinding kini sedang menatap keluar jendela dengan earphone putih terpasang di telinga kirinya. Tangan kanannya bertumpu kaku di atas meja, terbungkus kain kasa dan perban.
Stella berjalan mendekat, sengaja menghentakkan kakinya agak keras agar Lingga sadar. Begitu jarak mereka tinggal selangkah, Lingga menoleh. Tatapan matanya yang datar dan sedalam sumur tua itu langsung mengunci pandangan Stella.
Tanpa sepatah kata pun, Stella menarik kursi di depan Lingga, memutarnya agar menghadap cowok itu, lalu duduk.
"Gimana tangan lu?" tanya Stella langsung, tanpa basa-basi.
Lingga hanya menurunkan pandangannya ke arah pergelangan tangannya sendiri, lalu kembali menatap Stella. "Gak apa-apa." Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, pendek dan dingin.
"Gak apa-apa gimana? Jelas-jelas itu bengkak gara-gara gue," sahut Stella, nadanya agak meninggi karena kesal dengan respons kelewat santai itu. Dia meletakkan kotak bekalnya di atas meja Lingga dengan bunyi brak yang lumayan keras. "Nih. Gue buatin."
Lingga melirik kotak biru itu, lalu melirik tangan kirinya yang bebas, dan terakhir menatap Stella dengan sebelah alis terangkat. "Gue gak minta."
"Gue yang mau!" Stella menyalak pelan, gemas dengan gengsi cowok di depannya. "Lu gak bisa makan pake tangan kiri dengan bener, kan? Jadi jangan nolak."
Stella membuka tutup kotak bekal itu. Aroma gurih mentega langsung menguar, memicu rasa lapar di pagi hari yang dingin. Stella meraih sendok stainless steel yang sudah dia bawa dari rumah, menyendok nasi goreng beserta potongan sosis, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Lingga.
Lingga membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Dia menatap sendok di depan wajahnya, lalu menatap mata Stella yang memandangnya dengan tatapan mendesak sekaligus penuh rasa bersalah.
"Stel, gak usah—"
"Lingga, please," potong Stella, suaranya melunak, ada nada memohon yang tulus di sana. "Gue gak bakal bisa fokus belajar seharian ini kalau tahu lu kelaparan gara-gara nyelamatin gue kemarin. Makan. Tinggal mangap doang apa susahnya, sih?"
Lingga menghela napas pendek. Sudut matanya berkedut. Merasa tidak punya pilihan lain dan kalah telak oleh binar mata Stella yang keras kepala, Lingga akhirnya membuka mulutnya sedikit.
Nyam. Nasi goreng itu berpindah tempat.
Stella langsung tersenyum puas. "Enak, kan? Kurang asin gak?"
Lingga mengunyah pelan. Matanya beralih ke meja, menghindari kontak mata. "Pas," gumamnya pelan.
"Bagus. Berarti lu harus habisin." Stella menyendokkan suapan kedua dengan semangat yang jauh lebih tinggi.
Namun, momen tenang itu tidak bertahan lama. Suara langkah kaki yang berisik dan tawa menggelegar tiba-tiba terdengar dari arah pintu kelas.
Rara, sahabatnya dan beberapa anak kelas lain yang baru datang langsung menghentikan langkah mereka di ambang pintu.
Pemandangan di pojok kelas itu sukses membuat mata mereka membelalak.
"WADUH! Ini serius Stel? Pagi-pagi pandangan mata gue udah dinodai oleh kemesraan!" teriak Rara heboh, suaranya langsung menggema di seluruh ruangan.
"Anjay! Lingga yang biasanya kayak patung Liberty, sekarang malah disuapin bidadari!" sahut mahluk lain di belakang Rara, yaitu Aldo —membuat seisi kelas yang mulai terisi langsung menoleh ke arah pojok belakang.
"Ciyeee! Uhuy! Keselek gak tuh, Ling? Makanya jangan kebanyakan gaya kemarin, ada hikmahnya juga kan lu patah tulang!" goda teman sekelas mereka yang lain sambil memukul-mukul meja berirama.
Sorakan dan siulan langsung riuh memenuhi ruang kelas Dua belas A yang tadinya tenang.
Stella mendadak salah tingkah. Pipinya terasa panas, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat galak dan tenang.
"Apaan sih lu pada! Berisik tau gak! Ini namanya balas budi, ya!" semprot Stella sambil melotot ke arah Aldo.
"Balas budi apa balas dendam lewat jalur cinta nih, Stel? Hahaha!" Rara memanas-manasi.
Stella mengabaikan mereka dan kembali menatap Lingga untuk memberikan suapan ketiga. Namun, saat itulah Stella menyadari sesuatu.
Lingga, si cowok misterius yang biasanya tidak punya ekspresi dan selalu kelihatan dingin seperti es balok, kini sedang menunduk dalam-dalam. Earphone-nya sudah dilepas.
Dan yang paling membuat Stella tertegun adalah daun telinga cowok itu.
Kedua telinga Lingga memerah pekat, sangat kontras dengan kulit lehernya yang putih pucat. Bahkan rona merah itu menjalar sedikit ke pipinya. Cowok itu mati-matian menatap nasi di dalam kotak, pura-pura tidak mendengar sorakan seisi kelas, sementara tangan kirinya meremas ujung seragamnya sendiri dengan gugup.
Stella menahan senyumnya yang mendadak ingin tumpah. Ternyata, si gunung es ini bisa malu juga.
"Nih, makan lagi," ucap Stella dengan nada yang jauh lebih lembut, mencondongkan tubuhnya sedikit agar suaranya tidak tenggelam dalam riuhnya sorakan teman-teman mereka.
Lingga melirik sendok itu, lalu melirik Stella sekilas dengan tatapan yang tampak 'pasrah'. Tanpa membantah lagi, dia menerima suapan itu dengan telinga yang semakin memerah matang.
......................
...****************...
Tbc