NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 TEROR YANG MENYEBAR
Langit sore Yogyakarta yang tadinya berwarna jingga keemasan perlahan memudar, ditelan oleh gumpalan awan mendung berwarna kelabu pekat yang berarak dari arah selatan. Suasana di kawasan kampus Yuda dan Dion terasa jauh lebih lengang dari biasanya.
Jam perkuliahan telah usai, dan udara yang mendadak berubah menjadi lembap dan pengap membuat sebagian besar mahasiswa memilih untuk segera pulang ke tempat tinggal masing-masing.
Namun, di gedung pusat kegiatan mahasiswa, tepatnya di area sekitar sekretariat Teater Arya Sena, kesunyian itu tidak terasa damai. Ada hawa dingin yang tidak wajar, sebuah tekanan atmosfer yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melintas di sana meremang.
Yuda dan Dion baru saja kembali ke kampus setelah pertemuan mereka dengan bapak kos Dion di Klaten—yang menjanjikan akan mencari kontak seorang sesepuh ahli supranatural untuk mereka. Mereka kembali ke kampus untuk mengambil beberapa barang penting Dion yang tertinggal saat ia lari ketakutan dari ruang sekretariat sore tadi.
Saat mereka melangkah menaiki tangga menuju lantai dua gedung UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), telinga mereka menangkap suara keributan yang tak wajar.
Bukan suara diskusi atau latihan teater, melainkan suara dentuman barang yang terjatuh, disusul oleh kepanikan yang riuh.
"Suara dari sekretariat kita, Yud!" seru Dion, langsung mempercepat langkahnya.
Yuda mengangguk dan ikut berlari.
Sesampainya di lorong depan ruang sekretariat Teater Arya Sena, mereka melihat pemandangan yang mengacaukan akal sehat.
Beberapa anggota inti teater—Fahri, Septi, dan Okta—berhamburan keluar dari dalam ruangan dengan wajah pucat pasi. Septi yang memegang peran sebagai dayang Roro Jonggrang di pementasan itu menangis histeris, sementara Fahri dan Okta terlihat sangat syok.
"Ada apa ini?! Kalian kenapa?!" bentak Dion sambil menangkap lengan Fahri yang nyaris menabraknya.
"B-Bang Dion! Di dalam... di dalam ada yang nggak beres!" Fahri tergagap, napasnya memburu, matanya membelalak ketakutan menunjuk ke arah pintu sekretariat yang terbuka lebar.
Yuda melangkah maju, menghalangi pintu agar tidak ada yang kembali masuk. "Tenang, tenang! Tarik napas! Ada apa di dalam, Ri?"
Septi, yang masih sesenggukan, menyela dengan suara bergetar hebat. "Properti, Kak Yuda! Pakaian-pakaian Roro Jonggrang... dan selendang merah itu..." Septi menelan ludah, tak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Kenapa dengan propertinya?!" desak Dion panik.
"Terbang, Bang! Baju-baju itu gerak sendiri!" sela Okta dengan nada nyaring. "Kami lagi coba ngerapihin barang-barang yang dibawa balik dari Prambanan sesuai instruksi rektorat buat nutup UKM sementara. Tiba-tiba... tiba-tiba lemari kostum kebuka sendiri! Baju-baju kerajaan itu terbang keluar, nabrak-nabrak rak. Terus... terus dari dalam ruang ganti... kami dengar suara cewek nangis... nangisnya serem banget, Bang!"
Mendengar penuturan Okta, darah Yuda berdesir dingin. Bulu kuduknya meremang hebat. Ia menatap Dion, yang raut wajahnya sama pucatnya.
Kutukan ini ternyata tidak hanya mengintai Harumi dan Haruma. Entitas kegelapan dari Prambanan itu mulai melebarkan jaring terornya ke seluruh anggota teater yang terlibat dalam pementasan terlarang tersebut.
"Kalian semua pulang sekarang," perintah Yuda tegas, mengambil alih kendali. "Jangan ada yang kembali ke sekretariat ini sampai batas waktu yang nggak ditentukan. Jangan cerita ke siapa-siapa soal ini. Biar gue sama Dion yang ngurus."
"Tapi, Bang—" sela Fahri.
"Pulang, Ri! Bawa Septi sama Okta keluar dari kampus sekarang!" potong Dion dengan nada setengah membentak, menyadari bahaya yang mengintai jika adik-adik tingkatnya itu masih berada di sana.
Setelah ketiga anggota teater itu berlari menuruni tangga dan menghilang dari pandangan, Yuda memutar tubuhnya menghadap pintu sekretariat yang terbuka. Ruangan itu tampak sangat berantakan dari luar. Naskah-naskah berserakan di lantai, beberapa kursi terbalik.
