Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Anak Pertama Ara
Satu tahun kemudian, Langgur 2033.
Ara sekarang sudah 28 tahun, sudah 1 tahun menikah sama Firman, dan sekarang perutnya sudah besar, hamil 9 bulan, mau melahirkan anak pertama!
Firman yang sekarang bukan cuma guru SMP Langgur 4 kelas, tapi juga jadi wakil kepala desa Langgur, bantu Ara urus 50 rumah batu bata yang sekarang ada di Langgur, Langgur sudah makin besar, sudah jadi desa wisata karena banyak turis datang lihat Pohon Revan Baru 12 meter dan Tugu Revan dan museum peti emas.
Pohon Revan Baru sekarang tingginya sudah 12 meter, super besar, batangnya sebesar 2 drum, rindang sekali, buahnya setiap musim 200 buah lebih, jadi ikon wisata Maluku Tenggara, banyak orang dari Ambon datang foto pre-wedding di bawah pohon itu karena katanya pohon itu kasih restu jodoh, seperti kasih restu ke Ara dan Firman tahun lalu.
Revani, anak Dion dan Siti, sekarang sudah umur 4 tahun, sudah sekolah TK di SD Langgur yang sekarang sudah 6 kelas SD dan 4 kelas SMP, sudah tidak bisa lihat Revan lagi sama sekali, sudah lupa siapa Paman Van, tapi dia masih ingat bunga mangga putih kecil.
Dion sekarang sudah jadi kepala pembangunan desa yang urus 50 rumah, Siti jadi kepala TK.
Malam tanggal 15 Januari 2033, jam 2 malam, Ara yang hamil 9 bulan tiba-tiba merasa sakit perut keras di rumah dinas kepala desa yang batu bata putih, rumah yang sama 8 tahun lalu jadi tempat Ara mimpiin Revan.
Firman panik dan bangunkan bidan desa yang baru didatangkan dari Tual pakai uang wisata Langgur, bidan itu tinggal di rumah baru nomor 45.
Bidan datang dan periksa Ara, "Sudah mau lahiran, Bu Kades! Bawa ke balai desa, di sana ada tempat lahiran baru!"
Firman dan Dion gotong Ara yang kesakitan ke balai desa baru yang sekarang ada ruang bersalin kecil.
Di luar balai desa, hujan turun deras! Hujan pertama di tahun 2033! Padahal musim kemarau!
Warga Langgur yang dengar Bu Kades mau lahiran, semua bangun jam 2 malam dan berkumpul di balai desa dengan payung dan lampu senter, doakan Ara.
Di bawah Pohon Revan Baru 12 meter yang kehujanan, Tugu Revan batu hitam dan museum peti emas juga kehujanan.
Jam 3 malam, di dalam ruang bersalin balai desa, terdengar tangisan bayi keras!
OEEEK! OEEEK!
Bayi lahir! Anak pertama Ara dan Firman lahir!
Bidan keluar dengan bayi merah kecil dan bilang, "Selamat, Bu Kades, Pak Wakil, anaknya perempuan! Cantik! Sehat! Berat 3 kilo!"
Firman yang masuk langsung peluk Ara yang lemas tapi bahagia dan cium keningnya.
"Terima kasih, Ra, anak kita perempuan."
Ara yang lemas, memegang kalung batu R dan A yang masih di lehernya selama hamil, dan melihat bayi perempuannya yang merah kecil.
"Namanya siapa, Mas?" tanya Ara pelan.
Firman sudah siapkan nama dari 6 bulan lalu, nama yang disetujui Ara.
"Namanya Reva. Reva Langgur. Dari nama Revan, tapi perempuan. Biar dia ingat, dia lahir di desa yang dijaga Revan."
Ara mengangguk sambil menangis bahagia, "Reva... cantik... Reva Langgur..."
Tiba-tiba, hujan deras yang turun sejak jam 2 malam, berhenti tepat jam 3.05 malam, 5 menit setelah bayi Reva lahir! Berhenti total! Langit langsung cerah dan muncul bulan purnama besar di atas Pohon Revan Baru 12 meter!
Cahaya bulan purnama itu menyinari Pohon Revan Baru dan Tugu Revan dan museum peti dan balai desa tempat bayi Reva lahir!
Dan dari atas Pohon Revan Baru 12 meter itu, jatuh lagi satu bunga mangga putih kecil! Satu saja! Jatuh pelan-pelan ditiup angin malam setelah hujan, masuk lewat jendela ruang bersalin balai desa yang terbuka, dan jatuh tepat di atas kening bayi Reva yang merah kecil itu!
Bunga putih kecil itu menempel di kening bayi Reva seperti mahkota kecil!
Bidan dan Firman dan Ara yang lihat bunga itu jatuh tepat di kening bayi, langsung merinding!
"Bunga lagi! Bunga dari Revan lagi!" bisik Firman.
Ara yang lemas, mengambil bunga putih kecil itu dari kening bayi Reva dan menaruh di genggaman tangan kecil bayi Reva.
"Ini hadiah lahir dari Paman Revan untuk kamu, Nak, Reva."
Bayi Reva yang baru lahir, yang matanya masih tertutup, tiba-tiba membuka mata sebentar, mata hitam besar, dan tersenyum! Bayi baru lahir tersenyum! Padahal bayi baru lahir biasanya tidak bisa senyum!
Dan di luar balai desa, Revani yang umur 4 tahun yang ikut begadang nungguin Bu Kades lahiran, tiba-tiba berteriak lagi setelah 1 tahun lebih tidak pernah lihat Revan, "Paman Van! Paman Van gendong bayi!"
Dion dan Siti dan warga yang dengar Revani teriak begitu, langsung melihat ke arah Tugu Revan.
Di atas Tugu Revan batu hitam yang basah habis hujan, ada bayangan tipis lagi! Bayangan pemuda pakai jaket hitam! Bayangan itu gendong sesuatu seperti bayi! Transparan!
Bayangan itu tersenyum ke arah balai desa tempat bayi Reva lahir, lalu hilang pelan-pelan bersama cahaya bulan purnama.
Warga yang lihat bayangan itu langsung heboh, "Revan datang jenguk bayi baru! Revan gendong bayi Reva!"
Sejak malam itu, bayi Reva Langgur jadi bayi paling disayang di Langgur, bukan cuma karena anak Kepala Desa, tapi karena lahir pas hujan berhenti dan dapat bunga putih dari Pohon Revan Baru dan dijenguk bayangan Revan.
Dan setiap malam, kalau bayi Reva nangis, kalau dibawa ke bawah Pohon Revan Baru 12 meter, bayi itu langsung diam dan tertidur, seperti ada yang ninaboboin.
Firman percaya, itu Revan yang ninaboboin anaknya.
Ara menulis di buku harian Kepala Desa yang sekarang jadi buku harian ibu baru,
"Hari ini 15 Januari 2033 jam 3 malam, anakku lahir, perempuan, namanya Reva Langgur, dari nama Revan. Hujan deras berhenti pas dia lahir, bulan purnama muncul, satu bunga mangga putih jatuh di keningnya, Revani umur 4 tahun bisa lihat Revan lagi setelah 1 tahun tidak bisa lihat, bayangan Revan gendong bayi di atas Tugu Revan. Langgur dapat generasi baru lagi. Pohon Revan Baru 12 meter dapat penjaga baru lagi, yaitu Reva."
Langgur malam itu tidur nyenyak, dengan tangisan bayi baru yang sudah jadi harapan baru.