"Lo yakin mau masuk ke sana lagi, Yud?" bisik Dion, menelan ludah dengan susah payah. Kengerian yang ia alami sore tadi masih terbayang jelas.
Yuda mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kita harus ambil tas lo, Yon. Ada catatan penting soal kontak bapak kos lo di sana, kan? Dan gue nggak mau ngebiarin makhluk sialan itu ngerasa menang karena berhasil ngusir kita dari 'rumah' teater kita sendiri."
Dengan langkah perlahan dan kewaspadaan tingkat tinggi, Yuda melangkah masuk ke dalam sekretariat, diikuti Dion yang menempel erat di belakangnya.
Suhu di dalam ruangan itu merosot tajam, jauh lebih dingin daripada di lorong luar. Bau khas kapur barus dari kostum teater telah tergantikan oleh aroma yang kini sangat mereka kenali: melati layu dan kemenyan.
"Ambil tas lo cepat, Yon," desis Yuda, matanya mengawasi sekeliling dengan tajam.
Dion mengangguk, melangkah cepat menuju meja kerjanya yang berantakan. Ia menyambar tas punggungnya dan segera mengalungkannya di bahu. "Udah, Yud. Ayo cabut."
Namun, saat mereka berdua hendak membalikkan badan, sebuah suara decitan panjang dan menyayat hati menghentikan langkah mereka.
Krieeeeetttt...
Suara itu berasal dari ruang ganti properti di sudut belakang sekretariat. Ruangan yang sore tadi menjadi tempat munculnya sosok bayangan wanita yang mengancam Dion.
Pintu kayu tua ruang ganti itu, yang tadinya tertutup rapat, kini bergerak membuka dengan sangat perlahan.
Dari celah pintu yang terbuka, udara di dalam ruang ganti itu tampak sangat pekat, seolah dipenuhi oleh kabut hitam.
Dan kemudian... suara itu terdengar.
Sring... Sring... Sring...
Bunyi gemerincing gelang kaki dari perunggu.
Berirama lambat, berat, dan mematikan.
Napas Yuda tertahan di tenggorokan. Ia refleks memundurkan langkahnya, tangannya merentang melindungi Dion di belakangnya.
Di ambang pintu ruang ganti yang gelap itu, udara mulai memadat. Kabut hitam yang pekat bergulung-gulung, membentuk sesosok siluet tinggi semampai.
Siluet seorang wanita yang mengenakan kain batik berwiron dan kemben lusuh. Rambutnya yang hitam legam dan kusut menjuntai ke depan, menutupi wajahnya sepenuhnya. Sebuah selendang merah darah melingkar di bahunya, ujungnya melayang-layang dengan cara yang sangat tidak wajar.
Sosok itu berdiri mematung di sana, hanya berjarak lima meter dari Yuda dan Dion.
Udara di dalam sekretariat terasa semakin berat, menekan dada mereka hingga kesulitan meraup oksigen. Bau kemenyan dan anyir darah yang menguar dari sosok tersebut begitu pekat hingga membuat perut Dion mual.
"Dia... dia yang gue lihat tadi sore, Yud..." bisik Dion dengan suara bergetar hebat, giginya gemerutuk menahan ketakutan absolut.
Sosok wanita bergaun kuno itu tak bersuara. Namun, aura kebencian dan kemurkaan yang memancar dari tubuhnya terasa seperti gelombang panas yang membakar jiwa.
Tiba-tiba, tanpa ada embusan angin, rak-rak buku di dinding sekretariat bergetar hebat.
Buku-buku tebal dan tumpukan naskah terlempar berhamburan ke lantai seakan disapu oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
BRUKKK!!!
PRAKKK!!!
Lampu neon panjang di langit-langit ruangan mulai berkedip-kedip liar, sebelum akhirnya meledak dengan suara nyaring, meninggalkan Yuda dan Dion dalam keremangan cahaya senja yang menembus jendela.
Di tengah kekacauan itu, sosok wanita bergaun kuno tersebut perlahan mengangkat kepalanya. Rambut kusut yang menutupi wajahnya sedikit tersingkap, memperlihatkan sepasang bola mata putih pucat tanpa pupil yang menatap lurus ke arah mereka.
Bibir pucat yang mengelupas itu bergerak. Tidak ada suara fisik yang keluar, melainkan sebuah bisikan parau yang langsung bergaung di dalam kepala Yuda dan Dion secara bersamaan.
"Kalian membuka pintu yang telah lama tersegel..." suara itu mendesis, membaurkan bahasa Jawa kuno yang entah bagaimana bisa dipahami oleh alam bawah sadar mereka. "Darah perempuan tulang wangi itu adalah milikku... Kalian yang menghalangi jalanku... akan merasakan dinginnya neraka bebatuan..."
Tiba-tiba, sosok itu mengangkat tangan kanannya yang pucat dan dipenuhi urat-urat hitam.
Jari-jarinya yang berkuku panjang meruncing menuding tepat ke arah Yuda.
"Pemuda yang menantang takdir... cintamu tak akan bisa menyelamatkannya..." seringai mengerikan terbentuk di wajah makhluk itu. "Tumbal itu sudah kutandai. Dan kau... kau akan mati bersama penyesalanmu."
Pada detik itu juga, sebuah dorongan energi yang kasatmata namun terasa sangat padat menghantam dada Yuda dan Dion secara bersamaan.
Hantaman itu begitu kuat hingga membuat mereka berdua terpental mundur.
BRUKKK!!!
Yuda terpelanting dan menabrak pintu kayu sekretariat yang masih terbuka, punggungnya menghantam engsel besi hingga berdarah.
Dion bernasib lebih buruk, ia terlempar ke lorong luar dan mendarat keras di atas lantai marmer, kepalanya membentur dinding dengan suara berdebum yang memekakkan telinganya.
"Aaaaaakkhh!!" rintih Yuda, merosot jatuh ke lantai sambil memegangi dadanya yang terasa seperti dihantam godam godam raksasa.
Dion mengerang kesakitan, pandangannya berkunang-kunang.
Yuda memaksa dirinya untuk berdiri, matanya menatap nanar ke arah ruang ganti. Namun, sosok bergaun kuno itu telah menghilang tanpa jejak.
Kabut hitamnya lenyap. Bau kemenyan dan anyir darah menguap, digantikan oleh bau debu dari buku-buku yang berserakan.
Ruang sekretariat itu kembali hening, seolah amukan supranatural barusan tidak pernah terjadi.
Yuda terengah-engah, keringat dingin membanjiri wajahnya. Ia segera berlari menghampiri Dion yang masih terkapar di lantai lorong.
"Yon! Dion! Lo nggak apa-apa?!" Yuda menepuk-nepuk pipi sahabatnya.
Dion mengerang pelan, memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. "S-sialan... makhluk itu... dia beneran mau ngebunuh kita, Yud..."
Yuda membantu Dion untuk duduk bersandar di dinding. Rahang Yuda mengeras. Peringatan gaib yang baru saja mereka terima itu bukanlah ancaman kosong.
Hantaman energi fisik yang membanting mereka adalah bukti nyata bahwa entitas ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, mampu memanipulasi materi di dunia nyata, dan tidak lagi hanya menyerang melalui halusinasi atau mimpi buruk.
"Dia makin kuat, Yon," desis Yuda, menatap pintu sekretariat yang berantakan dengan sorot mata penuh kebencian dan tekad yang menyala. "Dia udah nggak cuma ngincar Harumi dan Haruma. Dia ngincar semua yang berani ngalangin ritual tumbal darahnya."
Dion menelan ludah, ketakutan masih mendominasi wajahnya. "Terus kita harus gimana, Yud? Kita nggak punya ilmu apa-apa buat ngelawan makhluk kayak gitu. Kalau Bapak kos gue belum nemu orang pinter itu, kita bisa mati konyol sebelum sempat nolong Harumi!"
"Kita nggak akan mati konyol," ucap Yuda dengan suara rendah namun sangat tegas.
Ia menarik Dion berdiri, memapahnya menyusuri lorong yang mulai gelap. "Besok pagi, tanpa nunggu konfirmasi dari Bapak kos lo, kita berangkat ke Klaten. Kita cari tahu sejarah tragedi tahun 92 itu dari akarnya. Pasti ada pantangan, atau senjata pusaka lain yang bisa nandingin pisau yang dipakai Harumi malam itu."
Yuda menoleh sekilas ke arah sekretariat Teater Arya Sena untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, ia telah mengikrarkan janji.
Makhluk dari masa lalu itu boleh saja mengancam akan membunuhnya, tapi Yuda tidak akan pernah mundur. Ia akan menyelamatkan Harumi, mengembalikan kehidupan gadis itu, meskipun ia harus turun tangan langsung untuk menyegel kembali arca Roro Jonggrang itu ke dasar Candi Prambanan yang paling gelap.
Perang supranatural ini kini tidak lagi sekadar tentang Harumi dan Haruma.
Kutukan itu telah menyebar, dan Teater Arya Sena resmi menjadi medan pertempuran berikutnya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda